
Sebelumnya ketika menuju kantor polisi, Barley mendapat laporan dari Jack dan rekan-rekan melalui sambungan telpon.
"Hallo tuan!" Jack
"Ada apa Jack?"
"Sepertinya dugaan tuan benar, mereka sudah kabur dengan menggunakan mobil ber plat xxxx."
"Cih sudah kuduga, lanjutkan pengawasanmu, jangan ambil tindakan berlebihan, gagalkan saja rencana mereka, biar pihak yang berwajib mengurus mereka!"
Titah Barley.
"Siap Tuan!"
Barley menutup telponnya dengan kesal.
"Cih, seenak saja mereka ingin melarikan diri, lihat saja akan ku tuntut mereka sekeluarga dengan hukuman maksimal."
Barley terlihat kesal, berkali kali ia mendengus dan mengumpat keluarga Amora, sambil tetap menyetir dengan konsentrasi.
Mendengar suaminya yang di liputi emosi
Santi pun mendekat kearah Barley, kemudian mengusap punggungnya, ia pun merebahkan kepalanya bersandar pada bahu suaminya.
Sikaf Santi yang demikian ampuh membuat hati Barley menjadi sedikit tenang.
Emosi Barley mereda, ia pun mengecup pucuk kepala Santi kemudian mengusap perut sang istri.
Santi tersenyum bahagia, dalam keadaan seperti ini Barley masih sempat menunjukan rasa cintanya terhadap dirinya dan bayi yang ada di dalam kandungannya.
"Sayang kau jangan terlalu memikirkan mereka, aku tak ingin kesehatanmu terganggu," ucap Santi.
"Tapi aku tak bisa tenang, sebelum pengadilan mutuskan hukuman berat untuk mereka," papar Barley sambil mengusap rambut Santi.
"Jujur saja, jika mereka sekeluarga masih bebas bergentayangan, aku tak bisa tenang, aku takut mereka akan menyakiti mu."
Santi mengulas senyum manis ia menengakkan sedikit tubuhnya, kemudian mencium pipi Barley.
"Aku yakin tak akan ada yang bisa menyakitiku selama kau ada di samping ku, "ucap Santi lembut, ia pun kembali mengecup pipi Barley untuk yang kedua kalinya.
Barley kembali menarik tubuh Santi kemudian merangkulnya.
"Tentu saja, tak akan ku biarkan siapa pun menyentuh mu, apalagi sampai menyakiti mu," ucap Barley merangkul Santi kemudian mengecup pucuk kepala sang istri berkali kali.
Santi melingkarkan tanganya pada perut suaminya, ia begitu tenang berada di pelukan pria tersebut.
Santi mendengus kemeja Barley dan mencium aroma parfumnya.
"Sayang kenapa kau memakai parfum ku?"tanya Santi heran.
"Entalah dengan memakai parfum mu, aku jadi merasa selalu dekat dengan mu,"sahut Barley.
Ehm, Santi mengulum senyumnya, seraya mempererat pelukannya.
***
Mobil yang membawa Andini sudah tiba di kantor polisi.
Sesampainya di sana Andini di dorong masuk kedalam kantor polisi, saat itu tuan Hasta yang mendampinginya, sebelum di lakukan pemeriksaan lanjutan Andini harus di amankan di sel tahanan sambil mengumpulkan barang bukti lengkap.
Andini pun di dorong dengan pengawalan, di dorong melewati koridor, sesampainya di sel tahanan ia pun di masukan kedalam penjara berikut dengan kursi rodanya.
"Daddy, keluarkan Mommy dari sini Daddy, berikan mereka uang sebagai jaminan," rengek Andini memelas dan mengiba.
"Tidak bisa Mommy! aku tak berani mberi jaminan, bagaimana kalau kau kabur lagi." Tuan Hasta.
"Hiks hiks, tolonglah Daddy, aku bisa gila berada di tempat ini," rengek Andini.
Tuan Hasta tetap diam.
"Siapa yang akan mengurusiku, sementara aku sakit begini?" tanya Andini sambil menunjukan kakinya yang di perban.
Kalau harus terbiasa dan membiasakan diri, itulah konsenkuensi yang harus kau tanggung akibat perbuatanmu, sudah dua puluh tahun aku bersabar, menati perubahan mu, tapi nyatanya kau semakin gila, semakin tua bukannya semakin insyaf, bahkan kau berniat membunuh orang lain," papar tuan Hasta seraya menghempas nafas beratnya.
Andini terdiam tertunduk lesu.
"Tapi Daddy_"
"Sudahlah Mommy, aku hanya bisa membawakan makanan dan mu membesuk mu sesekali," ucap tuan Hasta tegas.
"Hiks, hiks hiks jangan seperti itu Daddy, kenapa kau tega? hiks"Andini menangis.
