Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat

Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat
Nasib keponakan ku?


Barley tiba di kantornya, kedatangannya sudah di tunggu oleh tuan Marco dan Arief yang sedang menunggu kedatangannya.


Saat itu tuan Marco sedang membicarakan tentang proyek pembangunan fasilitas hotel mewah mereka.


Menyadari kedatangan Barley ketiga orang tersebut berdiri menyambutnya.


"Hallo tuan Barley," ucap tuan Marco seraya menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan.


Barley menyambut jabatan tangan tersebut dengan dingin.


Mereka pun kembali duduk.


"Ada apa ini?"tanya Barley dingin.


"Loh bukannya kita sudah sepakat untuk menjalin kerja sama, saya sudah membaca proposal yang di kirim pak Arief dan saya sangat tertarik untuk menjadi investor di proyek terbaru anda,"ucap tuan Marco dengan nada meyakinkan.


Barley menyeritkan dahinya.


"Ehm Tuan setelah apa yang terjadi pada anda dan ibu saya,Tuan masih percaya pada perusahaan kami?"tanya Barley meragu.


"Ha ha ha, ini bisnis tuan Barley, dan tak ada urusannya dengan masalah pribadi,"cetus tuan Marco.


Barley menatap lekat pria paruh baya yang masih terlihat tampan tersebut selama beberapa saat.


Tak ada yang mencuriga di mata Barley,tatapan mata tuan Marco kepadanya saat itu tak menyiratkan dendam atau pun kebencian.


Barley menegakkan tubuhnya dan menyilang kedua tangannya kedada.


"Maaf tuan, sebelum itu saya ingin mengetahui ada urusan apa anda dengan mommy saya, hingga beliau nekad ingin menghabisi anda?"tanya Barley dengan tatapan mata lekat.


Tuan Marco malah tersenyum.


"Sudah saya duga Tuan muda, anda pasti menanyakan hal itu kepada saya," ucap tuan Marco.


Tuan Marco melirik ke arah Munir.


"Munir tunjukan berkas dan laporan kejahatan nyonya Andini kepada putranya."


"Baik Tuan!" Munir.


Barley menyeritkan dahi melihat Munir membuka sebuah map yang berisi berkas-berkas baru ada pula berkas-berkas yang terlihat usang.


"Silahkan Tuan,"ucap Munir seraya menyodorkan berkas-berkas tersebut kepada Barley.


Barley meraih dan membaginya bersama Arief.


Mata Barley mengekori setiap barisan dari tulisan yang ada di kertas usang tersebut.


Sebuah tulisan berbahasa inggris.


Di baris terakhir Barley menutup lembaran tersebut seraya menghempaskan napas beratnya.


"Jadi sebelumnya ibu saya pernah menjadi direktur keuangan anda yang ada di Milan?"tanya Barley menyeritkan dahi.


"Lalu apa masalahnya?"tanya Barley lagi.


"Silahkan anda baca semuanya Tuan, selembar kertas usang tak akan mampu menyibak fakta yang tersembunyi selama dua puluh tujuh tahun yang lalu."tuan Marco.


"Maaf Tuan katakan saja apa maksud dari semua ini, saya tidak punya banyak waktu untuk membaca semua berkas-berkas ini."Barley.


Arief masih membaca dengan cermat lembar demi lembar berkas yang di sodorkan oleh si Munir.


Ada sesuatu yang membuatnya tertarik,


Ia pun mencolek tangan Barley," Tuan lihatlah, sepertinya ini bukti tertulis yang menyatakan penggelapan uang perusahaan yang di lakukan oleh Nyonya Andini terhadap perusahaan tuan Marco," ucap Arief seraya menunjukan beberapa lembar kertas yang menunjukan keterangan yang merujuk ke Andini sebagai tersangka.


Sekali lagi Barley syok melihat berkas yang di tujukan pada Arief.


"Mommy,"gumanannya lirih.


Tuan Marco tersenyum menyeringai melihat ke arah Barley.


"Jadi mungkin karna sebab itulah, nyonya Andini ingin menghabisi saya tuan Barley," papar tuan Marco.


Barley menatap hampa, sekali lagi ia merasa sangat kecewa terhadap Andini.


Glek


Dada Barley bergemuruh.


"Karna nyonya Andinilah, perusahaan saya hampir mengalami kebangkrutan total, dan saya juga terpaksa mendekam di dalam penjara selama lima tahun karna perbuatan beliau," ungkap tuan Marco secara gamblang.


