Istri Siri Tuan Dokter

Istri Siri Tuan Dokter
Rencana Mama


Radit baru keluar dari kamar Kinar saat dini hari. Kinar masih tidur saat ia keluar dari kamar itu, dan saat dia menutup pintu kamar, dia dikagetkan dengan kehadiran Mamanya yang berdiri bersedekap di hadapannya.


"Apa yang kamu lakuin di kamar Suster Kinar, Radit? Kenapa kamu keluar pagi-pagi di kamarnya? Apa yang telah kalian lakukan?" tanya Ibu Sonia beruntun, memicingkan matanya menyelidik Radit.


"Kita ke ruang tamu, Ma! Panggil Papa, aku akan turun setelah membersihakn diri dan menjelaskan semuanya," ucap Radit menghela napas. Ya, ini saatnya dia membicarakan semuanya.


"Segera!" sahut Ibu Sonia berbalik pergi.


Radit mengembuskan napasnya. Berjalan menuju kamarnya sendiri untuk membersihkan diri. Sepuluh menit kemudian dia sudah rapi dan lebih segar dan siap untuk menjelaskan semuanya pada orang tuanya.


Radit duduk di sofa berseberangan dengan sofa dimana Mama dan Papanya duduki.


"Jelaskan!" ucap Ibu Sonia datar.


Radit menarik napas dan mengembuskannya perlahan. Dia menatap orang tuanya dan mulai membuka suara.


"Aku dan Kinar sebenarnya sudah menikah siri tahun kemarin di bulan Mei, dan Alan adalah putra kami. Sekarang, aku akan meresmikan pernikahan kami di KUA dan menggelar resepsi," ucap Radit dalam satu tarikan napas.


Dokter Ghifari tetap berwajah santai, sedang Ibu Sonia berwajah datar menatap Radit.


"Hah gampang banget kamu ngomong gitu, Dit. Memangnya kami akan merestui hubungan kalian?" ujar Ibu Sonia dengan mata memicing.


"Kenapa Mama dan Papa gak harus merestui hubungan kami?" tanya Radit balik.


"Karena kamu sudah Mama jodohkan dengan Lilis, dua bulan ke depan kalian akan menikah!" sahut Ibu Sonia santai.


Radit menggeram kesal. Apa-apaan Mamanya ini dengan maksud perjodohan itu.


"Ma, kenapa Mama menjodohkanku tanpa membicarakannya lebih dulu denganku?" Radit menatap kesal Mamanya, lalu mengalihkan tatapan pada Papanya meminta penjelasan.


"Bisa. Kamu sendiri bisa melakukan semaumu sendiri tanpa memberitahu kami," sahut Ibu Sonia mendengus.


"Pa!" Radit beralih pada Dokter Ghifari.


"Benar apa yang dikatakan Mamamu, Dit. Kamu bisa memutuskan hubungamu dengan Kinar dan menikah dengan Lilis. Kami sudah sepakat dan berkas kalian juga sudah diurus di KUA," ucap Dokter Ghifari membenarkan ucapan Ibu Sonia.


"Lalu bagaimana dengan Alan?"


"Alan tetap akan ngikut kamu, kan? Ya, gak apa-apa. Lilis baik dan mau menerima Alan sebagai anak kalian nantinya," sahut Ibu Sonia lagi cuek. Dalam hati ingin tertawa melihat wajah tertekuk Radit.


"Gak bisa, Ma! Aku akan tetap mengurus berkas pernikahanku dengan Kinar dan batalkan saja perjodohan dengan Lilis," ucap Radit kesal berlalu pergi dari hadapan orang tuanya.


"Astaga, Papa lihat wajah Radit tadi? Kusut banget kan, Pa? Padahal semalem baru dapet jatah," ucap Ibu Sonia mencoba menghentikan tawanya.


"Hush, Mama! Papa gak tanggung jawab ya Ma kalau menantumu itu nantinya kabur denger acara perjodohan pura-pura Radit ini," sahut Dokter Ghifari menggeleng melihat istrinya yang begitu senang dengan kejahilannya.


"Tenang saja, Pa!" Ibu Sonia mengulas senyum penuh misteri.


Setelah hari perbincangan dengan orang tuanya waktu itu, Radit meminta Pak Beni untuk mengurus berkas pernikahannya ke KUA. namun, apa yang disampaikan Pak Beni membuat Radit merasa frustasi.


"Bagaimana, Pak?" tanya Radit pada Pak Beni yang menemuinya di ruang kerjanya di rumah sakit.


"Maaf, Mas. Kata pihak KUA, berkas Mas Radit sudah masuk sebelumnya, jadi gak bisa diproses untuk buat kartu nikah lain," jawab Pak Beni menunduk, merasa tak enak hati menyampaikan berita itu.


"Ba--bagaimana bisa?" ucap Radit tergagap tak percaya.


"Saya juga gak tahu, Mas." Pak Beni menyahut sungkan.


Radit tahu jika Mamanya tak main-main mengatakan jika berkas pernikahannya sudah diurus. Dia tak habis pikir dengan jalan pikiran mamanya itu.


Sepulang dari rumah sakit, Radit langsung menemui Ibunya yang kebetulan sore itu sedang duduk santai di teras depan rumah.


"Ma, Mama beneran sudah mengurus berkas nikahku dengan Lilis?" tanya Radit tanpa basa-basi.


"Benarlah, masa bohongan." Ibu Sonia menyahut cuek.


"Ma, astaga! Aku gak bisa nikah dengan Lilis, Ma. Aku gak bisa lepasin Kinar, aku sudah jatuh cinta dengannya," ujar Radit menjambak rambutnya frustasi.


"Cuma kamu kan yang cinta? Kinarnya gak cinta. Jadi, buat apa kamu nikah sama orang yang gak cinta kamu. Sudah, mending kamu nikah sama Lilis. Kalian sudah kenal sejak kecil, dan sudah tahu tabiat masing-masing."


Perkataan Ibunya itu membuat Radit terdiam. Kinar mencintainya, kan? Wanita itu mengakuinya sendiri beberapa bulan lalu di hadapannya. Namun, apa bisa perasaan itu luntur hanya karena Kinar marah padanya? Melihat sikap Kinar yang begitu cuek padanya juga membuat rasa percaya diri Radit terasa hancur. Apakah Kinar bertahan di rumah ini juga hanya karena keberadaan Alan, atau untuk dirinya juga? Tiba-tiba saja semua hal itu membuat perasaan Radit menjadi tak enak.


"Kamu gak yakin, kan? Sudah. Kinar juga gak ada niat kan buat memulai hubungan baik-baik dengan kamu lagi. Jadi, terima saja pernikahanmu dengan Lilis yang kurang dari dua bulan lagi," ucap Ibu Sonia santai.


Radit tak menyahut lagi. Langsung berlalu masuk ke dalam rumah dengan langkah lesu juga raut wajah mendung.


"Dasar anak nakal! Rasain itu, emang enak dibohongin!" gumam Ibu Sonia terkekeh senang.


...Bersambung.......