Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat

Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat
Masih Acu


Sinar mentari pagi masuk ke celah-celah jendela membuat kamar tersebut terasa hangat.


Santi sedang melakukan perengan otot-ototnya dengan melakukan senam hamil ringan.


Barley yang baru saja selesai dengan ritual mandi paginya, keluar dari kamar mandi dan melihat sang istri sedang melakukan gerakan pengaturan napasnya.


Santi menutup mata beberapa saat kemudian ia membuka matanya dan langsung mendapat kecupan hangat dari sang suami.


Cup, kecupan mesra itu mendarat di pipi Santi.


"Selamat pagi Sayang,"ucap Barley. Kecupan pun mendarat di kening Santi.


Santi tersenyum ke arah suaminya yang menatapnya dengan tatapan penuh cinta, "Selamat pagi juga Sayang, kau mengagetkan ku saja," ucap Santi seraya menyentuh pipi Barley.


"Sudah olah raga-nya? Sekarang bantu aku memakaikan pakaian ku," ucap Barley.


Hm, Santi berguman.


Ia pun menarik lembut tangan Santi, mengajaknya untuk berdiri.


Barley meraih tisu untuk mengelap keringat yang menempel di permukaan wajah Santi.


"Jangan terlalu lelah, Sayang," nasehat Barley pada istrinya.


"Iya Sayang, aku bisa jaga diri ku baik-baik, "jawabnya seraya meraih pakaian Barley yang sudah di persiapkannya di atas tempat tidur.


Santi membantu memakaikan Barley kemejanya dan mengancingnya, hal itu merupakan rutinitasnya setiap hari.


Meski hal tersebut merupakan hal kecil bagi sebagian orang, tapi itu merupakan cara mereka menunjukan perhatian dan kasih sayang mereka sebagai pasangan suami istri.


Setiap kali Santi mengancing kemeja suaminya, Barley selalu tersenyum menatap Santi dengan mesra, kemudian mereka saling melempar senyum. Sebuah momen berharga sebelum bagi Santi sebelum melepas suaminya pergi bekerja.


Berada di luar rumah serta menemui banyak orang terkadang ada rasa khawatir di hati Santi jika ada yang ingin merebut suaminya tersebut.


Maklum saja, selain tampan Barley punya segala-galanya banyak sekali wanita yang ingin merebut Barley darinya.


"Selesai!" ucap Santi setelah selesai dengan tugasnya.


Santi menggantungkan lenganya di leher Barley hingga perut buncitnya tersebut menempel di pinggang Barley.


"Sayang! jangan pulang terlambat, jangan jajan sembarangan, " ucap Santi mengingatkan suaminya.


"Ehm, Ngak usah pikir macam-macam, aku pergi untuk mu, pulang juga hanya untuk mu, "sahutnya sambil mengecup bibir Santi mesra.


"Ehm, Aku percaya pada mu Sayang,"Santi.


"Harus itu Sayang, Saling percaya itu harus ada dalam membina rumah tangga." Barley.


"Ayo, kita sarapan," ajak Barley, seraya mengecup kening istrinya dengan lekat.


Santi melepas pelukannya, kemudian menggandeng tangan suaminya.


Keduanya menuju meja makan.


Ternyata di sana sudah ada tuan Marco dan Wati yang tampak mesra sedang berbagi roti.


Wati duduk di samping tuan Marco sedang memoles roti dengan selai, melihat hal tersebut Santi dan Barley saling melempar senyum.


"Ehm." Barley berdehem mengejutkan keduanya yang tengah asik.


Barley menarik kursi untuk Santi, sementara ia duduk di samping sang istri.


" Sayang, sepertinya aku harus mencari asisten baru untuk mu, " cetus Barley seraya tersenyum ke arah Santi namun melirik ke arah Wati.


Santi membalas senyuman Barley."Ngak apa kok Sayang, aku masih bisa mengerjakannya sendiri." Santi.


Tuan Marco tersenyum ke arah keduanya, sekarang kedua insan yang tak lagi muda tersebut, sudah tak malu-malu lagi menunjukan kemestraannya di depan mereka.


