Inter-Universe Anime Group Chat

Inter-Universe Anime Group Chat
Glasya-Labolas


Rikka melakukan serangan langsung pada Glasya-Labolas, namun sayang sekali kekuatannya tidak cukup dan serangan yang satu ini ditangkis sepenuhnya oleh roh itu. Kemudian, Glasya-Labolas mengangkat lengan kirinya yang masih utuh, kemudian mengincar Rikka yang berada tepat di bawahnya. Serangan berat ini sudah pasti akan memberikan kematian instan jika mengenai tubuh Rikka. Henge no jutsu hanya mengubah bentuk, tidak untuk kekuatan dan lainnya.


*Ikat!*


Dari sisi lain, Claire menggunakan cambuknya untuk menahan pergerakan roh militer ini.


“Cepatlah menghindar! Dan, jangan bertindak gegabah untuk selanjutnya,” ujar Claire tidak senang dengan tindakan asal-asalan Rikka.


“Maaf!” Rikka melompat mundur, dan berlari menjauh setelah itu.


*Drap!* *Drap!* *Drap!*


Miko menggantikan Rikka dan terus berlari mendekati Glasya-Labolas.


*Srak!*


Tepat di depan Glasya-Labolas, dia menempelkan sebuah jimat peledak sebelum menghentakkan kakinya untuk memberikan dorongan mundur, menjauh dari tubuh besar Glasya-Labolas.


*Bom!*


Sekali lagi, sebuah ledakan terjadi dengan suara keras yang memekakkan sekitar.


Memang sudah beberapa lama sejak Glasya-Labolas ke luar dari segelnya, tetapi beberapa penonton masih kesulitan untuk ke luar dari arena, seperti kentut yang kesulitan ke luat dari celana. Mereka kurang mempedulikan ledakan itu dan lebih khawatir pada keselamatan diri mereka sendiri. Wajarlah, saat nyawa di ujung tanduk manusia akan memikirkan hal-hal yang paling berharga baginya.


“Apakah berhasil?” tanya Rikka.


Miko, Rikka, dan Claire berdiri pada satu baris yang sama, di depan beberapa langkah dari Glasya-Labolas. Mereka mengamati pada roh raksasa itu yang memiliki asap menutupi sebagian dari tubuhnya. Mereka berharap jika roh ini kalah dalam serangan ini, kemudian mereka bisa lebih bersantai dari pada berada di dalam arena hidup dan mati ini.


Namun sayang sekali, makhluk yang satu ini tidak semudah itu untuk dibuat tumbang. Dia masih berdiri dengan kokoh di atas tanah menggunakan kedua kakinya tanpa luka di tubuhnya, kecuali pergelangan tangan kanannya yang telah musnah sebagai akibat dari serangan Miko sebelumnya. Seperti yang diharapkan dari roh militer tingkat atas, dia memiliki pertahanan yang cukup baik.


“Mungkin, aku harus menyerang pada bagian persendiannya untuk bisa memberikan luka. Bahkan perutnya yang terlihat tipis itu memiliki pertahanan yang lebih kuat dari yang aku bayangkan,” kata Miko sambil mengamati Glasya-Labolas.


“Hmm… sebenarnya kita tidak harus mengalahkannya, bertahan sampai bantuan datang juga merupakan sebuah pilihan. Apakah kamu yakin bisa mengatasi makhluk sebesar itu?” tanya Claire. Menyerang persendiannya seharusnya akan menjadi lebih sulit karena bidang serangan yang kecil.”


“Tenang saja. Aku akan menggunakan Strengthen Self Talisman ketika mendekatinya. Menggunakan dukungan dari Nekoma, ini akan baik-baik saja selama aku tetap fokus pada pergerakannya. Selain itu, dia sepertinya bergerak lambat dan mudah dibaca,” jawab Miko.


“Bahkan jika kamu mengatakan dia bergerak lambat, bukankah gerakannya tidak akan melambat karena ukurannya ketika searah dengan tarikan gravitasi?” ujar Rikka.


