Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat

Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat
Siapa Yang Menghamili mu


Di dalam mobil,


"Apa yang terjadi dengan Amora Mommy?"


tanya tuan Hasta pada istrinya, yang sedang melamun.


Andini tak menjawab karna tengah memikirkan beberapa ekspektasi tentang Amora.


Apa mungkin Amora hamil, tapi tak mungkin Barley yang menghamilinya, huh semakin membingungkan.


"Mommy ? apa yang kau pikirkan?!"tanya tuan Hasta dengan suara yang lebih tinggi, hingga mengagetkan Andini.


Andini terhenyak dari lamunannya, "Ah ngak apa kok Daddy, mommy hanya sedikit pusing."kilah Andini seraya memijit pelipisnya.


Tuan Hasta kembali diam, seketika suasana menjadi hening, mereka larut dalam pikiran masing-masing.


Santi tak mengeluarkan suara sedikitpun sama halnya dengan Barley, sesekali ia hanya melirik ke arah Santi.


Akhirbya kau tahu rasanya di khianati, aku tak akan pernah melepasmu untuk Arief.Batin Barley


Barley masih saja dengan dugaannya, rencananya untuk membalas dendam sakit hati karna perbuatan Santi akhirnya terlaksana juga.


Sepanjang perjalanan mereka semua hening, termasuk Andini.


Tiba di rumah Santi langsung menuju kamar mereka, mengganti pakain kemudian langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Ya Tuhan sampai kapan aku hidup seperti ini, semakin hari hubungan ini semakin menyakiti ku saja, apa yang harus ku lakukan, apa kah aku harus menunggu Barley menceraikan ku? bagaimana jika dia tak mau melepaskan ku? atau aku kabur saja dari rumah ini?" guman Santi bermonolog.


Santi memeluk bantal gulingnya, ia sendiri tak tahu sampai kapan nasibnya seperti ini setiap hari hanya mendapat perlakuan kasar dari suami dan ibu mertuanya.


Barley masuk ke kamar mereka, menyadari kedatangan suaminya, Santi menarik selimut hingga menutupi kepalannya.


Barley tersenyum simpul, setelah mengganti pakaiannya, Barley langsung merebahkan tubuhnya tidur membelakangi Santi.


***


Setelah beberapa saat, Amora pun tersadar dari pingsannya, matanya mulai menerjab-nerjab.


"Amora kau sudah sadar?"tanya Veronica karna khawatir.


"Mami, kepala ku terasa berat, perut ku juga terasa kram karna terlalu sering muntah," paparnya dengan suara yang lirih.


"Besok kita periksa ke dokter, sekarang kau minum obat dan istirahatlah." Veronica.


"Tapi Mami, bagaimana pertunangan ku? apa yang di katakan mereka saat melihat keadaan ku?"tanya Amora.


" Sudalah Amora, semoga saja mereka tak curiga, kita lanjutkan rencana awal." Veronica.


***


Keesokan harinya.


Veronica dan Amora sedang berada di praktek dokter obgin.


Setelah menunggu beberapa antrian akhinya kini giliran mereka.


Amora dan Veronica masuk menuju ruang dokter.


"Selamat pagi dokter, sapa Veronika ramah.


"Hey Vero, apa kabarnya?"tanya dokter sedikit kaget karna kehadiran Veronica di ruangannya.


"Baik Andrew , sahut Vero seraya menjabat tangan dokter tersebut.


"Tumben datang kemari, mau periksa kehamilan ya?"tanya dokter tersebut berbasa-basi.


"Tentu saja dokter," sahut Veronica dengan tawa kecilnya.


"Ha ha, siapa yang hamil?"tanya dokter Andrew.


"Ini putri ku Amora, aku ingin memeriksa kehamilannya." Veronica.


"Oh Amora, lama tak bertemu ternya kini putrimu sudah menikah saja, kenapa tak mengundang ku?"tanya dokter Andrew.


Amora dan Veronica saling melirik.


"Ya sudah silahkan," ucap dokter Andrew seraya menunjuk tempat tidur untuk pemeriksaan.


"Kau masih terlihat cantik saja Vero, meski sebentar lagi punya cucu," canda dokter Andrew.


"Hm bisa saja kau Andrew, kau juga terlihat awet muda," sahut Veronica.


Amora berbaring di atas tempat tidur yang di sediakan, asisten dokter tersebut menuang gel ke area perut Amora.


Dokter Andrew menempelkan tranducer pada perut Amora sembari melihat ke layar monitor.


"Ehm, cukup bagus pertumbuhannya semuanya normal, usia kandungan dua belas minggu," papar dokter tersebut.


Setelah selesai melakuman pemeriksaan dokter kembali ke mejanya, begitu pun Amora ia dan Veronica kembali duduk berhadapan dengan dokter tersebut.


"Dokter ada yang ingin kami bicarakan," ucap Veronica seraya melirik kearah asisten dokter.


Karna mengerti maksud dari Veronica, dokter Andrew menyuruh asistennya untuk keluar.


Dengan sangat mengerti, asisten dokter Andrew keluar dan meninggalkan ketiganya.


"Ada apa Vero? Sepertinya ada hal yang serius?"tanya dokter Andrew menatap Veronica dengan lekat.


