Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat

Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat
Kembali ke rumah


Pada tengah malam keadaan Asyia semakin kritis, suhu tubuhnya meningkat wajah Asiya terlihat memerah dengan mata yang semakin tertutup rapat.


"Asyia! Asyia! " seru Arief memangg-manggil nama Asyia.


Arief melihat pada Ekg. Dilihatnya detak jantung Asyia yang melemah.


Ia pun menekan tombol merah pada panel yang menempel di diding.


"Asyia!" Bangun Nak bisik Arief sambil menangis tergugu.


"Asyia sayang. Lawan penyakit kamu Nak! Paman ada di sini, akan selalu ada bersama kamu, kamu ngak sendirian.Bibik kamu, adik kamu, dan ayah kamu semua menunggu kepulang kita," ucap Arief sambil menangis berbisik di telinga Asiya.


Dokter jaga dan perawat datang memeriksa dan mengambil sample darah Asyia untuk di bawa ke laboratorium


"Bagaimana Dokter? " tanya Arief.


"Saya belum bisa memastikan Pak. Hasilnya akan di ketahui setelah melalui uji laboratorium.Karna pasien mengalami infeksi saluran pernapasan, kami akan meningkatkan dosis pemberian anti biotik dari dosissebelumnya ." dokter.


"Ehm, apa itu tak berbahaya dokter?" tanya Arief.


"Sebenarnya obat-obatan yang di konsumsi itu bisa memberi dampak berbeda pada setiao orang.Ada yang langsung terlihat seperti terjadinya ruam dan alergi yang menyebabkan gatal di kulit. Dampak jangka panjangnya bisa mengakibatkan komplikasi pada penyakit lainnya jika ia menderita penyakit yang lain atau berdampak pada ginjalnya jika di komsumsi jangka panjang. Pasien seperti ini memang rentan apalagi di usia balita.Tapi anda tak perlu khawatir setelah leokositnya normal, kami akan berhenti memberinya antibiotik. "


Jantung Arief seperti ingin lepas, ia kembali mendekati kearah Asyia.


"Sabar ya Nak, ini ujian untuk kita semua di sini, " ucap Arief sambil mencium kening Asiya kemudian mencium tangan mungil Asyia.


***


Dua hari berikutnya.


Arief terlelap di samping Asyia, karna semalam ia menjaga Asyia yang sempat kritis.


Sudah tiga hari ia tak bertemu dengan anak dan istrinya karna harus menjaga Asyia.


Hubungan mereka hanya tersambung melalui panggilan video.


Arief merasa beruntung karna memiliki istri yang begitu pengertian.


Tubuh lelahnya tak mampu lagi menahan rasa kantuk yang amat sangat.


Waktu menunjukan pukul sepuluh siang saat itu.


Di dalam tidurnya Arief merasa ada malaikat kecil yang mencium pipinya dan mengucapkan terima kasih.


Ia pun mulai tersadar dan menerjab-nerjabkan matanya melihat Asyia yang menyentuh pipinya mencoba untuk membanggukannya.


"Eh Man!Man !" ucap Asyia sambil menepuk pipi Arief pelan.


"Asyia kamu sudah sadar Nak? " tanya Arief yang merasa bahagia dan langsung bangkit.


"Eh cu cu," ucapnya sambil mengusap perutnya yang terasa lapar.


"Iya. Iya Nak. Asyia diam-diam di sini. Jangan bergerak ya. Paman akan buatkan Asyia susu," ucap Arief pada Asyia yang terbaring.


Arief tersenyum lega melihat Asyia yang sudah sadar dari masa kritisnya.


Asyia tak menangis, ia terlihat menggaruk garuk kulitnya yang terasa gatal karna reaksi obat.


Air mata Arief menetes melihat betapa tegarnya bayi tersebut menerima keadaannya.


Bayi sekecil itu seolah mengerti dengan keadaan, Asyia juga jarang rewel,jika sakit ia justru banyak berdiam diri.Mungkin dengan menangis justru membuat jantungnya terasa sakit.


Setelah membuat susu. Arief kembali berbaring di samping Asyia, ia membantu Asyia memegang botol susunya.


"Asyia Sayang. Kamu harus sembuh dan jangan sakit lagi seperti ini. Kami semua menyayangi kamu, "ucap Arief dengan bulir bening yang kembali menetes mengenai kening Asiya.


"Em! " sahut Asyia sambil menghisap susu formulanya.


Arief tersenyum dan menujunjukan kelingkingnya.


"Janji ya sama Paman Nak," ucap Arief dengan haru sampai menteskan air matanya.


Em, Asyia menggenggam erat jari kelingking Arief seolah berjanji pada pamannya.


Arief tersenyum, Asyia memang bayi yang cerdas.


"Cepat sembuh Nak.Bibik dan adikmu sudah tak sabar menunggu kita pulang, "ucap Arief.


Ehm, Asyia menggerak-gerakan kakinya. Ia juga rindu pada orang-orang yang menyayanginya.


***


Dua hari berikutnya Asyia pun di perbolehkan untuk pulang.


Dengan suka cita kehadirannya di rumah itu pun di sambut suka cita.


Dari dalam mobil saja Asyia sudah tak sabar untuk turun menemui bibinya dan Raffa.