Nilai nominal "rata-rata" di permukaan bumi, yang dikenal sebagai gravitasi standar, menurut definisi, adalah 9.80665 m/s2, dengan gaya massa dikali percepatan. Tentu saja, ada perbedaan gravitasi di setiap wilayah permukaan bumi,  tapi kita mengambil rata-ratanya. Dalam pelajaran sekolah, biasanya gravitasi bumi dibulatkan menjadi 9,8 m/s2 atau 10 m/s2.


Ketika sebuah benda bergerak melawan arah tarikan gravitasi, maka percepatannya akan berkurang seiring besarnya massa yang dimiliki. Glasya-Labolas yang memiliki bentuk besar memiliki kekurangan berupa sulitnya dia bergerak dengan bobot tubuhnya. Namun ketika dia jatuh, maka kekuatan serangannya akan menjadi berat sesuai massa jenis dan volume tubuhnya.


“Sudahlah, jangan terlalu banyak mengeluh. Tugas kita adalah mengalahkan atau mengulur waktu melawan roh ini sampai semua orang pergi,” kata Claire. “Sepertinya dia tidak memiliki pemikiran strategi dan hanya menyerang secara liar. Kita akan menggunakan taktik yang sama seperti sebelumnya.”


“Hah… kenapa aku harus menjadi korban di sini?” tanya Rikka menghela napas kesal.


Bahkan jika dia tidak senang dengan harus menjadi umpan, tetapi dirinya masih memiliki kesadaran bahwa banyak kehidupan yang berada di pundak mereka. Jika mereka melarikan diri, beberapa orang yang masih berdesak-desakan mencari jalan ke luar akan menjadi korban. Lari bukanlah pilihan saat ini dan mengulur waktu dipertanyakan sampai kapan harus melakukannya. Tidak ada jaminan bahwa bantuan akan menolong mereka secepatnya.


Rikka kembali berlari menggunakan gerakan monoton, langsung menghampiri dari depan. Strategi? Sepertinya itu tidak diperlukan dalam melawan musuh yang liar. Selain itu, elemental waffe-nya telah berubah bentuk menggunakan Henge no jutsu sehingga memiliki bentuk katana yang ramping. Pokoknya, dia menginginkan benda dengan luas penampang kecil untuk membuat gaya tekanan lebih besar pada target.


“Gurooo….” Glasya-Labolas meneriakkan suara tidak jelas, mengintimidasi lawannya.


Rikka tanpa rasa takut terus menerjang maju sambil bersiap menghindar dan menggunakan Henge no jutsu bila dia harus memperkecil ukuran tubuhnya menjadi lalat seperti sebelumnya.


Claire mengejar Rikka dan berlari di sampingnya. “Aku akan membantumu untuk menahannya. Sepertinya damage dealer kita memerlukan sedikit lebih banyak waktu untuk membuat serangan kuat. Dia berniat untuk mengakhiri ini dalam satu serangan.” Dia juga sedikit tersenyum karena darahnya mendidih dalam perasaan semangat.


•••••


—Miko PoV—


Huh, baiklah. Rikka dan Claire mempertaruhkan nyawa mereka untuk memberikanku lebih banyak waktu dalam membuat serangan. Mereka mengandalkanku untuk membuat serangan kuat yang bisa mengakhirinya. Aku harus bisa mengalahkannya dengan cepat sebelum kami kehabisan tenaga di tempat ini. Aku pasti bisa melakukannya.


Explosive Talisman, Piercing Wind Talisman, Sharp Cutting Talisman, Lightning Bird Talisman, Strengthen Self Talisman, aku tidak memiliki banyak pilihan dalam serangan. Tidak semua dari semua serangan yang aku miliki bisa memberikan pengaruh pada roh ini. Jika aku harus memilih, strategi terbaikku dalam melancarkan serangan jarak jauh adalah menggunakan Piercing Wind Talisman untuk mendorong jimat penyerang lainnya.


