
Waktu terus berlalu, kini usia kandungan Dinar sudah memasuki usia sembilan bulan.
Karna perut Dinar yang semakin membesar dan sebentar lagi melahirkan, Arief memutuskan untuk mencari pengasuh untuk Asyia.
Seorang wanita berumur dua puluh dua tahun yang memiliki wajah yang cukup cantik berada di hadapan Arief dan Dinar sedang interview.
Setelah menjawab beberapa pertanyaan akhirnya kedua pasangan tersebut memutuskan untuk menerima Delia sebagai pengasuh Asyia.
Sebenarnya Dinar kurang menyetujui jika yang mengasuh Asiya itu seorang gadis. Namun, karna tak ada pilihan lagi ia pun menyetujuinya.
"Baiklah Delia kamu bisa bekerja hari ini ataupun besok,tugas kamu hanya menjaga keponakan saya, karna Asyia merupakan bayi yang sensitive, maka semua barang-barang yang ia gunakan harus steril. "Arief.
Delia tertunduk sambil mengangguk.
"Iya Tuan, saya mengerti."
"Jadi bagaimana menurut kamu,kamu mau bekerja mulai kapan? " tanya Arief.
"Sekarang saja Tuan, " jawab Delia dengan wajah yang tertunduk.
"Ehm kalau gitu silahkan kamu masuk ke kamar kamu dan beristirahat" Arief.
Delia pun berdiri sementara Arief dan Dinar menuntun Delia menuju kamarnya.
Gadis tersebut sebenarnya lebih dewasa dari pada Dinar yang sekarang berusia sembilan belas tahun.
Dinar menggandeng tangan Arief, ada rasa ke khawatiran di hatinya karna membawa seorang gadis masuk ke dalam rumah tangganya.Namun ia percaya sepenuhnya pada suami tersebut.
"Ini kamar kamu, silahkan beristirahat, kebetulan Asiya masih tidur saat ini, nanti sore kamu bisa memulai aktifitas kamu mengasuh Asyia." Arief.
"Baik Tuan, " Arief.
Delia pun masuk ke kamarnya dan membereskan barang-barangnya.
Beberapa hari kemudian.
Dinar terbanggun karna merasakan sakit pada bagian perutnya.
Matanya melirik ke arah jam dinding yang menunjukan pukul tiga pagi.
Arief membalikkan tubuhnya memeluk istrinya tersebut. Namun ia merasakan ada pergerakan aneh dari istrinya.
"Kamu kenapa Dinar? " tanya Arief sambil melihat kearah wajah Dinar yang memucat.
"Aduh mas, perutku tiba tiba mulas. " keluh Dinar seraya meringis.
"Mungkin kamu mau melahirkan? Kita kerumah sakit sekarang!"
Arief bangkit dari tempat tidurnya dan langsung menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya.
Swtelah itu ia mempersiapkan keperluan istrinya dan dirinya selama berada di rumah sakit.
"Aduh," keluh Dinar sesekali sambil mengusap perutnya.
"Bagaimana? masih sakit? " tanua Arief yang mendekati Dinar.
"Sesekali Mas, sakitnya hilang datang. " Dinar.
Kamu ganti baju dulu, aku mau antar Asiya pada Delia.
Sebetulnya ada rasa kwatir di hatinya meninggalkan Asyia bersama pengasuhnya yang baru. Namun karna tak ada pilihan ia pun terpaksa menggendong Asyia yang tertidur lelap dan membawanya ke kamar Delia.
Tok Tok Tok...
Arief menggedor pintu kamar Delia.
Beberapa saat kemudian Delia membukan pintu.
Kreak
"Ada apa pak? " tanya Delia yang tengah mengucek ngucek matanya, karna masih mengantuk.
"Delia, tolong jaga Asiya baik-baik. Saya akan mengantar istri saya yang hendak melahirkan. Mungkin beberapa hari kami tidak pulang. dan tugas kamu harus menjaga Asyia dengan baik, pastikan botol susu dan semua yang ia gunakan selalu bersih dan steril. Karna Asyia termasuk bayi yang rentan terkena penyakit ataupun infeksi. "
"Jika keadaan Asyia baik baik saja, saya akan beri bonus sebulan gaji untuk kamu, jadi jangan kecewakan saya!" ucap Arief dengan tegas.
"Baik Tuan, " Delia.
Arief pun menyodorkan Asiya pada Delia.
Setelah semuanya siap Arief membawa istrinya tersebut ke dalam mobil untuk menuju rumah sakit.
