
Wati mendatangi kamar Santi, "Nyonya saya bawa makan siang untuk Nyonya," ucap Wati asisten rumah tangga Barley .
"Letakan saja di meja Mbak Wati," ucap Santi tanpa menoleh kerah Wati.
"Iya Nyonya," Wati pun meletakan makanan di atas nakas.
Setelah kepergian Wati, Santi mendekati makan siang yang di bawa oleh Wati, berhubung tadi pagi ia tak sarapan perutnya terasa perih.
Baru beberapa suap, tiba-tiba handphone di atas nakas berbunyi.
Santi langsung beranjak dari kursi dan menggangkat panggilan video call tersebut.
"Hallo Sayang, apa kabar kamu ?" tanya Asti pada putrinya.
"Baik Bu," sahut Santi seraya tersenyum.
Santi melihat perhiasan indah dan mahal yang di kenakan oleh Asti.
"Wah, Ibu beli perhiasan baru?"tanya Santi.
Oh, bukannya ia pemberian suami mu, sampaikan rasa terima kasih ibu kepada suamu mu, Nak."
"Tak hanya perhiasan ia juga memberi sebuah mobil mepada ayah mu," papar Asti.
Hah, Santi keget bukan kepalang.
"Benarkah itu hadiah dari tuan Barley Bu?"tanya Santi.
"Iya Nak, ibu tak menyangka jika suami mu sebaik ini, tapi apa kah ia juga berlaku baik terhadap mu Nak?"tanya Asti.
"Ehm ia Bu, tuan Barley bersikap baik terhadap ku," ujar Santi berbohong.
"Bapak mana Bu?"tanya Santi karna ia tak melihat bapaknya.
"Oh bapakmu sedang melakukan tes drive katanya mau belajar nyetir mobil," ucap Asti dengan wajah yang berbinar.
"Siapa itu Bu?"Harjo.
Tiba-tiba terdengar suara dari arah belakang.
"Santi Pak," sahut Asti.
"Oh bapak ingin bicara padanya Bu, berikan hand phonenya."Harjo.
"Hallo Santi, sekarang bapak punya mobil baru Nak, pemberian dari suami mu," papar Harjo dengan bangga.
"Sampaikan salam dan terima kasih bapak untuk suami mu ya Nak," ucap Harjo.
"Iya Pak, nanti Santi sampaikan," ucap Santi dengan tersenyu.
"Kamu sedang apa?" tanya Asti yang kembali meraih handphone dari suaminya.
"Oh, Santi lagi makan siang Bu," jawab Santi.
" Ya sudah kamu lanjut makan saja, ibu tutup telponnya ya?" Asti.
"Oya Bu," sahut Santi.
Santi merasa bahagia melihat kedua orang
tuanya bahagia.
Setelah menutup telpon Santi kembali melanjutkan makan siangnya.
Tak lama setelah itu, Wati kembali datang menghampiri Santi, membawa puding dan salad buah sebagai makanan penutup.
Setelah keluar dari kamar Santi, Wati kembali mengunci pintu kamarnya.
Waktu berlalu dengan lambat, baru beberapa jam terkunci di kamar super mewah bak hotel berbintang lima dengan fasilitas lengkap tak, membuat Santi menikmati waktunya.
Santi hanya berbaring di tempat tidur karna kehilangan mood untuk melakukan aktifitas lainya.
Santi melirik kearah penunjuk waktu yang berada tepat di hadapannya.
Waktu beranjak mendekati pukul empat sore dan itu artinya sebentar lagi Barley pulang.
Tak ingin terkurung terlalu lama di dalam kamar, dengan sangat terpaksa Santi menuruti permintaan Barley.
Setelah Santi berhias diri ala kadarnya, dengan menggunaka piayama berlengan panjang dan celana panjang, ia berharap penampilannya seperti ini tak membuat Barley berhasrat terhadapnya.
Tepat pukul lima sore, Barley belum juga kelihatan batang hidungnya, Santi keluar dari kamar menunju balkon mencoba menghirup udara segar sebelum senja tiba dan ia harus menutup jendela kamar yang tertutup rapat tersebut.
"Ck, Tuan muda baru pulang ternyata, kenapa aku berharap tuan muda tak pernah pulang dan menemui ku, apa ada istri seperti ku yang tak berharap suami nya pulang,"dengus Santi.
Barley memasuki rumahnya dan langsung di hadang oleh Andini.
