Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat

Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat
Hasil Tes


Nyonya bangun nyonya! ucap Wati panik ia pun menepuk-nepuk pipi Santi.


Santi membuka matanya dengan perlahan.


"Hah, syukurlah Nyonya tak apa-apa,"ucap Wati sambil mengurut dada.


Santi membuka matanya yang terasa berat.


"Nyonya, apa yang terjadi pada Nyonya?" tanya Wati khawatir.


Ehm, saya ngak apa-apa Mbak, ucap Santi lirih.


"Aduh Nyonya, suhu tubuh anda 38 derajat celcius, bagaimana bisa anfa bilang jika anda tak apa-apa,"cicit Wati.


"Kalau tuan muda tahu keadaan nyonya keadaan saya bisa berada di ujung tanduk Nyonya, saya bisa di pecat!"


Wati membenahi bantal Santi kemudian membantunya bersandar pada headboard.


"Mbak, jangan bilang suamiku seperti itu, aku sedih jika ada yang menjelek-jelekan suamiku, suami ku ganteng kok" protes Santi dengan suara lirih.


"He he, Maaf Nyonya, saya ngak menjelekan tuan, hanya bilang jika tuan muda itu killer,"sahut Wati dengan nada bercanda.


"Mbak jangan bilang pada tuan jika saya sakit, saya tak ingin membuatnya khawatir," pinta Santi lirih, wajah dan bibirnya memerah.


"Iya Nyonya, tapi kenapa tiba-tuiba saja Nyonya demam begini sih?"tanya Wati yang meraba kening Santi.


Santi menatap Wati dengan tatapan berembun.


"Saya kangen sekali dengan suami saya Mbak, hiks hiks, " jawab Santi dengan meneteskan air matanya.


"Saya mengerti Nyonya, tapi jangan terlalu di pikirkan, bagaimana kalau Nyonya salit hingga mengganggu kesehatan janin anda?"


"Sudah lah Nyonya juga belum makan, mari saya yang suapi," ucap Wati seraya meletakan nampan di atas pangkuannya.


Santi pun makan, hanya beberapa sendok, setelah menyuapi Santi, Wati membereskan piring bekas Santi makan, setelah itu ia menghampar kasur yang terbuat dari busa.


"Mbak Wati ngapai di sini?"tanya Santi heran.


"Maaf Nyonya, tuan muda berpesan jika saya harus menjaga Nyonya, bahkan saat Nyonya tidur di malam hari,"papar Wati.


Hm, Santi menggangkat bahunya kemudian memejamkan matanya dengan memeluk kemeja Barley.


"Semoga kau cepat pulang sayang, aku merendukan mu," ucap Santi sambil mencium kemeja Barley.


***


Hari ketiga pasca operasi, kini Amora sudah bersiap untuk di pulangkan ke lapas.


Meski masih terasa sakit, tapi semua obat sudah di resep dan di tebus oleh Arief selama sebulan.


Suster melepaskan infusan pada pergelanhan tangan Amora, tak ada keluarga yang menungguinya dan menyambut kepulanhannya.


"Kenapa di lepas Suster, saya masih sakit dan masih lemah, " ucap Amora mencari alasan.


"Saya tidak tahu Bu, hanya menjalankan tugas saja," papar Suster tersebut dingin.


"Hua hua , saya ngak mau di penjara lagi Sus, saya masih sakit!" serunya sambil menangis.


Baru beberapa hari ini ia merasa segarnya angin kebebasan meski ia berada di rumah sakit dan dalam keadaan sakit, setidak di sini udaranya terasa segar karna tempatnya yang selalu bersih, lagi pula, ia makan makanan yang enak tiga kali sehari di sini tak seperti di penjara yang makan hanya berlauk tempe sepotong dan sayur bening.


"Suster, tak bisa kah sehari lagi saya berada di sini."Amora memohon.


"Tidak bisa Nyonya! ini sudah peraturan, anda harus kami bawa segera ke sel tahanan," ucap salah satu petugas dari kepolisian dengan tegas, ia pun menunjukan borgolnya.


Amora tertunduk, kini hari-harinya kembali di habiskan di dalam penjara.


Suster tersebut membantu Amora membereskan pakaiannya, hanya ada tiga pakaian ganti bagi Amora, dan itu pun semua Arief yang mempersiapkan untuknya.


Malang sekali nasib mantan tuan putri tersebut.


Amora pun di angkat dengan menggunakan kursi roda, untuk melewati koridor hingga sampai di lantai dasar dan menuju ke mobil tahanan.