Di dalam mobil, Dinar semakin merasakan sakit yang berulang-ulang.
"Iya Sayang kamu sabar ya," ucap Arief sambil membelai rambut Dinar.
Arief menggenggam tangan Dinar yang mengepal erat karna menahan sakit, tubuh Dinar pun meliuk-liuk.
Arief merasa semakin khawatir, meski begitu ia berusaha untuk tetap tenang.
Beberapa saat kemudian Mereka pun sampai di rumah sakit.
Dinar langsung du bawa ke ruang persalinal untuk di lakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Setelah di periksa , dokter menemukan ada masalah pada kandungan Dinar. Posisi bayi mereka sunsang Dan dokter menyarankan agar di lakukan tindakan operasi.
Dengan segala pertimbangan Arief pun menyetujui hal tersebut.
Setelah menandatangani surat persetujuan operasi, Arief kembali menemui Dinar.
Ia duduk samping istrnya." Dinar, karna posisi bayi kita sunsang, dokter menyarankan untuk mengambil tindakan operasi. Kamu siapkan? " tanyanya sambil mengusap rambut panjang Dinar.
"Akh ! " Dinar semakin ketakutan dan syok perutnya pun terasa semakin sakit.
"Iya Mas, terserah saja. Asalkan bayi kita bisa selamat. Seandainya aku meninggal saat melahirkan, aku ingin kau jaga anak kita baik-baik hiks, "ucap Dinar dengan sedih.
Sebenarnya ia merasa begitu ketakutan dalam menghadapi persalinannya, apalagi jika harus di operasi. Membayangkannya saja Dinar sudah ngeri.
Arief mengusap punggung istrinya," Kau tenang saja.Hidup mati seseorang sudah di tentukan dari Tuhan, jadi jika sudah ajalnya di mana saja kita akan mati. Dan in shaa Allah wanita-wanita yang meninggal dunia saat melakukan persalinan, akan di ganjar pahala seperti orang yang mati syahid."
Hiks, hiks, Dinar memeluk suaminya.
"Mas, doakan aku, kalau aku meninggal dalam operasi, aku mohon maaf atas kekurangan ku selama menjadi istri mu, aku ingin kau ridho dengan semua yang ku lakukan dan kau berikan, hiks hiks hiks," ucap Dinar dengan begitu sedih.
"Tentu saja, kau istri yang baik bahkan sangat baik, Aku yakin kau pasti kuat. Dan kau harus kuat demi anak-anak kita," ucap Arief sambil mencium kening istrinya.
Keduanya meneteskan air mata, Arief meraih tangan Dinar dan menciumnya, kemudian tersenyum ke arahnya.
Dinar pun dibawa menuju ruang operasi.
Sementara Arief sedang menunggu dengan gelisah, selain berdoa ia juga berserah diri.
Waktu waktu terus berlalu, Arief semakin di landa gelisah, sudah satu jam ia menunggu. Namun tak juga ada kabar terbaru.
Untuk menghilangkan ketegangannya, ia mondar mandir di depan pintu kamar operasi.
Sebentar duduk, sebentar berdiri.
Tak beberapa lama kemudian terdengar suara tangisan bayi
"Alhamdulilah," ucapnya sambil mengusap telapak tangannya pada wajah.
Arief sedikit tenang, kini tinggal menunggu kabar tentang istrinya.
Beberapa saat kemudian, seorang suster keluar dari ruang operasi tersebut dengan membawa seorang bayi.
Arief pun buru-buru menghamprinya.
"Bagaimana keadaan anak dan istri saya suster?" Arief.
Suster tersebut tersenyum.
"Ibu dan bayinya selamat pak, bayi anda berjenis kelamin laki-laki"
"Alhamdulilah," Arief mengucap syukur.
"Boleh saya gendong putra saya suster? "
"Oh silahkan, "ujar Suster tersebut sambil menyodorkan bayi laki-laki tersebut.
Arief menyambutnya dengan bahagia, seorang bayi laki-laki yang tampan dan sehat.
"Aku beri nama putraku dengan nama yang terbaik yakni, ' Rafassya Alfarezel Afkar.'"
Arief menghadap kiblat kemudian meng- azankan bayi tersebut.
"Alhamdulilah, aku di karunia seorang putra,semoga kelak ia menjadi lelaki yang bijaksana dan dapat menjadi pelindung bagi Asyia dan ibunya." Arief.
Bersambung.
Hai reader, hari ini author coba crazy up. semoga masih setia dengan ceritanya ya. terima kasih atas dukungannya.
.