
“Baiklah. Sudah saatnya bagiku untuk bergerak.” Keith berdiri dari tempat duduknya.
“Bergerak? Apa kamu mengkhawatirkan kutukan yang terjadi pada mereka, Nii-san?” tanya Sachiko.
‘“Nii-san”, sungguh kata yang sangat menusuk sekali kalau tidak terbiasa dipanggil seperti itu. Bukan dalam artian yang menyakitkan, malahan ini terasa… em… entahlah. Aku kurang bisa menjelaskannya,’ penjelasan dalam hati Keith.
“Ya, tentu saja. Aku ini bukan bos yang tidak bertanggung jawab, lho. Aku juga bisa merasa kasihan pada para anggota itu jika mereka berada dalam bahaya," jelas Keith.
"Kalau begitu, aku juga akan ikut, Nii-san. Toh juga, aku sekarang adalah companion Nii-san. Kerang lebih aku sudah menangkap penjelasan Nii-san, jadi aku sudah tahu apa saja yang bisa aku lakukan di dalam mode pengamat ini. Juga, kemampuan penyembuhanku seharusnya berguna untuk kutukan yang mereka derita.” Sachiko ikut berdiri bersama Keith.
“Yakin? Apakah kamu tidak mau masuk ke dalam Pokeball saja dan aku yang membawamu? Jujur, tempat ini terlalu luas dan mereka berada di luar jangkauan [Kenbunshoku Haki]-ku, jadi akan membosankan untuk mencari mereka.”
“Tidak apa-apa. Selama bersama Nii-san ini tidak akan terlalu membosankan.” Sachiko tersenyum tipis setelah mengucapkannya.
“Hah… membosankan juga, ya…,” gumam Rikka sambil mengayunkan kakinya.
Sejak tadi Rikka dan Kino tidak memiliki banyak kegiatan. Mereka hanya di dalam kelas itu, menunggu Souseiseki memberitahu di mana lokasi [Skill Scroll] lainnya. Mencari sendiri? Mereka berdua terlalu malas melakukan itu dan ingin menghemat lebih banyak energi untuk situasi yang tidak diinginkan.
Sebelumnya, Kino sudah mulai mencurigai pada Miko yang sepertinya mulai menggila di tempat ini. Dia memiliki keuntungan berupa serangan jarak jauh jika dia ingin menyerang Miko. Menyerang dari kejauhan dengan sedikit gerakan, membuat Kino memiliki keuntungan berupa kemungkinan lebih kecil untuk terkena jebakan Miko.
“Tahan saja. Tidak semua misi selalu menyenangkan seperti yang kamu bayangkan,” jawab Kino datar.
“Tapi, ini sangat-sangat membosankan…. Setidaknya di dunia sebelumnya aku bisa melatih sihirku. Berbeda dengan di sini yang hanya ada mayat. mayat, dan anggota tubuh….”
“Terserah apa yang kamu katakan. Aku tidak bisa banyak membantu.” Kino membuka panel item, mencari-cari senapan apa yang sekiranya bagus.
“Em?” Rikka memandang pada luar kelas, pada lorong gelap nan kotor. “Aku akan ke toilet sebentar.”
“Apakah perlu aku temani?”
“Tidak usah. Musuh juga tidak terlalu berbahaya.”
Rikka langsung beranjak dan menuju ke toilet, meski dia sendiri juga tidak terlalu mengetahui di mana letaknya.
Tidak akan menjadi masalah besar untuknya ketika tidak tahu di mana toilet yang dicarinya. Palingan, mengitari tempat ini beberapa lama juga akan berhasil untuk menemukan tempat itu. Beberapa hantu atau monster di jalanan bisa diurusnya dengan mudah, jadi itu tidak akan menimbulkan masalah apa-apa. Dia bukan Rikka ketika pertama kali masuk di grup. Keputusan Keith untuk membawa mereka ke dunia Seirei Tsukai no Blade Dance pada permulaan adalah keputusan yang tepat.
“Hmm… apakah dia juga bisa menjadi psikopat sama seperti Miko?” tanya Kino dalam monolog.
Kino membuang pikiran-pikiran tidak berguna dari dalam kepalanya, kemudian kembali pada panel item di depannya.
“Kalian, akhirnya aku berhasil menemukan kalian juga…,” panggil Souseiseki.
“Oh, Souseiseki kah?” Miko berbalik dan melihat pada sosok transparan Souseiseki.
“Kalian ini…. Jika aku sedang mencari kalian, kalian jangan bergerak ke mana-mana. Jangan berpindah tempat jika sedang dicari seseorang. Ini akan membuat situasi menjadi saling mencari tanpa pernah bertemu satu sama lain.” Dia melayang mendekat pada Suiseiseki dan Miko.