Tak ada keluarga yang menyambut kepulangannya, yang ada hanya beberapa orang polisi dan petugas sipir mengelilinginya, menjaganya dengan ketat agar tak kabur.


Setelah berada di depan mobil tahanan, Amora kembali di angkat menuju mobil tahanan.


Setengah jam, mereka pun sampai di lapas, Amora kebali lagi di masukan ke dalam penjara dan dua puluh tahun akan mendekam disana.


Kedatangan Amora di sambut haru oleh Veronica.


Matanya berbinar ketika melihat kedatangan Amora.


"Amora," ucapnya lirih, air mata mengalir menetes di pipinya, ada perasaan haru dan bahagia melihat keadaan Amora yang baik-baik saja.


"Mami!" ucap Amora sambil menangis memeluk Veronica.


"Amora!"Veronica menangis haru memeluk putri tercinta.


"Amora, kamu sudah melahirkan? di mana bayi kamu sekarang?"tanya Veronica sambil memutar pelan tubuh Amora.


"Entalah Mommy, mungkin sekarang dia sudah mati," sahut Amora ketus.


Veronica dan Andini membelalakan matanya mendengar ucapan Amora.


"Amora! kamu jangan seperti itu! bagaimana pun dia itu anak kamu! darah daging Mami juga! "cecar Veronica emosi.


Tapi Amora membuang wajahnya, "Tapi kenyataanya memang begitu Mommy! anak yang ku lahirkan mengalami kelainan jantung, dan di operasi, aku rasa dia tak selamat, sudahlah Mami! bukannya dari dulu aku memang ingin membuangnya," ucap Amora santai.


Veronica dan Andini syok.


Apa Amora?!"teriak Veronica tak percaya dengan ucapan Amora.


Andini menyunggingkan senyum tipis.


"Dasar iblis!" dengus Andini seraya menatap sinis ke arah Amora.


"Apa katamu?!"teriak Veronica yang tersinggung.


"Aku bilang Amora itu iblis! harimau saja yang garang masih sayang dengan darah dagingnya, tapi lihat lah putrimu itu! berdarah dingin tak punya perasaan!"cecar Andini.


"Apa kata mu! berani-beraninya kau!"Veronica menggeram ia pun menarik dan menjabak rambut Andini.


"Emang kenapa?! putri mu memang iblis."


Keduanya pun berduel sengit, saling mencaci saling memaki, dan saling menjambak rambut lawan duelnya.


Sementara Amora tak ambil pusing, ia duduk dengan hati-hati, sambil membuka bungkusan roti yang belum sempat ia makan di rumah sakit, pemberian Arief dan juga polisi yang menjaganya.


Seperti menikmati tontonan gulat WWE smackdown antara Chyna dan Ronda Rousey.


"Ayo Mi! hajar nenek sihir itu Mi!" teriak Amora memberi semangat, mendengar kegaduhan penghuni lapas yang lainya pun berkumpul ikut melihat hiburan gratis tersebut yang jarang mereka tonton, ada yang menyerukan yel yel pembangkit semangat ,membuat lapas tersebut rame, bahkan ada penghuni lapas yang menggunakan kemban tak jadi mandi demi menonton pertempuran sengit abad ini.


"Ayo jo !Ayo jo !Ayo jo!, mereka semua berteriak penuh suka cita memberi semangat.


Kegaduhan tersebut terdengar hingga penjaga lapas.


"Berhenti!" teriak penjaga lapas mereka pun semua bubar dan lari kocar kacir.


Andini dan Veronica sama-sama dalam keadaan babak belur.


***


Barley berada di laboratorium untuk menggambil hasil tes DNanya dua hari yang lalu.


Kini sebuah amplop hasil dari tes laboratorium berada di tangannya.


Dengan perlahan ia pun membuka amplop tersebut secara hati-hati.


Matanya begitu jeli melihat dan membaca hasil tes tersebut, dan seketika jantung Barley berdetak kencang ketika melihat hasil tes DNA mereka.


Barley hampir kehilangan napasnya, menahan air matanya, res' gelisah dan kecewa yang ia rasakan.


"Bagaimana bisa ini terjadi?"tanyanya sambil menutup selembar kertas dan memasukkan-nya kedalam amplop kembali.


"Daddy!"


Barley berjalan cepat menuju ruang perawatan tuan Marco dengan air mata yang menggenang.


Bersambung.


Dukung author terus ya, In sya Allah ceritanya akan semakin seru kok!


💖Like


💖komen


💖saran


💖hadiah


💖vote I 💖 U All😘😘😘


D