Dokter Andrew syok, "Apa? Tapi mengapa?" Tanya dokter Andrew heran.


" Karna Amora hamil dari lelaki yang tidak bertanggung jawab dokter," jawabnya berbohong.


Dokter Andrew menyeritkan dahi menatap keduanya secara bergantian.


"Tidak bisa Vero! tindakan abortus tidak bisa di lakukan jika tidak karna kebutuhan mendesak, seperti kelainan pada janin, atau pun jika kehamilan tersebut bisa mengancam nyawa ibu yang mengandungnya dan sebagainya," papar dokter Andrew.


Veronica dan Amora saling melempar pandangan.


Amora begitu tegang, ada ketakutan pada dirinya saat itu.


"Tolonglah Andrew, aku akan bayar berapa pun yang kau ingin kan asal kau membantu ku membuang janin tersebut." Veronika coba menawar.


"Tetap tidak bisa Vero, itu namanya aborsi ilegal dan itu menyalahi kode etik kedokteran, aku bisa di penjara jika melakukannya."


Dokter Andrwe dengan tegas menolak.


Amora semakin panik, ia tak mau mengandung anak hasil hubungan gelapnya bersama Aldo, lagi pula ia akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan Barley jika sampai ketahuan ia hamil.


"Tapi Andrew aku berjanji tidak akan membocorkan rahasia ini, cukup kita bertiga yang tahu," bujuk Veronica.


"Tetap tidak bisa Vero, terlalu besar resikonya jika kau memaksa, bisa-bisa nyawa putrimu jadi taruhannya, karna kandungannya sudah memasuki usia tiga bulan," papar dokter Andrew dengan tegas.


Amora semakin gelisah, matanya pun memerah menahan tangisannya.


"Tapi Andrew_" Veronica


Tetap tidak bisa," Andrew mengintrupsi.


"Aku tak ingin mengambil resiko Vero, lagi pula apa yang kau lakukan adalah perbuatan melanggar hukum, jika kau tak ada keperluan lagi silahkan keluar dari ruangan ku sekarang!"seru dokter Andrew.


Veronica dan Amora meninggalkan ruangan praktek dokter tersebut dengan kesal.


"Mami bagaimana ini? Aku tak mau mengandung anak haram ini hiks hiks hiks?"Amora menangis.


"Itu kebodohan mu sendiri Amora! kau aku beri kebebasan tapi kau malah ke bablasan,"cecar Veronica.


Amora hanya menangis terisak, mimpinya untuk menjadi istri Barley pupus sudah.


"Tidak Mami, kita pasti punya cara lain untuk menggugurkan kandungan ini hiks hiks, " ucapnya sambil menangis.


"Huh,..kau tak dengar apa kata dokter Andrew? Menggugukarkan kandungan itu penuh resiko, bahkan nyawamu bisa menjadi taruhannya!" Cecar Veronika.


"Lalu bagaiman dengan nasib ku? Apa aku harus mengandung sampai melahirkan anak ini ?Hiks hiks" Amora kembali menangis.


"Apa aku harus mengandung Anak ini seorang diri?"tanyanya kembali.


Amora menangis sejadi jadinya.


"Diam lah kau Amora! jika kau menangis terus aku tak bisa berfikir jernih!" cecar Veronica.


Amora menahan agar ia tak kembali menangis.


"Sekarang aku tanya padamu, siapa ayah dari janin yang kau kandung?!"tanya Veronica dengan nada meninggi.


Amora terdiam, ia ragu untuk mengatakannya.


Melihat Amora yang tak bicara Veronica semakin kesal.


"Ayo katakan pada ku! siapa ayah dari bayi yang kau kandung?!"


Hiks hiks hiks


"Aku.. aku tidak tahu Mami,"sangkalnya lagi.


"Cuih, kalau gitu kau tanggung akibat dari perbuatanmu sendiri, kalau sampai Papi mengetahuinya, dia akan menarik semua fasilitas yang ia beri pada mu"ancam Veronica.


"Tidak Mami, aku pasti menderita jika sampai Papi melakukan itu." Amora menjadi takut.


"Cepat katakan siapa ayah dari janin yang kau kandung?"tanya Veronica kembali.


Amora tak punya pilihan selain berkata jujir.


" Aku mengandung anak Aldo Mami," jawabnya dengan bibir gemetar.


" Aldo? Aldo siapa?!"tanya Veronica.


"Aldo itu teman ku, kami berkenalan di sebuah pub," papar Amora.


"Aku tidak mau tahu Amora,kau harus meminta Aldo untuk bertanggung jawab, karna tak mungkin anak tersebut akan lahir tanpa ayah." Veronica.


"Tidak Mami, aku tak mencintai Aldo, aku menginginkan Barley."


"Apa? Kau pikir keluarga Barley akan menerima kau yang sudah mengandung? Bahkan kini aku malu untuk mengatakannya pada Andini." Veronica kembali mencecar Amora.


"Besok kau pinta lelaki itu bertanggung jawab, suruh dia menemui ku." imbuhnya.


Amora membelalakan matanya.


Uh apa yang terjadi selanjutnya ya, berikan dukungan kalian di karya receh author, dengan like sebanyak-banyaknya, beri saran dan kritik, mumpung hari senin, yang mau sedekah vote, terima kasih.----