"Barley! Mommy ngak suka perempuan itu ada di sini, jika memang kamu ingin mempertahan kan pernikahan kamu denganya, lebih baik perempuan itu kamu bawa keluar dari rumah ini, "dengus Andini.
"Baiklah Mommy jika itu keinginan dari Mommy, aku juga akan keluar dari rumah ini, "ancam Barley lagi, ia pun berlalu dari Andini.
"Tapi Barley! kamu tidak bisa begitu saja pergi dari rumah ini, karna pernikahan kamu dan Amora sebentar lagi terjadi."Andini.
Barley tetap berjalan tak menghiraukan Andini.
"Barley! apa begitu cara kamu bersikap pada orang tua! karna perempuan itu kamu berani melawan Mommy? jangan-jangan kamu sudah cinta mati sama dia!" Andini.
Barley berhenti melangkah menghampiri Andini. "Mommy, jika ingin mencarikan aku jodoh, carikan yang lebih baik dari Santi, atau setidaknya masih perawan, karna aku ngak mau menikahi wanita yang pernah jadi piala bergilir. dengus Barley.
"Apa maksud kamu!"teriak Andini.
"Mommy, aku dan Amora pernah pacaran saat SMA dan saat itu kami sering melakukan hubungan layaknya suami istri, namun sayangnya Amora sudah tak perawan saat pertama kali aku menyentuhnya, apa seperti itu wanita yang baik menurut Mommy," ucap Barley.
Andini terperangah mendengar kata-kata dari Barley.
Barley berlalu begitu saja meninggalkan Andini.
Barley langsung menuju kamarnya dengan hati dongkol, Bruk.... pintu kamar tebuka dengan keras mengagetkan Santi.
Santi mengkerucutkan bibirnya melihat tuan muda yang datang dengan tiba-tiba.
Barley melepas sepatu dan melemparnya ke sembarang tempat.
Setelah itu ia langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Hari yang melelahkan bagi Barley, karna semuanya pekerjaannya harus ia rangkum sendiri, apalagi kakinya yang masih terasa sakit jika di bawa berjalan terlalu jauh.
Santi menatap Barley di pojokan kamar, ia tak berani mendekat apalagi menyapanya.
Setelah merebahkan tubuhnya selama beberapa saat, Barley kembali bangkit menuju kamar mandi, sementara Santi masih termangu duduk di meja riasnya.
Beberapa saat Barley kembali dengan rambut yang sedikit basar dengan wajah yang lebih segar.
Barley menghampiri meja riasnya untuk memakai deodoran dan juga parfum mas kulin, yang mengoda syarap penciuman wanita mana pun yang menghirupnya.
Termasuk Santi, aroma lembut yang di gunakan Barley sempat membuat jantung Santi berdebar-debar tak karuan.
Santi pindah di salah satu sisi tempat tidur.
Sementara Barley langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur setelah selesai dengan ritual setelah mandinya.
"Santi! aku ingin kau memijit ku," titahnya seraya menunjukan hand body khusus pria.
"Tapi aku tak bisa memijit tuan," elak Santi.
"Hah, memijit saja tak bisa?!"Barley.
"Aku tak suka mendengar sesuatu yang tak bisa padahal belum di kerjakan, "ucap Barley.
Santi terpaksa mendekat kearah Barley, kemudian memijitnya lembut.
Tangan lentik Santi mengusap lembut pada bagian bahu dan punggung Barley ada sensasi tak biasa yang ia rasakan.
Barley membalikan tubuhnya hingga terlentang, kemudian ia menarik tubuh santi dalam pelukannya.
Sesuatu yang tak terduga oleh Santi, ketika Barley menarik tangannya hingga tubuhnya terhuyung dalam pelukan Barley.
Seketika kedua netra bening tersebut beradu saling menatap lekat.
Beberapa saat bertentangan mata Santi tersadar ia pun mendorong tubuh Barley.
Namun tubuh Barley yang besar tak mampu di dorong olehnya.
Barley mendorong pelan tubuh Santi hingga terlentang kemudian menindih tubuhnya.
Kali ini kedua mata tersebut kembali beradu membuat jantung kedua insan itu semakin berdetak tak karuan.
Barley mendekatkan wajahnya kearah Santi kemudian mendaraan kecupan di bibirnya.
Bersambung setelah baca jangan lupa di like, rate 🌟🌟🌟🌟🌟,komentar dan vote nya ya