"Barley, rencananya bulan depan Daddy akan melamar Wati. Kita akan pergi ke kampung Wati, guna melamarnya langsung pada orang tua Wati," ucap tuan Marco dengan penuh semangat.


Barley tersenyum melihat tuan Marco yang terlihat semangat.


"Tentu Daddy! jika memang di rasa cocok sebaiknya kalian menikah saja, dengan hadirnya Wati di sisi Daddy, aku tak khawatir lagi."Barley


"Karna sebentar lagi Santi melahirkan, aku pun juga sibuk, aku ingin ada yang merawat dan menjaga Daddy, dan aku percaya pada Wati," timpalnya lagi seraya memoles roti.


Wati dan tuan Marco saling melempar senyum.


"Kau dengar apa kata putra ku Yang," ucap tuan Marco pada Wati. Wati pun tersenyum.


Lagi-lagi Santi yang minum susunya menjadi tersedak mendengar tuan Marco yang memanggil Wati denhan panggilan Sayang.


Uhuk..uhuk...


Barley pun menepuk pelan pundak Santi.


"Kamu kenapa Sayang?"Barley.


"Ngak apa-apa," cetus Santi sambil tersenyum.


"Kenapa Santi? kamu keget karna Daddy memanggil Wati dengan panggilan Sayang? Emang kamu saja yang bisa romantis," cetus tuan Marco seraya tersenyum.


"Ia Daddy, Santi kaget saja."Santi pun tersenyum.


Barley menggelengkan kepalanya, ia tak menyangka Daddynya menyambut baik perjodohan tersebut, karna sebenarnya ia hanya iseng.


***


Setelah sarapan Santi mengantar suaminya di muka pintu.


"Aku pergi Sayang," ucap Barley seraya mencium setiap inci wajah istrinya.


"Iya Sayang hati-hati," ucap Santi.


Sebelum pergi Barley mengecup perut buncit istrinya.


"Junior jagan merepotkan mommy, ya." Barley.


"Sayang jaga dirimu baik-baik, aku mencintai mu," ucapnya seraya meraih tangan Santi kemudian mencium punggung tangan istrinya.


"Aku juga mencintai mu, jangan macam macam ya." Santi.


Barley menganggukan kepala dengan pelan.


Santi menatap kepergiaan suaminya yang perlahan menjauh.


***


Barley baru saja Sampai di kantornya dan mendapat telpon dari Chandra, yang mengabarinya jika Cintya ingin menemuinya.


Tak beberapa lama kemudian Chandra masuk ke dalam ruang kerja Barley dengan membawa Cintya.


Tok..tok..tok..


"Selamat pagi Tuan!"Chandra.


"Selamat Pagi." Barley.


Barley mengangkat kepalanya beberapa saat melihat ke arah Cintya, ia pun tersenyum simpul.


"Selamat pagi tuan Barley, " ucap Cintya seraya mengulurkan tanganya ke arah Barley.


"Selamat pagi Nona," ucap Barley, ia pun berdiri menyambut uluran tangan Cintya.


"Saya permisi tuan,"Chandra pamit undur diri.


"Silah kan duduk Nona," ucap Barley.


"Terima kasih Tuan."Cintya


Cintya memulai aksinya bersikaf seanggun mungkin di hadapan Barley, gaya bicaranya pun di buat-buat agar Barley lebih terpesona kepadanya.


"Ada yang bisa saya bantu?"tanya Barley to the point.


"Ehm, begini Tuan saya ingin Tuan mempertimbangkan tawaran Papi saya kemaren, untuk membeli saham perusahaanya sebesar dua puluh persen, saya yakin anda adalah orang yang dermawan yang bisa membantu perusahaan kami," ucapnya dengan nada merayu.


" Ehm, maaf Nona. Saya rasa keputusan saya tak bisa ganggu, terkecuali saya bisa dapat ke untungan lain dari bisnis ini," ucap Barley menatap Cintya dengan sorot mata menggoda.


Cintya pun tersipu ia yakin jika yang di inginkan Barley adalah dirinya, karna Barley memang mahir memainkan peranannya.


"Ehm, baiklah Tuan saya akan tawarkan ke untungan yang menggiurkan untuk Tuan," ucap Cintya dengan penuh keyakinan.


