
Makan malam tiba. Andini memaku di sudut kamarnya meratapi nasib malang yang menimpanya kini. Bulir bening menetes perlahan di pipi yang sudah keriput.
Kecantikan dan kekuasannya yang dulu ia bangga kan kini menghilang seperti debu yang terbawa angin. Justru dirinya kini menjadi miskin dan bertambah jelek karna penyakitnya.
Nasi sudah menjadi bubur, setiap perbuatan pasti akan mendapatkan balasannya. Apa yang kau tebar itulah yang akan kau tuai.
Barulah kini ia menyadari, tak ada yang abadi di dunia ini. Teenyata apa yang ia usahan semasa muda, berbuah penderitaan di masa tua.
Hiks hiks hiks.
Bulir bening yang perlahan menetes kini semakin deras dan tak dapat di tahan. Akan kah ada sebuah penyesalan dan kesempatan agar ia bisa memperbaiki semua yang terjadi, atau memang benar adanya, seperti apa yang pernah ia dengar jika penyesalan selalu datang terlambat.
Hiks hiks hiks, tubuh Andini terguncang di suatu sisi gelap ruangan kamarnya. Dirinya kini takut keluar dan berkumpul bersama keluarga. Bahkan sang cucu saja merasa takut untuk melihatnya.
Erni masuk ke kamar Andini dan menghidupkan lampu.
Klik seketika ruangan tersebut menjadi terang.
"Permisi Nyonya, tuan Barley dan keluarga menanti anda di meja makan."
Andini menghapus air matanya, ia semakin menyembunyikan wajah sedihnya.
"Aku makan di sini saja, aku tak ingin mengganggu kebahagian mereka,"ucap Andini dengan suara parau yang tertahan menahan air matanya.
"Baiklah kalau begitu." Erni kembali menutup pintu kamarnya kemudian menghampiri meja makan.
Saat itu keluarga kecil yang harmonis tersebut sudah berkumpul menanti hidangan tersaji. Mereka juga menanti Andini.
Alesha duduk di samping Santi, karna biasanya ia makan masih di suapin oleh mommy-nya.
"Permisi tuan." Nyonya Andini hanya mau makan di kamarnya."
Barley dan Santi menoleh ke arah Erni.
"Ehm, tapi kenapa?Makan malam ini khusus di masak oleh istri ku. Kami ingin makan bersama Mommy. " Barley.
"Tapi, katanya Ia tak ingin mengganggu kebahagian keluarga Tuan. " Erni.
Barley terdiam, pandangannya tertuju pada sang istri.
"Sayang mungkin mommy masih tersinggung dengan ucapan Alesha." Santi.
"Hm, Mungki. Nanti biar aku saja yang membujuknya. "
"Baik Tuan. " Erni pergi meninggalkan mereka.
Alesha sedang menikmati sosis dan nugget buatan mommynya.
"Alesha!"sapa Barley.
Alesha yang tengah menusuk sosis dengan menggunakan garpu pun menoleh ke arah Barley.
"Iya Daddy. "
Barley tersenyum."Ikut Daddy yuk! "
"Kemana Daddy?"
"Bujuk Oma."
"Ehm, Ngak mau Daddy. "
"Kenapa ngak mau, itu Omanya Alesha? Alesha masih takut? " tanya Barley.
Alesha menggangguk.
"Takut kenapa? kan ada Daddy. "
"Habis muka oma jelek, seperti nenek sihir," cetus Alesha tanpa berdosa , ia pun kembali menikmati makanannya.
Barley menghampiri putrinya dengan posisi berlutut mensejajarkan tinggi bersama Alesha.
" Sayang. Oma itu ngak jelek.Oma sedang sakit dan kemaren Oma juga jatuh jadi wajahnya bengkak dan memar, " papar Barley.
"Hm, emangnya kalau orang sakit, wajahnya bisa berubah jadi jelek gitu Daddy? " tanyanya dengan polos.
"Iya Sayang. Oma sebenarnya cantik, seperti oma Alesha yang lainnya. Karna Oma sedang sakit saja makanya Oma terlihat jelek. "
"Ehm, kalau daddy atau mommy sedang sakit apa juga akan terlihat jelek? " tanyanya seraya mengelanyut manja di leleh Barley.
Santi tertawa kecil mendengar celotehan putrinya tersebut.
"Hm, mungkin kalau daddy sakit akan terlihat jelek. Tapi kalau mommy tetap terlihat cantik di mata daddy. "
"Hm kenapa begitu?"tanya Alesha lagi.
"Karna kalau kita sayang sama seseorang, seperti apapun dia, dia akan terlihat cantik di mata kita. Seperti Oma, Daddy selalu melihat Oma cantik, karna Daddy sayang sama Oma. Dan biar Alesha bisa lihat Oma tetap cantik, Alesha harus menyayangi Oma. Sama seperti Oma Alesha yang lainnya. Alesha mau kan sayang sama Oma?"
Barley menatap gadis kecilnya yang terlihat lucu dan menggemaskan tersebut, Saat itu Alesha terlihat mencerna kata-kata darinya.
