
Asyia berada di suatu tempat yang asing.
Sebuah ruangan hampa yang sunyi lagi sepi. Namun, dari kejauhan terdengar suara langkah kaki seseorang yang menghampiri nya.
Asyia menoleh dan memperhatikan siapa yang berada di depannya. Sosok wanita tersebut seperti diselimuti kabut tipis.
"Asyia! " Wanita itu memanggilnya lirih.
"Ibu?!" Asyia mengenali suara tersebut.
Wajah yang tertutup kabut pun perlahan tampak. Di depannya kini ada sosok wanita cantik yang sangat ia kenal.
"Ibu, kenapa Asyia ada di sini? kita dimana sekarang? "tanya Asyia suara nya seperti bergema di tempat itu.
Amora tersenyum memeluk Asyia.
"Kita berada di tempat yang damai Nak. Ibu yang memanggil mu kemari karna ibu rindu bertemu dengan mu, " ucap Amora dengan air mata yang berlinang.
Asyia pun menanangis di pelukan Amora.
"Asyia juga kangen ibu hiks. "
Kedua nya pun saling meneluk.
Baik Asyia maupun Amora mereka saling merindukan. Namun, sepertinya kini mereka berada di dunia yang berbeda dan tak mungkin lagi bertemu.
"Bu ma'af kan Asyia, Asyia tak sempat ijin dan meminta restu pada ibu saat Asyia pergi, Asyia menyesal karna marah sama ibu," tutur Asyia sedih dalam peluk, Amora.
Hikss hikss hikss.
"Tak apa Nak. Ibu yang seharusnya meminta maaf pada kamu hikss, Ibu merasa bersalah Nak. Dan Ibu belum bisa pergi dengan tenang sebelum meminta maaf pada kamu hiks hiks, " tutur Amora dengan air mata berderai.
"Ibu, Asyia sayang ibu," ucap Asyia sambil memeluk Amora semakin erat.
Tubuh Amora semakin berguncang menahan tangisnya. Dirinya adalah penyebab penderitaan Asyia selama ini. Namun, Asyia tak menaruh dendam terhadap nya,justru putrinya tersebut menyanyanginya dengan tulus.
"Iya Nak, maaf kan ibu mu ini, karena telah mengabaikan mu selama ini. Ibu tak akan merasa tenang sebelum mendapatkan maaf dari mu Nak, hiks hiks hiks. Ibu juga minta kau iklaskan ibu pergi Nak."
"Hah, Ibu mau kemana hiks? " tanya Asyia seraya menatap Amora.
Wajah Amora terlihat pucat tanpa ekspresi dengan tatapan kosong.
"Asyia sekali lagi maafkan ibu. Ibu tak bisa lagi bersama kamu. Ibu harap kamu iklas. jika kamu rindu, kamu berdoa saja untuk ibu, karena sebenarnya ibu selalu ada di hati kamu. " Amora menunjuk bagian dada Asyia.
"Ibu, "ucapnya lirih dengan air mata yang menggantung di dagu. Seketika Amora seperti menjauh darinya kemudian menghilang di balik kabut tebal yang menyelimuti jalan yang tampak oleh matanya.
"Ibu! " teriak Asyia. Ia pun berlari hendak mengejar Asyia.
"Asyia jangan pergi ke sana! " tiba-tiba, suara teriakan seseorang menggema di tempat tersebut, hingga langkah Asyia tercekat, hampir saja ia menerobos kabut gelap tersebut.
Asyia seolah berada di dua dunia, dunia yang ia pijaki ini begitu terang dan lapang. Hanya ada pepohonan rindang yang mengelilinginya. Sedangkan di ujung jalan, tempat tersebut terlihat gelap dan berkabut.
Asyia menjadi ragu, sekali lagi ia coba melangkah karena gema suara tersebut tak lagi terdengar memanggilnya. Tempat tersebut terasa semakin sunyi dan sepi.
Asyia memberanikan diri untuk melangkah meski dengan perlahan.
"Jangan kesana Asyia! Di sana bukan tempat mu! " suara tersebut kembali menggema.
