
Veronica mendatangi kantor polisi, untuk menemui Amora, setelah melapor ia di ijinkan untuk menemui putrinya.
Veronica membawa beberapa jenis makanan untuk Amora, ketika menghampiri Amora Veronica terilihat syok melihat wajah Amora yang terlihat pucat dan sangat kacau.
"Amora kau kenapa?"tanya Veronica sedih.
"Mami, aku ngak kuat harus berada di dalam sel tahanan ini Mami, bawa aku keluar dari sini Mami, aku bisa gila jika terlalu lama berada di tempat ini! " renggek Amora dengan bibir yang pucat dan membiru.
Veronica begitu sedih, ia pun meneteskan air matanya melihat putri sematawayangnya menderita di balik jeruji besi.
"Tolong lah Mami, aku tak sanggup berada di tempat terkutuk ini lebih lama lagi," mohonnya lagi dengan menakup kedua telapak tangannya.
"Iya Amora, sebentar Mami coba untuk memohon penangguhan penahanan untuk kamu," ucap Veronica.
Veronica menuju ke sebuah ruangan, di sana ia bermaksud menemui kepala kepolisian.
"Siang Pak," ucap Veronica ia pun duduk.
"Siang Nyonya, ada yang bisa saya bantu?"tanya polisi tersebut.
"Begini Pak, saya ingin mengajukan penangguhan hukuman untuk putri saya Pak, karna saat ini dia sedang hamil," papar Veronica.
"Anak anda bernama Amora Felisia?"tanya polisi tersebut.
"I-iya Pak,"jawab Veronica.
" Maaf Bu, kasus yang menjerat anak itu tidak bisa ditolerir, ini masalah hukum pidana, percobaan pembunuhan, lagi pula tersangka telah malakukan upaya melarikan diri, kami sudah mendapat kan bukti tiket pesawat perjalanan ke luar negri ketika Pak Barley menyerahkan beliau," ucap polisi tegas.
"Saya yang akan menjaminnya Pak, dia tak akan melarikan diri kali ini, tolong lah Pak, keadaan anak saya semakin memprihatinkan," ucap Veronica dengan sedikit mengiba.
" Disini kami akan memberi obat dan perawatan khusus dari dokter kami Bu, jadi anda tak perlu khawatir," jelas polisi itu lagi.
" Saya mohon Pak, beri waktu seminggu saja untuk Amora keluar Pak, setelah kesehatannya membaik, saya akan kembalikan dia ke sel tahanan lagi," ucap Veronica tak menyerah.
"Tetap tidak bisa Bu, terkecuali Pak Barley sendiri yang mencabut tuntutannya, maka penangguhan hukuman bisa di lakukan sebelum sidang peradilan," papar Polisi tersebut.
"Tapi Pak, saya mohon pak anak saya begitu menderita di penjara Pak, berilah kesempatan untuknya," ucap Veronica seraya menakup kedua telapak tangannya untuk memohon kembali.
"Tetap tidak bisa, peraturan tetap peraturan."Polisi.
"Tapi Pak_" Veronica.
"Tidak bisa Bu! anak anda adalah otak dari pelaku, lagi pula dia telah melakukan upaya pelarian dengan pergi ke luar negri, kami tidak menerima jaminan apa pun, jika ibu tak punya kepentingan silahkan keluar dari sini!, " ucap polisi sambil menunjuk pintu keluar.
Veronica menatap sinis kearah polisi tersebut kemudian keluar dari tempat itu.
Ketika melewati pintu, Veronica berpapasan dengan Arief yang tengah mendorong kursi roda Aldo.
Arief memang mengenal Veronica, begitupun Veronica.
Namun Veronica menatap Arief dengan sinis, ia tak tahu jika kedatangan Arief tersebut melaporkan percobaan pembunuhan yang di lakukan oleh Amora kepada adiknya.
Aldo memberi keterangan kepada kepolisian di dampingi Arief, ia mengakui semua yang telah ia lakukan hinga menyebabkan kecelakaan yang merenggut nyawa Sania.
Ia juga melaporkan Tomi yang melakukan percobaan pembunuhan terhadapnya, dan semua keterangan Tomi yang menyatakan jika Amora yang merencanakan pembunuhan terhadap dirinya.
Polisi memerima dan mencatat semua laporan dan keterangan dari Aldo, tak hanya itu mereka juga menyerahkan rekaman CCTV di rumah Arief pada saat kejadian.
"Baiklah, kami akan melakukan penyelidikan terlebih dahulu, mengingat tak ada bukti yang mengarah ke anda, sebagai pelaku," ucap polisi tersebut.
"Tentu saja Tak ada Pak, karna bukan saya yang memutus tali rem pada mobil tuan Barley, tapi teman saya yang bernama Tomi, saya bertugas mengawasi TKP dan merusak CCTV termpat tersebut saja, " papar Aldo.
" Baik lah untuk sementara kami proses laporan anda, karna belum ada bukti yang memberatkan anda, mengingat keadaan anda yang seperti ini, anda di kenakan sebagai tahanan kota, anda setiap hari harus melapor, sambil menunggu proses penyelidikan."polisi.
"Baik Pak." Aldo.
"Saudari Amora, dia sudah di tahan atas tuduhan percobaan pembunuhan dengan menaruh racun pada seorang wanita bernama Santi,"papar polisi itu lagi.
"Apa? nona Santi?" Arief dan Aldo syok, mereka pun saling memandang.
