
Pagi ini rencananya Aldo dan Delia akan meresmikan pembukaan rumah makan mereka.
Rumah makan tersebut di beri nama rumah makan Asyia.
Rumah makan itu berada tak jauh dari komplek perkantoran Hasta Raja Prawira. dengan ukuran ruko sekitar 6 x 12 meter.
Selain menjadi tempat usaha, ruko tersebut juga akan menjadi tempat tinggal mereka.Kini Asyia tinggal bersama kedua orang tua-nya, sesuatu yang begitu ia inginkan, meski di rumah pamannya ia tak kekurangan cinta dan perhatian sedikitpun.
Aldo dan Asyia sudah menunggu Delia di meja makan, ia sudah menyiapkan bubur ayam bergizi untuk anak dan istrinya.
"Aduh ibu kok lama sekali sih, padahal setelah mengantar kamu ayah dan ibu mau langsung menyiapkan acara peresmian rumah makan kita," ucap Aldo sambil melirik ke arah jam tanganya.
"Sabar dong Yah, ibu pasti tengah berdandan agar lebih terlihat cantik," sahut Asyia.
"Hm, ngak di dandan juga ibu sudah cantik bagi ayah, "sahut Aldo sambil mengaut bubur kedalam mangkok kosong.
"Ya sudah Asyia kamu makan dulu, biar ayah tunggu ibu saja. " Aldo.
Tak berapa lama Delia pun keluar dengan senyum dan rona wajah bahagia. Ia pun menghampiri kedua orang tersebut.
"Ehm, kalian lagi nungguin ibu ya? "tanya Delia sambil menarik kursi di samping suaminya.
"Ehm, Asyia ngak Bu, Ayah saja yang protes karna nunggu ibu berdandan. Katanya ibu ngak boleh terlalu cantik takut di ambil orang," cetus Asyia sambil tertawa kecil.
Aldo melirik ke arah Asyia, dengan tersenyum. "Tau aja kamu."
"Emang begitu Yah? Ayah takut kalau ibu di ambil orang?" tanya Delia dengan senyum yang tak lepas.
"Abang khawatir saja Dek, nanti kita buru-buru kamu malah ngak sempat sarapan," sangkalnya ,sambil menyodorkan bubur ayam.
"Ehm maaf deh kalau begitu, tapi Ibu ada kabar bahagia untuk kalian berdua." Delia sengaja menggantung kalimatnya.
Keduanya pun langsung menoleh ke arah Delia.
"Kabar apa? " tanya Aldo antusias.
"Kabar apa Bu?! " Asyia.
"Ehm, Kabar bahagianya adalah ... sebentar lagi Asyia akan punya adik," ucap Delia dengan wajah yang berbinar.
Kedua orang tersebut kaget sekaligus bahagia.
"Yang benar Bu? !" tanya Asyia yang menyambut dengan penuh suka cita.
Aldo menatap serius wajah istrinya.Menunggu jawaban dari pertanyaan Asyia.
"Bener sayang! ibu baru saja periksa dengan test pack dan hasilnya positive"
"Alhamdulilah!" seru Aldo.Ia pun mendaratkan kecupan pada pipi Delia.
"Asik !!Asyia bakalan punya adik! seru Asyia begitu senang dan semangat. Sama hal dengan Aldo. Ia merasa begitu bahagia mendengar berita tersebut.
Asyia menghampiri Delia kemudian mendaratkan kecupan di pipi Delia.
"Terima kasih ibu, Asyia seneng sekarang bisa punya ibu dan punya adik. Terima kasih ya Allah," ucapnya sambil menadahkan tanganya ke atas kemudian mengusap ke wajahnya.
Delia pun memeluk kedua orang tersebut dengan bahagia.
"Alhamdulilah,Terima kasih ya Allah, kau titipakan lagi pada kami seorang buah hati yang akan menjadi penyejuk rumah tangga kami," ucap Aldo ia pun memeluk dan mencium istri dan anaknya.
"Semoga saja kita di anugrahi keturanan yang baik dan soleh, yang bisa menjaga kamu dan Asyia." Aldo.
"Ehm apa kau ingin anak laki-laki?" tanya Delia menebak.
"Memangnya anak perempuan tak bisa menjaga kakak dan ibunya? laki-laki atau pun perempuan sama saja. Yang penting anak-anak kita sehat dan bahagia," ucap Aldo sambil menarik tangan Delia dan mencium punggung tangannya.
"Iya Asyia ingin punya adik perempuan, jadi kalau suatu saat Asyia pergi. Ibu dan ayah masih memiliki anak perempuan," ucap Asyia sedih.
