
Setelah pernikahan secara sirihnya bersama tuan Demian tadi pagi,malam ini Cintya bersiap untuk malam pertama Mereka.
Cintya sengaja mengenakan piyama lengan panjang untuk menutupi tubuh eloknya.
Minuman yang sudah di tambah obat tidur pun sudah di siapkan Cintya, agar kakek tua itu tertidur pulas sebelum menyentuhnya.
Sementara tuan Demian sendiri sedang menyeduh jamu pria perkasa dengan dua telur ayam kampung.
"Ini pasti bisa membuat tenaga ku bertambah perkasa, hm. Sudah tak sabar menikmati daun muda," ujarnya lagi sambil mengaduk aduk jamu dan telur mentah tersebut.
Tanpa menunggu lama ia pun meminum jamu tersebut kemudian beregak
Akhh
Seketika bau anyir keluar dari mulutnya.
Beberapa saat kemudian tuan Demian langsung menuju kamar penggantinnya.
Dengan langkah yang mantap karna rasa percaya diri yang tinggi, ia pun menemui Cintya di kamarnya.
Cintya mendengar langkah kaki yang menghampiri kamarnya.
Jantunya berdetak kencang, baru kali ini ia merasa takut mengahadapi seseorang.
"Duh kakek peyot sudah tiba. Moga saja tuh aki aki mampus habis minum air ini ," gerutu nya dengan kesal.
Kreak
Pintu terbuka tampaklah sosok horor yang menakutkan bagi Cintya.
Demian tersenyum mencoba tebar pesona pada sang istri.
'Uek, uh jijik banget lihat gaya si tua itu , ehm moga saja dia mampus malam ini,' batin Cintya kesal.
Demian melangkah menghampiri Cintya dengan penuh percaya diri.
Ia pun duduk di atas tempat tidur tepat di samping Cintya.
Cintya melirik sinis ke arahnya
"Hay sayang Sudah ngak sabar ya menunggu Aa'?" tanya seraya tersenyum mesum ke arahnya.
Cintya memutar bola mata nya kesegala arah.
'Iya ngak sabar. Ngak sabar lihat kamu mati,' batin Cintya.
Cintya menundukan wajahnya menghindari tatapan nakal pria tersebut.
Tuan Demian mendekat kan wajahnya pada wajah Cintya, ia ingin mencium gadis tersebut.
Belum menyentuh Cintya tiba tiba saja Cintya merasa muntah karna mencium bau amis dari mulutnya.
Uek Uek, Cintya berlari ke kamar mandi dan langsung muntah.
Uek, uek
Cintya memuntahkan isi perutnya.
Setelah beberapa saat ia pun bersandar pada wastafel.
"Aduh bau banget mulut si aki itu ,.makan apa sih orang tua itu, hi.' Cintya bergidik geli, ia semakin tak sanggup jika harus membayangkan akan bercinta bersama pria tua tersebut.
Karna merasa lama menunggu, tuan Demian pun menggedor pintu kamar mandi.
Tok tok tok
"Sayang! Sayang! lama sekali di kamar mandinya!" panggil tuan Demian.
"Aduh si aki itu sepertinya sudah tak sabar untuk menikmati tubuh ku? apa yang harus ku lakukan?"
Cintya berfikir sebentar.
"Aku harus bisa membujuknya untuk minum air yang sudah ku tambah obat tidur di dalamnya."
Cintya mencuci wajahnya untuk. membuat terasa segar, kemudian ia keluar dari kamar mandi.
Tuan Demian sudah menunggu dengan setengah bugil di salah satu sisi tempat tidur.
Tubuh Cintya semakin lemas melihat tubuh dengan kulit yang berkeriput dan dada yang tak lagi bidang di tambah dengan senyuman yang menyeringai membuat Cintya semakin down.
'Aku harus bisa membuat tua bangka itu minum air yang sudah ku tambah obat tidur di dalamnya,' batin Cintya.
Cintya menguat kan langkahnya menghampiri tuan Demian seraya tersenyum palsu.
Ia pun duduk di samping tuan Demian.
"Ehm Aa' minum dulu biar segar dan kuat," ucap Cintya seraya menuang air ke dalam gelas, kemudian menyodorkannya kepada tuan Demian.
Tuan Demian tersenyum, dia sudah tau rencana Cintya, pengalaman tuan Demian sudah banyak, jadi tak akan tertipu trik licik tersebut.
"Aa' sudah minum sayang.Kamu tenang saja Aa' sudah minum ramuan pria perkasa di tambah dengan dua kuning telur ayam, pasti kuat hingga berjam-jam,"tuan Demian.
Cintya menelan air ludahnya mendengar penuturan tuan Demian.
'Hi semakin menjijikan, apa yang harus aku lakukan? Mami-Papi tolong aku' batin Cintya,ia semakin ketakutan keadaan pun semakin meneganggkan.
Tuan Demian seperti tak sabar ia pun langsung menyambar tubuh Cintya dan menariknya hingaa Cintya terlentang di atas tempat tidur.
"Ehm Aa' Tunggu! " tahan Cintya.
Cintya tak punya pilihan, ia pun bangkit dan mendekat nakas kemudian ia meminum habis air yang ada di gelas tersebu.
