Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat

Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat
Pengorbanan


"Lepaskan Tuan! aku tak mau ikut dengan mu!" teriak Santi sambil mencoba membuka pintu mobil yang di kunci oleh Barley.


"Diam! berani-beraninya kau menemui pria lain di belakang ku, kau sudah bermain api Santi dan kau sendiri yang akan terbakar, aku muak dengan Sikaf mu!"Barley.


"Tapi tuan aku dan bang Arief tidak ada hubungan apa pun kami bertemu karna aku yang telah menolong adiknya ketika kecelakaan," papar Santi seraya menghapus titik air matanya.


Baru beberapa hari ia merasa lega keluar dari rumah terkutuk itu, kini Barley memaksanya untuk tetap tinggal di tempat itu kembali.


"Dengar Santi! kau akan ku lepaskan setelah kita benar-benar resmi bercerai! dan selama kita menjalani proses perceraian, kamu akan tetap tinggal bersama ku," ucap Barley tegas.


Santi membuang mukanya menghadap keluar jendela setelah perdebatan tersebut keduanya lebih memilih untuk bungkam.


Mobil Barley perlahan masuk menuju halaman rumah yang luas tersebut, saat yang bersamaan kedatangan Barley sudah di tunggu oleh keluarganya.


Barley berheti tak jauh dari teras rumah rumahnya, setelah memakir mobil dengan rapi, ia membuka pintu mobil kemudian menarik tangan Santi dengan kuat.


"Lepaskan Tuan,! aku bisa berjalan sendiri!" ucapnya seraya meronta meminta melepaskan cengraman pergelangan tangannya.


Namun Barley tak perduli bahkan ia menarik Santi hingga masuk kedalam rumahnya.


Langkah keduanya terhalang oleh Andini.


"Barley kenapa kau bawa perempuan ini kembali ke rumah ini?"tanya Andi dengan kedua lengan menyilang pada bagian perut. atasnya.


"Santi akan tinggal di sini sampai kami benar-benar telah resmi berpisah," papar Barley yang masih menarik tangan Santi hingga menuju lift.


Hiks, hiks hiks, Santi hanya bisa menitikan air matanya.


Sesampainya di lift mereka masuk kedalam lift tersebut dengan tangan Barley yang tetap mencengram erat tangannya.


Ting, pintu lift terbuka dan di depan mereka adalah kamar Barley.


Masih dengan mencengram Santi, Barley menarik tangan tersebut agar mengikuti kemana pun ia pergi.


Sesampainya di kamar, barulah Barley melepaskan cengramannya.


"Kau akan ku kurung di sini, sampai pengadilan memutuskan gugatan cerai ku terhadap mu," ucap Barley dingin.


Santi hanya bisa menerima dengan pasrah, setidaknya setelah perceraian tersebut selesai, dirinya akan keluar dari rumah ini untuk selamanya.


Barley mengambil sebuah berkas yang ada di dalam laci meja kerjanya yang menyatu dengan kamar tidur tersebut.


"Ini berkas-berkas perceraian kita, tinggal kau tanda tangani dan kau isi saja bagian harta ku yang mana yang kau inginkan sebagai harta gono-gini," ucap Barley seraya melempar sebuah map beserta ballpoint dibatas tempat tidur.


Santi mendekati tempat tidur untuk menanda tangani berkas tersebut.


Barley berdiri tak jauh dari Santi yang sedang membaca berkas-berkas perceraian mereka, beberapa lama kemudian Santi menyerahkan berkas yang sudah di tanda tangani.


Barley meraih berkas tersebut dengan kesal, kemudian ia kembali memeriksanya dengan teliti.


Barley menyeritkan dahi menatap Santi.


"Kenapa tak kau tuliskan harta apa saja yang kau inginkan sebagai pembagian harta gono-gini?"tanya Barley.


"Saya tak butuh harta Tuan, saya hanya ingin bisa terbebas selamanya dari Tuan secepat mungkin," papar Santi dengan ketus.


"Huh dasar sombong, terserah kau saja lah." Barley.


Setelah menyimpan berkas tersebut kembali, Barley keluar dari kamar tersebut.


"Barley!"


Andini memanggil Barley untuk menghentikan langkahnya.


"Ada apa lagi Mommy?" dengus Barley.


"Barley dengar mommy, kamu harus segera menikahi Amora, karna sudah tidak ada waktu lagi, orang tua Amora mendesak kita agar pernikahannya di percepat, kali ini tolong jangan permalukan Mommy Barley, mommy mohon, lagi pula untuk apa kau pertahankan wanita yang murahan itu."


"Bukankah setelah menikah dengan Amora, kau bisa memiliki istri lagi dan menceraikan Amora, untuk sementara kau bantu mommy dulu, agar


mommy tidak malu kepada keluarga besar Amora." Andini


Andini menakup kedua belah tangannya memohon kepada putranya tersebut.


Karna merasa kasihan terhadap Andini, Barley pun setuju, lagi pula ia merasa sudah tak ada harapan lagi untuk membina rumah tangga bersama Santi.


