Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat

Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat
Kebobolan


Santi dan Asti kebetulan sedang menyiapkan makan siang dan menyajikannya di meja makan.


"Assalamualaikum,"ucap Barley masuk dan langsung menuju neja makan.


"Walaikumsallam,"sahut Santi lirih.


Wajah Santi masih terlihat cemberut, ketika menata piring di atas meja.


"Sayang aku mengucapkan sallam, tapi kau tak menyahut." Barley.


Barley menarik kursi.


"Eh Nak Barley, kebetulan ibu masak banyak, ternyata menantu ibu makan siang disini," ucap Asti yang terlihat senang karna kehadiran Barley.


"Iya Bu,sesekali ingin makan siang di rumah bersama istri dan mertua," jawab Barley sambil melirik ke arah Santi yang cemberut.


Santi menarik kursi dan hendak duduk, namun di tahan oleh Asti.


" Santi layani dulu suami mu makan, sajikan nasi kedalam piringnya," ucap Asti.


Santi menggangguk ia pun menyajikan nasi berikut dengan lauk yang tersaji di atas meja makan kedalam piring  Barley tanpa melihat ke arahnya.


Makan malam yang tenang tak ada obrolan hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu yang menyentuh piring keramik.


Santi tak berucap satu kata pun pada Barley sejak kedatangannya hingga mereka selesai makan.


Setelah makan mereka ngobrol sebentar di meja makan, namun Santi lebih memilih membereskan bekas mereka makan dan mencuci piringnya dari pada ikut ngobrol bersama mereka.


Barley melirik jam tangannya, waktunya ia kembali ke kantor.


Barley mendekat ke arah Santi untuk ijin pergi, tapi Santi malah menghindar.


"Sayang aku pergi dulu,"ucap Barley, bukannya menyahut Santi malah buru-buru pergi menuju kamarnya.


Asti dan Harjo melihat keretakan yang terjadi antara keduanya, namun mereka memilih untuk tak ikut campur, karna mereka yakin, pasangan tersebut bisa mengatasi masalah  rumah tangga mereka sendiri.


Barley terdiam beberapa saat ketika melihat ke pergian Santi dari hadapannya.


***


Hari sudah mendekati senja, Santi menutup jendela kamarnya karna sebentar lagi hari akan gelap.


Sedari pagi Santi memang tak bicara apapun ia lebih banyak menyendiri di dalam kamarnya.


Seharian bahkan ia tak menyentuh hand phonenya.


Setelah mandi sorenya ia duduk di depan meja riasnya melihat matanya yang terlihat sembab.


"Kali ini aku tak akan menangisi nasib ku lagi," ucap Santi seraya menyisir rambutnya.


Ketika melihat wajahnya ia merasa jika wajahnya memang mirip dengan Kakaknya.


"Apa karna ini tuan muda itu menerima ku?karna wajah kami yang mirip hingga ia merasa aku adalah kakak ku?"


Santi menitikan air matanya.


" Sudahlah aku tak mau berharap apa pun darinya, biarkan saja dia mau apa, yang penting aku merasa sudah aman di sini," ucapnya sambil memoles bedak tabur bayi dan memoles lip balm-nya.


Santi beranjak ketika mendengar suara pintu di gedor oleh seseorang.


Krek... pintu terbuka dan wajah menjengkelkan itu kini berada di hadapannya dengan bucket mawar beraneka warna yang ada di genggamannya.


"Untuk apa kau kembali tuan?" Tanya Santi ketus sambil menyilangkan lengan di dadanya kemudian berdiri di muka pintu agar Barley tak masuk ke dalam kamarnya.


"Tentu saja aku datang untuk bertemu istri ku," ucap Barley seraya tersenyum menggoda Santi.


"Sebaiknya kau pulang tuan, aku tak mau buang-buang waktu ku bersama mu," ucap Santi tegas seraya menutup pintu.