"Ehm bagaimana caranya biar Esha sayang sama Oma? lihat Oma saja Esha takut," ucap Alesha sambil mengkerucut bibirnya yang munggil.
Barley merasa gemes dengan pertanyaan sang putri.
Ia pun mencium perut Alesha hingga membuat Alesha merasa geli.
"Ah Daddy geli daddy! ha ha," Alesha mengelak dari wajah Barley.
Sementara Santi tersenyum melihat keduanya.
***
"Sayang, Nanti Alesha bujuk oma ya, biar Oma makan malam bersama kita."
Alesha melingkarkan tanganya pada leher daddy-nya.
"Iya Daddy. "
"Alesha ngak takut lagikan? " tanya Daddy.
"Ngak Daddy, kalau ada Daddy Alesha ngak takut. Kata kak Andhra Daddy itu hebat," cetus gadis mungil tersebut.
Barley tertawa kecil, ia pun mencium pipi putrinya.
Mereka pun sampai di kamar Andini. Barley membuka pintu.
"Sayang beri salam pada Oma," bisik Barley.
Hm, Alesha menggangguk.
"Assalamualikum, "ucap Alesha ketika mereka bedara di depan pintu.
"Wa'alaikum salam," sahut Andini ia pun menoleh kearah gadis kecil yang memanggilnya.
Alesha tersenyum ke arah Andini. Ia pun mendekat ke arah Andini.
"Oma! " panggilnya dengan lembut.
Andhini tersenyum dengan tatapan mata yang berembun.
"Oma, ayo ikut makan malam bersama kita," ucap Alesha sambil menarik tangan Andini pelan.
Andini berusaha menahan tangisnya.
"Memangnya Alesha ngak takut lagi sama Oma hiks? " tanya Andini dengan sisa isak tangisnya.
"Ngak takut. Karna Alesha sayang Oma," cetusnya dengan spontan.
Tubuh Andini bergetar, menahan tangisannya, berkali-kali ia menarik cairan yang memenuhi hidungnya.
"Oma kenapa menangis? Oma sakit ya?" tanya Alesha.
Andini buru-buru menghapus air matanya. ia pun segera mengontrol emosinya.
"Ngak sayang. Oma bahagia karna Alesha sayang Oma, hiks hiks hiks."
Barley menitikan air matanya melihat Andini yang terharu.
"Kalau gitu Oma ngak usah nangis kita makan bersama saja yuk. " Alesha.
Andini menggangguk, ia pun memeluk Alesha.
Alesha tak merasa takut lagi, ia pun membalas pelukan Andini.
"Oma sayang Alesha hiks." Andini.
"Alesha juga sayang Oma, " balas Alesha.
Barley tersenyum melihat keduanya, ia pun menghampiri Andini.
"Kalau begitu Ayo Oma kita makan malam. " Barley.
Andini menggangguk.
Barley bangkit untuk mendorong kursi roda Andini , Alesha ikut membantu mendorong kursi roda tersebut.
Andini masih menitikan air mata haru dan bahagianya. Keluarga adalah kasih sayang yang tulus tak memandang sisi kelamnya, juga tak memandang cacat fisik yang dialaminya.
Mereka pun tiba di meja makan. Seleruh keluarga menyambut kehadirannya.
Andhra memindahkan kursi pada meja makan, agar kursi roda Andini bisa masuk di bawah meja makan.
"Kami sudah menunggu mommy! kita mulai saja makan malamnya," ucap Santi sambil mengaut nasi pada piring Andini.
Andini kembali menangis, ia teringat atas apa yang telah ia lakukan pada menantunya tersebut.
Melihat Andini yang menangis, Andhra dan Alesha kembali mendekat ke arah Andini.
"Oma jangan nangis lagi. Kita semua sayang Oma, "tutur dua bocah tersebut. Mereka pun memeluk Andini.
Andini semakin haru, ketika Barley dan Santi juga ikut memeluknya.
"Benar mommy kita semua, Sayang mommy, jadi jangan merasa diri mommy sendiri, "ucap Santi.
"Terima kasih Santi, "ucapnya haru mereka pun kembali memeluk.
Terkadang orang jahat tak selamanya ia akan menjadi jahat mungkin ia hanya butuh dukungan dan tuntunan untuk menyadari kesalahannya.Begitu pun orang baik tak selalu berbuat baik tanpa melakukan kesalahan dan kekhilapan.
Sebagai manusia kita memiliki sisi terang dan gelap, karna tak ada manusia yang sempurna.Namun masing-masing manusiadi beri pilihan untuk memilih salah satu di antra keduanya.
Begitu juga saya sebagai penulis, mohon maaf atas kekurangan dalam penulisan cerita ini, kalau ada kata-kata yang menyinggung perasaan reader semua mohon di bukakan pintu maaf sebesar-besarnya, saya coba perbaiki dan saya butuh bantuan melalui saran dan komentarnya serta dukungan dari pada reader tersayang. Semoga kita selalu menjadi orang baik dan selalu berada di antara orang-orang baik, di jauhakan dari segala keburukan, di hindarkan dari segala marabahaya selalu di berkahi kesehatan dan keselamatan. Aamiin ya RobalAlamin.
Bersambung dulu ya.