Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat

Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat
Bertemu Ayah


Keluar Arief tengah menikmati quality time bersama. Raffa duduk di antara ayah bundanya.


"Ayah-Bunda,  lihatlah tadi Raffa dapat nilai seratus loh sama ibu guru, " ucap sambil menunjukan nilainya.


"Wah anak Ayah pintar, " ucap Arief sambil mengusap kepala Raffa.


"Anak ibu memang pintar ,Bunda yakin nanti kamu jadi juara satu, tapi harus belajar yang lebih rajin lagi." Dinar.


Asyia menepikan diri ketika melihat saudara sepupunya berada diantara kedua orang tuanya.


'Ehm,  Raffa bahagia sekali bisa memiliki ayah dan bunda. Sedangkan aku tak punya bunda,  Ayah ku juga di penjara,' batin Asyia tertunduk sedih.


Meski Asyia selalu di sayang dan tak pernah di beda-bedakan .Namun, ia selalu merasa minder,  karna kehadirannya di rumah itu hanya jadi beban dan hanya menyusahkan paman dan bibinya. Semakin hari Asyia semakin menyadari jika dirinya tersebut telah menghabiskan banyak uang pamannya untuk biaya pengobatannya selama ini,Hingga ia berjanji pada dirinya sendiri suara hari nanti ia bisa menjadi orang sukses yang akan membahagiakan paman dan bibinya.


Bulir bening menetes di pipinya.


Iya begitu mendambakan kasih sayang seorang ibu seperti Dinar, Karna kini bibinya tersebut sudah jarang mengurusinya mengingat Dinar juga tengah hamil anak kedua.


Arief dan Dinar melihat wajah sedih Asyia yang tertunduk.


"Asyia kamu dapat nilai berapa? " tanya Arief.


Asyia pun menunjukan nilainya pada Arief dan Dinar.


Wah, Ternyata mbak juga pintar.Bubuk bangga sama Mbak Asyia, " tutur Dinar sambil mencium pucuk kepala Asyia.


Asyia pun tersenyum. Mendengar bibinya yang merasa bangga terhadapnya.


***


Karna selalu berbuat baik di penjara,  Aldo mendapat remisi pengurangan masa tahanan.


Kini Aldo di perbolehkan untuk keluar dari penjara setelah lima setengah tahun mendekam di dalamnya. meski selama satu tahun kedepan ia harus melapor lapor selama setahun dalam masa coba pembebasan bersyaratnya.


Arief dan  Asyia sudah menanti keluarnya Aldo .


Dengan bulir bening yang tak henti menetes membasahi wajahnya yang masih terlihat tampan, dengan jambang yang memenuhi sebagian kecil wajahnya. Saat yang di nanti kan Aldo kini telah tiba.


Petugas sipir membuka kunci gembok tralis besi yang mengurungnya selama ini.


Setelah itu ia berjalan menuju pintu keluar lapas,  setelah menandatanggani beberapa berkas." "Selamat kini anda menjalani bebas bersyarat. Dan saya harap anda tidak mengulangi kembali kesalahan yang pernah anda perbuat, serta mematuhi hukum-hukum yang berlaku,  serta menunaikan kewajiban anda selamasa pembebasan bersyaratnya, " ucap kepala sipir sambil menjabat tangan Aldo.


"Ehm,  iya Pak terima kasih,  hiks hiks hiks," Aldo begitu terharu,  tubuhnya pun ambruk berlutut di atas lantai dengan air mata berderai.


"Terima kasih ya Tuhan!  Karna engkau telah memberikan kan kesempatan bagi hamba untuk merasakan nikmatnya menghirup udara bebas kembali hiks hiks hiks," tangis Aldo seraya bersujud syukur.


Tubuhnya pun berguncang dalam sujudnya.


Kepala sipir ikut terharu melihat penyesalan Aldo yang begitu dalam.


Mereka pun menghampiri Aldo.


"Sudahlah Nak, Tuhan itu maha penyayang dan maha pengampun,  semoga dari kejadian ini kamu mendapatkan hikmah,  hingga jadi manusia yang lebih baik untuk dirimu sendiri dan orang orang di sekitarmu," Nasehat kepala sipir tersebut.


Aldo bangkit dan berdiri sambil mengambil sebuah map yang menyatakan kebesannya.


"Terima kasih pak, saya permisi," ucapnya sambil menjabat semua petugas sipir yang ada di sekitarnya.


Aldo berjalan dengan tongkatnya keluar dari tembok besar dan tinggi tersebut.


