Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat

Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat
Dua Tersangka


Seperti rencana Veronica, Amora mulai meminum obat yang ia berikan tak lupa ia memberi pewarna merah pada pakaian dalam nya agar terlihat seperti bercak darah.


Setelah beberapa menit ia mulai merasakan sakit pada bagian perutnya.


"Akh!" seru Amora meringis.


Amora meringkuk menahan sakit pada bagian perutnya, itu tandanya semua rencananya berhasil.


"Akh, Akh perutku sakit sekali !!" Teriak nya hingga menggemparkan satu ruangan tersebut.


Beberapa penghuni lapas tersebut menghampiri Amora.


"Hey kenapa kamu?"tanya mereka tak bersahabat karna, penghuni tersebut memang tak menyukai Amora.


"Akh tolong sepertinya aku akan melahirkan!" ucap Amora seraya meremas bagian perutnya.


Mereka pun panik, dan terjadi keributan kecil di lapas tersebut.


Veronica yang baru tiba bergegas menghampiri Amora yang sedang meringkuk menahan sakit.


"Amora kamu kenapa?"tanya Veronica pura-pura panik, bibirnya tersenyum selama beberapa.


Tepat waktu.


"Aduh Mami, perutku sakit sekali Mami! Akh!" Amora meringis menahan sakit sampai mengeluarkan keringat dingin, karna memang perutnya terasa sakit saat itu.


Veronica pun berteriak meminta tolong, karna sel tersebut cuma di isi beberapa orang tahanan wanita, ia berlari menemui sipir penjaga.


"Tolong!! teriak Veronica setengah berlari menghampiri petugas sipir, sandiwara pun kembali dimulai.


Seorang penjaga sel berlari kecil menghampiri Veronica, karna melihat kepanikan di wajahnya.


"Ada apa Nyonya?"


"Tolong Pak! tolong anak saya,hiks hiks."


Veronica menangis, agar petugas tersebut lebih percaya kepadanya.


"Kenapa? anak ibu kenapa?"


"Bapak lihat saja sendiri pak !"


Petugas sipir pun datang menghampiri Amora.


"Ada apa ini?"tanya petugas tersebut.


"Anak saya Pak, sepertinya ia mengalami keguguran," ucap Veronica.


"Tolong bawa anak saya kerumah sakit Pak, saya takut membahayakan nyawanya hiks hiks." Veronica.


Tidak bisa sembarangan ibu, di periksa dulu, akan ada petugas yang memeriksanya," ucap petugas sipir tersebut.


"Iya Pak,"


Veronica menunggu dengan gelisah.


Setelah melakukan peneriksaan ternyata memang Amora mengalami kontraksi karna meminum obat yang di berikan oleh Veronica.


Dengan pengamanan ketat mereka pun membawa Amora menuju rumah sakit bhayangkara.


Amora tetap meringis menahan kan Sakit,Veronica berada di dalam mobil berbeda untuk mengatur strategi kembali.


***


"Mommy?"guman Barley.


Barley begitu syok, mendengar kabar tersebut,ia pun kembali ke kamar Andini.


Namun langkahnya terkecat oleh kedatangan beberapa orang polisi.


"Selamat pagi, Pak!" Ucap polisi tersebut kepada Barley.


"Selamat pagi Pak," ucap Barley seraya menyerit dahinya.


"Kami mencari keberadaan nyonya Andini dan membawa surat penangkapannya," ucap Polisi tersebut seraya menyerahkan selembar kertas.


Barley bukan main syok, Ia pun meraih kertas tersebut dan membacanya, seketika matanya membulat dengan sempurna.


"Apa ini? percobaan pembunuhan ?" tanya Barley syok, wajahnya terlihat gusar.


Belum selesai satu kasus, kini Andini terlibat kasus percobaan pembunuhan.


Barley hanya bisa menelan ludah akibat tenggorokanya yang terasa kering.


"Bisa saya bertemu nyonya Andini?" Polisi tersebut menepuk pelan pundak Barley yang tengah melamun.


Barley pun tersadar.


"Ehm, Mommy saya, ada di dalam sedang menjalani perawatan, "ucap Barley.


Polisi tersebut masuk dengan beberapa orang anggota lainya, begitu pun Barley yang ikut masuk dengan langkah gontai, ia sendiri tak percaya, ibu yang melahirkannya sanggup melakukan hal yang tidak terpuji.


Tuan Hasta tengah menikmati sarapannya begitupun Andini, ketiganya kaget dengan kedatangan polosi di kamar Andini.


Tubuh Andini gemetar, melihat kedatangan petugas berseragam coklat tersebut.


"Selamat siang nyoya," ucap polisi tersebut dengan suara yang lantang, Andini gelalapan tanpa mampu menjawab, sementara tuan Hasta berdiri dan berjalan menghampiri Petugas tersebut.


"Ada apa ini Pak?"tanya tuan Hasta syok.


Polisi menyerahkan surat penangkapan Andini kepada tuan Hasta.


Tuan Hasta lebih syok, ia pun meraih dan membaca surat tersebut.


"Percobaan pembunuhan?" tuan Hasta bertambah kaget, ia melipat kembali surat tersebut kemudian melirik sinis ke arah Andini.


Andini berusaha menyembunyikan wajahnya, namun ia tak bisa lagi mengelak, ingin sekali ia lari saat itu tapi apa daya, kakinya mengalami bengkak akibat luka jahitan.


