Inter-Universe Anime Group Chat

Inter-Universe Anime Group Chat
Roh Tersegel


Mereka semua melanjutkan perjalanan di dalam hutan. Setelah beberapa lama, akhirnya mereka sampai ke sebuah tempat yang yang berupa bangunan runtuh. Bangunan tersebut masih bisa dikenali, dimasuki, dan diidentikkan meski terlihat tidak terawat dengan berbagai tumbuhan memenuhi bangunan tersebut. "Kuno" menjadi kata yang cocok untuk menjelaskan tentang penampilan dari bangunan ini.


'Lokasi dari tempat ini berada jauh dari bangunan utama akademi. Tidak banyak orang yang mau pergi ke sini dalam melewati jalanan yang memerlukan waktu puluhan menit untuk melewatinya. Selain tidak banyak pekerjaan yang bisa dilakukannya di sini, tempat ini yang menjadi lokasi dari roh tersegel membuat siswi-siswi lebih memilih untuk menghindarinya. Tidak aneh bila tempat ini menjadi tidak terawat dan tertinggal.' Keith memperhatikan sekelilingnya dengan tangannya yang memegang dagu.


'Sebagian dari kalian yang berpikir pasti bertanya-tanya, bagaimana bangunan kuno ini masih bisa berdiri meski telah termakan waktu? Sebenarnya aku sendiri juga masih belum mengetahui alasannya. Bila mengatakan konstruksi yang kuat, seharusnya gempa bumi bisa meruntuhkannya. Aku ragu orang di jaman dulu bisa membuat teknologi anti gempa bumi. Meski bangunannya terkesan sederhana, tetapi lebih tahan lama menggunakan bahan-bahan alami.'


'Namun penjelasannya paling masuk akal tentang bertahannya bangunan kuno di dunia ini adalah menggunakan sihir. Potensi dari sihir itu sendiri masih belum diketahui. Tidak aneh bila di masa depan yang jauh reaksi nuklir bisa dilakukan hanya menggunakan sihir. Bila hal itu terjadi, maka cadangan energi di dunia tidak akan pernah habis. Bahan bakar konveksi seperti minyak bumi, minyak, dan lain-lain, akan berubah menjadi energi listrik dari reaktor nuklir.'


'Saat ini, di dunia nyata, negara Tirai Bambu—China—telah berhasil membuat matahari buatan. Tujuan dari proyek ini bukan untuk menyaingi ciptaan alam, melainkan untuk membuat sumber energi alternatif yang ramah lingkungan. Bila semua energi berubah menjadi seperti itu, maka negara-negara yang menjadi pengekspor sumber bahan bakar, seperti minyak, batu bara, gas alam, dan sebagainya akan langsung terpuruk. Mengapa juga harus menggunakan bahan bakar yang tidak ramah lingkungan bila ada yang lebih baik? Maka dari negara di dunia seperti Indonesia dan Arab Saudi dalam bahaya bila bahan bakar nuklir sampai terwujud.'


*Tash!*


Claire Rouge berdiri di depan pintu masuk bangunan tersebut. Dia mengibaskan tangannya dan menghancurkan sesuatu yang tampak seperti penghalang tipis dengan warna transparan seperti kaca.


Penghalang itu sama sekali tidak terlihat dan tembus pandang seperti kaca. Jika secara tidak sengaja masuk, bisa-bisa menabrak penghalang tersebut dari pada berhasil masuk. Lokasi dari penghalang itu tidak aneh ketika di dalam bangunan ini terdapat roh tersegel yang kuat. Untuk apa melepaskan bencana jika tidak yakin bisa mengatasinya? Hanya seorang yang sakit jiwa dan ingin dunia hancur seperti Pain atau Nagato yang akan melakukannya.


'Rasa-Rasanya aku pernah melihat adegan ini di dalam animenya. Yah, sudahlah. Mungkin aku hanya salah ingat.' Keith langsung membuang pemikiran dalam kepalanya dan masuk mengikuti mereka berempat.


Di dalam sana, mereka berempat dan Keith melewati lorong-lorong lembab dengan beberapa batuan yang telah runtuh. Ketahanan dari bangunan ini masih cukup bagus dan tidak perlu dipertanyakan, intinya masih aman untuk masuk dan berada di sana. Tempat ini tidak akan roboh secara tiba-tiba dan tidak akan menimbun mereka, setidaknya untuk hari ini dan saat ini. Berbeda lagi ceritanya bila Keith menggunakan pengendalian tanahnya dan meruntuhkan semuanya.


