
Setelah tiga hari Alan sakit, cukup membuat Kinar merasa separuh nyawanya hilang. Dia begitu tak tega melihat putranya yang rewel dan menangis terus karena tak nyaman akan kondisi tubuhnya sendiri. Syukurnya, di hari keempat Alan sudah mulai membaik. Dia sudah mengoceh lagi seperyi biasanya, Kinar lega tentunya. Telepon dari Ibu Sonia juga sering mampir di handphonenya, menanyakan kondisi Alan.
Setelah beberpa hari lalu hampir setiap malam begadang karena Alan yang rewel dikala sakit, efeknya Kinar merasa tubuhnya begitu lemas dan meriang. Kepalanya berdenyut, tapi dia masih cukup kuat untuk berdiri.
Orang tua Dokter Radit juga sudah pulang kemarin. Setidaknya Kinar tak begitu merasa sepi di rumah besar ini jika ada Ibu Sonia.
"Kinar, kamu sakit?"
Kinar yang sedang memejamkan matanya di kursi taman dengan Alan di pangkuannya langsung tersentak kaget. Ibu Sonia sudah berdiri di depannya.
"Eh gak kok, Bu." Kinar menyahut cepat.
Ibu Sonia tak percaya. Beliau menempelkan punggung tangan di kening Kinar, dan langsung merasakan sengatan hangat itu.
"Tapi badan kamu panas loh, wajah juga agak pucatan. Kayaknya demamnya si Alan nular ke kamu ini," ucap Ibu Sonia menilik wajah Kinar yang memang terlihat agak pucat.
"Gak kok, Bu. Cuma memang agak pusing aja."
Ibu Sonia mengambil Alan yang ada di pangkuan Kinar. Menggendong sang cucu dan menciumi gemas balita itu.
"Ya sudah istirahat saja sana. Alan biar sama saya, kangen saya sama dia kemarin ditinggal ke Surabaya. Kangen gak sama Nenek, sayang?" ucapnya menoleh pada Kinar, lalu kembali menggoda sang cucu.
"Makin gemesin deh kamu!" Ibu Sonia terus saja menciumi wajah Alan. Balita itu tertawa-tawa karena kegelian akan tingkah sang Nenek.
Kinar memperhatikan interaksi itu dengan haru. Merasa bersyukur putranya mendapatkan sang Nenek yang begitu menyayanginya.
"Tunggu apa lagi, Kin? Sudah, istirahat sana!" ucap Ibu Sonia yang melihat Kinar masih duduk di kursinya.
"Tapi, Bu--"
"Istirahat! Kalau kamu beneran sakit nanti siapa yang jagain Alan," titah Ibu Sonia tak ingin dibantah.
Kinar mengangguk pasrah akhirnya. Sepertinya ia bawa tidur sebentat, pusing di kepalanya bisa sedikit mendinga.
"Baik, Bu. Kalau gitu saya ke kamar dulu... permisi, Bu!"
Kinar berlalu setelah mendapat anggukan dari Ibu Sonia. Tinggalah Ibu Sonia di taman itu dengan menggendong Alan mengelilingi area taman, mencari angin segar.
"Bundamu itu, Lan! Dibilangin keras kepala banget dia. Ayahmu tuh juga bikin kepala Nenek sakit mikirinnya, untung Nenek gak ada riwayat darah tinggi," gumam Ibu Sonia berbicara pada sang cucu yang hanya bisa tertawa tak mengerti.
Radit baru saja pulang bersama Papanya. Kebetulan hari ini, Papanya memang tak membawa mobil, dan berangkat tadi pagi juga bersama dengannya. Dia dan Papanya masuk ke dalam rumah, dan mendapati Mamanya dan Alan yang bermain di karpet berbulu ruang keluarga.
Papanya menghampiri Mamanya dan Alan. Sedangkan, Radit menjelajah ruang keluarga itu kalau saja menemukan keberadaan Kinar, tapi dia tak mendapati keberadaan perempuan itu.
"Cari siapa, Dit?" tanya Mamanya yang membantu membawakan tas Papanya. Sedang, Alan kini sudah berada di gendong Papanya itu.
"Suster Kinarnya kemana, Ma?" tanya Radit pada akhirnya.
Ibu Sonia dan Dokter Ghifari saling melempar pandangan penuh arti. Tahu sekali akan tabiat putra mereka itu. Gengsinya selangit.
"Dia demam kayaknya, badannya panas jadi Mama suruh istirahat saja dulu, kayaknya sih sakitnya Alan kemarin nular ke dia," sahut Ibunya cuek, tanpa melihat ke Radit.
Radit mengangguk mendapatkan jawaban atas rasa penasarannya akan keberadaan Kinar. Istrinya sakit? Kinar masih istrinya, kan? Jadi dia masih boleh mengklaim wanita itu sebagai istri.
Kinar sudah meminum paracetamol, dan sore itu dia sudah agak baikan. Diabpun keluar dari kamar setelah membersihkan tubuhnya. Dia merasa tak enak pada Ibu Sonia karena melalaikan pekerjaanya.
Dia keluar dan mencari keberadaan Alan. Suara celoteh putranya itu dia dengar di ruang tamu, dan Kinar langsung mengarahkan langkahnya ke sana. Benar saja, Alan sedang menelungkup di karpet berbulu ruang keluarga, bersama Ibu Sonia dan juga Bi Isah. Balita itu tampak antusias sekali karena diberi mainan oleh sang Nenek.
"Eh, sudah baikan, Mbak Kinar?" Bi Isah yang pertama kali menyadari keberadaan Kinar segera menyuarakan tanya.
Ibu Sonia menoleh ke arah Kinar yang berdiri, "sini, Kin!" ujarnya.
Kinar mendekat dan ikut duduk di karlet berbulu. Alan yang tahu akan kehadiran Bundanya segera mendekat pada Kinar. Balita itu menyodorkan tangan dengan rengekannya meminta digendong.
"Kayaknya dah kangen banget sama Bundanya dia," ucap Ibu Sonia gemas.
Kinar dan Bi Isah terkekeh. Kinar segera menggendong Alan, dan menciumi wajah balita itu. Padahal cuma beberapa jam dia tak melihat Alan, Kinar sudah begitu rindu rasanya.
"Belum mimi susu ya hari ini," ucap Kinar membuka bajunya dan memberikan ASI pada putranya.
"Saya tinggal dulu ya, Kin. Mau mandi sudah sore juga," ucap Ibu Sonia bangkit berdiri.
Kinar mengangguk. Dia ditinggalkan dengan Bi Isah saja sekarang.
"Alan gak rewel kan Bi saat saya tinggal istirahat? Gak bikin Ibu Sonia capek juga kan karena jagain dia yang lagi aktif gini?" tanya Kinar pada Bi Isah yang duduk di hadapannya.
"Nggak, Mbak. Seharian ini Den Alan anteng kok. Dia paham kalau Bundanya lagi sakit jadi gak rewel juga," sahut Bi Isah jujur.
Kinar mengangguk lega. Setidaknya Kinar bersyukur Ibu Sonia tidak seperti Nyonya-nyonya kaya yang berlagak jahat dan sombong. Dia akan sangat lebih bersyukur jika hubungan mereka bisa lebih dari ini. Sudah lama dia tak mendapatkan perhatian dari orang tua, sejak orang tuanya meninggal. Perhatian dari Ibu Sonia, juga kebaikan dari Dokter Ghifari menumbuhkan harapan Kinar akan sebuah keluarga yang hangat. Dia ingin bermimpi akan hal itu. Semoga doanya ini didengar.
...Bersambung.......