
"Mbak, tunggu sini dulu! Saya akan melaporkan dulu pada Nyonya Sonia," ucap Pak Satpam pada Kinar.
Kinar mengangguk, dia berdiri di depan teras rumah itu. Pintu ganda bercat cokelat dengan kayu jati berukiran rumit di depannya itu tertutup kembali setelah pak satpam tadi masuk.
Kinar menunduk, menatap penampilannya yang cukup sederhana, tapi tidak juga terlalu norak menurutnya. Dia mengenakan rok tutu di bawah lutut, juga kemeja motif bunga-bunga, yang ia padukan dengan memasukkan sebagian kemeja ke dalam rok.
Tidak lama pintu kembali terbuka, Pak satpam tadi keluar diikuti Ibu sonia di belakangnya yang menggendong seorang bayi. Kinar langsung merasakan perasaannya membuncah melihat kedatangan Ibu Sonia. Pak satpam berpamitan kembali ke posnya dan meninggalkan Kinar dan Ibu Sonia berdua.
"Mari masuk!" ajak Ibu Sonia berjalan mendului, memasuki rumah megah itu.
Kinar mengangguk, membuntuti langkah Ibu Sonia dan mereka berhenti di ruang tamu rumah itu.
"Silahkan duduk!" ucap Ibu Sonia pada Kinar.
"Kamu sudah melahirkan?" tanya Ibu Sonia pada Kinar yang terus menatap pada gendongan Ibu Sonia.
Kinar mengangguk, tak mengalihkan tatapannya dari Alan. Ibu Sonia tahu, tapi dia berpura-pura saja, ingin mengetahui apa yang diinginkan wanita di depannya itu.
"Apa jenis kelaminnya? Dimana dia sekarang?"
Kinar tergagap. Tidak tahu harus menjawab apa.
"Dia diambil alih suami saya, Bu!" jawab Kinar jujur, tapi sedikit berbohong.
"Kejam sekali suamimu itu. Oh ya katanya kamu mau melamar kerja di sini? Kenapa? Bukannya kamu kerja di rumah sakit?"
"Saya dipecat, Bu! Jika berkenan izinkan saya bekerja di sini terserah bagian apa. Saya butuh pekerjaan," ucap Kinar menunduk.
Ibu Sonia tampak mendengus yang tak Kinar mengerti. Apakah Ibu Sonia masih merasa marah padanya? Dia jadi ragu akan diterima di sini.
"Baiklah. Kamu boleh bekerja di sini! Sebagai...."
"Apa saja, Bu. Terserah!" sahut Kinar dengan netra berbinar.
"Ibu susu untuk cucu saya!"
Kinar terdiam. Merasa tak percaya, dan juga terlalu terkejut.
"Ibu susu?" tanya Kinar memastikan.
Ibu Sonia mengangguk, "Kamu bilang suamimu memisahkan kamu dengan anakmu, kan? Jadi kamu bisa memberikan ASI mu untuk cucu saya."
Kinar mengangguk semangat. Tanpa sadar matanya memanas dan air matanya meluncur membasahi pipi.
"Kenapa kamu menangis?" tanga Ibu Sonia dengan wajah datarnya.
Kinar menggeleng, "saya hanya merindukan anak saya, Bu."
"Kamu boleh mulai bekerja besok!"
Kinar mengangguk, berpamitan pada Ibu Sonia, dia menatap lama bayi yang tertidur dalam gendongan Ibu Sonia. Lalu segera pamit dengan senyum yang tersumir di bibirnya. Akhirnya, dia bisa bersama putranya. Dia jadi tak sabar menunggu hari esok.
...Bersambung.......
...Sudah ya gaesss moga puas deh bacanya, walau pun saya masih galau sama ini NT lama banget accnya kzeellll aku tuh, pengen makan seblak wkwkw...
...tolong ya jangan pada hujat pak dokter nanti dimarahin teh Kinar, yang mau gampar online Pak Dokter mana nih, nanti kita gampar sama-sama 😂...
...makasih loh gaesss dah komen sama vote dan kasih hadiah, maaf ya gak bisa bales komen kalian satu-satu tapi kubaca kok...
...see you next part 👋 gaesss jangan lupa kasih hadiahnya yg banyak biar nanti aku bisa beli seblak, hehehe 😅...