
...Hay gaesss nih kita kenalan sama si Pak Dokter yg patah hati karena cintanya bertepuk sebelah tangan, hehe cusss kita nikmatin sama² ya...
...Happy Reading.... ...
Pria berusia 30 tahun itu melamun dengan senyuman kecil bertengger di bibirnya. Ia mengingat seseorang yang akhir-akhir ini selalu membayangi pikirannya. Seorang suster berparas ayu yang tidak sengaja ia temui kala mereka berada di satu ruangan pasien yang sama. Senyum ramah dan manis sang suster benar-benar membuat jantung sang dokter berdebar aneh.
"Dokter Ardi!"
Tepukan keras di bahunya membuyarkan lamunan sang dokter anestesi itu. Dokter Ardiansyah, Sp. An.
"Ngelamunin siapa nih, Dok? Kok sambil senyum-senyum segala?" tanya seorang dokter berusia paruh baya itu dengan senyum geli.
"Ah, Dokter Andre kayak gak pernah muda saja," sahut Dokter Ardi dengan wajah memerah malu.
"Oalah. Ternyata benih-benih cinta sedang tumbuh berkembang di taman hati. Wah, siapakah gerangan perempuan beruntung yang bisa meluluhkan hati si dokter ini?"
Dokter Ardi tertawa kencang. Penjabaran penuh kiasan dari Dokter Andre membuatnya geli sendiri. Benih-benih cinta? Taman di hati? Ada-ada saja.
"Jelasnya dia masih satu rumah sakit dengan kita." Dokter Ardi menyahut santai.
Dokter Andre mengangguk paham. Setelahnya ia meninggalkan anak muda yang sedang kasmaran itu sendirian.
Dokter Ardi melangkah santai menyusuri koridor rumah sakit yang tampak lengang. Senyum ramah tetap terukir di bibirnya ketika ia tak sengaja berpapasan dengan rekannya sesama dokter atau pasien yang lewat. Dokter anestesi itu memang seramah yang terlihat. Wajah putih dengan rahang tegas dan bulu mata lentik yang dimiliki lelaki itu memang kerap membuat perempuan bersipu malu. Wajah lelaki itu lebih ke arah cantik sebagai karena mata lentiknya yang dimiliki seorang lelaki.
Hari ia ada operasi bersama rekannya yang lain. Mereka sudah siap dengan pakaian steril dan masker yang sudah menutupi sebagaian wajah mereka.
Lalu pintu ruang operasi itu dibuka dan menampilkan dua orang suster muda yang berdiri dengan napas tampak berkejaran. Mungkin karena berlari, pikir Dokter Ardi. Lelaki itu tersenyum di balik maskernya melihat wajah ayu salah seorang suster yang berdiri di ambang pintu.
"Permisi, Dok! Kami suster jaga yang diminta Dokter Wina untuk bantu," ucap Suster Lina pada 3 orang dokter di sana.
Dokter Ardi melempar senyum ramah nya seperti biasa. Tidak terlalu terlihat karena ia sudah mengenakan masker.
"Silahkan kalian bersiap!" sahut Dokter Rini, yang telah siap dengan baju hijau steril nya.
Suster Lina dan Kinar mengangguk. Segera masuk ke ruangan itu dan mengenakan stelan steril serta masker. Dokter Ardi mencuri-curi pandang pada Suster Kinar, perempuan yang telah mencuri hatinya itu.
"Gunting!" ucap Dokter Radit mengulurkan tangan.
"Tekanan jantungnya, Dok!" ucap Radit lagi pada Dokter Rini kali ini.
"Jahit!" Kali ini titah itu ia berikan pada Dokter Ardi. Dokter Ardi melakukan itu dengan fokus dan telaten.
"Suster Kinar!" tegur Dokter Radit dingin.
Semua pasang mata menoleh pada Dokter Radit dan Suster Kinar sekilas. Dokter Ardi pun demikian, lelaki itu memicingkan netranya mengamati. Ia tidak suka akan suara tak bersahabat Dokter Radit pada Suster Kinar.
"Jika Anda tak bisa bekerja dengan baik, lebih baik Anda keluar dari pada mengganggu konsentrasi saya!" ucap Dokter Radit lagi dengan tangan dan mata masih fokus pada pasien.
"Ma--maaf, Dok!"
Operasi kembali dilanjutkan, tapi tak sampai dua menit suara dingin Dokter Radit kembali terdengar.
"Keluar!" suara dingin Dokter Radit menyentak semua orang di ruang itu.
Dokter Ardi hendak membuka suara dan meneriaki Dokter Radit, tapi tangannya ditahan oleh Dokter Rini. Dokter bedah itu sudah keterlaluan pada Suster Kinar, dan Dokter Ardi tidak menyukainya.
"Ta--tapi, Dok!"
"Keluar dan carikan suster lain!" ucap Dokter Radit dingin tak terbantah.
Suster Kinar mengangguk dan berlalu keluar. Operasi pun dilanjutkan, dengan suasana tegang. Hanya ada suster Lina yang membantu. Dokter Rini mengambil alih posisi Kinar tadi. SedangkanSuster Lina berdiri di samping Dokter Ardi membantu dokter itu.
"Anda juga harus fokus, Suster Lina!" bisik Dokter Ardi tegas.
Suster Lina yang masih merasa takut karena aura Dokter Radit tadi pun segera tersadar, dan kembali fokus pada pekerjaannya, menyerahkan alat-alat operasi dan menyeka keringat di dahi sang dokter. Untungnya dua orang suster lain segera masuk membantu hingga operasi tersebut segera selesai dan berakhir lancar.
...Bersambung.... ...