
Lima hari setelah pengakuannya pada Ibu Sonia, sikap Kinar agak berubah. Dia sedikit menjaga jarak dari wanita baya itu, padahal Ibu Sonia masih bersikap santai seperti biasanya. Hanya saja, Kinar merasa sedikit kecewa akan keputusan Ibu Sonia. Makanya, dia tak lagi banyak bicara dengan Ibu Sonia, jika Ibu Sonia ingin bermain dengan Alan, dia hanya akan memperhatikan saja, tanpa mau membuka obrolan seperti biasanya.
Pagi ini Kinar merasa perutnya tak enak. Sedikit tegang dan badannya juga sedikit lesu. Mungkin efek stresnya kemarin lusa karena memikirkan akan hubungannya dengan Dokter Radit yang tidak direstui oleh Ibu Sonia.
Kinar mengingat-ngingat kapan dia datang bulan, dan netranya membola saat melihat tanggal dan mendapati dia sudah terlambat datang bulan selama 10 hari dari waktu biasanya dia datang bulan. Jangan bilang di hamil? Tapi, mengingat dia yang sudah berhubungan kembali dengan Dokter Radit, mungkin saja dia hamil. Untuk menuntaskan rasa penasarannya, Kinar membeli test pack di supermarket yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah megah orang tua Dokter Radit itu.
"Du--dua garis? Aku hamil?" Kinar menatap linglung test pack yang ia letakkan di atas wastafel.
Oh, tidak! Alan masih kecil dan dia sudah hamil lagi. Ini salahnya yang lupa meminum pil kontrasepsi, saat mereka kembali berhubungan beberapa kali. Ya, bukan hanya malam itu, tapi malam-malam lainnya Dokter Radit juga menyambangi kamarnya.
Kinar hanya dapat mengembuskan napasnya, tak mungkin juga dia menolak saat kini sudah ada kehidupan lain di rahimnya. Ya, mau gimana lagi Kinar harus menerimanya dengan ikhlas dan menjaga kandungannya. Setidaknya ini bisa ia jadikan alasan agar Ibu Sonia mau membatalkan pernikahan suaminya dengan Lilis.
"Alan, kalau kamu dapet adek gimana, Nak? Marah gak sama Bunda?" tanya Kinar saat dia memakaikan baju pada putranya pagi ini.
Balita berusia delapan bulan itu hanya mengoceh-ngoceh tak jelas dengan tangan mengepal bergerak-gerak aktif.
"Duh, pinter banget sih anak Bunda!" kekeh Kinar gemas.
...________...
"Mbak Kinar sakit?" tanya Bi Isah saat menemani Kinar sarapan. Ya, hari ini dia telat sarapan karena rupanya dia mual-mual saat hendak menyemprotkan parfum yang sering ia pakai. Meski pagi dia jarang mengalami morning sickness, tapi ternyata dia sensitif pada bau-bau tertentu, ya seperti parfum kesukaannya.
"Gak, Bi! Memang beberapa hari ini lesu aja badannya karena sudah jarang olahraga kayaknya," jawab Kinar berbohong. Untungnya selera makannya baik, meski tubuhnya agak lesu.
"Eh saya ke ruang tamu bentar ya, Mbak! Mau ngasihin susu Den Alan," ucap Bi Isah menunjukkan botol susu yang sudah dia buat tadi.
Kinar mengangguk mengiyakan. Setelahnya Bi Isah berlalu pergi. Sedangkan, Kinar kembali menyendok nasi lagi ke piringnya. Sepertinya porsi makannya bertambah karena dia yang sedang mengandung.
............
"Bi!"
Bi Isah yang sedang memasak untuk makan siang, menoleh pada Ibu Sonia yang mendatanginya ke dapur. Hari ini Bi Isah masak sendiri karena Bi Noni sedang sakit. Sedangkan, tiga ART lainnya mengerjakan pekerjaan lainnya.
"Eh, Ibu? Ada apa, Bu? Mau dibuatin sesuatu?" tanya Bi Isah.
Ibu Sonia menggeleng.
"Kayaknya sih iya, Bu. Tapi dia gak mau ngaku cuma bilang kurang olahraga katanya," sahut Bi Isah menjelaskan.
Ibu Sonia mengangguk, "hem, ya sudah. Bibi lanjutin aja masaknya."
Ibu Sonia berlalu dan memutuskan mencari angin segar di luar. Kinar sendiri mungkin sedang menidurkan Alan, pikirnya.
"Kalian gak curiga apa sama Suster Kinar itu? Kemarin malam saya gak sengaja lihat dia pelukan sama Mas Radit di taman belakang," ucap Bi Deni yang sedang membersihkan area halaman rumah bersama dua temannya.
"Pelukan gimana, Ni?" tanya salah satu temannya.
"Ya, pelukan mesra banget gitu. Kayaknya ini Suster berbahaya deh, dia godain Mas Radit padahal Mas Radit sebulan lagi mau nikah. Gatel banget gak sih ini Suster," ucap Bi Deni lagi memancing dua temannya.
"Dih ngeri juga. Mungkin karena itu juga ya si suaminya ninggalinnya, karena ini perempuan gak bener," sahut temannya yang satu lagi.
"Siapa perempuan yang kalian bilang gak bener, hah? Mau kerja atau mau gosip di sini? Kalau masih mau kerja di sini, berhenti mengomentari hidup orang lain, atau silahkan mengundurkan diri dan carilah pekerjaan lain!" Suara Ibu Sonia lantang dan meninggi menandakan kemarahan.
Tiga ART yang terciduk itu segera menundukkkan kepala mereka dengan takut.
"Ma--maaf, Bu. Kami tidak akan mengulanginya lagi," ucap Bi Deni terbata.
"Ini peringatan terakhir, saya tidak suka memperkerjakan orang yang suka mengomentari tapi tidak tahu seluk beluknya, mengerti?" ujar Ibu Sonia dingin memperingatkan tiga ART nya.
Tiga orang itu mengangguk paham. Setelahnya Ibu Sonia berlalu kembali masuk ke rumah. Niatnya yang ingin mencari angin batal, karena dia terlanjur badmood.
"Bi, kenapa Ibu Sonia marah-marah di depan?" tanya Kinar yang baru saja masuk ke dapur hendak membantu Bi Isah.
"Itu, Mbak! Bi Deni dan kawan-kawan biasalah ngomongin Mbak Kinar lagi," sahut Bi Isah yang tadi tidak sengaja menguping dan meninggalkan dapur hanya ingin melihat tiga ART itu dimarahi.
Kinar menghela napas. Raut wajahnya berubah mendung.
"Gak usah dihiraukan, Mbak!" ucap Bi Isah melihat wajah mendung Kinar.
Kinar mengangguk saja. Ya, tiga ART itu juga sudah ditegur oleh Ibu Sonia, mereka mungkin gak akan berani lagi menggosipkannya yang tidak-tidak.
...Bersambung.......