Dari pada ia harus tersiksa melayaninya kakek tua itu selama berjam-jam lebih baik ia tidur dan tak sadarkan diri.
Setelah meminum air tersebut Cintya merasa pusing ia pun berbaring terlentang.
Selama berjam-jam ia menuntaskan hasratnya pada Cintya yang tertidur pulas kemudian tuan Demian tumbang di samping tubuh Cintya.
***
Matahari mulai meninggi ,Cintya menerjab-nerjabkan matanya ia merasakan sakit pada sekujur tubuhnya.
Cintya bangkit dan coba mengingat kejadian semalam, ia menyibak selimut yang menutupi tubuh polos.
Hah! Cintya terpekik kaget melihat sisa noda pada bagian bawah tubuhnya.
Begitupun tubuhnya yang di penuhi jejak kepemilikan oleh tuan Demian.
"Hik hiks hiks, kenapa nasib ku jadi seperti ini," tangis Cintya sambil menjambak rambutnya dengan frustasi.
Cintya menoleh kearah samping di lihat tuan Demian yang tertidur lelah hingga keluar iler, ia pun semakin ifil dan merasa jijik.
Cintya merasa mual melihat tuan Demian seperti itu, kemudian ia berlari ke kamar mandi dan kembali muntah.
Setelah mengeluar kan semua isi perutnya tubuhnya lemas.
"Oh, tidak sampai kapan aku seperti ini, ini sungguh menjijikan," tangis Cintya Frustasi.
"Apa ku racuni saja, tua bangka tak sadar diri itu," guman Cintya.
***
Dua bulan kemudian.
Sebagai seorang istri, kini Dinar terbiasa menyiapkan pakaian kerja Arief.
Ia pun membantu mengenakan Ari Arief dasi dan jas.
"Sudah selesai Mas, "ucap Dinar kemudian tersenyum seraya mengusap dada bidang Arief.
"Terima kasih," ucap Arief sambil mengecup kening dan bibir Dinar.
Dinar menggandeng tangan Arief menuntunnya keluar kamar, mereka pun hendak sarapan kebetulan Asyia masih tertidur.
Tiba-tiba Dinar merasa pusing, pandangannya berkunang-kunang.
Dinar hampir tumbang kemudian tubuhnya langsung di sambar oleh Arief.
"Dinar!" sambar Arief ia pun mengangkat tubuh Dinar dan membawanya ke tempat tidur.
"Dinar! Dinar, kamu Kenapa?"tanya Arief panik.
Namun Dinar tak juga bangun.
Arief semakin panik ia pun mendekat kearah meja rias untuk mengambil minyak wangi.
Arief kembali ke mendekati Dinar dan menciumkan minyak wangi tersebut untuk membuatnya tersadar.
Dinar tersadar dan langsung menerjab-nerjabkan matanya.
"Dinar kamu kenapa?"tanya Arief khawatir sambil mengusap kepala Dinar dengan lembut.
"Ehm, aku ngak apa-apa, hanya sedikit pusing," ucapnya lirih.
"Aku suruh bik Sumi untuk memanggil dokter ya." Arief.
Arief berlari kecil keluar mencari bik Sumi.
"Bik, tolong panggilkan bu Winda! "perintah Arief.
Bu Winda adalah dokter langganan Arief dan keluarga, kebutulan rumahnya dan rumah bu Winda bersebelahan.
Arief kembali menemui Dinar.
Dinar berbaring memeluk Asyia.
"Dinar bagaimana keadaa kamu? " tanya Arief yang duduk di samping Dinar, ia pun memijit lembut kepala Dinar.
"Ehm, hanya pusing Mas, beberapa hari ini aku ngak napsu makan," ujar Dinar mengeluh.
"Mungkin kamu kelelahan, sebentar lagi bu Winda akan datang memeriksa kamu." Arief.
"Iya Mas,"ucap Dinar.
Arief membelai rambut Dinar sesekali ia mengecup pucuk kepala istrinya.
Beberapa saat kemudian bik Sumi datang bersama dokter Winda.
Dokter Winda masuk dan langsung memeriksa Dinar.
Ia pun mengambil simple urine Dinar untuk membuktikan kecurigaannya.
"Bagaimana dengan istri saya dok?" tanya Arief.
Dokter Dinar langsung tersenyum.
"Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Istri anda sedang menggandung saat ini." Dokter Winda.
Arief langsung tersenyum bahagia.
"Allamdullilah," ucap nya dengan suka cita.
Dinar dan bik Sumi pun saling memandang dan tersenyum.
Arief menghampiri Dinar kemudian mencium keningnya.
"Allamdullilah, rezeki kita sudah datang sayang, " ucapnya seraya menatap Dinar dengan tatapan berembun.
Bersambung, jangan di leaf karna cerita ini masih panjang ya reader, terima kasih atas dukungannya saran dan komentarnya serta sambutan baik nya .maaf kalau author byk typo.mohon maaf atas segala kekurangan dan kelebihannya ya.Semoga kita semua selalu di limpahkan kesehatan dan keselematan untuk diri dan orang-orang yang kita Sayangi.Aamiin