
Sejak tahu dirinya hamil seminggu yang lalu, sejak itu juga Lina sering merasakan mual di pagi hari, morning sickness istilahnya. Namun, pagi ini morning sicknessnya hebat sekali sehingga ia merasa sendi-sendi tubuhnya melemas, dan wajahnya pun memucat.
"Mbak, sakit?" tanya Viona sang adik yang kebetulan pagi ini tidak ada kuliah.
"Morning sickness biasa," sahut Lina lesu, duduk di ujung ranjang dengan lemas, seragam kerjanya bahkan sudah kusut masai.
"Mbak hamil?" tanya Viona kaget.
Lina hanya memberikan anggukan pada adik perempuannya itu. Dia memang belum memberitahu siapapun akan kehamilannya.
"Wah, selamat ya, Mbak! Bakal jadi Tante ini." Viona berseru senang. Memeluk sang kakak lalu kembali melepaskannya.
"Masih mual, Mbak? Mau dibuatin teh?" tanyanya membantu sang kakak berbaring.
"Air hangat kuku saja, Dek!" sahut Lina lirih, memejamkan matanya.
Ia memutuskan untuk tidak masuk kerja saja hari ini. Tubuhnya lemas sekali, dan rasa kantuk menyerangnya hingga ia tidur di jam pagi itu.
Sedangakan, di sisi Dokter Ardi sendiri lelaki itu sedang istirahat di ruangannya, ketika nomor asing meneleponnya. Ia tekan ikon terima pada layar pipih di genggamannya, dan menempelkannya ke telinga.
"Halo!" ucap Ardi pada orang di seberang.
"Mas Ardi, ini Vio! Hem, Mbak Lina gak bisa kerja hari ini dia ehm... gimana, ya?" sahut suara di seberang sana dengan ragu-ragu.
"Ada apa, Vio? Kenapa dengan Mbakmu?" tanya Ardi penasaran. Ada pakah gerangan adik iparnya itu menelepon di jam-jam kerja seperti ini?
"Mbak Lina hamil! Mas Ardi belum dikasih tahu? Dia habis muntah-muntah pagi ini dan sekarang lagi tidur di kamarnya," sahut suara Viona lagi.
"Iya. Mbak Lina belum bilang ya?" Suara Viona di seberang telepon agak meragu.
"Ya sudah. Tidak perlu masuk kerja bilang dengan Mbakmu. Nanti Mas izinin sama pihak HRD," sahut Ardi pada akhirnya.
"Ok, Mas. Kalau gitu Vio tutup ya teleponnya. Assalamualaikum!"
Setelah membalas salam, Dokter Ardi menutup panggilan. Lelaki itu terpekur dengan pikiran berkecamuk. Lina hamil? Kenapa perempuan itu tidak bilang padanya?
Lina segera mencari Viona setelah ia mendapatkan telepon dari Dokter Ardi di jam satu siang. Lelaki menanyainya akan kebenaran berita kehmilannya yang didapat dari adiknya, Viona.
"Vio, kamu ngadu sama Mas Ardi?" tanya Lina pada Viona yang sedang duduk santai di kamarnya dengan membaca buku.
"Eh! A--anu, Mbak...." Viona tampak salah tingkah.
"Kan Mbak sudah bilang kalau gak usah ngomong sama Mas Ardi, Vi! Kok kamu malah bilang sih," ujar Lina kesal.
"Maaf, Mbak! Mas Ardi harus tahu kan kalau Mbak hamil karena itu anaknya juga," sahut Viona.
"Vi! Ah, sudahlah!" Lina mengembuskan napas kesal.
"Maaf ya, Mbak! Saat ini mungkin Mas Ardi belum mencintai Mbak, tapi Vio yakin kelak kalian akan bersatu karena kalian sudah berjodoh. Coba, kalau kalian gak jodoh, mana mungkin akan ada pertemuan kalian malam itu, kan?"
Lina tidak menyahut. Ia memilih untuk kembali masuk ke kamar, dan mencoba menjernihkan pikiran. Apa yang akan lelaki itu lakukan jika ia sudah tahu akan kehamilannya? Belum lagi, esok malam mereka akan menemui Ibu Dokter Ardi dan mengatakan akan pernikahan mereka ini. Ah, memikirkannya membuat kepala Lina berdenyut.
...Bersambung.... ...