Namun cara ini juga memiliki kelemahan. Aliran angin dari Piercing Wind Talisman sulit dikendalikan. Musuhku hanya satu, dia memiliki pertahanan tinggi dan aku perlu menyerang persendiannya. Taktik ini tidak cocok untuk digunakan karena hanya memiliki akurasi rendah. Aku harus menggunakan serangan yang bisa mengenai persendiannya secara tepat.


Kalau begitu, aku akan mendekatinya dan menempelkan jimat-jimat peledak dari dekat!


Namun selain masalah ini, aku memiliki masalah pada jumlah mana yang aku miliki. Aku akan menonaktifkan Okuri-san dan Kitsuna, kemudian fokus pada Nekoma untuk menambah kecepatanku. Dalam satu serangan, aku harus bisa mengalahkannya sebelum manaku habis.


—Third Person PoV—


Miko menonaktifkan jaket zirah dari Okuri. Ini merupakan langkah yang sangat berani karena membuatnya lebih rawan pada serangan. Namun sejak awal, memangnya pertahanan tambahan ini berguna untuk melawannya? Ini kurang lebih tidak terlalu berpengaruh sejak awal.


Sama seperti sebelumnya, Miko melalui jalur memutar dari arena, menghindari langkah langsung ketika datang menghampiri Glasya-Labolas. Alasannya sangat jelas, itu untuk menghindari perhatian Glasya-Labolas sebisa mungkin dan karena Author kehabisan ide dalam battle ini. Kalian sendiri bayangkan saja jika menulis adegan aksi sepanjang ini.


Perbedaannya, kali ini Claire dan Rikka memberikan beberapa serangan selain mereka yang fokus menghindar. Keduanya sebisa mungkin membuat perhatian Glasya-Labolas lebih tertuju pada mereka dan mengabaikannya Miko Yotsuya yang akan memberikan serangan.


Dengan Strengthen Self Talisman yang menempel di tubuhnya dan kibasan angin di bawah kakinya dari Nekomata, dia bergerak lebih cepat dan lebih lancar. Sedikit saja menambahkan output dari sihirnya, maka dia akan terlihat seperti melayang dan sama sekali tidak menyentuh tanah. Yah, ini sudah cukup sebagai permulaan.


*Srak!* *Srak!* *Srak!* *Srak!*


Sampai pada Glasya-Labolas yang direpotkan Claire dan Rikka, Miko segera menempelkan semua jimat peledak di persendian Glasya-Labolas. Sebuah taktik yang bisa membuat musuh kalah dalam satu serangan dengan satu gerakan besar.


"Ini semua adalah jimat peledak. Mundur atau kalian akan terkena dampaknya!" teriak Miko memberikan peringatan.


"Baik, baik!"


"Oke!"


Miko dan Rikka langsung berlari menjauh dari tubuh Glasya-Labolas dengan banyak kertas mantra. Pekerjaan mereka sudah selesai setelah Miko berhasil menempelkan semua kertas jimat itu, sekarang mereka hanya perlu menunggu Miko untuk berlari menjauh dan ledakan kembang api besar akan terjadi.


*Deg!* *Deg!*


Namun ketika Miko akan menarik mundur dirinya, tiba-tiba dia merasa berat pada tubuhnya. 'Apa-apaan ini? Jangan-jangan, aku sudah kehabisan mana?' Matanya membelalak ketika Glasya-Labolas perlahan mendekat padanya. Bukan hanya itu, kebetulan dia berada di dekat Glasya-Labolas karena baru saja selesai menempelkannya kertas mantra.


Elemental waffe berbentuk cincin dari Nekoma menghilang ketika dia kehabisan mana. Dia memang berada di dalam situasi berbahaya saat ini. Tetapi perlu diingat, Author yang baik hati ini pasti akan membuat Miko baik-baik saja, kok. Aku yakin kalian sudah menebak ini sejak melihat Miko dalam bahaya.


"Ber-berhenti, jangan mendekat …," ucapan lirih Miko ketika melihat Glasya-Labolas semakin mendekati dirinya. 'Seharusnya aku memperhitungkan jumlah mana yang aku keluarkan.'


"Miko!" Claire segera berlari ke arah Miko untuk menyelamatkannya.


