
Andini tiba di rumah dan langsung di sambut oleh tuan Hasta dan Hanna.
Wanita itu sudah beberapa hari ini tak bicara dan hanya mengurungkan diri, setelah tahu jika dirinya tak lagi sempurna.
Melihat kedatangan Andini. Tuan Hasta buru-buru menghamprinya.
"Mommy, apa kabar mu? " tanya tuan Hasta yang berlutut di depan kursi roda Andini.
Andini menatap kesal kemudian membuang muka.
"Maaf Mommy, sejak kau di rawat aku tak bisa menjengukmu, aku pun baru sembuh dari sakit," tutur tuan Hasta.
Wajah tuan Hasta memang terlihat pucat bibirnya pun bergetar.
Tuan Hasta mengalami lemah jantung hingga ia tak bisa melakukan aktifitas yang berat. Meski begitu sang istri Hanna selalu setia menemaninya dan mendampingi tuan Hasta.
Melihat sikap Andini yang terlihat acu tehadap alasan yang di ungkap oleh tuan Hasta membuat Hanna menjadi kesal.
Ia pun menarik tangan tuan Hasta untuk berdiri.
"Sudahlah Daddy, bukan salah mu. Ayo kita pulang ke rumah kita. Kau butuh banyak waktu untuk istrirat. " Hana.
Tuan Hasta pun berdiri. Mereka berdua berjalan menghampiri Barley.
"Barley .Mommy permisi, daddy butuh banyak waktu untuk istirahat di rumah." Hanna.
"Iya mommy .Terima kasih telah merawat Daddy ku dengan baik. Kenapa kalian tak tinggal di sini saja. Jadi aku setiap bisa saat memantau kesehatan Daddy dan Mommy secara bersamaan. "
Hanna tersenyenyum.
"Terima kasih Barley.Tapi saat ini mommy dan Daddy sedang menikmati masa tua kami bersama. Jadi kami akan merasa lebih nyaman jika hanya tinggal berdua saja," ucap Hanna.
"Salut sama mommy dan Daddy, Semoga aku dan Santi akan selalu bersama sampai kakek nenek hingga maut yang memisahkan." Barley.
Barley mendekati Santi kemudian mencium pipinya.
"Iya kan Sayang? "tanyanya sambil melempar senyum dan mengedipkan matanya.
"Hm, iya Sayang, "sahut Santi dengan tersenyum pula.
Sepasang suami itu tersenyum bahagia melihat Santi dan Barley.
"Iya mommy dan Daddy selalu mendoakan kelanggengan hubungan kalian, k as lau begitu kami pamit." Hana.
"Iya hati - hati mommy. Sering-sering memberi kabar pada kami ya! "
"Iya. Tenang saja," jawab Hana.
Hanna menuntun Tuan Hasta dengan menggandeng tangannya menuju mobil.
Barley dan Santi menatap dengan bahagia pasangan yang selalu mesra meski mereka berada di usia senjatersebut.
Barley meletakan tangannya di punggung Santi.
"Sayang, jika aku sudah tua dan sakit-sakitan . Apa kau akan melakukan hal yang sama, seperti yang di lakukan mommy Hana pada Daddy? "
"Ehm, tentu sayang, "ucap Santi sambil mencubit mesra pipi Barley.
"Terima kasih sayang, "ucap Barley kemudian mencium pipi istrinya.
Hm.
Andini semakin membuang mukanya.
Melihat kedua pasangan yang terlihat serasi tersebut, hatinya semakin membenci.
"Barley antar mommy ke kamar! " pinta Andini.
"Iya mommy."
Barley menghampiri Andini dan mendorong kursi roda tersebut.
"Mommy, sebentar lagi akan ada seseorang yang akan mengurus mommy. aku menyewa jasa perawat." Barley.
"Mommy tak butuh bantuan siapa pun Barley! tinggalkan saja mommy sendiri!"
Ia pun membawa Andini menuju sebuah kamar. Namun bukan the main room.
Hanya kamar sederhana. Karna kamar utama hanya ada dua di rumah itu. Milik tuan Hasta dan kamar Barley sendiri.
Andini menangis ketika Barley membawanya menuju kamar yang ia dulu tempati ketika dirinya hanya menjadi selir tuan Hasta. Saat itu Hanna lah yang jadi istri pertama dan ratu di rumah itu, kini keadaan seperti berbalik kembali.
Dirinya kini hanya menumpang hidup dan tinggal di rumah yang notabennya adalah milik sang menantu yang begitu ia benci.