Ia melambai-lambaikan tangannya ke arah semua orang yang sudah menyambut kepulangnya di depan pintu.


Arief menggendong Asyia menuju rumah mereka.


Asyia di sambut dengan isak tangis penuh haru, meskit terlihat lebih kurus tapi mereka bahagia dengan kembalinya Asyia setelah melewati masa kritisnya.


Asyia bertepuk tangan tanda bahagi, katna kini bisa kembali berkumpul dengan keluarga yang menyayanginya.


***


Cintya telah melewati masa nifasnya.


Minyak wangi menghambur memenuhi ruangan tersebut.


Selelah menunggu hingga pukul tujuh malam tuan Demian belum juga pulang.


"Aduh Aa Beb kemana sih?" tanya Cintya yang gelisah.


Cintya tampak gelisah nenunggu kedatangan tuan Demian.


Tuan Demian sengaja memberi alasan kepada Cintya pulang terlambat, padahal dirinya masih belum mampu untuk melayani sang istri yang lebih agresif dari buaya lapar tersebut.


Pukul sebelas malam.Tuan Demian membuka pintu kamar yang terlihat gelap dan sepi.


Dengan perlahan ia menekan handle pintu agar tak membangunkan anak dan istrinya.


Kreak, pintu di buka, seketika lampu tidur menyala.


"Selamat malam Aa', "sapa Cintya .


Gleak.


"Eh eneng, ternyata belum tidur ya?" tanya tuan Demian dengan cengengesan.


"Gimana bisa tidur, itu masih berdenyut denyut nunggu suntikan dari Aa'" ucap Cintya dengan senyum mesumnya.ia pun menghampiri tuan Demian kemudian melepas jas dan membuka kancing kemeja suaminya.


"Aa' kira-kira malam ini kita mau pakai jurus apa Ya Aa' ?" tanya Cintya dengan lirikan matanya.Ia pun mengidip-ngedipkan matanya dengan nakal.


"Jurus katak dalam tempurung aja ya Neng. Aa masih ngak kuat untuk main genjot-genjotan."


Cintya mengkerucutkan bibirnya.


"Ehm, Bagaimana kalau jurus kodok nekat melompak ke pagar Aa'.Kan seru yang nekat-nekad. "


"Anu Neng bisa Ngak ijeksi-injeksinya kita tunda dulu. Pinggang Aa' masih sakit atuh Neng. "


Shut! Cintya menempelkan jari telunjuknya ke bibir tuan Demian.


"Ih ngak boleh gitu Aa'. Ayo! kan belum di coba. Seperti selogaan Aa, sekali coba pasti suka." Cintya tetap memaksa.


"Aduh nekad nih kodok,"dengus tuan Demian pasrah.


"Tuan Demian duduk dan bersandar pada headboard, sementara Cintya sudah tak sabar untuk memasukan jarum tumpul tersebut ke dalam lembah licin miliknya.


"Aa' siap-siap Ya Aa'!" teriak Cintya dengan tubuh yang polos.


Cintya medorong tubuhnya agar pusaka tersebut terbenam dengan satu hentakan.


Kreak, bunyi tulang Demian ketika Cintya menghentakkan senjatanya.


"Oh my god! keluh tuan Demian yang merasa sakit. Namun hanya bisa pasrah.


"Pelan-pelan atuh Neng! "seru tuan Demian karna khawatir.


Bukannya makin pelan Cintya semakin kuat menghentakkan senjata suaminya.


Krek. satu hentakan lagi


"Oh my god !"keluah tuan Demian.


Krek krek krek, bunyi tulang tuan Demian yang akibat hentakan-hentakan dari Cintya yang menguncang tubuhnya.


KreK kreak kreak, tulang tuan Demian terus berbunyi namun Cintya tetap melanjutkan aksinya.


"oh my god! aduh Neng! aduh Neng!Ngak kuat Neng. " keluh tuan Demian selama permain berlangsung.


Tapi tetap saja Cintya tak perduli.


Ia terus menyelesaikan misinya berburu puncak kli*maks.


Cintya semakin berhenjut. Tulang tuan Demian pun semakin kuat berbunyi.


Kreak kreak kreak hingga akhir pertaruangan.


Satu hentakan akhir Cintya membuat tuan Demian memekik meras.


Krek...


"Aduh. Tulangku ku Sakit! " teriaknya


Cintya buru-buru turun dari tubuh tuan Demian.


"Aa' Aa kenapa? " tanya Cintya.


"Aduh Neng engsel tulang belakaang Aa' rasanya mau lepas. Neng sih mainya ngak pakai rem lagi."


"He he he, maaf Aa' kalau udah gini remnya blong Aa'.Keburu napsu."Cintya terkekeh.


"Aduh Neng panggil ambulan. Pinggang Aa' sakit! " keluh tuan Demian.


Ehm. ia Aa.


"Aduh maaf ya Aa' Neng khilaf. Besok janji akan pelab-pelan. "


"Ehm, besok Aa' belum terntu selamat Neng, "ujar tuan Demian satengah menangis,membayakan Kengerian tersebut.


Bersambung. maaf jika ada typo. silahkan beri sarannya ya. jangan lupa dukungannya biar author semakin semangat. love u All.