"Baiklah Mommy terserah atur saja, pernikahannya, aku juga sedang mengurus perceraian ku."Barley.


Barley menuju club malam, untuk menenangkan pikirannya, ia terbiasa minum-minuman keras agar beban pikirannya sedikit berkurang meski hanya sesaat.


Barley meneguk minuman yang ia pesan


di bartender.


Seorang wanita berpakaian serba mini menghampirinya," Butuh teman Tuan?"tanya wanita tersebut seraya menuang minuman yang ada di dalam botol ke dalam gelas Barley.


Barley mengangkat satu tangannya sebagai isyarat ia tak ingin di ganggu.


Setelah merasa kepalanya terasa berat, Barley memutuskan untuk pulang, setelah membayar minumannya tersebut.


Barley menyetir mobil dalam keadaan setengah mabuk, hingga beberapa kali ia hampir menabrak dan di tabrak beruntung tak ada kecelakaan terjadi hingga ia selamat sampai di rumah.


Setelah memakirkan mobilnya secara sembarangan, Barley langsung menuju kamarnya.


Saat itu Santi telah pulas tertidur, Barley yang berada dalam pengaruh alkohol melihat Santi seperti melihat Sania.


"Sayang," ucap Barley seraya mengucek-ngucek matanya.


Setelah mengucek dan memastikan jika itu Sania, Barley merasa senang, ia pun segera naik keatas tempat tidur, hingga menimbulkan guncangan dan membuat Santi tersadar.


"Sayang, "ucap Barley yang langsung memeluk Santi.


"Tuan, lepaskan Tuan, aku bukan kak Sania," ucap Santi dengan menepis tangan Barley yang melingkar di tubuhnya.


"Sayang, jangan pergi lagi, jangan tinggalkan aku, tak ada yang bisa mencintaiku dengan tulus seperti kau mencintaiku, " racau Barley seraya menangis memeluk Santi.


Santi terdiam, ia juga merasa sedih melihat Barley yang tersiksa karna cintanya pada sang kakak.


Barley memeluk, mencium, mengecup bibir Santi meluapkan rasa rindunya pada Sania.


Kali ini Santi membiarkan apa saja yang Barley lakukan terhadapnya.


Barley melepas satu per satu pakaian yang di kenakan oleh Santi, kemudian ia melepaskan penutup tubuhnya hingga polos.


Dengan lembut Barley mendaratkan kecupan dan cumbuan di sekujur tubuh Santi seramta tak henti-hentinya bibirnya mengucap kata cinta.


"Aku cinta pada mu, sayang." Barley


Santi menelan ludahnya untuk membasahi tenggorokan, keadaan terasa meneganggkan ketika Barley mulai memasukan senjatanya.


Untuk pertama kalinya Santi merela tubuhnya , untuk melayani sang suami, meski di pikiran Barley saat itu ia tengah bercinta dengan Sania.


Santi menitikan air mata mendengar lengkuhan demi lengkuhan kenikmatan yang di rasakan oleh Barley ketika menikmati tubuhnya.


Sesekali ia menghapus air matanya seraya menahan sesak yang terasa menghimpit dadanya, 'Apa ini yang dinamakan pengorbanan, lalu untuk siapa aku berkorban, untuk Barley atau untuk rasa cinta yang mulai tumbuh di hatiku' batun Santi.


Setelah satu ronde pertempuran tanpa perlawanan itu, tubuh Barley lemas tergeletak di samping Santi.


Seketika itu Barley langsung terlelap dengan senyum kepuasan yang terbit di sudut bibirnya.


Sementara Santi menarik selimut menutupi tubuh polosnya dengan hati yang hancur.


"Bagaimana bisa aku merelakan tubuh ku, untuk seseorang yang tak pernah mencintai ku," guman Santi menangis.


Bersambung guys, tinggalkan dukungannya.


Sambil nunggu author up, mampir di karya author yang lainya yuk, ngak rugi kok


Kenapa Harus Menikah Dengan Mu


Aira gadis belasan melarikan diri dari ayah kandungnya yang hendak menikahinya dengan pria paroh baya karna hutang.


Ia pun melarikan diri ke rumah pamanya namun kembali di jual oleh pamannya untuk melayani pria hidung belang.


Meski di siksa, Aira tetap kukuh mempertahan kan kehormatannya, hingga mengalami depresi dan harus di rawat di rumah sakit jiwa, tak hanya itu ia pun di jadikan taruhan dari kedua playboy kampus yang bernama Romeo dan Aldi yang  sedang balapan mobil.


Barang siapa yang kalah, harus mau menikahi pasien rumah sakit jiwa dan mereka memilih Aira.


Ternyata cinta di hati Aldi dan juga Romeo, bagaimana Aira menghadapi hidupnya mampukah ia mengejar cita-cita dan cinta yang ia impian dalam hidupnya.


Karna ternyata pernikahan yang ia jalani tak semudah yang ia pikirkan.