
"Daddy, bagaimana jika Daddy pulang bersama ku, biar aku dan Santi yang merawat Daddy," usul Barley yang masih merasa khawatir dengan keadaan tuan Marco.
Tuan Marco memang masih membutuhkan perawatan intensif untuk luka kepalanya.
selain itu ia harus menghindari stress dan benturan pada kepalanya.
"Tak perlu Barley, Daddy sudah terbiasa hidup sendiri, biar saja Daddy tinggal di apartment untuk beberapa saat sebelum Daddy kembali ke Milan," papar tuan Marco.
"Apa? Daddy ingin pulang ke Milan?!"tanya Barley mendelik.
"Tentu saja, Daddy tak bisa lama-lama di sini, siapa yang akan mengurus perusahaan Daddy di sana."Tuan Marco.
"Sebenarnya Daddy sudah ingin pensiun, namun tak ada yang menggantikan Daddy Barley, jika saja kamu mau mengurusi perusahaan di sana, maka Daddy secara suka rela menyerahkan perusahan tersebut pada kamu, agar Daddy bisa istirahat," papar tuan Marco lirih karna ia tak bisa bersuara lebih nyaring kembali.
Deg
Seketika Barley merasa serba salah, mengurus perusahaan tuan Hasta dan perusahaan dirinya saja ia sudah kelimpungan apalagi jika di tambah harus mengurusi perusahan besar bertaraf international seperti perusahaan tuan Marco.
"Maaf Daddy, untuk sementara aku tak bisa menerimanya, selain harus bolak balik Indonesia dan Milan, Daddyku juga sudah menyerahkan perusahaannya kepada ku," papar Barley.
Tuan Marco melirik ke arah Barley seraya tersenyum tipis.
"Mungin suatu saat Barley, jika anak mu lahir, seluruh harta Daddy akan Daddy wariskan padanya, karna hanya dia pewaris Daddy," ucap tuan Marco dengan yakin tatapan matanya pun berbinar.
Barley menggaruk kepalanya yang tak gatal karna binggung, tuan Marco dan tuan Hasta sama-sama butuh pewaris untuk melanjutkan perusahaan mereka, sedangkan keduanya hanya memiliki satu putra yaitu dirinya.
Beberapa saat Barley pun termenung menimbang antara tuan Marco dan tuan Hasta, ia kembali melirik kearah Tuan Marco yang tertidur pulas, dengkuran halus pun terdengar olehnya.
Sesekali ia melirik kearah pria tua yang ada di sampingnya tersebut, ia pun merasa iba melihat tuan Marco yang begitu lelah.
Pria seperti dirinya memang sudah seharus lebih banyak beristirahat,air mata Barley menetes melihat tuan Marco yang kembali tertidur pulas dengan wajah yang masih terlihat pucat, "Maaf Daddy untuk sementara aku belum bisa membantu mu," ucap Barley sedih.
Barley mengencangkan seatbelt tuan Marco, ia pun membawa mobil dengan lebih berhati-hati.
Sekitar empat jam perjalanan akhirnya mereka pun sampai di apartment tuan marco.
Satu jam lebih lama dari biasanya, karna Barley lebih berhati hati mengendarai mobilnya.
Sesampainya di apartment, Barley menuntun pria tua tersebut menuju lobi apartment, Tuan Marco masih terlihat lemah, Barley mengantarnya hingga ia ikut masuk ke dalam apartment.
Setelah mengases pintu masuk berupa pin keduanya pun tiba di apartment mewah tuan Marco.
Barley masih menuntun tuan Marco untuk duduk di sofa yang ada di ruang tengah.
Munir sudah menunggu kedatangan mereka.
"Pak Munir, tolong ambilkan bantal untuk Daddy! "pinta Barley.
"Baik tuan muda."
Beberapa saat kemudian Munir membawa sebuah bantal.
Barley meletakan bantal tersebut untuk menopang punggung dan kepala tuan Marco agar ia lebih mudah untk beristirahat.
Setelah memastikan keadaan tuan Marco baik-baik saja Barley pun pulang ke rumahnya.
"Daddy, jangan lupa minum obatnya istirahat yang cukup, jangan terlalu banyak berfikir," nasehat Barley.
"Iya Nak," ucap tuan Marco lirih.
Barley melihat tuan Marco yang bersandar dengan lemah, hatinya pun kembali merasa iba.
Namun dengan berat hati ia harus meninggalkan tuan Marco yang masih terlihat lemah dan tak berdaya.
Aku harus bagaimana?
Barley mendekati pak Munir," Pak Munir tolong jaga dan rawat Daddy dengan baik, minum obatnya juga harus rutin, jika ada sesuatu kabari saya secepatnya," ucap Barley.
Baik tuan.
Barley kembali mendekat kearah tuan Marco, keadaan Daddynya masih lemah hingga di mana saja dan kapan saja tuan Marco bisa tertidur.
Dengan berat hati ia harus meninggalkan lelaki tersebut.
***
Barley keluar dari apartment dan langsung menuju mobil.
Rasa rindunya pada sang istri membuatnya melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi.
"Sayang aku sudah kangen sama kamu," gumannya seraya menyetir dengan konsentrasi.
Beberapa belas menit kemudian ia pun tiba di rumah mereka, setelah memarkir kendaraanya dengan rapi Barley buru-buru menghampiri Santi.
Di ruang tengah Wati di kagetkan dengan kedatangan Barley yang tiba-tiba.
Aduh tuan muda kok pulang ngak bilang-bilang sih.
Wati jadi salah tingkah.
Barley melihat Wati yang mematung di sudut ruangan memanggilnya.
"Wati!"
Wati yang hendak pergi langkahnya tercekat.
