Istri Siri Tuan Dokter

Istri Siri Tuan Dokter
Baby Alan Belajar Jalan


Kini sudah dua bulan berjalan sejak hari pernikahan itu. Baby Alan pun tentu sudah bertambah usia, kini sudah sepuluh bulan. Balita gembil menggemaskan itu saat ini sedang berlatih berjalan, bersama sang Ibu.


"Ayo, Nak! Belajar berdiri dulu, ya! Yeay, semangat, sayang! Eh jatuh!"


Suara semangat Kinar mengisi ruang tengah yang dijadikan tempat bermain Alan hari itu.


"Ayo, coba lagi!" ucap Kinar membantu sang putra berdiri.


"Kinar, makan siang dulu sana! Alan biar sama Mama."


Suara Ibu Sonia menginterupsi keasikan ibu dan anak itu. Kalau nar mengangguk.


"Ok, Ma!"


Baby Alan pun sekarang bermain dengan Ibu Sonia setelah Kinar berlalu menuju dapur untuk makan siang. Rumah tampak lengang siang hari. Tentu saja karena para pria berangkat bekerja.


"Wah, cucu Nenek makin pinter, ya! Mau belajar jalan, Nak? Ayo, ayo sama Nenek!"


Baby Alan yang duduk mengemuti mainannya pun dibantu berdiri oleh sang Nenek.


"Bentar lagi dapet adek. Jadi, harus semangat belajar jalannya ya, Lan!" ucap Ibu Sonia pada balita berumur sepuluh bulan itu.


Ya, hari itu dihabiskan dengan mengajari Baby Alan berjalan. Meski belum mahir, setidaknya si balita itu sudah mulai belajar sendiri berdiri dengan memegangi dinding atau sofa di dekatnya.


"Asik banget sih! Suami pulang saja gak sadar," ucap Radit ketika ia memasuki kamar dan mendapati Kinar yang fokus membaca buku di pangkuannya.


"Hehehe, keasikan baca novelnya, Mas. Mau makan malam sekarang? Aku mau makan lagi soalnya," sahut Kinar menutup bukunya setelah melipat bagian yang ia baca.


"Makan lagi?" tanya Radit, sambil melepaskan kemejanya.


"Iya, laper lagi." Kinar menyahut dengan cengiran. Di kehamilan kedua ini sepertinya nafsu makannya dua kali lipat dari sebelumnya.


"Ok. Aku bersih-bersih dulu." Radit melengang masuk ke kamar mandi. Sedangkan, Kinar berjalan keluar dari kamar untuk menuju dapur dan menghangatkan lauk.


"Mual waktu makan siang tadi. Padahal lauknya enak, tapi si dedek bayinya gak suka," jawab Kinar sambil menambahkan lagi nasi ke piringnya yang sudah kosong.


"Kin, banyak banget! Nanti kembung loh perutnya!" peringat Radit melihat Kinar yang kembali sudah menyuapkan nasi ke mulutnya sendiri, dan mengabaikan ucapan Radit tadi.


Selesai makan, Kinar merasa perutnya kembung dan ia kesulitan untuk tidur. Sedangkan, sang suami sudah terlelap di sampingnya. Kinar jadi tak tega untuk membangunkan wajah Radit yang begitu tampak sangat kelelahan.


Kinar pun menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang, dia mengelung perutnya yang sedikit membuncit, memang belum kelihatan jika dari luar, tapi jika ia menyingkap bajunya buncit di perutnya akan kentara.


"Duh, kayaknya ini kekenyangan deh. Jadi, sesal kalau dibawa tidur," gumam Kinar.


Dia memutuskan untuk membaca buku sambil meredakan rasa tak nyaman di perutnya. Kinar tidak ingat waktu, hingga dia masih membaca sampai jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Namun, netranya belum juga mau terpejam.


Radit terbangun karena desakan ingin buang air kecil. Dia mengernyit karena lampu kamar mereka masih benderang. Ia pun bangkit, dan mengangetkan Kinar yang masih asik dengan bacaannya.


"Kin, kamu belum tidur?" tanya Radit bingung.


"Perutnya gak enak, Mas. Kayaknya kekenyangan deh," sahut Kinar mengusap perutnya.


Radit cemas, "gak enak gimana? Aku periksa, ya?"


Kinar menggeleng, "gak usah, Mas. Ini sudah enakkan kok. Mau siap-siap tidur juga ini," ucap Kinar meletakkan bukunya di nakas samping ranjang.


"Jangan sering-sering begadang gini, Kin! Ingat kesehatan kamu sama anak kita," ucap Radit membantu Ke nar berbaring dan menarik selimut hingga batas bahu.


Kinar mengangguk paham. Radit pun berlalu ke kamar mandi untuk buang air, dan kembali bergabung bersama Kinar di ranjang. Ia peluk sang istri, sambil mengelus punggung Kinar agar wanita itu cepat tertidur.


...Bersambung.... ...


...Maaf, ya gengs kayaknya hari ini cuma bisa up satu juga dikit soalnya sibuk banget hari ini....