Tok tok tok Barley mengetuk pintu namun Santi tak menghiraukannya.


Setelah beberapa kali menggedor pintu dan di acukan, Barely kecewa ia pun kembali menuju lantai bawah.


Barley duduk di sofa kemudian merebahkan tubuhnya.


Hari ini begitu melelahkan baginya, karna terlalu lelah ia pun terlelap.


Asti keluar dari kamarnya untuk menyiapkan makan malam dan melihat sang menantu yang berbaring di atas kursi ruang tamu.


Asti menghampiri Barley.


"Nak Barley, kenapa tidur di sini?"tanya Asti.


Barley menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Santi tak mengijinkan ku untuk masuk ke kamarnya bu,"jawab Barley.


Hm Asti kaget.


"Benar- benar keterlaluan Santi," dengus Asti.


"Sudah Nak, kamu makan dulu nanti biar ibu yang bicara pada Santi,"ucap Asti.


"Baik bu." Barley bangkit dan menuju meja makan.


Asti menuju kamar Santi.


"Santi... Santi...!" Teriak Asti.


Santi beranjak dengan malas membukakan pintu.


"Ada apa Bu?"tanya Santi ketika membuka daun pintu sedikit.


"Makan malam sudah siap Santi makanlah," ucap Asti.


Ehm, Santi ngak lapar Bu,nanti Santi akan ambil sendiri jika Santi sudah merasa lapar," ucap Santi.


" ya sudah baiklah, tapi kau jangan melarang suami mu untuk masuk ke kamar mu Santi, tak baik Nak, berdosa," nasehat Asti.


"Iya Bu," sahut Santi lemah.


"Huh ibu selalu membelanya,"dengusnya.


Santi kembali berbaring seraya membaca novel ke sukaannya.


Setengah jam kemudian ia kembali mendengar suara pintu di gedor kembali.


Dengan malas ia membukakan pintu dan melihat Barley dan ibunya berdiri di depan pintu.


"Santi biarkan suami mu masuk!" Perintah Asti.


Barely tersenyum puas ia pun merentangkan tanganya sepanjang pundak Asti seolah merasa berlindung di balik ibu mertuanya tersebut.


Dengan wajah kecut dan bibir yang mengkerucut Santi memperlebar daun pintu, hingga tubuh tegap suaminya bisa lolos dari pintu tersebut.


"Terima kasih sayang,"ucap Barley yang langsung mendaratkan kecupan pada pipi Santi tanpa permisi.


Asti tersenyum melihat pasangan muda tersebut.


Setelah ke pergian Asti, Santi mulai menutup pintu dan menuju tempat tidur tanpa menoleh ke arah Barley.


Santi langsung merebahkan tubuhnya pada tempat tidur kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


Ia berharap tak mendapat gangguan dari suaminya tersebut.


Barley ikut merebahkan tubuhnya namun sebelum itu ia melepas seluruh pakaian luarnya dan menyisakan celana boxernya saja.


Barley menyibak selimut tebal yang menutupi tubuh sang istri kemudian  medempetkan tubuhnya ke tubuh Santi dan memeluknya.


"Lepaskan Tuan!" Santi menepis tangan Barley dan mendorong tubuh Barley agar tak menempel pada tubuhnya, bukannya menjauh, justru Barley semakin dekat dan kali ia ia berani mencium ceruk leher Santi.


Santi berusaha memberontak, namun Barley bertindak lebih berani, ia menarik tubuh Santi agar terlentang kemudian mengukungnya.


"Lep_" Santi tak melanjutkan kata-katanya kerna mulutnya di bungkam dengan bibir Barley.


Tanpa permisi ia langsung melu*mat dan menyesap bibir istrinya.


Santi meronta mendorong tubuh Barley yang telah mengukungnya.


Barley terus mel*umat bibir tersebut hingga Santi kehabisan nafas.


Ha haha.. Santi menarik udata sebanyak-banyaknya ketika Barley melepas panggutannya.


