
Pagi hari ini matahari bersinar dengan cerah, seperti biasanya Santi selalu menyempatkan diri untuk olahraga di pagi hari sambil menikmati sinar matahari pagi.
Santi melakukan senam ringan di balkon kamarnya.
Barley baru saja tersadar ketika tubuhnya terasa dingin, tangannya merentang meraba mencari kehangatan untuk di peluk, namun bukannya mendapatkan tubuh yang hangat Barley hanya menemukan bantal guling.
"Hm di mana Santi," gumannya.
Barley perlahan membuka matanya degan mengedar pandangan kesekelilingnya mencari keberadaan Santi.
Beberapa gerakan pereganggan Santi lakukan sebelum pemasan, namun lagi-lagi ia mengalami kram otot perut ketika memulai gerakan yang berguna untuk mengecilkan perut.
"Akh. Kenapa perut ku selalu keram," keluhnya, seraya menyentuh perutnya.
Setelah diam beberapa saat, Santi kembali masuk kedalam kamar dan duduk di atas tempat tidur kembali.
"Kenapa akhir-akhir ini, setiap melakukan olah raga ringan perutku selalu terasa keram?"gumannya.
Barley keluar dari kamar mandi, dengan menggunakan handuk sepinggang.
"Santi siapkan pakaian kerja ku," titahnya seraya menuju meja rias.
Meski merasa keram, Santi berdiri menuju lemari sembari menahan rasa sakit pada bagian perut bawahnya.
Santi menarik kemeja putih yang terlipat rapi ,celana hitam dan dasi kemudian meletakannya di atas tempat tidur.
"Sudah Tuan,"serunya dengan datar.
Barley mengenakan pakaiannya, sementara Santi kembali duduk di atas tempat tidur. "Tidak bisa kah kau membantuku mengekan dasi?"tanya Barley.
Santi kembali berdiri meraih dasi dan hendak melingkarkan dasi tersebut pada kerah kemeja Barley.
Karna Barley jauh lebih tinggi darinya Santi harus berjinjit untuk memasukan dasi ke dalam lipatan kerah kemeja.
Aroma tubuh Barley menyeruak lembut di indra penciumannya membuat jantung Santi berdetak tak karuan ketika berada di dekatnya, hingga membuatnya sedikit gugup ketika berhadapan langsung dengan pria tampan nan tinggi tersebut.
Santi melakukan tugas dengan wajah datar dan tanpa menoleh sedikit pun ke arah wajah Barley , meski mereka mereka saling berhadapan dengan jarak yang cukup dekat.
Barley menatap wajah Santi yang terlihat pucat.
"Kenapa wajah mu pucat, kau sakit?"tanya Barley.
Santi menggeleng-gelengkan kepala, tak menyahut atau pun menatap wajah lawan bicara padanya.
Barley mencengram tangan Santi,"Santi! kenapa setiap kali aku bicara pada mu kau selalu memalingkan wajah mu?" tanya mendengus dengan mata yang melotot kearah Santi.
"Apa perlu aku melihat wajahmu?" sahut Santi ketus, seraya melepaskan cengraman tangan Barley.
Meski merasa kesal, dengan jawaban Santi namun Barley tak ingin berdebat.
"Ambil jas ku dan bantu aku mengenakannya,"titah Barley kembali.
Santi menurut dan melakukan apa yang di perintahkan oleh Barley, ia meraih jas dan membantu Barley mengenakannya.
"Ada lagi yang harus saya lakukan tuan?"tanya Santi ketika merasa pekerjaannya sudah selesai.
"Mulai sekarang, kau harus melayani ku layaknya seorang istri, kau yang akan mengurusi segala sesuatu untuk ku, mulai dari pakaian. menyiapkan sarapan ku, dan melayani ku di atas ranjang tanpa penolakan dan pemaksaan sedikit pun" ucapnya seraya menatap wajah Santi lekat.
Sementara Santi hanya bisa menelan salivanya dan tertunduk.
"Lalu apa yang sekarang harus saya lakukan?" tanya Santi lemah, karna menahan rasa sakit pada bagian perutnya.
"Ayo kau ikut aku turun sekarang, siapkan sarapan ku!" titah Barley.
Santi pun menurut mengikuti Barley turun menuju meja makan.
Santi mendengus kesal, karna sudah sepagi ini harus bertemu dengan ibu mertuanya tersebut, biasanya ia lebih memilih menghindari pertemuan dengan Andini.
Barley duduk sementara Santi langsung menuju dapur, membuatkan minuman hangat untuk suaminya.
"Barley bagaimana dengan sidang perceraian mu?"tanya Andini.
"Bercerai? siapa yang akan bercerai?"Barley malah membalas dengan pertanyaan kembali kepada Andini.
"Barley! bukannya kau sendiri yang bilang akan mengurus surat perceraian mu?" cecar Andini.
"Itu hanya rencana Mommy, aku belum melakukannya," sahut Barley santai.
"Apa?! Mommy sudah bilang pada keluarga Amora jika kau dan Santi sedang menjalani proses sidang, lalu bagaimana dengan Amora, keluarganya pasti menolak jika Amora jadi istri yang kedua!" cecar Andini dengan suara yang lebih tinggi.
Melihat istrinya yang terkesan memaksakan putranya, tuan Hasta tak tahan untuk terus diam.
"Mommy! kenapa sih selalu memaksa Barley!" bentak tuan Hasta.