"Iya Pak, silahkan saja di tahan, kami sebagai warga negara yang baik akan selalu patuh terhadap hukum." tuan Hasta.


Andini syok mendengar pernyataan suaminya tersebut.


"Daddy, tolong aku Daddy!" jangan biarkan mereka membawa ku Daddy," pinta Andini memelas.


Petugas kesehatan pun datang untuk melepas selang infus dan peralatan yang menempel pada tubuh Andini.


Karna lukanya tak terlalu berisiko, petugas polisi membawa Andini pada saat itu juga.


Barley bersandar pada dinding seraya menyilang kedua tanganya, ia bebenar-benar kecewa terhadap ibundanya, begitu pun tuan Hasta, mereka juga tak bisa berbuat apa-apa, sudah sepatutnya yang bersalah di hukum.


"Daddy, tolong aku Daddy, jangan biarkan aku di penjara Daddy!" Andini memohon dan mengiba.


Tapi tuan Hasta bergeming, melihat Andini yang di bawa menggunakan kursi roda.


Andini melirik ke arah Barley.


"Barley tolong Mommy Barley! jangan biarkan mommy di penjara Barley!"rengeknya sembari menangis.


Hal yang sama di lakukan Barley ia tetap diam memperhatikan orang orang tersebut membawa Andini.


Barley lebih kecewa karna tahu Amdini juga berniat membawa kabur uang perusahaan dengan jumlah yang tak main-main.


Andini di bopong menggunakan kursi roda, untuk di lakukan penyelidikan dan penahanan.


"Daddy, tolong Daddy!" tangisnya ketika polisi mendorong kursi roda tersebut menuju ke luar ruangan.


"Barley! tolong Mommy , Barley, Mommy ngak mau di penjara Barley, hua hua."


Barley hanya melirik kearah petugas yang membawa ibundanya.


Andini menangis. karna kedua orang tersebut seperti tak menghiraukannya.


"Tolong Mommy Daddy, Tolong Mommy Barley! hiks hiks hiks."


Keduanya tetap diam, terlebih Barley, ia justru menatap tajam ke arah Andini.


Andini sudah di dorong keluar dari ruangan tersebut, namun suara tangisan dan seruannya yang meminta tolong pada tuan Hasta dan Barley masih terdengar.


Barley tetap diam pada posisinya.


Tuan Hasta menghampiri Barley yang terlihat menangis, sebenarnya ia merasa iba sekaligus kecewa terhadp ibunya tersebut.


Bulir bening menetes di pipi pria tampan tersebut, seketika bola matanya memerah karna menahan tangis.


Santi yang melihat suaminya terlihat sedih ia pun menghampirinya, memeluknya dan mengusap punggungnya.


"Barley, Daddy harap kau bisa bersabar atas musibah ini, setiap perbuatan yang di lakukan pasti akan di minta pertanggung jawaban, dan sekarang biarkan Mommy merasakan sendiri akibat dari perbuataannya, semoga dengan kasus ini ia akan menjadi sadar dan bisa kembali ke jalan yang lurus." tuan Hasta.


Hiks, Barley menghapus air matanya.


"Bukan itu yang aku pikirkan, aku hanya merasa sedih dan kecewa karna Mommy hampir saja membawa lari uang perusaahan sebesar seratus miliar Daddy, yang membuat hati ku sakit adalah penghianatan Mommy terhadap kita Daddy!"


Barley menangis hatinya begitu terluka atas penghianatan yang di lakukan oleh ibu kandungnya sendiri.


"Apa? tuan Hasta mendelik, menatap Barley dengan mata yang berkaca-kaca.


Hiks hiks


"Iya Daddy, aku tak percaya Mommy tega mengkhianati kita, keluarganya sendiri," papar Barley.


Tuan Hasta mengusap punggung Barley, "Jika begitu biarkan saja ibumu itu di penjara, sesuai tuntutan, mungkin itu cara agar dirinya segera insyaf, Daddy sudah sering mengingatkannya, namun sepertinya hati ibumu seperti sudah membatu." tuan Hasta.


"Ayo, kita ikuti mereka, "ajak tuan Hasta seraya merangkul putranya.


Santi menggandeng tangan Barley seraya mengusap punggungnya agar emosi Barley mereda.


Keduanya dari ruangan, ketika melewati koridor mereka melihat Amora dan Veronica yang memasuki ruang UGD.


"Tunggu! bukannya itu tante Veronica dan Amora?" Barley menahan langkahnya sesaat.


"Apa yang terjadi? bukannya Amora di penjara, aku harus cari tahu," guman Barley.


"Sayang, kau tunggu di sini bersama Daddy, aku harus tahu apa yang terjadi pada Amora."Barley.


"Iya sayang," ucap Santi melepaskan pelukkanya.


Barley menghampiri seorang petugas yang mengawasi Amora.


"Maaf Pak, ada apa dengan Amora itu?"tanya Barley pada petugas kepolisian yang berjaga.


" Amora mengalami kontraksi, kemungkinan keguguran," jawab polisi tersebut.


Barley menyeritkan dahinya.


"Jadi Amora hamil?"


Bersambung ya guys, dukung author ya dengan like yang banyak, komentar dan saran untuk membangun agar author lebih baik lagi dalam menulis, love you All 😘😘😘