Aduh kalau tuan muda tahu apa yang terjadi pada nyonya di pasti marah besar kepadaku , karna tak bisa menjaga istrinya dengan baik.
"Ehm ada apa tuan?"tanya wati gelalapan.
"Di mana Nyonya?"tanya Barley.
"Hm Nyonya ada di kamar Tuan sedang istirahat, "ucap Wati gugup.
Tak menunggu waktu lagi, Barley segera menuju pintu lift untuk sampai ke kamarnya.
Wati mengekori kemana Barley melangkah, Ya Tuhan semoga Nyonya bisa aku andalkan, agar tuan tak memarahi ku karna tak menjaga nyonya dengan baik," ucap Wati lirih.
Hati Barley berbunga-bunga karna sebentar lagi akan bertemu sang istri
Barley membuka pintu kamar dan menemukan Santi yang tengah tertidur lelap.
Langsung saja ia menghampiri tempat tidur dan berbaring di samping sang istri.
Barley meneluk Santi namun ia merasa kaget dengan suhu tubuh Santi yang terasa panas.
"Tubuhnya panas sekali," guman Barley.
Barley sedikit panik ketika melihat wajah Santi yang memerah.
"Sayang! sayang ! "panggil Barley seraya menepuk pelan pipi Barley dengan sedikit panik.
Santi membuka matanya dengan perlahan dan melihat siapa yang ada di hadapannya.
Seketika ia pun tersenyum.
"Sayang, kau sudah pulang?" tanya Santi seraya meraba wajah tampan suaminya.
Telapak tangan Santi yang menyentuh Barley terasa hangat.
Barley pun meraih telapak tangan istrinya kemudian menggenggamnya.
"Sayang, kau sakit? kenapa kau tak memberitahu ku?"tanya Barley seraya mengecup punggung tangan Santi.
Iya pun mencium kening Santi.
"Suhu tubuhmu panas sekali, kenapa kau tak menelpon ku?"tanya Barley lagi.
"Kita ke rumah sakit sekarang Ya, aku takut terjadi sesuatu pada mu," ucap Barley.
Ehm sayang, aku tidak apa-apa, aku hanya rindu sama kamu, sebentar lagi aku juga pasti baik-baik saja, "ucap Santi dengan semangat sambil melingkarkan lengannya pada leher Barley.
Kedua netra tersebut beradu saling menatap penuh damba, Santi menarik Barley agar tubuh Barley berada di atas tubuhnya.
Barley tahu apa yang di inginkan istrinya tersebut.
"Sayang kau sakit apa tidak apa-apa kita melakukannya?"tanya Barley berbisik mesra di telinga Santi.
Santi tersenyum,"Ehm sayang, bukanya itu obat yang sudah lama ku tunggu," ucap Santi seraya mencium pipi Barley.
Keduanyanya pun menatap penuh damba merasakan rindu yang luar biasa.
Barley mulai melepas penutup tubuh sang istri satu persatu hingga bugil.
Kemudian ia melepas pakaiannya satu-per satu, dengan lembut ia mulai menggerayangi tubuh sang istri menciuminya setiap jengkal membuat Santi mengelinjang.
Kecupan pun bertubi-tubi mendarat di wajah Santi ketika mereka malakukan penyatuan kembali.
Barley mengayun gerakannya dengan lembut, suhu tubuh Santi yang hangat membuat pertempuran mereka semakin terasa nikmat.
Berkali- kali terdengar suara lengkuhan yang keluar dari bibir keduanya.
Permainan semakin panas hingga membuat keduanya bercucuran keringat,setelah hampir satu jam bertualang bersama sang istri,satu hentakan terakhirnya menuntaskan permainan panjang mereka.
Keduanya pun saling melempar senyum puas, kini rasa rindu itu perlahan terobati.
Barley merobohkan tubuhnya di samping sang istri.
Ia pun mengusap keringat yang bercucuran pada wajah Santi, wajah Santi kini lebih cerah, suhu tubuhnya pun kembali stabil.
Barley meraba kening Santi, "Sayang suhu tubuh kamu sudah turun," ucap Barley seraya menyapu sisa keringat pada wajah Santi.
"Ehm, Kan aku sudah bilang, obatnya cuma kamu Sayang,"jawab Santi seraya mencolek hidung Barley.
Barley tersenyum memeluk sang istri, "Kalau gitu jangan sakit lagi Ya, karna aku tak akan meninggalkan kamu lagi."ucap Barley seraya memeluk istrinya.
Santi pun menyambutnya dengan hangat, "Kamu ngak akan meninggalkan aku dalam waktu yang lama lagi kan Sayang?!"
"Aku trauma kamu tinggalkan aku selama ini," sambungnya, sambil mengusap punggung suaminya yang basah oleh keringat.
"Iya sayang, lain kali jika aku pergi aku akan bawa kamu kemana saja,"jawab Barley.
"Sekarang kamu istirahat, nanti sore rencananya aku mau jenguk Daddy, kamu mau kan Sayang nginap di sana, aku jadi khawatir sama beliau,"ucap Barley seraya menetap wajah Santi.
"Tentu sayang, aku akan ikut kemana saja kamu bawa aku," ucap Santi seraya meraba wajah suaminya yang terlihat lelah.
"Terima kasih atas pengertiannya," Barley.
Ehm,
Santi mengusap rambut suami yang berbaring di sampingnya, Barley terlihat begitu lelah, dengan usapan lembut Santi dalam beberapa saat kemudian ia tertidur kembali.
Bersambung,terima kasih telah membaca karya ini, terima kasih atas dukungannya reader, semoga kita selalu dalam lindungan Tuhan yang maha esa, sehat dan sukses selalu.