Istri Siri Tuan Dokter

Istri Siri Tuan Dokter
(S2) Dokter Yang Belum Move On


Harusnya Ardiansyah membuang perasaan pada Suster Kinar, tapi rasanya begitu sulit. Senyum ramah dan seraut wajah ayu perempuan itu selalu menghantui pikirannya. Ardi tahu ini salah. Tidak seharusnya ia memikirkan wanita yang sudah menjadi istri Dokter Radit itu. Sedangkan, dirinya pun kini sudah menikah dengan Lina Indriani, perempuan sederhana yang tak kalah ayu dari Suster Kinar. Namun, ia pun belum merasakan perasaan bernama cinta untuk wanita berstatus istrinya itu.


Kini, pernikahan mereka sudah berjalan setengah tahun, kandungan Lina pun kini sudah tampak membesar. Sejak kejadian tragedi pendarahan dua bulan lalu, Mamanya sedikit melunak meski kerap kali berucap ketus. Ia tahu Mamanya menyayangi istrinya itu. Sikap ketusnya itu lambat laun akan berubah nanti.


Namun, semenjak pengakuan wanita itu akan perasaannya tiba-tiba saja ia mengingat kejadian saat di klub malam waktu itu. Jujur saja ia mulai berpikiran negatif sekarang. Meski dia tahu jika teman-teman reuniannya lah yang telah mengerjainya dengan memasukkan obat perangsang pada minumannya, tapi kenapa ada Lina Indriani malam itu sehingga mereka bisa ada dalam satu ranjang yang sama dalam kondisi yang tak diharapkan.


"Mikirin apa sih, Ar?"


"Eh. Nggak kok, Ma!" Ardi yang duduk di sofa ruang tamu, menggeser duduknya memberikan ruang untuk sang Mama duduk di sampingnya.


"Mama mau ngomong hal serius sama kamu," ucap Mama Ria menatap dengan serius wajah putranya.


Mama Ria menoleh sejenak ke arah pintu pembatas ke arah dapur. Memastikan jika Lina yang sedang mencuci piring di dapur tidak mendengar. Mereka punya ART sebenarnya, tapi perempuan itu yang bersikeras ingin mengerjakan urusan dapur.


"Kamu menikah dengan Lina bukan karena kalian saling mencintai, 'kan?" tanya Ibu Maria menahan nada suaranya agar tidak terlalu keras.


"Kenapa Mama menanyakan hal itu?" tanya Ardi balik.


"Karena Mama memperhatikan setiap interaksi kalian berdua, dan yang Mama lihat tidak ada tatapan cinta dimata kamu untuk Lina. Apa Mama salah?" Mama Ria menatap penuh intimidasi.


"Benar, Ma!" sahut Dokter Ardi lirih.


"Astaga, Ardiansyah! Mama gak tahu lagi mau diapain kamu ini. Kamu sudah dewasa, Ar! Bukan anak kecil lagi yang harus Mama kasih tahu akan hubungan lawan jenis," ucap Mama Ria kali ini frutasi, tapi ia tetap mengontrol volume suara agar tidak terdengar oleh Lina.


"Maaf, Ma. Kami melakukan kesalahan beberapa hari saat akad nikahku dan Lilis akan berlangsung!"


Penuturan jujur Ardi kali ini bagaikan bom atom yang dijatuhkan di atas kepala Mama Ria. Wanita baya itu mengembuskan napas dan menggeleng tak habis pikir.


"Astgafirullahaladzim! Ardi, bagaimana bisa kamu membohongi Mama seperti ini?"


"Maaf, Ma!" Ardiansyah tidak tahu sudah berapa banyak kata 'maaf' yang sering ia ucapkan atas kebohongan dan kesalahan yang sudah ia perbuat.


"Atau jangan-jangan Lina yang menjebak kamu? Sejak pertama Mama memang gak suka sama dia. Bisa jadi dia 'kan yang jebak kamu, Ar?" Kali ini pertanyaan Mama Ria penuh dengan nada sinis.


"Aku gak tahu, Ma!"


"Mama pusing, Ar! Terlalu banyak hal yang kamu sembunyiin, dan saat kamu kasih tahu Mama rasanya kepala Mama mau pecah. Mama baru saja mau menerima istrimu itu sebagai menantu, tapi dilihat dari apa yang kamu katakan entah kenapa Mama ragu." Mama Ria memijat kening yang berdenyut.


"Ma, jangan berpikiran negatif dulu!" Ardi mengingatkan Ibunya. Mereka tidak bisa mengambil kesimpulan seperti itu karena tidak ada bukti yang nyata. Ardi akan menyelidiki hal itu agar tidak ada prasangka-prasangka buruk.


"Entahlah, Ar! Mama pusing!"


Mereka tidak tahu jika wanita yang jadi topik pembicaraan keduanya mendengar semua yang mereka bicarakan di balik dinding pembatas. Lina hanya bisa mengusap sudut mata yang sudah tergenang airmata. Dia tahu bahwa, upik abu sepertinya ini tidak mudah berada di tengah-tengah keluarga kaya raya seperti Dokter Ardi. Salahnya, yang mau menerima pertanggung jawaban lelaki itu. Harusnya ia melarikan diri saja waktu itu. Atau bisakah ia melarikan diri saat ini saja? Bukankah belum terlalu terlambat untuknya agar tidak terlalu merasakan sakit hati terlalu banyak?


...Bersambung.......