Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat

Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat
Hari Yang sulit


Aldo dan Delia menghampiri Asyia setelah menandatangani surat persetujuan operasi.


Asyia tersenyum simpul melihat kearah ketiga orang yang menghampirinya.


Aldo duduk di sampingnya kemudian mengenggam tangan Asyia.


"Sudah siapkan Nak?" tanya Aldo.


"Iya Yah. Asyia sudah siap. "


Aldo pun memeluk dan mencium Asyia.


"Semoga Tuhan selalu melindungi mu Nak. Ayah akan selalu berdoa setiap saat untuk mu Sayang. "


"Terima kasih Ayah, "ucap Asyia.


"Mbak, jangan banyak berfikir yang macam-macam ya, kita tawakal saja. Semoga operasi ini berhasil dan semua sesuai harapan kita semua," ucap Delia sambil mengusap kepala Asyia.


"Iya Bu. Tapi sebelum Asyia masuk ruang operasi, Asyia mau mengucapkan terima kasih kepada Ayah, ibu, paman dan Andhra karena telah menjaga dan mensupport Asyia selama ini. Asyia juga mau menyampaikan hiks hiks hiks," Asyia menjeda Kata-katanya,  bibirnya yang bergetar.


Mereka semua menatap Asyia dengan tatapan berembun.


"Hiks hiks, Asyia mohon maaf kepada semuanya, hiks hiks. Jika saja setelah operasi Asyia tak lagi bisa bersama kalian, hiks hiks,A- Asyia mohon kepada semuanya untuk mengikhlaskan Asyia pergi hiks hiks. Itu bearti perjuangan Asyia sudah sampai di sini saja, dan Asyia tak lagi mampu lagi bertahan hiks hiks," Tubuh dan bibir Asyia gemetar dengan air mata yang mengalir deras. Suasana pun menjadi sendu, seiring isak tangis dari Orang-orang yang mengerumuni Asyia.


Mereka larut dalam tangis tanpa suara.


"Maaf, Asyia selalu merepotkan dan belum bisa membalas kebaikan kalian semua. Asyia belum bisa jadi seperti yang kalian inginkan, hiks hiks hiks."


Delia langsung memeluk Asyia.


"Jangan bicara seperti itu Nak. Apapun yang kami lakukan tak pernah kami minta balasan nya. Kami terlalu menyayangi mu, hiks hiks. "Delia.


"Terima kasih ibu. " Asyia.


Arief menghampiri Asyia kemudian memeluknya.


"Asyia, Tahukah kenapa paman memberimu nama Asyia? "tanya Arief seraya mengusap kepala Asyia.


Asyia menggeleng lirih. Ia hanya tahu jika Asyia itu nama ratu firaun yang beriman dan salah satu ahli surga.


"Sejak kamu lahir keadaan kamu sudah kritis Nak. Namun paman selalu yakin, jika kamu akan jadi sosok yang kuat. Arti Asyia sendiri adalah kehidupan yang terlindungi. Dengan nama itu paman berharap kamu akan panjang umur dan selalu di lindungi dalam keadaan apapun. Jika kami tak yakin dengan kesembuhan kamu. Kami tak akan berada di sini. " Arief.


"Terima kasih paman. Sejak kecil Asyia selalu merepotkan paman. " Asyia.


Arief pun memeluk Asyia kembali . "Namanya juga kesayangan Paman," ucap sambil mencium pucuk kepala Asyia.


Sejak mereka pun haru. Namun tak menujukan kekhawatiran terhadap Asyia.


Arief menyodorkan jari kelingking nya kearah Asyia." Sebelum masuk ruang operasi kita janji dulu. Asyia akan kembali. Paman ingin lihat Asyia jadi dokter. Ingatkan Asyia pernah janji hiks, kalau Asyia jadi dokter. Asyia yang merawat paman. Paman tak perlu membayar obatnya," tutur Arief dengan haru mengenang kepolosan Asyia saat ia kecil.


Hiks hiks hiks.


Air mata mereka tak berhenti menetes.


Asyia semakin erat memeluk Arief.


Ketika mereka larut dalam haru, seorang suster datang menghampiri.


"Permisi, Pasien sebentar lagi akan di bawa menuju ruang operasi. " Suster pun mendekat kearah Asyia.


Mereka semua menghapus air mata, ketegangan pun terasa kembali pada Masing-masing individu yang ada di sana.


Semua merasa semakin tegang. Perasaan was-was dan khawatir mulai menyelimuti mereka.


Tempat tidur Asyia pun mulai di dorong menuju kearah luar ruangan kemudian menuju kamar operasi.


Saat itu Asyia hanya bisa pasrsh dan berdoa.


Setiap langkah mereka haturkan doa untuk keselamatan Asyia.


Suasana rumah sakit tersebut terasa sunyi dan dingin. Hanya terdengar suara langkah dari sol sepatu yang menyentuh ubin.


Mereka melewati koridor dengan jalan berliku-liku. Jantung Asyia semakin berdetak kencang. Mungkin jantung tersebut tahu, jika hari ini adalahlah hari terakhirnya berdetak.


Deg Deg Deg.


Dengan kesadaran penuh Asyia melihat jika tempat tidur nya telah memasuki ruang operasi.


Brak..


Bahkan ketika pintu ruang tersebut tertutup, pun ia menjadi kaget.


***


Keempat orang tersebut hanya bisa menunggu dan menanti di luar ruangan operasi.


Tak sepatah kata pun keluar dari mulut mereka, karena masing-masing sibuk berdoa.


Asyia menatap tempat sekelilingnya yang begitu gelap. Kemudian seseorang menghidupkan lampu.


Seorang suster wanita, melepas pakaiannya dan menggantinya dengan pakaian khusus. Asyia semakin tegang melihat ruang yang penuh dengan Alat-alat medis.


Berkali-kali ia menelan saliva. Jantungnya, semakin berdetak kencang. Setelah memakai pakaian khusus. Asyia pun di pakaian penutup kepala.


Matanya masih mengedar ke sekeliling dengan rasa cemas dan takut.


Apalagi di sampingnya ada meja, dengan peratan bedah yang membuatnya semakin down.


Seorang suster mengajaknya bicara, ketika Asyia terlihat melamun.


"Are you okay? " tanya suster.


"Yes,i'm just nervous. " Asyia.


Tiba-tiba saja ia merasakan ngantuk karna saat di ajak bicara, seorang perawat lagi menyuntikan obat bius tanpa sepengetahuan Asyia.


Asyia pun mulai menutup matanya.


Para dokter dan tenaga medis ahli dan profesional pun mulai melakukan tugasnya.


Deg deg deg.


Jantung Asyia masih berdetak sebelum di ganti dengan alat pompa pengganti jantung.


Deg ...kemudian detak jantung tersebut berhenti untuk selama-lamanya.


Bersambung dulu ya guys. Moga author bisa up lagi.


Terima kasih