Asyia begitu kenal dengan suara yang memanggilnya, suara tersebut seperti berasal dari hatinya. Namun bisa terdengar secara lantang dan bergema.
"Andhra? " Ya suara itu adalah suara Andhra yang memanggilnya.
"Andhra! kau dimana?! Aku ingin pulang! hiks hiks hiks." Tiba-tiba Asyia merasa ketakutan berada di tempat sepi tersebut.
"Asyia pulanglah! Aku menunggu mu disini! " Suara tersebut kembali menggema.
"Andhra aku ingin pulang! tapi aku tak tahu jalannya hiks hiks,"
"Asyia pulanglah, ikuti suara ku! "
Asyia tergaman, ia berusaha mencari asal suara, yang terdengar dekat sekali. Asyia pun menyentuh bagian dadanya.
Deg deg deg. Ia merasa jantungnya berdetak kembali.
Asyia pun merasakan pedih pada bagian dadanya seperti seperti tersayat benda tajam. Ia memejamkan matanya karna tak mampu menahan rasa sakit tersebut.
Asyia! hikss hiks..
***
Arief menghampiri Asyia, ia pun mendekatkan telinganya pada dada Asyia.
"Alhamdulillah, Asyia selamat, " ucap Arief.
Keduanya tersebut dengan bola mata yang berembun.
Andhra dan Arief berucap syukur.
Suster masuk keruangan tersebut dengan membawa seorang dokter untuk memeriksa keadaan Asyia kembali.
Arief dan Andhra pun menyingkir.
Dokter meraba nadi Asyia, kemudian dengan statescopnya ia merasa detak jantung Asyia.
"Ini sungguh keajaiban! Detak jantung pasien kembali normal, bahkan lebih cepat dari sebelumnya. " Dokter.
Arief dan Andhra tersenyum bahagia mendengar berita tersebut.
"Pindahkan pasien keruangan intensif! " Dokter.
Para perawat pun membawa kembali tempat tidur Asyia keluar dari ruangan tersebut.
Dokter yang memeriksa Asyia berdecak kagum." This is a real miracle. "
Andhra memeluk Arief, mereka sungguh berbahagia. Orang yang mereka cintai kini masih bersama mereka.
Keduanya pun mengikuti petugas medis yang membawa Asyia
***
Delia sudah tersadar dari pingsannya.
"Asyia ...Bang hiks hiks,"tangis Delia memeluk Aldo.
Keduanya pun saling memeluk untuk saling menguatkan.
"Sabar Dek," ucap Aldo, yang sebenarnya masih belum bisa menerima kenyataan.
Keduanya pun mengurai pelukan mereka.
"Ayo Bang, aku mau lihat Asyia untuk yang terakhir kalinya. " Delia.
"Iya." Aldo pun menopang tubuh istrinya yang begitu lemah. Air mata Aldo semakin deras mengalir, tak sanggup menghadapi kenyataan jika putri tercinta telah pergi untuk selama-lamanya.
Keluar dari ruangan tersebut mereka melihat tempat tidur Asyia di dorong. Dan di belakangnya ada Arief dan Andhra.
Aldo mencegat Arief dan Andhra.
"Bang Asyia mau di bawa kemana? "tanya Aldo.
"Alhamdulillah Asyia masih selamat Do, hiks hiks. Sekarang ia di bawa keruangan perawatan intensif.Doakan saja Asyia bisa segera pulih dan kembali bersama kepada kita lagi." Arief.
"Alhamdulillah! "seru Aldo, Aldo pun berlutut kemudian bersujud menangis seraya mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🙏🙏
Bangun tidur ku terus nulis, he he, biar ngak tegang ya reader. Author ada pantun nih.
Ada ketupat ,ada lontong,
bagi votenya dong .😍😘🙏🌹🌹
Bersambung Terima kasih 😘. Bagaimana nasib Amora ya.? episode berikutnya.
Yang belum mampir yuk mampir di karya author terbaru ngak kalah greget, ngak kalah seru dan ngak kalah bucin he he jadi malu 🙈🙉😅