"Kami akan cocokan keterangan anda untuk menggungkap motif pelaku, apa kah semua ini berkaitan, "papar polisi.
"Anda harus siap di panggil kapan pun kami butuhkan," papar polisi.
"Siap Pak! saya sebagai penjamin adik saya, akan memenuhi panggilan dari pihak kepolisian kapan saja di butuhkan," ucap Arief.
"Baik, sekarang tanda tangani laporan ini," ucap polisi tersebut.
Arief dan Aldo pun menanda tanggani surat laporan.
Polisi tersebut pun memerintahkan untuk memburu Tomi sebagai tersangka.
Meski di tetapkan sebagai tersangka, Arief meminta penangguhan penahanan, dengan alasan kesehatan Aldo yang tengah menjalani proses terapi, dan polisi pun bersedia memberikan penangguhan Aldo, sembari mengumpulkan bukti dan saksi atas kasusnya.
***
Barley kembali ke kantornya, sebelum itu ia bermaksud menemui Andini, ia pun langsung menuju ruangan dimana ibundanya tersebut berada.
Bruk...
Pintu ruangan Andini langsung terbuka, tanpa permisi Barley masuk ke dalam ruangan tersebut.
Melihat kedatangan sang putra, Andini tersenyum dan menyambutnya penuh suka cita.
"Barley, kebetulan sekali kau datang ada yang ingin mommy bicarakan," ucapnya mencoba untuk membujuk Barley.
"Aku juga ada yang ingin ku bicarakan pada Mommy," ucap Barley datar.
"Oh Ya, apa itu Nak?"tanya Andini seraya mengusap punggung Barley.
Barley menatap lekat Andini.
"Aku minta Mommy berhenti menyakiti Santi, dengan kata-kata kasar, hinaan dan merendahkannya, Santi itu istri ku Mommy, aku ingin Santi merasa nyaman tinggal di rumah itu, tanpa tekanan dari Mommy!" ucap Barley tegas.
Andini mengkerucutkan bibirnya, menyilang kedua tangan di dada seraya membuang muka.
"Em, jadi itu hal yang penting yang ingin kau bicarakan pada Mommy , rupanya kau sudah termakan rayuan wanita miskin itu," dengus Andini.
"Iya itu penting Mommy! dan mulai sekarang Mommy harus menganggap Santi itu menantu, bersikaf baiklah terhadapnya!" ucap Barley dengan tegas.
Andini membelalakan matanya, apa yang di minta putranya itu begitu sulit untuk ia lakukan.
Wanita sialan itu pasti yang telah meracuni pikiran Barley, bisa gawat jika Barley benar-benar mencintainya, untuk sementara aku turuti saja permintaan Barley, agar aku bisa membujuknya untuk mencabut tuntutannya terhadap Amora.
Andini teersenyum menghampiri putranya lagi. "Tentu saja putra ku, Mommy akan lakukan apa saja, tapi mommy minta satu hal dari mu, kau harus mencabut tuntutan mu kepada Amora," ucap Andini dengan lemah lembut.
Barley memalingkan wajahnya menatap Andini, matanya menatap nanar mendengar permintaan wanita yang telah melahirkannya ke dunia tersebut.
"Tidak Mommy!.aku tak akan pernah mencabut tuntutan itu! kenapa sih Mommy selalu membela Amora?! padahal jelas-jelas dia ingin mencelakai Santi dan janin yang di kandungnya,!" seru Barley dengan emosi.
"Tapi Barley, kasihan Amora, mungkin dia khilaf karna terlalu mencintai kamu, tolong lah Barley, jika kau tak ingin menikahinya, kau cabut saja tuntutannya," bujuk Andini.
"Kasihan Mommy?! Apa yang terjadi seandainya istriku dan janin yang ada di rahimnya meninggal karna memakan bubur beracun tersebut?! Apa Mommy tidak kasihan melihat ku yang kembali menderita karna di tinggal orang ku sayangi!" seru Barley.
"Sayang? kau menyayanginya? tidak Barley ! kau tak boleh mencintai wanita itu, dia itu sangat licik, beberapa kali Mommy melihat ia berselingkuh dengan Arief di belakang mu!" Andini mengalihkan pembicaraan mencoba memanasi Barley kembali.
"Hm bukanya Mommy yang mengusir Santi dan memintanya untuk melayangkan surat cerai serta menyuruh Arief untuk membantunya? Mommy memfitnah mereka dengan mengambil gambar kebersamaan mereka? tahu kah Mommy, karna semua itu aku kehilangan Arief, dan sekarang Mommy meminta aku untuk mencabut tuntutanku pada Amora ?! itu tidak akan pernah terjadi!" ucap Barley pada penekanan kata di akhir kalimat.
Barley meninggalkan Andini.
Andini syok, karna Barley sepertinya tak lagi berpihak padanya.
"Huh pasti gadis miskin tersebut yang telah mencuci otak putraku, lihat saja tak akan ku biarkan ia menikmati hidupnya sebagai istri Barley," dengus Andini.
Andini kembali teringat dengan masalahnya dan Veronica.
"Hoh, apa yang ku lakukan untuk membujuk Barley lagi, " dengus Andini seraya menatap punggung putranya yang berlalu meninggalkannya.
Bersambung dulu ya guys, tunggu episode selanjutnya ya, karna banyak permintaan in sya Allah Author up lagi, semoga masih setia menunggu kelanjutan cerita ini ya, lope u All