"Lepas_" lagi-lagi Santi terbungkam tak bisa bersuara apalagi berteriak.


Barley memperdalam ciumanya dengan membuka mulut Santi dan memasukan lidahnya.


Ia sengaja memiringkan sedikit wajahnya agar Santi bisa bernapas melalui hidungnya.


Santi terus meronta dengan memukul mukul dada bidang suaminya.


Barley tak kehabisan cara, sambil melu*mat bibir Santi tanganya terus menggerayangi tubuh sang istri hingga membuat Santi mengelinding manja.


Jemari nakal Barley terus menyusuri setiap inci dari lekuk tubuh sang istri hingga tibalah ia pada sebuah muara dengan sudut segi tiga.


Barley membuka pang*kal pa*ha istrinya jemarinya terus menyusuri lembah di balik segitiga bermuda milik sang istri.


Santi tetap meronta meminta Barley melepaskan pangutan bibirnya.


Tangaannya memukul-mukul dada bidang sang suami.


Namun pukulan tersebut melemah ketika Barley mengguncang pelan biji kecambah miliknya.


Tubuh Santi mengelinjang merasakan sensasi yang luar biasa, ketika tangan Barley terus bergeleria menggetarkan biji kacang tersebut.


Matanya merem melek menikmati permainan nakal jari jemari Barley.


Barley melepaskan pangutanya, wajahnya turun menuju dua bukit kembar tersebut kemudian menyesap dan mengulum puncak bukitnya.


Jemari Barley semakin nakal semakin cepat menggetarkan biji kecambah tersebut hingga membuat tubuh Santi mengelinjang merasakan rasa yang tak bisa di ungkapkan matanya merem melek.


"Akh!"  Akhirnya Santi mende*sah karna tak mampu melawan perasaanya ingin rasanya ia berteriak saat itu.


Barley tersenyum karna ia berhasil membuai istrinya.


"Akh! Santi kembali mendesah, hatinya merutuki dirinya kenapa ia bisa begitu menikmati permainan nakal suaminya.


Jemari Barley semakin kencang mengguncang biji kecambah istrinya hingga Santi tak sanggup menahan, tanganya meremas sprey saat cairan hangat mengalir melepas rasa kenikmatan untuknya.


Barely tersenyum ketika cairan tersebut tumpah mengenai jemarinya.


Santi memejamkan matanya rasanya sulit untuk menahan itu semua, ia pun menggigit bibir bagian bawahnya.


Barley tersenyum puas.


"Its me time sayang,karna landasan pacu sudah licin waktunya pesawat boeng 737 siap lepas landas," ucap Barley seraya menarik tubuhnya dan langsung memasukan pesawatnya ke dalam landasan pacu yang telah licin tersebut.


"Akh!" jerit Santi tertahan saat benda tersebut langsung menerobos gua sempit miliknya.


Santi pasrah sembari menikmati permainan tersebut, baru kali ini ia merasakan nikmatnya berhubungan suami istri.


Pesawat pribadi milik Barley berkali-kali keluar dan masuk, membuat Santi mengerang merasakan rasa yang tak terungkapkan tak seperti sebelumnya ia selalu merasakan sakit.


Kali ini Barley melakukanya dengan lembut dan penuh kasih sayang, ia menghujani ciuman mesra pada setiap inci wajah dan tubuh Santi sementara telapak tanganya menggenggam erat telapak tangan Santi.


Setengah jam, Barley akhirnya terkulai lemas di samping Santi.


Ia pun memeluk santi, mengecup bibir dan keningnya, "Maafkan aku, aku janji ini yang terakhir kalinya menyakiti mu," ucapnya seraya menyapu keringat yang membasahi wajah santi.


Bersambung terima kasih sudah membaca karya ini, semoga kalian suka,


Ah author punya rekomendasi novel bagus nih, di jamin suka deh