"Mommy butuh bantuan lagi? " tanya Barley ketika mereka sampai di kamar.
Apa mommy mau ku gendong ke tempat tidur? " tanya Barley.
"Tidak, mommy bisa sendiri Barley! apa kau pikir keadaan mommy seperti ini mommy tidak bisa melakukan apa-apa?! Ingat mommy adalah Andini. Dan Andini bisa melakukan apa saja yang dia ingin kan! " teriak Andini dengan emosi.
Barley syok mendengar ucapan Andini yang masih saja arogan, ia pun melepaskan pegangan tangan kursi roda.
"Terserah mommy. Ku pikir mommy akan berubah setelah ujian demi ujian menimpa mommy.Tapi mommy justru semakin sombong.Mommy selalu merasa diri mommy hebat! sekarang aku ingin lihat apa benar mommy bisa melakukannya seorang diri! Apa benar mommy tak butuh orang lain di hidup mommy! "
Barley begitu emosi ia pun keluar dari kamar dengan mendengus kesal.
Bruk... pintu di banting Barley dari luar.
Andini menatap kepergian putranya dengan tangisan pilunya.
"Barley ! hiks hiks hiks, jangan tinggalkan Mommy Barley! mommy hanya butuh dirimu Barley!hiks hiks hiks."
Andini menggerakan roda pada kursi roda kini hanya satu tangannya saja yang berfungsi.
Andini menggedor-gedor pintu seraya memanggil-manggil nama Barley.
"Barley! Barley! " teriak Andini dari dalam kamar.
Merasa perbuatannya sia-sia ia pun kembali mendekat kearah tempat tidur sambil menangis. Namun tiba-tiba Andini mendongkak kan kepalanya.
"Tidak! selama aku masih hidup, aku tak ingin di rendahkan oleh orang lain.
Santi pasti senang melihat ku seperti ini. Ia pasti akan tertawa jika melihat ku menderita. Aku harus bisa berjalan sendiri!"
Andini mencoba untuk berdiri dan naik ke tempat tidurnya.
Dengan menarik sprey, agar ia bisa naik ke tempat tidur tanpa bantuan. Namun karna tanganya yang lemah dan tak kuat menarik, kursi rodanya pun terjungkit ke depan dan membuatnya terkurap di atas lantai.
Bruk tubuh Andini jatuh.
"Akh! " teriaknya kesakitan.
Andini coba membalikan tubuhnya, darah segar pun mengucur di tepi bibirnya.
"Hiks hiks hiks,Barley!" tangisnya sambil meraih sprey agar ia bisa berdiri.
Dengan tangan yang gemetar ia menarik sprey. Tapi apa daya, tubuhnya kembali tertungkup di atas tempat tidur.
Andini berusaha mengangkat tubuhnya agar bisa naik di atas tempat tidur. Namun semua sia-sia.
Kakinya seperti benda mati yang tak bisa bergerak lagi.
Setelah berulang kali mencoba dan merasa lelah, Andini putus asa.
Ia pun menarik selimut dan sebuah bantal kemudian menjatuhkannya ke atas lantai.
Andini melipat sprey ala kadarnya kemudian berbaring di lantai yg beralas selimut dan sebuah bantal.
Darah tak hanya mengaliri di tepi bibirnya tapi juga pada lutut ,siku ,dan keningnya.
Setelah berusaha sekuat tenaga. Andini pun bisa berbaring dengan air mata yang mengalir deras. Matanya menatap langit-langit kamar, tatapanya menerawang jauh mengingat masa kejayannya.
Ia hanya bisa pasrah menerima kenyataan jika dirinya saat ini bukan Andini yang dulu.Dirinya kini adalah wanita tua yang cacat dan tak berdaya.
Andini mencoba menutup mata menahan rasa sakit yang ia rasakan pada sekujur tubuhnya.
Bersambung dulu reader.
Mohon maaf lahir batin dan selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang merayakannya. Semoga kita semua selalu terhindar dari segala marabahaya dan selalu merasakan bahagia Aamiin ya RobalAlamin. Kamu bisa kasih saran apa saja sama author kok misalnya thor aku mau cerita tentang Andhra atau Asyia atau keluarga Arief dan sebagainya dan in shaa Allah aku bikin babnya. Tentu dengan tidak mengubah alur yang sudah di rencanaka. Terima kasih, salam sayang selalu. semoga sehat semua. love u All.