"Baiklah kapan itu bisa terjadi? tanya Barley seraya menatap Cintya sembari menggigit bibir bagian bawahnya dengan lembut.


Cintya tersenyum puas,' Sepertinya kau memang mudah di taklukan Tuan, lihat saja kau pasti akan tunduk terhadapku lihat saja bagaimana aku menyingkirkan istrimu itu dan hanya aku yang akan menjadi ratu mu,' batin Cintya.


"Bagaimana kalau nanti malam temui aku di Rich hotel, akan ku beritahu keuntungan yang akan kau dapat," ucapnya dengan lirikan mata yang menggoda.


"Setuju!" ucap Barley tanpa pikir panjang.


Cintya tersenyum puas.


"Kalau begitu saya menunggu tuan, Jangan sampai terlambat," ucap Cintya seraya mengedipkan matanya menggoda Barley.


"Ehm tentu, saya tak ingin kecewa tentunya," sahut Barley.


"Yah kalau gitu saya permisi Tuan, jam tujuh malam saya tunggu Anda." Cintya.


"Oke deal." Barley.


Cintya pun melangkahkan kakinya penuh keyakinan.


Barley menatap kepergian wanita tersebut, seraya menggelengkan kepalanya.


***


Anggi menghampiri Arief dengan penuh kepercayaan diri.


"Permisi pak!" seru Anggi sebelum masuk ke dalam ruangan Arief.


"Iya silahkan, " ucap Arief tanpa menoleh,ia sibuk memeriksa berkas yang di kirim pak Dermawan.


"Ehm Pak, ini berkas-berkas yang bapak minta, " ucap Anggi seraya tebar pesona.


"Letakan saja di meja Ngi," ucap Arief seraya melihat beberapa laporan dari hasil investigasi tentang proyek wahana yang menyebabkan tuan Marco sampai celaka.


Anggi meletakan beberapa map di meja Arief, namun ia tak kunjung pergi.


Melihat Anggi tetap berdiri di sampingnya, Arief pun menoleh ke arahnya.


"Ada lagi ?"tanya Arief yang tetap cuek meski Anggi berusaha menggodanya.


"Ehm sudah tak ada lagi Pak," jawab Anggi jengah.


"Kalau begitu silahkan kamu keluar, saya butuh konsentrasi memeriksa berkas ini," papar Arief.


Anggi mnengkerucutkan bibirnya, merasa kesal karna sepertinya Arief sedikit pun yak terpengaruh dengan jimat yang ia pakai.


Ia pun keluar dengan hati yang dongkol serta menggerutu.


"Huh, udah bayar satu juta juga, masih saja ngak bisa dapatin hati pak Arief," dengus Anggi.


Sementara Arief setelah memeriksa beberapa berkas, ia menemukan sedikit kejanggalan pada kecelakaan yang menimpa tuan Marco, segera saja ia menghubungi Barley.


"Halo, Tuan sepertinya ada kejanggalan dalam hasil investigasi lokasi proyek kita," Arief.


"Selidiki terus Rif, aku rasa memang ada orang yang ingin mencelakaiku."Barley.


"Sepertinya musuhku terus bertambah saja," dengus Barley sambil menutup telponnya.


***


Malam harinya Cintya sudah menunggu Barley di sebuah kamar hotel, berbagai jebakan pun di hadirkan.


Akan kah Barley terjerat atau malah menjerat, episode berikutnya ya reader.


Terima kasih atas dukungan reader semua, terima kasih yang sudah memberi saran dan komentarnya, Alhamdullilah ada yang mengkoreksi tulisan saya dengan begitu banyak typo yang saya tulis, maaf saya hanya manusia biasa salah dan khilaf tolong di maafkan dan tak usah segan memberi saran kepada saya, in Shaa Allah saya perbaiki.


Terima kasih juga saya ucapkan atas sambutan baiknya terhadap karya saya, tanpa para readers, saya bukan apa-apa, semoga Tuhan selalu melindungi kita semua dari segala marah bahaya dan senantiasa sehat selalu Aamiin.


Salam sayang selalu 😘


Author juga punya rekomendasi buat kalian siapa tahu suka.