Pergerakan Glasya-Labolas memang lambat, tetapi dia lebih dekat pada Miko. Di sisi lain, Claire lebih cepat, tetapi jaraknya juga jauh karena dia lari sejauh mungkin menghindari ledakan sebelumnya. Siapakah yang akan sampai ke tempat Miko terlebih dahulu? Baca saja novel ini lebih lanjut.


*Rope!*


"Akh…," suara Miko ketika Claire menggunakan cambuknya yang mengikat pada perut Miko.


Oh, dia sudah menghilangkan api di Flame Tongue, jadi ini tidak masalah dan tidak terlalu hot (/= panas).


*Srut!* *Bugh!* *Bugh!* *Brak!*


Dengan mudah, Claire menarik mundur tubuh Claire. Namun karena tarikan itu menggunakan gaya (force) yang cukup kuat, Miko Yotsuya malah terlempar ke belakang, beberapa meter sebelum dia berhenti karena menabrak dinding.


"Sekarang! Ledakan dia!" aba-aba Claire.


'Tidak bisakah kamu memperlakukan seorang wanita dengan lebih tenang?' batin Miko.


*Bom!* *Bom!* *Bom!* *Bom!* *Bom!*


Kemudian, Author bukan Superman yang memiliki kekuatan super. Author adalah manusia biasa yang memerlukan makan dan minum. Bila kalian peduli, bisakah kalian memberikan donasi lewat saweria? Link sudah ada di awal-awal BAB.


*Sss.*


Asap tebal menghilang dengan tubuh Glasya-Labolas yang sama sekali tidak tersisa di tempatnya. Roh itu benar-benar lenyap dari tempatnya. Tidak ada sedikitpun dari bagian tubuhnya yang ada di sana.


"Yatta, kita berhasil!" teriak Rikka riang hati.


"Humu, sudah kuduga aku memang hebat." Claire mengangguk dengan penuh puas dan bangga.


'Kenapa kamu yang senang? Padahal aku adalah orang yang membuat ledakan?" batin Miko.


Dengan ini, selesai sudah hari-hari mereka dalam menghadapi Glasya-Labolas selama beberapa menit. Sama seperti hukum relativitas yang dikatakan Albert Einstein, beberapa menit ini adalah menit-menit yang panjang bagi mereka bertiga selama pertarungan yang penuh akan ketegangan.


Apakah Glasya-Labolas sudah berakhir? Eits, belum.


•••••


Beberapa saat yang lalu, ketika pertarungan berada dalam tahap yang inten-intennya, Keith secara sembunyi-sembunyi menggali lubang di bawah tanah menggunakan sihir manipulasi tanah miliknya.


"Yosh, dengan ini sudah selesai. Aku bisa menjalankan rencanaku," monolog Keith ketika dia berdiri di sisi lubang dalam yang dibuatnya. "Untung saja sebelumnya aku memperhatikan notifikasi Sistem tentang Miko dan Rikka yang masuk arena, jadi aku bisa ke mari tepat waktu."


Saat ini Keith berada dalam mode pengamat, jadi dia tidak bisa menerima serangan. Wow, sungguh mode yang sangat curang.


"Rencanaku adalah, aku akan membuat lubang besar di bawah arena. Ketika Glasya-Labolas akan dikalahkan, aku akan membuka tutup lubang dan membiarkan Glasya-Labolas jatuh ke dalam tanah. Glasya-Labolas yang memiliki tubuh besar akan kesulitan untuk ke luar dari lubang, atau malah tidak bisa melakukannya sama sekali. Huh, ini membuat waktuku berkurang selama 5 menit untuk menggali lubang besar ini."


Keith melanjutkan dengan memanjat naik ke atas. Dia bisa memilih apa yang akan menembus tubuhnya dan apa yang tidak menembus tubuhnya selama berada di dalam mode pengamat. Dia juga memilih bagian tubuh secara spesifik mana yang akan menembus dan mana yang tidak. Dengan begitu, dia masuk ke dalam tanah padat, Kemudian bergerak naik ke atas seperti naik pada tangga. Benar-benar kemampuan yang sangat praktis meski kekurangannya adalah dia yang tidak bisa menyerang.


