Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat

Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat
Kisah Asyia


Lima tahun berlalu.


Hari ini adalah hari pertama sang putra mahkota masuk sekolah.


Pagi-pagi Santi dan Barley bersiap untuk mengantar Andhra ke sekolah.


Tak hanya itu, kabar bahagia yang lainnya adalah kini Santi tengah mengandung anak kedua ,dan sudah memasuki empat minggu.


Santi tersenyum ketika melihat mengenakan uniform putranya.


"Mommy? apa di sekolah itu ada banyak mainan? " tanya Andhra.Karna selama ini iahanya menjalani homeschooling.


"Ehm, Bayak teman dan guru-guru juga putra ku tersayang.Tapi kau tak boleh nakal di sekolah, hormati guru dan bergaulah dengan wajar bersama teman-teman mu. " Santi.


"Ehm, tapi kalau aku tak menyukai mereka, apa boleh aku memukul mereka Mommy ?" tanya Andhra sambil mengacukan tinjunya.


Santi dan Barley tersenyum.


"Ngak boleh begitu Sayang. Jika kau tak menyukainya berusahalah menghindari, terkecuali ia menyakiti mu. Kau boleh membela dirimu. "


Andhra menglipat dua lengan-nya di dada dengan bibir mengkerucut, serta lirikan mata yang sinis.


"Sudah.Katanya kau mau jadi super hero, pahlawan super harus bisa melindungi.


Santi dan Barley sengaja membiarkan putra semata wayang mereka bersekolah di sekolah umum agar Andhra terbiasa hidup bersosialisasi dengan lingkungannya.


"Ayo sayang," ucap Barley sambil memeluk pipi istrinya.


Untung saja Andhra tak melihat kemestraan mereka.


Mereka pun bersiap untuk menuju mobil.


***


Hal yang sama terjadi pada Arief dan Dinar. Hari ini mereka menyempatkan diri untuk mengantar Raffa dan Asyia untuk bersekolah.


Asyia masih di asuh oleh Delia. Bahkan kini Asiya tidur sekamar bersama Delia. Namun Raffa tidur sendiri.


Karna perut Dinar yang sudah membesar, ia meminta agar Delia tetap bekerja pada keluarganya.Karna sebentar lagi ia akan melahirkan dan tak ada yang akan mengasuh Asyia dan Raffa.


Delia juga sudah merasa nyaman bekerja pada keluarga mereka. Selain gaji yang lumayan dirinya juga di perlakuan dengan baik


Delia menyisir rambut panjang Asyia.


" Aduh cantik nya kamu Asyia," ucap Delia.


Hm, Asyia tersenyum.


"Belajar yang rajin Ya. biar kamu jadi anak yang pinter. " Delia.


"Iya Kak. kalau aku besar nanti aku mau jadi dokter. Biar nanti kalau ada orang yang sakit aku bisa gratiskan," ucap Asyia.


"Ehm, Kenapa gitu? tanya Delia sambil mengenakan tas pada punggung Asyia.


"Karna aku kasihan sama paman.Selama ini ia mengeluarkan uang banyak untuk mengobati penyakit ku.Kalau aku gratiskan pengobatan untuk mereka tentu mereka tak perlu keluar uang untuk menjadi sehat," ucapnya sambil memakai tasnya.


Delia berlutut di hadapan Asyia untuk mensejajarkan tinggi mereka.


Delia tersenyum, "Kau anak yang baik, semoga kau bisa meraih cita-citamu," ucap Delia sambil mencolet hidung Asyia.


"Kak, kakak sudah dewasa, kenapa belum menikah? "tanya Asyia polos.


"Ehm, mungkin belum ada jodohnya. Lagi pula adik-adik kakak masih sekolah. Kalau kakak menikah siapa yang mau membiayai mereka sekolah. " Delia.


"Sudah! Bibik sama paman mu pasti sudah menunggu.Ayo kita samperin. " Delia.


Mereka pun keluar dari kamar dan kebetulan juga Raffa juga sudah keluar dari kamarnya.


"Hey! kepoonakan Bibik cantik sekali! dengan rambut yang di ikat dua seperti itu."Dinar.


"Ehm, makasih. " Asyia.


"Ayo Sayang ! kita antar mereka sekolah." Arief.


Arief dan Dinar pun ikut mengantar anak-anak mereka kesekolah.


Di dalam mobil.


Mbak. Nanti Mbak ngak usah terlalu capek ya Nak, Ngak usah lari-lari, "nasehat Arief.


Iya Paman, jawab Asyia.


Asyia memang tak boleh terlalu lelah dan berlari. Kesehatanya bisa kembali menurun, jika ia terlalu lelah jika seperti itu Asyia bisa kembali di rawat di rumah sakit.


"Raffa kamu jaga Mbak Asyia ya. Meski kalian tidak satu ruangan , waktu istirahat kamu hampiri dan temani Mbak mu. " Arief.


"Iya Yah."


Usia Raffa saat itu empat tahun dan duduk di kelas nol kecil.


Sementara Asyia, akan duduk di bangku nol besar.


"Mbak, jangan makan sembarangan Ya.makan dan minum hanya dari yang Bibik sediakan dari rumah. Ngak boleh makan permen dan minuman soda," tambah Dinar.


"Iya Bik. "


Mereka pun sampai di sekolah. Halaman parkir tersebut di penuhi dengan deretan mobil mewah.Maklum sekolah tersebut sekolah yang paling mahal.


Sebuah mobil mewah terparkir rapi. Arief tersenyum karna begitu mengenali pemilik dari mobil itu.


"Ehm, ternya tuan muda Andhra juga bersekolah di sini," guman Arief.