Seketika air mata Aldo menetes mendengar penuturan Asyia begitupun dengan Delia. Ke khawatiran itu muncul, karna Asyia di vonis tak akan hidup lebih dari dua puluh tahun.
Keduanya pun saling memenandang kemudian kembali melihat ke arah Asyia.
"Kamu ngak akan pergi kemana-mana Nak, Kamu akan tetap bersama ayah dan ibu, hiks," ucap Aldo sambil menarik tangan Asyia kemudian memeluknya.
Asyia hanya menatap Aldo yang menangis memeluknya. Ia sendiri heran kenapa ayahnya tiba-tiba berubah sedih padahal baru saja mereka terlihat bahagia.
"Bang, tenangkan dirimu. Jangan terlalu memikirkan vonis dokter, Jangan rusak kebahagian kita dengan hal yang belum pasti. Hidup mati seseorang sudah di atur oleh yang Maha Kuasa dan tak satu pun mahluk di bumi ini yang mengetahui rahasianya. " Delia.
Aldo menghapus air matanya, perasaan sedikit lega.
"Astafirullah. Kenapa aku harus berfikir yang tidak-tidak," ucap Aldo ia kembali menghapus air matanya.
Asyia tersenyum melihat Aldo.
"Lihatlah Bang Asyia terlihat baik-baik saja, " ucap Delia menenangkan hati Aldo.
Aldo pun membalas senyuman putrinya yang terlihat bahagia.
"Iya tak S harusnya aku merusak kebahagian kita, mungkin karna aku terlalu takut kehilangan orang-orang yang ku sayang. " Aldo.
Tenanglah Bang, jangan risaukan hal yang belum pasti. Hari ini adalah hari bahagia kita. Karna hari ini kita akan memulai usaha kita yang baru, hidup berbahagia bersama anggota kita. Ini rumah tangga kita Bang, rumah tangga yang kita impikan bersama.Lihatlah betapa bahagianya putri kita. "Delia.
Asyia tersenyum." Iya Ayah kenapa ayah menangis? " tanya Asyia.
"Ngak apa-apa Nak, Ayah menangis bahagia. Karna sebentar lagi kamu punya adik. Kamu senangkan? " tanya
"Seneng dong Ayah! Asyia bahagia sekali. Terima kasih ayah, terima kasih ibu," ucap Asyia dengan ceria.
"Sama-sama Sayang. "
Keduanya pun memeluk Asyia dengan perasaan bahagianya.
***
Suasana rumah tersebut terasa sepi tanpa kehadiran Asyia. Sejak Asyia pindah Raffa jadi murung dan sering melamun.
Sebenarnya Arief dan Dinar berat melepaskan Asyia untuk tinggal bersama mereka. Tapi mau bagaimana lagi. Asyia hanya titipan dari Aldo, dan dia lebih berhak atas anaknya.
Pagi ini Raffa terlihat murung ketika berada di meja makan.
"Raffa, habiskan sarapan kamu Nak," ucap Dinar sambil menyodorkan susu ke Raffa.
Raffa tetap diam dengan tatapan kosongnya.
Arief melirik ke arah putranya tersebut, ia pun menepuk pelan pundak Raffa.
"Raffa! Kamu kenapa? " tanya Arief sambil menatap putranya tersebut dengan lekat.
Raffa menoleh kearah Arief yang tengah menatapnya lekat. "Raffa kangen mbak Asyia, "ucapnya lirih dengan mata yang berembun.
"Hm, bukanya nanti sekolah bisa bertemu dengan mbak Asyia." Arief.
"Tapi Raffa ngak sempat main bersama Mbak Asyia." Raffa.
Dinar tersenyum.
"Nanti setelah pulang sekolah, Bunda ajak Raffa untuk main ke ruko-nya mbak Asyia mau? " tawar Dinar.
Mendengar hal itu Raffa langsung sumringah." Benar ya Bunda?" tanya Raffa dengan penuh semangat.
"Iya Bunda jemput Raffa dan Asyia saja Ya. Nanti ayah nyusul setelah rapat penting. Tuan memintah ayah untuk mewakilinya."
"Iya yah. Tapi bukannya hari ini acara peresmian pembukaan rumah makan mereka mas? " tanya Dinar.
"Hm, hanya acara selamatan saja, ngak besar-besar. " Arief.
"Hm, Ya sudah nanti ibu minta antar sopir saja, Ibu juga kangen sama Asyia. " Dinar
Mendengar hendak di bawa ke ruko Asyia Raffa kembali bersemangat.Ia pun kembali berselera menyantap hidangannya.
Bersambung dulu ya guys. Terima kasih atas dukungannya. untuk yang fans kelurga Barley. Episode selanjutnya ya.
Author ada rekomendasi novel keren nih untuk mu. Dengan judul save Yalisa.