Di atas arena, dia hanya membuat sebagian dari kepala sampai matanya yang berada di atas permukaan lantai, sedangkan tubuhnya yang lain tetap berada di dalam tanah. Ini dilakukannya untuk menyembunyikan keberadaannya dari para anggota grup yang masih bisa melihat dirinya.


'Baiklah, sekarang saatnya bertindak,' batin Keith ketika dia melihat Miko menempelkan banyak kertas jimat pada Glasya-Labolas. 'Aku tidak menyangka dia akan menggunakan ledakan, tetapi baguslah karena asap ledakan akan menutupi Glasya-Labolas.'


*Bom!* *Bom!* *Bom!* *Bom!* *Bom!*


Berbagai ledakan terjadi. Bersamaan dengan itu, Keith turun sedikit ke bawah tanah pada ruang kosong, masuk mode peserta, membuka pintu lubang di bawah Glasya-Labolas sehingga membuat roh ini jatuh, kemudian dia menutupnya kembali dan masuk mode pengamat.


Selanjutnya, dia turun ke bawah, terus sampai tempat Glasya-Labolas yang telah yang telah tidak berdaya dengan banyak bagian tubuh telah rusak dan sebagian dari sisa tubuhnya mulai menjadi partikel cahaya. Kemudian, keberadaan roh Pengamuk yang membuatnya menggila telah menghilang dan dia sudah kembali pada normalnya.


"Aku hanya mengambil rezeki yang kebetulan ada di depanku. Tolong terimalah kontrakku ini dan jangan marah." Keith masuk dalam mode peserta, menempelkan tangannya pada tubuh Glasya-Labolas, kemudian mulai membuat kontrak.


*Shrink!*


Baguslah, dia berhasil membuat kontrak kali ini. Di tangan kirinya, tercipta sebuah simbol roh.


[Ding! Anda telah menyelesaikan misi rahasia. Anda mendapatkan 3.000 poin karena menyelesaikan misi.]


[Ding! Keith Claes telah menyelesaikan misi rahasia. Anda menerima 2.400 poin sebagai bayaran.]


"Hmm… jadi aku dihitung sebagai peserta dan admin ketika menyelesaikan misi, ya." Keith memegang dagunya. "Baguslah. Dengan ini kemungkinan aku bangkrut lebih kecil. Enaknya beli apa saat punya banyak poin, ya."


———


Nama: Miko Yotsuya


Keadaan: Online


Quotes/ideologi: Abaikan mereka, dan mereka akan mengabaikanmu.


Skill: Elemental waffe, Explosive Talisman, Piercing Wind Talisman, Sharp Cutting Talisman, Lightning Bird Talisman, Strengthen Self Talisman.


Affinity: Api, air, angin, petir.


Poin: 1.800.


———


Nama: Rikka Takanashi.


Keadaan: Online.


Quotes/ideologi: Mereka yang melihat Tyrant Eye-ku, membuat kontrak jiwa denganku!


Skill: Tyrant Eye, Henge no jutsu, Elemental waffe.


Affinity: Tanah.


Poin: 1.200.


———


Nama: Kino.


Keadaan: Online.


Quotes/ideologi: Ketika engkau melihat burung terbang di langit, bukankah kamu memiliki keinginan untuk mengembara?


Skill: Elemental waffe, Cheon Bu's External Energy Control from the Three Skills.


Affinity: Cahaya.


Poin: 2.787.


———


Nama: Keith Claes.


Keadaan: Online.


Quotes/ideologi: Dunia tidak dibangun oleh satu orang.


Skill: Earth Manipulation, Kaifuku Mahō, Cheon Bu's External Energy Control from the Three Skills.


Affinity: Tanah.


Poin: 15.920.


———


[Rikka Takanashi, 1.400 → 2.200]


[Kino, 2.787]


[Miko Yotsuya, 1.000 → 1.800]


[Keith Claes, 9.240 → 15.920]