Tempat ini gelap, Claire Rouge menggunakan pengendalian apinya untuk membuat kobaran kecil sebagai sumber cahaya. Pandangan mereka terhalang oleh gelapnya lingkungan sekitar, tetapi untung masih bagus untuk bisa melihat yang ada di sekitar mereka. Penyergapan menjadi mimpi buruk, tetapi untung saja tidak ada yang berniat untuk menyakiti mereka di sini.


"Tempat lembab dan gelap, sangat cocok untukku yang berpapasan dengan segelas dan mata iblis…," Rikka Takanashi menggumamkan sesuatu yang tidak jelas.


"Fumu, fumu, tempat ini sangat sepi dan tidak banyak orang yang datang ke mari. Sangat cocok untukku." Claire mengangguk beberapa kali menyetujui pendapat Rikka.


"Aku memiliki sebuah tujuan." Claire diam sejenak, dan melanjutkan, "Dan untuk mencapai tujuan itu, aku memerlukan roh yang kuat. Aku sudah tidak bisa mundur lagi setelah mencapai tempat ini."


"Begitu, ya." Kino memahami perasaan Claire. "Aku tidak tahu seberapa kuat roh yang akan kita hadapi, tapi aku akan membantumu."


"Apakah kamu tidak merasa takut, Kino-san?" tanya Miko.


"Cukup berbahaya untuk melawan roh yang tidak diketahui kekuatannya, tapi jika aku membiarkannya dan dia mati di sini, aku akan merasakan penyesalan seumur hidupku, jadi aku tidak ada pilihan lain selain mengikutinya. Terlebih lagi …." Kino mengarahkan senyuman lembutnya pada Miko sebelum melanjutkan, "Kita berempat pasti bisa mengatasinya apapun yang terjadi. Aku yakin itu."


"Ya-Yah, jika kamu mengatakannya seperti itu." Miko masih sedikit merasa khawatir, namun dia kembali fokus pada jalanan di depannya.


Di antara mereka berempat, dia adalah yang paling tidak memiliki pengalaman bertarung. Jika pun pernah, dia pernah melakukan kuncian pada seseorang, selebihnya tidak memiliki pengalaman bertarung atau memikirkan tentang pertarungan. Dia berbeda dengan Rikka Takanashi yang memiliki semangat atau setidaknya dia banyak berkhayal tentang bertarung. Dia sama sekali tidak memiliki banyak motivasi untuk bertarung.


Akhirnya, mereka sampai di sebuah ruangan. Di dalam ruangan tersebut terdapat sebuah pedang tertancap pada altar batu. Kesan dalam ruangan ini bahkan lebih mistis dan lebih magis dibandingkan lorong-lorong yang telah mereka lewati sebelumnya. Cahaya yang jatuh dari atas langit-langit dan langsung mendarat di atas pedang dan altar menambah kesan sakral dari pedang yang tertancap di batu itu.


Berbeda dari ruangan sebelumnya yang gelap, cahaya dari langit-langit di atas altar menjadi sumber penerangan yang lain. Claire mematikan kobaran api di tangannya setelah itu tidak diperlukan. Kemudian, tempat ruangan yang luas ini membuat pergerakan menjadi lebih leluasa dan cocok untuk tempat bertarung.


'Bukankah itu adalah segel dari Terminus Est? Menurut alur aslinya, bukankah Kazehaya Kamito seharusnya lebih dulu mendatangi Claire sebelum mereka menuju ke tempat ini? Apakah ini merupakan semesta yang berparalel dari Seirei Tsukai no Blade Dance yang asli? Atau adakah perubahan dalam plotnya?' Keith mengangkat alisnya dengan heran.


'....'


'Ah, sekarang aku sudah ingat. Dalam plot aslinya, Claire Rouge seharusnya sedang mandi di danau sebelumnya ketika Kazehaya Kamito datang. Dengan dia yang langsung menuju ke mari, artinya Kazehaya Kamito belum datang. Mereka bertiga sudah mengubah plotnya. Kisah ini akan berbeda dari plot asli karena Terminus Est akan membuat kontrak dengan orang yang berbeda dari Kazehaya Kamito.'