“Maaf, maaf. Kami hanya sedang bosan untuk diam di sana, jadi kami berdua berjalan-jalan sedikit,” alasan Suiseiseki.
“Ngomong-ngomong, di mana kedua orang itu? Kino dan Rikka, ‘kan?” Souseiseki memandang sekitar untuk mencari mereka berdua, namun tentu saja tidak menemukan karena keduanya memang tidak ada di sana.
“Keduanya? Kedua manusia itu memutuskan untuk berpisah dari kami, sih.” Souseiseki menaruh tangan di pinggangnya. “Sayang sekali, ya. Padahal akan lebih mudah mendapatkan [Skill Scroll] dengan bantuan darimu, sih.”
“Kalian berpisah untuk mencari benda itu!” teriak Souseiseki terkejut.
“Huh… memang benar akan lebih cepat menemukan benda yang terpisah jika berpisah. Tapi ….” Souseiseki memegang dagunya. “Bagaimana jika ada sesuatu yang kuat menghampiri mereka? Kekuatan rata-rata dari monster di sini memang lemah, aku akui itu. Masalahnya adalah kuantitas mereka yang sangat banyak, bisa menguras tenaga kita.”
“Itu terdengar berbahaya …,” gumam Miko.
“Benar, ‘kan?”
“Tenang saja. Aku yakin entah bagaimana mereka pasti bisa mengatasi semua kesulitan yang mendatangi mereka.” Miko tersenyum cerah pada mereka berdua.
‘Kepercayaan diri dari mana itu?’ batin dua boneka bersaudara itu.
Ketika mereka berdua asyik bercakap-cakap di tempat suram, tiba-tiba Keith datang menghampiri mereka berdua. Tujuan awalnya memang untuk menemukan mereka para anggota grup, jadi bukan sesuatu yang luar biasa atau kebetulan untuk menemukan keduanya. Terlebih lagi, dia memiliki [Kenbunshoku Haki] yang membantunya.
“Admin! Akhirnya kamu kembali lagi ke sini, ya?” sapa Miko dengan tersenyum.
“Apakah itu sindiran?” tanya Keith juga dengan tersenyum.
“Benar!” respon Miko tanpa rasa bersalah.
‘Dia… apakah dia memiliki dendam kesumat padaku karena membawanya ke tempat ini? Seharusnya dia tidak akan marah hanya karena dekorasi tempat ini yang buruk, lagi pula dia sudah terbiasa melihat mayat dari dunianya sebelumnya,’ batin Keith.
“Hahaha, kamu kelihatan imut ketika mengatakan itu, Miko-chan.” Keith merespon dengan tertawa, mencoba mencairkan suasana.
“Hmm? Siapa gadis yang ikut denganmu itu?” Suiseiseki mengamati secara seksama pada sosok di belakang Keith, Sachiko Shinozaki.
“Sachiko Shinozaki, desu. Aku adalah adik barunya Nii-san,” jawab Sachiko enteng.
“Keith, aku rasa kamu memiliki kepribadian yang buruk untuk membawa semua orang menjadi keluargamu. Lebih lagi, fetishmu juga sangat buruk untuk mengambil loli mayat,” komentar Souseiseki datar.
“Benar sekali, kamu adalah makhluk yang menjijikkan, Manusia.” Suiseiseki memandang jijik Keith.
“Sudah, sudah, kalian ini bisa saja berbicara seperti itu.” Keith hanya tersenyum sebagai respon, kemudian mengubah topik. “Dari pada itu, aku akan memiliki kabar penting untuk kalian. Kabarnya adalah tentang kutukan di tempat ini.”
“Kutukan!” Suiseiseki berteriak dan langsung menggigil ketakutan.
“Ya.” Keith mengangguk. “Kutukan ini akan membuat siapapun yang terkena menjadi gila dan memiliki kepribadian psikopat, seperti memainkan mayat.”
Suiseiseki secara spontan langsung memandang Miko.
“Bukan aku,” jawab Miko ketika merasakan tatapan tidak nyaman Suiseiseki.
“Tapi, kamu tadi memainkan mayat, ‘kan?” Suiseiseki mengingatkan.
“Kutukan ini lebih berpengaruh pada orang yang memiliki energi sihir atau mana yang rendah,” tambah Keith.
“Aku memiliki kontrak dengan tiga roh, jadi manaku seharusnya lebih banyak dari mereka berdua,” argumen Miko.
“Kalau begitu yang terpengaruh kutukan ini, jangan-jangan ….” Suiseiseki menghentikan kata-katanya.
“Rikka Takanashi!” tebak Suiseiseki dan Miko secara bersamaan.
“Rikka sangat lama, ya? Apakah dia tahu di mana toiletnya? Jangan-jangan dia sudah dikepung mayat hidup,” gumam Kino.