Air matanya menetes kembali ketika gembok terakhir di buka untuknya.


Inilah hari terakhir yang telah di tunggu tunggu olehnya.


Beberapa langkah Aldo berjalan keluar dari gerbang tersebut.


Tampaklah gadis imut nan Cantik  dengan bola mata yang memerah.


Begitupun dengan pria yang ada di sampingnya.


"Ayah! " teriakan gadis kecil tersebut terdengar lantang di telinga Aldo..


Iya pun  berlutut agar gadis yang berlari ke arahnya tersebut  bisa memeluknya.


Bruk, Asyia menghambur memeluk tubuh Ayahnya.


"Ayah hiks hiks hiks," tutur Asyia lirih.


"Asyia anak ku sayang hiks hiks," Aldo.


Keduanya sama-sama menangis dalam keharuan.


Aldo mengurai pelukannya, di tatapnya wajah gadis kecil dengan air mata yang berlinang menetes di pipinya.


Ia pun mencium setiap inci dari wajah Asyia kemudian memeluknya kembali.


Keduanya terlarut dalam haru,  bertahun tahun merindukan pelukan Asyia kini ia bisa memeluk gadis kecil tersebut.


"Asyia, Ayah sangat rindu untuk memeluk kamu hiks hiks hiks. " Aldo menangis sambil mengusap punggung putri kecil tersebut.


"Ayah, Asyia juga rindu.Kali ini Ayah pulang bersama Asyia dan paman ya. "


"Iya Nak, " ucap Aldo. Ia pun berdiri berjalan dengan tongkatnya.


Arief yang menunggu di depan mobil ikut haru melihat Asyia yang menuntun tangan Aldo menghampirinya.


Kini kedua bersaudara itu saling berhadapan dan keduanya tak lagi mampu menahan haru.


"Abang," ucap Aldo yang menangis menghambur memeluk Arief.


Hiks hiks hiks , isak tangis tak lagi mampu di bendung keduanya menangis haru.


"Selamat Do. Kamu telah melewati masa hukuman kamu. Semoga kamu bisa jadi orang yang lebih baik lagi," ucap Arief.


"Iya Bang.Terima kasih karna telah merawat Asyia.Aku tak bisa membalas kebaikan Abang yang selalu memenuhi kebutuhan ku di dalam penjara. "


Mereka pun mengurai pelukannya.


"Sudalah Do. Sekarang waktunya untuk membuka lembaran hidup baru mu. Kau masih muda masih banyak yang bisa kau lakukan, terutama untuk masa depan Asyia. " Arief.


Aldo tersenyum ke arahnya Asyia, begitu pun Asyia, kali ini ia bisa menunjukan kepada teman-temannya jika dirinya juga memiliki ayah.


Mereka pun masuk kedalam mobil.


Aldo duduk di samping Asyia sambi memangku putri cantik tersebut.


"Asyia sudah sekolah Nak? " tanya Aldo yang membelai rambut panjang Asyia dengan penuh kasih sayang.


"Sudah Ayah. Ayah nanti maukan bertemu teman-teman Asyia.Asyia mau tunjukan kepada mereka , jika Asyia juga punya ayah. "


Aldo mengkerucut bibirnya." Emangnya kamu ngak malu Nak? punya ayah cacat seperti ayah mu ini? " tanya Aldo haru.


Asyia menggelengkan kepalanya pelan


"Kata Paman, Ngak apa-apa punya fisik yang cacat, asalkan hatinya baik. Dari pada punya fisik sempurna tapi hatinya yang cacat", tutur Asyia dengan polos.


"Iya kan Paman?!" tanyanya pada Arief.


"Iya Nak. Karna kalau fisik yang cacat akan mudah untuk di perbaiki, apalagi dengan teknologi yang canggih seperti sekarang ini. Tapi jika hati sudah cacat, sulir untuk di perbaiki, karna itu ada dalam diri kita sendiri. " Arief.


Aldo semakin erat memeluk putrinya.


Baiklah kalau Asyia tidak malu, Ayah akan mengantar dan menjemput Asyia setiap hari, ucap Aldo kemudin mencium pipi putrinya.


"Benarkah? " tanya Asyia senang.


"Benar," sahut Aldo.


"Hore! " seru Asyia kegirangan. Kini ia merasa satu orang lagi yang akan hadir memberinya kasih sayang.


Bersambung dulu ya reader. Terima kasih telah mendukung karya author ini.