
"Mbak Lin! Ada yang nyariin tuh di depan!"
"Hah? Siapa, Div?" tanya Lina pagi itu ketika ia sedang berkutat menyusun buku-bukunya di rak.
"Nggak tahu. Orangnya ganteng banget loh Mbak! Jangan bilang diem-diem Mbak PDKT sama cowok di sini, ya!" ujar Diva menggoda Lina.
"Ish, nggak ada ya! Orang Mbak nggak pernah keluar kalau nggak sama kamu!" sahut Lina terkekeh.
"Ya sudah. Sana gih temuin, kasihan dia nunggu lama."
Lina pun mengangguk. Berjalan dengan perutnya yang telah membuncit besar di usia kehamilan tujuh bulannya. Ia berjalan menuju pintu yang sudah sedikit terbuka, netranya langsung membelalak kaget saat melihat sosok yang berdiri di depan pintu kediaman Diva itu.
"Ma--Mas Ardi!" ucap Lina terbata.
Dokter Ardiansyah, langsung memeluk wanita hamil yang masih mematung di tempatnya itu.
"Sebentar saja, Lin!" bisik pria itu serak.
"Ke--kenapa Mas bisa di sini?" ujar Lina linglung. Masih merasa shock dan tidak percaya jika pada akhirnya persembunyiannya ini ketahuan oleh Dokter Ardi.
"Aku jemput kamu untuk pulang!"
Dokter Ardi melepaskan dekapannya. Netra lelaki itu berkaca-kaca menahan cairan bening yang siap tumpah.
"Mas, bukannya aku sudah kasih surat itu. Mas Ardi sudah baca, 'kan?" tanya Lina setelah kesadaran dari rasa shocknya tadi.
Dokter Ardi mengangguk.
"Aku sudah membacanya. Kita tidak akan berpisah seperti yang sudah kukatakan sejak awal. Maaf, jika ada kata-kata dan perbuatanku yang menyinggung kamu, Lin!"
"Kita bicara di dalam, Mas!"
Lina memutuskan untuk mengajak pria itu membicarakan masalah mereka ke dalam. Ia tidak ingin ada telinga tetangga yang mendengar percakapan mereka. Ia ingin tetap menjaga nama baik Diva di komplek itu.
Lina mempersilahkan Dokter Ardi duduk di kursi sofa ruang tamu. Ia pun memilih duduk di sofa berseberangan dengan Dokter Ardi.
"Katakan! Apa alasan aku harus bertahan pada pernikahan kita?" tanya Lina datar tanpa basa-basi.
"A... Aku merasakan perasaan sayang, rindu, dan perasaan menggebu di dadaku. Aku... Mencintai kamu, Lin!" ujar Dokter Ardi, menatap yakin wanita yang duduk di depannya.
Lina mendengus dengan bibir mencebik mengejek.
"Hah, untuk apa Mas berbohong akan perasaan itu hanya untuk mempertahankan pernikan ini? Anak? Tenang, Mas! Anak ini akan aku berikan sama Mas kalau memang itu yang Mas Ardi khawatirkan," ujar Lina sedikit penuh emosi.
"Lina! Aku baru menyadari perasaan ini setelah kepergian kamu, selama itu aku memikirkannya dan memahami perasaan yang aku rasakan ini. Aku benar-benar mencintai kamu, Lin!" Dokter Ardi berujar dengan netra menatap penuh pada Lina.
"A--"
"Aku nggak tahu, Mas! Banyak hal yang aku pikirkan dan sulit rasanya percaya jika yang kamu katakan itu adalah benar!" potong Lina dengan gelengan miris.
"Lin!"
"Bagaimana bisa kamu mengatakan jika aku masih mencintai perempuan lain sedang aku berada di sini demi menjemput orang yang sudah membawa separuh hatiku?" sahut Dokter Ardi tegas.
"Lin!"
Lina dibuat kaget akan apa yang Dokter Ardi lakukan. Pasalnya pria itu duduk di lantai di hadapannya dengan menggenggan kedua tangannya.
"Mas, apa yang kamu lakukan? Berdiri, Mas!"
"Kalau dengan ini aku berhasil membawamu kembali, aku akan melakukannya, Lin!" ucap Dokter Ardi dengan tatapan memohon.
"Mas, berdiri!" ucap Lina kesal. Untung Diva berada di kamarnya. Tapi, Lina yakin jika perempuan muda itu menguping pembicaraan mereka ini.
"Maaf, Lin! Atas perkataan atau sikap Mama yang menyakitimu dan sikapku sendiri yang dingin padamu. Kumohon, kembalilah pulang bersamaku!"
Dokter Ardi mengecup punggung tangan wanita di depannya, dan membawa kedua telapak tangan wanita itu agar menangkup di pipinya.
"Kamu benar-benar mencintaiku, Mas?"
Dokter Ardi mengangguk pasti.
"Baik. Mas sudah tahu perasaanku, 'kan? Aku maafkan, tapi... Untuk memulai kembali rasanya sulit. Ak--"
"Tidak! Kumohon, kembali bersamaku dan kita mulai kisah baru bersama, Lin!" potong Dokter Ardi menggeleng. Tanpa ia sadari, bahwa tetesan bening di netranya sudah jatuh membasahi pipi, dan tangan Lina yang ada di pipi pria itu.
"Ok. Tapi dengan satu syarat!" ucap Lina pada akhirnya.
Dokter Ardi mengangguk.
"Aku mau Mas Ardi bilang jika suatu saat perasaan bosan atau rasa di hati Mas sudah hilang untuk aku, agar tidak ada namanya perselingkuhan dalam rumah tangga kita. Mas, tahu kalau perempuan itu hanya mau kejujuran. Kalau memang suatu saat nanti Mas tidak lagi mencintai aku, kumohon pulangkan aku baik-baik!" ujar Lina menatap serius pria di depannya yang masih berstatus suaminya.
"Baik, syaratnya kuterima. Satu hal yang harus kamu tahu, Lin! Jika aku sudah berkomitmen pada diriku sendiri... Maka aku akan menjaga komitmen itu dan mempertahankan kamu tetap di sisiku hingga kita menua dan dipanggil pulang nantinya. Jadi, Mas pun memohon... Jika ada tutur kata salah dan kekhilafan, Mas minta kamu untuk mengingatkan," ujar Dokter Ardi serius, menaruh kembali kedua tangan yang ia genggam itu ke pangkuan Lina.
"Jadi... Kamu siap pulang sekarang?"
Lina mengangguk dengan senyum tipis. Dokter Ardi pun berseru syukur dan memeluk Lina dalam posisi sedikit berdiri.
"Terima kasih, Lin!" bisiknya dalam pelukan wanita yang sudah mencuri hatinya itu.
Sesimpel itu memang cara Tuhan membolak-balikkan hati manusia. Dulu, dia tidak suka pada wanita yang di peluknya itu, tapi sekarang berada jauh dalam jangkauan, ia merasa rindu dan kehilangan. Dulu dia tak yakin bisa move on dari Suster Kinar, tapi dengan tangan Tuhan, hatinya kini berbalik arah pada wanita yang berstatus istrinya. Semoga mereka bisa memulai kisah baru ini dengan saling mengingatkan dan berjuang bersama.
...Bersambung.......
...Capek, gaessss.......
...Kalian pada silaturahmi kemana aja nih? Belum bisa ngetik banyak, aku kecapek'an huhuhu, nanti ya kalau tenaga dah pulih lagi aku double up...