"Biar kan saja, itu urusan rumah tangganya, mau berpisah atau tidak itu bukan urusan kita Mommy, mereka yang menjalani rumah tangga mereka," papar tuan Hasta.
Seketika Andini terdiam, mendengar suaminya yang berbalik menyerangnya.
Sementara Barley tetap tenang seraya melanjutkan sarapannya.
Santi mendengar pembicaraan mereka, tubuhnya jadi sedikit gemetar karna menahan bulir bening agar tak jatuh menetes di pipi.
Santi mengantar minuman tersebut dan menyodorkannya ke pada Barley.
Setelah itu ia hendak kembali ke kamarnya, untuk beristirahat.
"Santi duduklah, sarapan bersama ku," titah Barley.
Lagi-lagi ia hanya bisa menuruti perintah Barley, meski sebenarnya ia enggan.
Santi menarik kursi di antara Barley dan Andini, lagi-lagi tatapan sinis Andini membuatnya tak pernah merasa nyaman berada di rumah itu.
Barley memoles beberapa potong roti, kemudian meletakannya diatas piring Santi.
"Sarapan untuk mu," ucap Barley seraya menyodorkan piring tersebut kearah Santi.
Melihat sikaf Barley terhadap Santi membuatnya tak tahan untuk mencecar wanita tersebut.
"Huh, sihir apa yang kau gunakan untuk meracuni pikiran putra ku," dengus Andini sedikit berbisik kearah Santi yang ada di sampingnya.
Santi menoleh sinis ke arah Andini yang menatapnya tajam.
***
Amora sudah bersiap di depan cermin, atas permintaan Veronica ia bermaksud menemui Aldo di rumah sakit pagi ini.
Amora turun dari kamarnya dan menemui Veronica di ruang tengah.
"Mau kemana kau Amora?"tanya Veronica yang melihat Amora turun dari lantai atas kamarnya.
"Bukannya Mami yang memintaku untuk menui Aldo," sahutnya ketus.
Veronica menarik nafas panjang, "Pergi lah hati-hati di jalan, ingat kau sedang mengandung," ujarnya menasehati Amora.
Veronica menatap punggung putrinya yang perlahan menjauh, kemudia menarik panjang dan menghempaskannya, "Aku tak punya pilihan lain, bagaimana pun anak yang ada di kandungan Amora itu cucu ku, darah daging ku sendiri."
***
Setibanya di rumah sakit, Amora langsung menuju bagian informasi di mana Aldo di rawat
Amora mencari ruangan perawatan Aldo, baru melewati sebuah lorong ia melihat Arief keluar dari kamar Aldo.
Dengan segera ia memasuki kamar tersebut.
Saat itu Aldo terbaring, dengan kaki dan tangan yang di perban.
Melihat Amora Aldo merasa merasa senang, karna selama beberapa hari di rawat Amora tak pernah sekali pun menemuinya.
"Amora," sapa Aldo lirih.
Amora menatap sinis kearah Aldo,seraya menyilangkan tangan ke dadanya.
"Huh, aku pikir aku datang ke sini, aku bisa minta pertanggung jawaban dari mu Aldo, ternyata_" Dengus Amora.
Aldo tak mengerti dengan apa yang di bicarakan Amora.
"Pertanggung jawaban apa Amora?"tanya Aldo lirih.
Amora mendekati Aldo seraya memicingkan matanya mentap pria tersebut dengan lekat, tampak sekali kemaran pada wajah Amora.
"Aku sedang mengandung anak mu Aldo, tapi melihat kondisimu seperti ini,aku jadi miris, aku batalkan saja, karna aku tak mau di nikahi oleh pria cacat seperti mu!" Cecar Amora.
"Hamil? Benarkah kau hamil anak ku Amora?"tanya Aldo sedikit syok.
Meski kaget Aldo merasa senang, karna sesungguhnya ia begitu mencintai Amora.
"Iya Aldo, awalnya Mami ku memintaku untuk menemui mu agar kau bertanggung jawab pada ku, tapi melihat keadaan mu yang seperti ini, aku tak akan sudi menerimamu, dan jangan harap anak ini akan selamat, karna aku akan menggugur kannya apa pun caranya!"cecar Amora.
Aldo semakin syok sekaligus sedih, "Tapi Amora apa salah janin yang kau kandung, jangan lakukan itu, "cegah Aldo.
Arief yang kembali dari ke kamar Aldo, tanpa sengaja mendengar percakapan mereka.
Amora tak menggubris ucapan Aldo, dengan emosi ia keluar dari kamar tersebut meninggalkan Aldo.
"Nona Amora," ucap Arief lirih.
"Amora! jangan lakukan itu Amora ! Anak itu tak berdosa!" Teriak Aldo dengan suara paraunya.
Namun Amora tetap keluar dari tempat tersebut.
"Amora jangan Amora!"teriak Aldo berupaya mencegah.
Arief mendekati Aldo," Kenapa Aldo? tanya Arief melihat Aldo yang berusaha melepas peratan medis yang menempel di tubuhnya karna ingin mengejar Amora.
"Amora, Amora bang dia ingin menggugurkan kandungannya, cegah dia bang," Aldo.
"Iya Aldo, nanti aku bicarakan pada Amora." Arief.
Arief kembali membetulkan posisi Aldo, sementara Amora ia memantapkan hatinya untuk tetap menggugurkan kandungannya.
Bersambung,