Sebelum memarkirkan mobilnya, Arief menyuruh keluarga turun, karna parkir tersebut sangat sempit, padahal halaman parkirnya cukup luas.


Ayo ajak Arief sambil memejang dan menuntun Asyia.


"Bu, Ibu bawa Raffa ke kelasnya. Biar Ayah yang bawa Asyia ke kelasnya. "


'Iya Yah. " Dinar.


Arief dan Asyia menuju kelas. Mereka pun bertemu dengan tuan muda Andhra.


Andhra mengkerucutkan bibirnya ketika melihat Asyia. Keduanya memang tak pernah aku jika bertemu.


Santi tersenyum ketika melihat kearah Asyia yang baru masuk ke kelas.


"Hay Asyia! Kamu sekolah di sini juga? " tanya Santi.


"Iya Nyonya, "sahut Asyia memanggil Santi seperti paman dan bibinya.


"Kenapa panggil Nyonya. Panggil tante saja. " Santi.


"Iya Tante. " Asyia.


"Mommy jangan bicara padanya. Aku tak menyukai gadis itu. " Andhra.


"Hus ngak boleh bicara seperti itu sayang. " Santi.


Andhara pun membuang wajahnya.


Sekolah sengaja mengumpulkan anak-anak dan orang tuanya.Karna hari pertama adalah hari perkenalan murid-murid baru. Nantinya mereka di suruh berdiri di depan kelas untuk memperkenalkan diri dan keluarga serta cita-cita mereka.


Guru memanngil di mulai berdasarkan urutan abjad.


beberapa anak telah maju kedepan untuk memperkenal dirinya di depan kelas.


Kini giliran Andhra yang maju.


Guru melihat nama Andhra yang begitu panjang. Ia pun tersenyu.


"Baiklah urutan selanjutnya adalah Andhra!" guru.


"Santi tersenyum. Sayang ini giliran kamu. ingat kamu hapalkan nama kamu, nama Daddy dan Mommy. "


"Yes Mommy!" Andhra pun maju.


Barley bertepuk tangan paling nyaring ketika putranya maju di depan kelas.


Dengan percaya diri Andhra maju.


Nama saya, Andhra Radja Pratama Milano Fedirico Prawira .Nama Mommy saya adalah Ariesanti dwi putri. Sedangkan Daddy saya bernama Barley Milano.


Hampir semua orang tercengang mendengar nama Barley di sebutkan, pasalnya tentu saja karna mereka tak asing dengan nama tersebut. Seketika mereka menoleh ke arah Barley.


'Cita-cita saya ingin jadi prisedent," ucap Andhra dengan percaya diri.


Andhra pun turun dari tempatnya berdiri di sambut dengan tepuk tangan meriah.


Santi dan Barley tersenyum bangga pada putranya


Terima kasih Nak Andhra. Selanjutnya giliran Asyia. Berikan tepuk tangan untuk teman kita Asyia.


Semua bertepuk tangan kecuali Andhra.


Arief tersenyum dan memberinya semangat.


"Ayo Nak. Kamu semangat Ya. " Arief


Asyia melangkah dengan longkai mendekati papan tulis kemudian menaiki beberapa anak tangga.


Nama saya, Asyia Khairunnisa. Nama paman saya, Arief safwan hiks hiks.Bibik saya Dinar, ucap Asyia menangis , air matanya tumpah seketika.


Guru tersebut merasa heran, kenapa ia menyebut nama paman dan bibinya, bukan kedua orang tuanya.


"Asyia, kenapa kamu menyebut nama paman dan bibi kamu? " tanya guru tersebut sambil menghapus air mata gadis kecil yang cantik tersebut.


Tatapan mereka terkunci pada Asyia, begitu pun Arief. Arief dan Santi ikut menitikan airmata.


Hiks hiks, Asyia semakin jadi menangis.


Karna..karna...karna saya cuma punya paman dan bibik.Saya tak tahu di mana ibu saya dan siapa ibu saya hiks hiks hiks.


Guru tersebut langsung memeluk Asyia sambil mengusap punggung Asyia.


Tak apa Nak, yang terpenting paman dan bibik kamu selalu nenyayangi kamu, ucap guru tersebut memeluk Asyia sambil menangis haru.


Mereka yang hadir pun juga ikutmenangis haru.


Arief menghapus air matanya, ia pun berdiri dan berjalan menghampiri Asyia.


Asyia menangis memeluk Arief setelah mengurai pelukannya pada sang guru.


Arief menggendong Asyia.


"Tak apa Nak, Bukankah paman dan bibimu ini selalu mencintai dan menyayangi mu Kan? hiks hiks hiks " Arief tak mampu membendung kesedihanya melihat ponakan tercinta terlihat sedih, karna merasa berbeda dari teman-temanya.


Iya paman. Asyia sayang paman dan bibik. Hiks hiks, ucap Asyia sambil memeluk Arief yang menggendongnya.


"Kami juga mencintai mu dan menyayangi mu,Nak. Ayah dan ibu, paman dan bibik, itu hanya sebutan. Namun cinta kami terhadapmu tetap sama, yakni cinta seorang ayah kepada putrinya,"ucap Arief sambil mencium lekat pucuk kepala Asyia yang semakin menangis dalam gendonganya.


Arief pun menggendong Asyia dan berjalan menuju kursi. Tepuk tangan meriah mengiri langkah Arief. Cerita Asyia sungguh membuat mereka terharu dan menjadi simpati terhadapnya.


Mereka pun terlarut dalam haru untuk beberapa saat.


Bersambung guys. memnayangkanya saja aku jadi sedih.