Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat

Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat
Miracle


Arief tengah melakukan transfusi darah untuk berjaga-jaga jika Asyia membutuhkan darah pasca operasi.


Setelah di lakukan pemeriksaan golongan darah Asyia sama dengannya.


Arief sengaja mendonor darahnya kepada Asyia, agar ikatan batin kedianya semakin kuat, karna di dunia ini Asyia tak punya siapa-siapa lagi kecuali dirinya.


Setelah mendonorkan darahnya, Arief kembali ke ruang operasi hatinya begitu gelisah harap-harap cemas, apalagi jika memikirkan sang malaikat kecilnya yang berjuang sediri untuk kehidupannya, bulir bening perlahan menetes di pipi Arief.


Sumpahan Amora terhadap Asyia masih terngiang-ngiang di telinganya, membuatnya semakin sedih.


Arief duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruang operasi, tubunya ia majukan sedikit sementara kedua tanyanya menakup pada wajah, Arief berusaha menahan air matanya agar tak menangis, betapa ia merasa sedih mengenang nasib Asyia yang malang.


Hiks hiks, sesekali tubuhnya terguncang menahan tangis, melihat dan mendengar sendiri kekejaman Amora terhadap Asyia.


"Bahkan binatang sekali pun punya rasa sayang terhadap darah dagingnya hiks hiks" guman Arief.


Bahkan sejak melahirkan Asyia Amora tak berniat melihat putrinya tersebut.


Dari dulu ia ingin membuang janin tersebut dengan berbagai cara, namun selalu gagal janin tersebut tetap kuat berada di rahimnya.


Kasih sayang hadir sebagai anugrah ketika seorang manusia memiliki keturunan, bahkan mereka sanggup berbuat apa saja, untuk membahagiakan buah hati mereka.


Tapi tidak bagi Amora, ia justru membenci janin yang tumbuh di rahimnya, karna janin tersebutlah semua rencananya gagal.


Arief berusaha menahan tangisannya, pria perkasa sepertinya saja bisa luluh dan menangis melihat keadaan Asyia, karna tak kuasa membendung kesedihanya Arief pun menumpahkan semua air matanya saat itu.


Ia menangis sendiri di sudut ruangan yang sunyi, beberapa detik tubuhnya terguncang karna menahan isak dari tangisannya, setelah tenang ia berjalan menuju toilet guna membasuh wajah, setelah menangis Arief merasa lebih tenang.


Setelah berhasil menguasai emosinya, Arief kembali menunggu di ruang meja operasi.


Detik-detik menegangkan kembali terjadi, di mana suasana terasa sunyi dan mencekam,lampu merah masih menyala terang di atas pintu kamar, pertanda operasi sedang berlangsung.


Tak ada yang bisa di lakukan Arief saat itu kecuali berdoa.


Ya Allah jika selama ini ia bisa kuat tinggal di dalam rahim Amora, maka berikanlah kekuatan dan keselamatan pada nya, sama seperti ketika dia berada dalam lindunganmu di dalam rahim ibunya, hanya kuasa mu yang mampu menjadikan sesuatu yang tak mungkin jadi mungkin, dan berikanlah mukzizat tersebut pada Asyia.


Arief menoleh pada kampu yang berada di atas pintu, lampu tersebut sudah padam.


Alhamdullilah.


Arief masih menunggu dengan gelisah, setelah beberapa lama, kamar operasi belum juga di buka.


Ya Allah kenapa aku semakin gelisah.


Kreak... bunyi pintu ketika terbuka, seorang suster keluar di ikuti dengan dua laki-laki yang menggunakan jas putih.


Arief langsung mendekat kearah perawat yang keluar terakhir.


Permisi Mbak, "Bagaimana keadaan keponakan saya?"tanya Arief khawatir.


Deg


Suster tersebut tersenyum, "Allhamdullilah Pak, keponakan Bapak sungguh luar biasa kuat, operasinya lancar dan terbilang berhasil dan sekarang dia masih dalam tahap observasi mungkin beberapa jam lagi, bisa anda temui," tutur Suster tersebut kemudian berlalu.


Arief memaku sejenak," Alhamdullilah Asyia selamat."


Setelah mendengar berita baik terdebut ia pun segera menelpon Aldo.


***


Di sudut sempit di sebuah ruangan di dalam bilik yang di kelilingi dengan jeruji besi.


Aldo duduk seraya berzikir memohon ampunan atas dosa yang pernah ia lakukan.


Tujuh tahun lagi baru dirinya bisa menghirup udara bebas.


Terdengar suara handphonenya yang berbunyi di dalam tasnya.


Aldo meraih tongkatnya dan berjalan menggunakan tongkatnya kemudian menghampiri tasnya.


Sejak kecelakaan tersebut, Aldo mengalami kelainan tulang kaki hingga ia harus berjalan menggunakan tongkat.


Aldo meraih smartphonenya kemudian menyentuh tombol hijau agar panggilan tersebut terdesambung.


"Hallo Assalamualaikum, Bang." Aldo


"Waalaikum salam Aldo," Arief.


"Do, ada berita buruk dan berita baik sekaligus," ucap Arief.


Aldo terdiam beberapa saat.


"Berita apa Bang?" Aldo.


"Do, anak kamu mengalami kelainan jantung bawaan," Arief.


Deg, Air mata perlahan menetes di pipi Aldo, ia pun menelan ludahnya.


Susana hening sejenak.


"Berita baiknya apa Bang?"


"Alhamdullilah, operasinya berhasil, semoga ia lekas pulih agar bisa menjalani kehidupan normal seperti bayi pada umumnya, "ucap Arief.