"Tapi Mommy lebih tega!"sahut Barley yang berjalan mendekat kearahnya.
"Apa maksud mu Barley?"
Huh, Barley mendengus.
"Kembalikan uang perusahan sebesar seratus miliar Mommy, jika tidak aku yang akan menuntut Mommy kembali!" ancam Barley.
" Tapi Barley, kenapa kau menuduh Mommy seperti itu, "kilahnya ia pun pura-pura sedih.
"Jangan keluarkan air mata buaya mu itu Mommy, aku sudah tahu semua, aku kecewa, kau ibuku sendiri tega menghianati ku, apa yang terjadi jika uang tersebut benar-benar Mommy bawa kabur, apa yang harus ku katakan pada pemegang saham?!" seru Barley emosi.
Santi hanya menyimak perdebatan mereka.
"Besok aku kirim kan pengacara ku, Mommy harus tanda tangani surat kuasa kepada ku atas rekening Mommy, dan sesegera mungkin uang perusahaan harus bisa di kembalikan," papar Barley yang langsung meninggalkan Andini.
Andini kaget dengan penuturan Barley, apalagi putranya tersebut pergi begitu saja.
" Barley tunggu! Barley jangan pergi Barley! jangan tinggalkan Mommy Barley! hiks hiks" Andini menangis melihat kepergian putranya.
Tuan Hasta pun ikut beranjak pergi dari tempat tersebut, melihat tuan Hasta yang juga pergi Andini menangis histeris.
"Daddy jangan tinggalkan aku Daddy!"
***
Di tempat berbeda,
Fedro tak bisa mengelak lagi, begitupun Veronica dan Amora yang di paksa keluar dari mobil.
"Jatuhkan senjatanya!" Teriak salah seorang polisi.
Dengan pasrah Fedro menjatuhkan senjatanya.
Mereka pun di ringkus dan di borgol tanpa perlawanan, tak terkecuali Amora.
Setelah di ringkus, ketiganya di masukkan kedalam mobil tahanan.
"Ayo masuk!"teriak petugas tersebut.
Amora dan Veronica menangis tersedu-sedu.
"Mommy, aku ngak mau masuk kedalam penjara dalam waktu yang lama, hiks hiks hiks."tangis Amora.
"Sekarang kita semua berada di penjara! lalu siapa yang mau menolong kita?!hua hua hua." Amora
"Diam lah Amora, ini semua karna perbuatan kamu, keluarga kita hancur! dan sekarang tak ada siapa pun yang akan menolong kita! perusahaan dan nama baik ku sebagai arsitek ternama juga akan hancur!" cecar Fedro.
Hiks hiks Amora memeluk Veronica dan menangis, kini mereka hanya bisa pasrah menerima hukuman yang menanti ketiganya, hukuman Amora akan bertambah berat karna ini yang ke dua kalinya ia melakukan percobaan melatikan diri.
Veronica dan Amora hanya bisa menangisi nasib mereka.
Mereka kembali di bawa di kantor polisi,
Sesampainya di sana ketiganya melihat Barley yang tersenyum menyeringai melihat mereka masuk.
"Mau kabur lagi rupanya," dengus Barley sambil menyilangkan tanganya di dada.
Veronica dan Amora mentap Barley penuh kebencian, mereka pun tak bisa berbuat apa-apa karna di kepung oleh petugas.
Keempat orang tersebut di tahan di tempat yang berbeda, Amora dan Veronica masuk ke sel tahanan wanita sementara Fedro dan sopirnya masuk ke sel tahanan pria.
Setelah sampai di bui, Veronica dan Amora kaget sekaligus senang karna ternyata di sana juga sudah ada Andini yang juga berada satu sel dengan mereka.
"Andini ?" seketika senyum Veronica menyeringai melihat Andini.
Andini membuang wajahnya melihat jijik ke arah keduanya.
"Cuih, ternyata kau tak hanya jahat Amora tapi juga wanita menjijikkan!" cecar Andini karna melihat perut Amora yang membengkak.
Mendengar hinaan yang di layangkan Andini, Veronica menjadi berang.
"Apa kau bilang murahan! menjijikan?! Apa kau tak sadar siapa dirimu Andini!" seru Veronica yang menghampiri Andini dan menarik rambutnya.
"Akh Akh Akh lepaskan aku Veronica!" teriak Andini meronta-ronta.
Amora pun tak tinggal diam, ia pun membantu ibunya untuk menghajar Andini.
Suara berisik terdengar di dalam sel, petugas keamanan pun tiba.
Berhenti!
Bersambung, hari ini in Sya Alla otor crazy up, mohon doa dan dukungannya ya, ada tokek di kejar kingkong, bagi votenya dong!