Barley tertunduk lesu seketika karna mendengar penuturan tuan Marco, pria yang biasanya selalu bersikaf arogan tersebut, kini mendadak terdiam dan tertunduk seolah menyembunyikan wajahnya.


Tuan Marco menatap Barley, yang terlihat kecewa,


Bagaimana jika Barley tahu jika aku adalah ayahnya, apa dia akan menerima kehadiran ku?


Barley kembali coba menguasai dirinya.


"Lalu? apa yang anda inginkan? kenapa anda masih berniat menanamkan saham anda ke proyek kami?"


"Hm, karna saya tak bermasalah dengan anda, kasus tersebut tak ada sangkut pautnya hubungan bisnis kita,"tuan.Marco


Barley diam sejenak sesaat kemudian ia mengganguk, "Oke kalau gitu kerja sama ini kita lanjutkan, pertemuan berikutnya kita akan tanda tangan kontrak."Barley


"Baik, jika begitu saya permisi tuan Barley," ucap tuan Marco seraya berjabat tangan bersama Barley maupun Arief.


Kedua tamu tersebut pun meninggalkan ruangan Barley.


Barley kembali duduk dengan menghempaskan bokongnya ke sofa empuk yang ada di ruangan tersebut.


Ia mengusap kasar wajahnya seraya menghembuskan napas berat.


"Ada apa Tuan?"tanya Arief yang melihat Barley terlihat gusar.


Barley mendongkak kan kepalanya seraya merentangkan tangannya.


"Mommy ku di penjara Arief, atas tuduhan percobaan pembunuhan terhadap tuan Marco, tak hanya sampai disitu, ia juga hampir melarikan diri dan membawa kabur uang perusahaan sebesar seratu miliar, dan sekarang tuan Marco kembali menunjukan bukti kejahatan yang di lakukan oleh Mommy ku, Huh " dengus Barley seraya memijit pelipisnya.


Arief duduk si samping Barley.


"Sabarlah Tuan setiap peristiwa pasti ada hikmahnya, aku pun merasa begitu kecewa ketika mengetahui Aldo adalah salah satu tersangka perusakan mobil anda tuan."Arief.


"Hm, apa kau tahu Rif ternyata Amora sedang hamil, dan bisa-bisanya ia meminta ku untuk menikahinya, untung saja rencana itu gagal" dengus Barley lagi.


Berkali-kali ia menghempas napas beratnya.


"Tentu saja aku tahu jika Amora sedang hamil, karna anak dalam kandungan Amora adalah hasil hubungan gelapnya bersama Aldo,"papar Arief.


Barley syok hingga ia terlonjak dan langsung mengalihkan pandanganya terhadap Arief.


"Jadi kau sudah tahu?! kenapa tak memberi tahu ku?" Barley


"Tuan, aku tahu ketika Aldo kecelakaan, apa kau ingat di rumah sakit saat aku berusaha memgingatkan mu,untuk menjaga istri mu? tapi bukannya mendengar penjelasan ku, kau malah mencurigaiku," dengus Arief.


Barley memutar bola mata malasnya," Iya I'm so sorry "


"Dan kau tahu Arief sekarang Amora dan keluarganya berada di penjara karna kedua orang tuanya membantu Amora berupaya untuk melarikan diri,"Barley.


"Satu keluarga Tuan?!"tanya Arief memperjelas.


Barley menyeritkan dahi," Kenapa kau begitu syok mendengarnya, aku tak heran karna mereka sama liciknya."Barley mendengus.


Arief terpaku sejenak seraya mengetuk jari telunjuk di atas meja.


"Lalu bagaimana dengan nasib bayi yang ada di rahimnya, jika Amora melahirkan nanti? siapa yang akan mengurusnya?"


Barley menoleh kearah Arief dengan kesal.


"Huh, kenapa kau tanyakan itu pada ku Arief, kau pikir aku mau mengurus mereka, tentu saja bayi tersebut akan di bawa kepanti asuhan atau dinas sosial, huh, begitu saja kau tak tahu!," Barley semakin kesal.


Arief terdiam beberapa saat.


"Hey Rif kenapa kau peduli sama mereka?"tanya Barley yang melihat perubahan wajah Arief.


"Aku tak akan peduli pada mereka, jika saja anak yang ada di dalam rahim Amora itu bukan anak biologis Aldo Tuan! Aku menghawatirkan nasib keponakanku nantinya seperti apa jika ia terlahir ke dunia, tanpa ayah atau pun ibu?" guman Arief dengan bola mata yang berkaca-kaca.


Bersambung, terima kasih telah membaca karya ini.