Istri Siri Tuan Dokter

Istri Siri Tuan Dokter
Kelahiran Twins


"Radit, ini istrimu mau lahirin! Tunggu di rumah sakit kami mau otw ke sana," ucap Ibu Sonia di seberang telepon.


"Ok, Ma. Hati-hati nyetirnya bilangin Pak Beni," sahut Radit dengan tenang, kendati degup di dada berdetak kencang.


"Iya. Siapin saja ruangannya dan segera kasih tahu Dokter Leni!" sahut Ibu Sonia lagi sebelum sambungan telepon terputus.


Radit segera menanggalkan jas dokternya di ruangan. Tadi dia baru saja selesai memeriksa pasien ketika Mamanya menelepon dan mengatakan jika Kinar akan melahirkan.


Hampir dua puluh menit Radit dan beberapa perawat menunggu kedatangan mobil keluarga Ghifari yang membawa Kinar. Begitu Lexus LM mengkilat itu berhenti di depan lobi, semua tim perawat segera mendekatkan brankar dorong, di dekat mobil. Mobil dibuka, Radit membantu menggendong Kinar keluar dan membaringkannya di brankar yang sudah disiapkan.


Brankar itu pun didorong menuju ruang ICU. Dokter Leni memeriksa kondisi Kinar dan juga jalan lahirnya.


"Kayaknya suster Kinar sudah gak sanggup normal ini. Kita siapkan operasi," ucap Dokter Leni pada Radit yang menemani Kinar di ruang ICU itu.


Radit mengangguk saja. Dia serahkan yang menurut dokter kandungan itu bagus karena ini bukan bidangnya.


"Sayang, semangat ya! Mas temenin!" bisik Radit pada Kinar yang berbaring dengan rintihan lirih menahan sakit di area bawah perutnya.


"Mas, maaf ya kalau aku selama ini banyak salah dan belum bisa jadi istri yang baik dan membuat Mas bahagia," ujar Kinar dengan terbata disela ringisannya.


"Sstt, kamu bisa mengabdi jadi istri yang baik dan membuat bahagia Mas hingga menua. Sekarang kita berjuang dulu ya buat kelahiran si kembar," sahut Radit mengelus puncak kepala Kinar.


Kinar pun dibawa ke ruang operasĀ  untuk melahirkan. Radit masih setia menemaninya. Dokter Leni juga sudah bersiap dengan peralatan operasinya.


"Mau dengar Mas bacain Asma Allah, tolong bacain ya, Mas!" Kinar menatap sayu sang suami yang berdiri di samping kepalanya.


Radit mengangguk. Mulai melantunkan Asma Allah dengan berbisik lirih di samping telinga istrinya.


"Ya Allah... Ya Rahman... Ya Rahim...."


Kinar mendengar dengan khidmat senandung merdu dari suaminya. Sedangkan, Dokter Leni fokus pada kegiatannya mengeluarkan sang bayi dari perut ibunya.


Tidak lama suara merdu tangis bayi itu terdengar mengisi ruangan operasi itu. Kinar dan Radit saling berpandangan dengan senyum penuh arti, saling menatap dalam.


"Alhamdulillah. Si kakak sudah lahir, Dok!" Suara Dokter Leni memberitahu.


Bayi yang belum dibersihkan dan hanya dibalut kain hijau itu diserahkan ke gendongan Radit.


"Althan Putra Ghifari, selamat datang, Nak!" bisik Radit, lalu mengumandangkan adzan di telinga putra keduanya itu.


"Elthan Putra Ghifari, selamat datang Adek!" Radit juga mengumandangkan adzan untuk putranya itu.


Setelahnya, kedua bayi kembar itu dibersihkan oleh para suster. Dokter Leni sendiri masih menyelesaikan menjahit bekas luka di perut Kinar.


"Terima kasih, Bunda! Sudah melahirkan anak-anak yang sehat dan tampan!" bisik Radit mengecup sayang kening istrinya.


"Terima kasih kembali, Ayah!" sahut Kinar dengan senyum lega.


"Dek ana, Nek?" tanya Alan yang ada di gendongan Ibu Sonia.


"Adek masih dibersihin. Nanti ya kalau sudah dipindahin kita lihat dedeknya Alan," sahut Ibu Sonia mengecup pipi montok cucunya itu.


"Nda?" ucap balita itu lagi.


"Bunda juga masih dibersihin. Nanti ya, sayang!"


Balita berumur satu setengah tahun itu mengangguk seolah paham.


"Yayah!" panggilnya melihat Ayahnya keluar dari ruang operasi.


Radit terkekeh. Mengambil putranya dari gendongan Ibu Sonia.


"Abang sudah mandi belum? Ke sini sama siapa?" tanya Radit menatap wajah tampan balita itu, reflika dirinya.


"Dah. Ama Nek," sahut Alan dengan tak jelas.


"Gak ada yang serius kan, Dit?" tanya Dokter Ghifrai--Papanya yang duduk di bangku besi di samping sang Mama.


"Alhamdulillah semuanya lancar, Pa! Bayinya juga sehat semua," jawab Radit dengan senyum lebar penuh kebahagiaan.


"Alhamdulillah kalau begitu." Ibu Sonia dan Pak Ghifari mengucap syukur penuh kelegaan.


...Bersambung.......


...Itu Vote sama Hadiahnya jangan lupa, gaesss!...