Istri Siri Tuan Dokter

Istri Siri Tuan Dokter
(S2) Cinta Sepihak


Hidup kadang memang sedikit tidak adil. Lina bertahun-tahun merasa hidupnya tidak pernah beruntung, baik dari segi ekonomi maupun segi percintaan. Kadang, dia sering meratapi nasibnya ini, tapi segera tersadarkan akan nikmat lain yang Tuhan berikan padanya. Setidaknya, beberapa tahun ini dia sudah bisa berpikir positif akan jalan takdir yang Tuhan atur untuknya.


"Kalau masak jangan melamun!" Teguran bernada datar itu berasal dari Ibu Maria.


Lina sore ini menemani sang mertua memasak. Ia shift malam, jadi punya waktu seharian ini mencoba meluluhkan hati wanita baya itu seperti yang Dokter Ardi katakan.


"Iya, Ma!" sahut Lina kembali fokus pada sup di panci yang sedang ia masak.


Ibu Maria hanya menatapnya tajam, lalu kembali pada pekerjaannya yang menumis bumbu ikan bakar. Aroma harum dari bumbu yang ditumis sang mertua, membuat Lina menalan air liurnya. Uh, dia tidak sabar ingin segera mencicipi ikan bakar masakan ibu mertuanya itu.


"Kenapa lagi kamu?" sentak Ibu Maria yang kembali mendapati L na yang merenung.


"Eh!" Lina menggaruk pipinya yang tak getal, dan menyengir kaku. Ia menggeleng, dan kembali mengaduk sup di panci.


"Duh, Nak! Sabar, ya ikannya mau dimasak dulu sama Nenekmu!"


Namun, ketika ikan bakar yang tadi dielu-elukan oleh Lina sore tadi, nyatanya malah penyebab ia mual ketika mereka akan makan malam. Lina menahan napas agar aroma ikan bakar yang terhidang di meja tak tercium hidungnya, tapi tak lama karena setelahnya ia langsung berlari masuk ke kamar mandi yang ada di dekat dapur. Memuntahkan isi perutnya yang terasa bergejolak diaduk-aduk.


"Kenapa dia?" tanya Ibu Maria pada Ardi yang menatap cemas ke arah perginya Lina tadi.


Ardi tak menjawab karena dirinya langsung berdiri dan menyusul Lina ke kamar mandi. Membantu wanita itu dengan memijat pelan lehernya.


"Masih mau muntah?"


Lina menggeleng lemas. Dokter Ardi membimbing Lina keluar dari kamar mandi, dan mereka kembali duduk di kursi, dibawa tatapan penuh tanya Ibu Maria.


"Mas, bisa jauhin ikan bakarnya! Itu yang bikin mual tadi," bisik Lina yang duduk di samping kanan Dokter Ardi.


"Ok!" Lelaki itu menyahut paham.


Beranjak mengangkat piring yang berisi beberapa potong ikan bakar, dan hendak membawanya ke dapur, tapi pertanyaan sang Mama menghentikan lelaki itu.


"Bawa ke dapur, Ma. Lina mual sama baunya," jawab Ardi hendak berjalan lagi, tapi berhenti kembali mendengar ucapan Mamanya.


"Mual? Itu ikan masih seger pas Mama beli dan masaknya juga tadi sore, mana mungkin sudah basi dan berbau," ucap Ibu Maria mengerutkan kening bingung.


"Atau kamu memang sengaja karena masakan saya gak enak?" tuduh Ibu Maria kali ini menatap Lina yang mulai akan menyendokkan nasi ke mulut.


"Nggak gitu, Ma! Lina lagi sensitif penciumannya karena dia sedang hamil!" Ardi akhirnya mengungkapkan berita akan kehamilan wanita berstatus istrinya itu.


"Uhuk!" Ibu Maria tersedak nasi yang baru ia suapkan.


"Hamil?" Wanita baya itu menatap kaget Ardi dan Lina bergantian.


Dokter Ardi mengangguk. Sedangkan, Lina menunduk dalam. Ardi pun berlalu terlbih dulu ke dapur untuk menyimpan ikan bakar tadi, baru setelahnya ia akan menjelaskan akan kehamilan istrinya pada Mamanya.


"Sudah berapa bulan?" Pertanyaan Mamanya itu Ardi tangkap ketika ia kembali ke tempat makan.


Pertanyaan itu dilonyarkan pada Lina yang menunduk.


"Jalan 12 minggu, Ma!" Itu Dokter Ardi yang menjawab.


Ibu Maria mendengus, dan menghela napas kasar. Wanita baya itu tak bicara lagi, langsung beralu pergi dengan nasi di piringnya yang masih bersisa sedikit lagi.


"Kamu shift malam ini, kan? Aku antar!" Dokter Ardi memecahkan keheningan di meja makan yang hanya diisi oleh ia dan Lina.


Wanita itu mengangguk. Ada banyak pikiran negatif yang bersilewaran di kepalanya. Akan penolak sang mertua pada dirinya, dan anak juga sepertinya tak diterima di keluarga ini. Lalu, haruskah Lina membawa pergi janin ini dan hidup berdua saja dengan anaknya. Lagi pula, pernikahan yang mereka lakukan ini tak jelas tujuannya, hanya berlandaskan tanggung jawab dari Dokter Ardi. Jika suatu saat, lelaki itu menemukan tambatan hatinya, bukan tidak mungkin ia juga akan ditinggalkan nantinya. Tidak, Lina tidak bisa membayangkan hal seperti itu.


"Nak, kamu harus kuat agar kita bisa saling menguatkan, jika suatu saat kita ditinggalkan nantinya!"


...Bersambung.......