
Amora berada di sudut sunyi ruang kamarnya. Sudah seminggu pintu rumahnya tertutup rapat.
Sejak mengetahui Asyia dalam keadaan sekarat, Amora sudah tak menerima tamu lagi.
Ia lebih banyak menghabiskan waktunya berdoa untuk kesembuhan Asyia.
Amora bersujud dan menangis di keheningan malam.
"Ya Tuhan selamatkan lah putri ku dari penyakit yang selama ini di deritanya. Aku sadar semua itu karna kesalahan ku sewaktu mengandung nya. Jika engkau mau menghukum, maka hukum saja aku, hiks hiks hiks."
Sepanjang malam ia berdoa demi kelancaran operasi Asyia.
***
Sudah dua hari Arief dan Barley berada di rumah sakit. Mereka pun mempersiapkan kepulangannya.
Karena sudah ada Aldo dan Delia yang menjaga Asyia di rumah sakit. Keadaan Asyia pun mulai stabil, meski ia harus tetap bedrest karena beberapa alat medis tetap terpasang pada tubuhnya.
Setelah mengemasi barang-barang nya Barley menghampiri Andhra yang sibuk dengan laptop nya.
"Andhra kamu yakin ngak mau pulang bersama Daddy? " tanya Barley dengan lemah lembut, berusaha untuk membujuk Andhra.
"Ngak Daddy. Andhara juga sedang belajar nih." Andhara.
Andhra memang tengah menyimak penjelasan gurunya saat ia sedang menjalani sekolah Daring.
"Ya sudah. Jaga kesehatan kamu, Daddy percaya sama kamu, "ucap Barley kemudian mencium pipi putranya.
"Ia Daddy. Daddy juga Hati-hati di jalan. " Andhara mencium punggung tangan daddy nya.
Arief yang juga hendak pulang, ia pun menghampiri Asyia.
"Asyia Paman pulang dulu Nak. Setelah urusan paman selesai,Paman akan kembali lagi," ucapnya sambil mencium pucuk kepala Asyia.
"Iya Paman. Terima kasih, Hati-hati di jalan. "
Setelah berpamitan, Mereka pun siap untuk pulang ke tanah air. Arief tak terlalu mengkhawatirkan Asyia karena ada Aldo dan Delia yang mengurusnya, ada pula Andhara yang kehadiran nya mampu menjadi penyemangat bagi Asyia.
Selain jadi teman, Andhra juga akan jadi donatur yang akan membiayai semua perawatan, menebus obat dan sebagainya nya selama mereka berada di rumah sakit.
Barley dan Arief mendorong koper mereka masing-masing. Namun, tiba-tiba seorang suster datang menghampiri nya.
"Salah satu keluarga pasien di minta untuk menemui dokter spesialis jantung," ucap suster tersebut dalam berbahasa Inggris.
Kebetulan Arief dan Barley tak terburu-buru. Mereka pun menyempatkan diri untuk menemui sang dokter.
"Ayo Rif kita temui dokter dulu, siapa tahu ada yang penting. " Barley.
"Iya Tuan. "
Mereka pun berjalan mengikuti suster tersebut menuju ruangan dokter yang menangani Asyia.
Mereka pun masuk kedalam ruang dokter. dan berdialog langsun dalam bahasa Inggris.
"Selamat siang," ucap dokter.
"Selamat siang." Arief dan Barley
Arief dan Barley pun saling berpandangan.
"Kabar baik apa dokter? " tanya mereka serempak.
"Saat ini seorang ada seorang pasien yang sedang kritis, akibat radang selaput otak nya. Keluarga nya juga sudah pasrah karena sudah sebulan si pasien tak juga sadar dari koma. Hanya alat bantu medis yang membuatnya tetap hidup. Karena ada kerusakan permanen pada otaknya. Namun, fungsi organ dalam seperti jantung dan Paru-paru masih berfungsi secara baik. Melalui pemeriksaan golongan darah dan ukuran jantung nya, kami merasa seperti nya jantung pasien tersebut cocok untuk jantung pasien bernama Asyia. "
Barley dan Arief saling memandang.
Arief tak tahu harus bagaimana. Jujur saja ia sebenarnya takut menghadapi operasi transplantasi jantung Asyia, karena resiko nya yang begitu banyak, Asyia bisa meninggal di meja operasi atau jika operasi nya gagal karena tubuhnya menolak beradaptasi dengan jantung cangkok kan yang baru. Namun, Di sisi lain ada harapan baru bagi Asyia untuk hidup normal meski harus mengkomsumsi beberapa obat dalam jangka waktu yang lama.
"Kira-kira kapan operasi nya berlangsung? " tanya Arief.
"Tergantung dari kondisi pasien. Jika memungkinkan dalam dua atau tiga hari lagi operasi akan di lakukan. " Dokter.
Arief menarik napas panjang.
"Baik Dokter. Kami siap kapan saja. " Arief
Setelah berbicara pada dokter, mereka pun keluar dari ruangan.
"Arief terlihat khawatir. Rif, kau urus saja Asyia. Biar aku yang urus perkerjaan mu selama kau di sini. " Barley.
"Terima kasih Tuan. Tapi ada yang lebih aku khawatirkan, aku takut terjadi sesuatu pada Asyia saat operasi. " Arief.
"Tenang saja Rif, Tiap-tiap manusia punya batas waktu untuk hidup di dunia ini. Kita ini sedang ikhtiar, jika belum waktu nya, tak akan terjadi apapun pada keponakan mu itu."
"Iya Tuan. "
Mereka pun kembali ke kamar perawatan Asyia.
Wajah kedua pria tampan tersebut tampak tegang, hingga menimbulkan pertanyaan pada orang-orang yang melihatnya.
"Ada apa Bang? " tanya Aldo yang juga ikut tegang.
Arief menghampiri Aldo.
"Jantung donor sudah tersedia untuk Asyia. Dalam waktu dekat ini, operasi akan di langsung kan.
Seketika perhatian mereka tertuju pada Arief dengan raut wajah yang tegang, begitu pun Asyia. Ia tak menyangka akan secepat ini.
Arief mendekat kearah Asyia.
"Asyia, kamu harus kuat dan semangat ya Nak. Jangan takut, berdoalah selalu agar operasi ini berhasil, " ucap Arief seraya mengusap kepala Asyia.
Asyia terdiam, jujur saja ia takut menghadapi operasi ini. Seketika tubuhnya pun gemetar.
Suasana terasa menegangkan, Masing-masing mereka mempunyai kekhawatiran dan rasa ketakutan mereka sendiri.Berhasilkah operasi Asyia??
Bersambung dulu reader, mumpung masih suasana lebaran author mau ucapin selamat hari raya idul Fitri mohon maaf lahir batin. Untuk reader yang sedang mudik atau pulang dari kampung halaman author doakan semoga selamat sampai di di tujuan Aamiin.
Hai author punya rekomendasi novel keren., dengan judul mu Culun Ceo karya Pinkan miliar.