"Alhamdullilah Bang, semoga saja, terima kasih Bang, aku berharap Abang bisa berhasil menggambil hak asuh atas anak ku Bang, oh ya anak ku perempuan atau laki-laki Bang?"tanya Aldo.


Aldo merasa sedih tapi bisa melihat putri biologisnya.


"Nama yang indah Bang, aku titip anak ku Bang, jadikan dia wanita yang sholeha hiks." tutur Aldo sedih.


"Insya Allah Do." Arief.


Aldo tersimpuh di atas lantai dan menangis, ia begitu ingin melihat putrinya tersebut.


Namun apa daya jeruji besi kini menjadi penghalang baginya.


***


Tuan Marco berada di ruang operasi karna tengkorak kepalanya mengalai keretakan, keadaannya begitu kritis hingga membutuhkan banyak darah.


Tak hanya di bagian kepala, tapi pada bagian telinga juga mengeluarkan darah.


Hanya keajaibanlah yang bisa membuatnya selamat


Setelah menenangkan istrinya, Barley bersiap untuk jadi pendonor bagi Tuan Marco.


Hatinya begitu gelisah, setiap saat ia berdoa agar tuan Marco bisa selamat.


Kurang lebih 500cc darah Barley di ambil kemudian di proses sebagai darah cadangan pasca operasi.


Tuan Marco sedang berada di ruang operasi tak ada siapa pun yang bisa di hubungi Barley untuk menyampaikan berita duka atas kecelakaan yang menimpanya.


Haanya ia Munir dan berberapa pengawalnya.


Hati Barley begitu gelisah menanti detik-detik menegangkan, dalam hidupnya tanpa sadar bulir bening menetes perlahan di pipinya.


Barley tercekat ketika bulir itu menetes tanpa ia sadari. perasaan apa yang begitu membuatnya begitu gelisah, keselamatan tuan Marco atau kata-kata terakhir yang keluar dari tuan Marco sebelum ia tak sadar kan diri.


Barley menatap kearah Munir.


"Pak Munir, apa Tuan Marco punya keluarga baik di indonesia mau pun di Milan ?"tanya Barley.


"Ehm, tak ada tuan, kedua orang tuanya meninggal, sudah puluhan tahun ia berpisah dengan istri pertamanya sejak itu ia menjalani hidup bebas tanpa terikat pernikahan, ia hanya memiliki seorang putri dan sudah meninggal beberapa tahun yang lalu," papar Munir.


Barley tercengang mendengar penuturan Munir.


"Lalu putranya yang katanya mirip dengan ku?"tanya Barley, hatinya begitu gelisah ketika melontarkan pertanyaan tersebut.


"Munir diam tak berani bicara yang jujur, Saya tidak tahu akan hal itu Tuan, putra yang mana yang tuan Marco maksudkan."


Deg,


Barley menarik napas panjang, ada banyak persamaan antara dia dan Marco, tapi coba ia tepis, ia bukan seseorang yang mengambil kesimpulan berdasarkan praduga, tapi berdasarkan fakta.


"Munir, kau tunggu di sini m, kabari aku jika operasinya selesai, aku ada urusan."


Barley berlajan dengan mantap melewati koridor tatapan matanya lurus ke arah depan, entah kenapa hatinya begitu gelisah di tambah dengan rasa keinginan tahunya, Benarka dirinya adalah putra kandung Marco?


Pertanyaan tersebut hanya bisa di jawab secara pasti melalui tes DNA.


Barley mengambil kemeja yang ia kenakan untuk mengikat kepala tuan Marco kemudian menyerahkannya ke laboratorium untuk di lakukan tes DNA antara dirinya dan Marco.


Setelah melalui beberapa prosedur Barley menuju kasir untuk membayar biaya tes DNA tersebut.


Barley mengeluarkan kartu saktinya untuk membayar tes DNAnya pada kasir.


"Pembayarannya cash atau_" kasir


Barley mengeluarkan kartu sakti unlimited nya, kepada petugas.


Hanya beberapa menit transaksi pun selesai.


"Kapan hasil tesnya bisa keluar?" tanya Barley.


"Ehm biasanya dua hari pak, tinggalkan saja nomor telpon anda, setelah hasilnya keluar kami bisa hubungi anda segera, ucap petugas tersebut.


"Ehm baik terima kasih," ucap Barley ia pun kembali menuju kamar operasi.


Hati begitu gelisah, dua hari terasa begitu lama untuk mengetahui hasil tes tersebut, meski di hatinya semakin yakin jika Marco adalah ayah biologisnya.


Jika memang kenyataannya seperti dugaannya saat ini,lalu apa yang sebenarnya terjadi, kenapa ia justru menjadi anak kandung dari Hasta Raja Prawira.


***


Barley tiba kembali di depan ruang operasi, ia mendaratkan bokongnya seraya menghempaskan napasnya dengan kasar bersandar pada kursi stainless seraya merentangkan sebelah tanganya.


Hasil tes belum pun keluar tapi kenapa ia semakin yakin jika tuan Marco tersebut ayah biologisnya.


Barley menekuk tubuhnya kearah depan membentuk sudut empat puluh lima derajat tanganya menyilang diatas kedua lutut-nya sementara satu kakinya menghentak hentak lantai dengan pelan.


Krek...


Kamar operasi terbuka seorang petugas keluar dari ruang operasi, Barley dan Munir mendekati petugas tersebut.


"Bagaimana keadaan pasien Suster?"tanya Barley.


Bersambung.


Hai hai reader tercinta, maaf ya dalam rangka crazy up, author belum sempat balas komen kalian satu persatu, terima kasih banyak atas dukungan kalian,hadiah vote dan likenya, tanpa kalian apalah author, happy weekend ya semoga kita semua sehat selalu.