
“Pakaianmu tampak kotor dan berantakan, Kamito. Katakan, apakah kamu baru saja diserang oleh roh selama perjalanan ke mari?” tanya Greyworth dengan sedikit senyuman nakal. Dia melihat pada tangan kanan Kazehaya Kamito di mana segel kontrak roh berada di sana. “Apakah itu segel kontrak roh?”
“Yah, bagaimana bilangnya ya. Ini hanya kebetulan. Aku membuat Kontrak dengan seekor Roh. Warnanya silver-putih, kalau aku gagal membuat kontrak, aku tak mungkin berada disini saat ini.” Kamito sedikit tergagap ketika membalas.
Kazehaya Kamito, protagonis dari anime Seirei Tsukai no Blade Dance atau jika harus dibahasakan ke dalam bahasa Indonesia judul anime tersebut adalah Tarian Pedang sang Pengguna Roh. Kazehaya Kamito menjadi satu-satunya laki-laki yang masuk ke dalam Akademi Roh Areishia, kemudian dimulailah perjalanan membentuk harem oleh Kazehaya Kamito. Selesai.
“Ha, kamu memang banyak berubah, bahwa kamu menjalin kontrak dengan Roh selain dia.” Mata keabu-abuan di balik kaca mata Greyworth, memicing tajam. “Akhirnya kamu mengucapkan selamat tinggal pada hantu itu, begitukah?”
“Guh!” Ucapan Greyworth sebelumnya berisikan nada sindiran itu membuat emosi Kamito seolah akan meledak. “Dia bukan hantu! Dia itu ….” Dia tidak menyelesaikan kalimatnya setelah itu.
Kamito mengeluarkan secarik kertas dari dalam kantongnya, lalu menaruhnya di depan meja. Sang Penyihir cantik tak bergeming sedikitpun. Ketenangan yang tak tergoyahkan. Seperti yang diharapkan dari kepala sekolah. Dia memiliki ketenangan dan tidak mudah untuk diganggu atau merubah emosinya. Dengan menyembunyikan ekspresi aslinya, banyak informasi yang bisa disembunyikan ketika melakukan negosiasi atau pertarungan.
Kamito menggigit bibirnya, lalu bertanya pada Greyworth, “Ini, kau mengirimkan ini padaku, apa ini memang benar?”
“Ah, itu benar. Penyihir tak pernah berbohong," kata Greyworth.
“Memang, kau belum pernah berbohong. Tapi kau belum pernah berbicara jujur juga.” Kamito mengujarkan semua yang ia ingin katakan seakan semua posisi dan kekuatan Greyworth tidak ada artinya di hadapannya. Entah apakah itu nekat atau kebodohan, dia tetap melakukannya. “Yah, terserahlah. Katakan padaku semua yang kau tahu!”
“Oh, anak muda. Itukah sikap seseorang saat bertanya pada Penyihir? Tiga tahun lalu kamu lebih manis, lho." Greyworth sedikit tersenyum saat mengatakannya.
Suka sekali dia menggoda orang ini. Dia seperti seseorang yang masih muda dengan sikapnya yang seperti ini. Namun meski demikian, itu tidak mengubah usianya yang telah tua. Jangan terpengaruh oleh penampilan dan sikap seorang wanita begitu saja. Lihatlah pula diri asli yang disembunyikan dari semua orang. Jika tidak seperti itu, kamu hanya akan dimanfaatkan dan mati!
“Kucing akan berubah menjadi Harimau dalam tiga tahun. Jangan pikir aku akan terus menjadi piaraanmu selamanya," bentak Kamito.
“Kucing tak berubah menjadi Harimau dan tak akan pernah.” Greyworth sengaja mengangkat bahunya dan menatap lekat lekat ke arah mata Kamito.
Yah, sebenarnya jika kalian adalah anak IPA dan mendalami Biologi, kalian seharusnya tahu bila harimau dan kucing berada dalam satu takson. Kucing dan harimau merupakan hewan yang sama-sama memiliki rahang besar, gigi taring tajam dan memiliki cakar yang dapat dimasukan. Persamaan tersebut membuat keduanya digolongkan dalam takson yang sama pada kategori suku atau famili felidae.
Kamito merasa sangat tertekan oleh tekanan dari tatapan luar biasanya itu. Dia sangat kuat di dunia luar, tetapi dunia tidak sesempit itu untuk menjadikan dirinya sebagai yang terkuat. Pasti masih ada banyak orang yang jauh lebih kuat darinya, terutama ketika dia hanya merupakan manusia. Manusia memiliki kekuatan yang rapuh bila dibandingkan kingdom-kingdom lainnya.
“Yang tertulis di sana itu benar. Roh terkontrakmu masih hidup," Greyworth mengurangi tekanan yang diberikan pada Kamito.
Pembicara di antara mereka tidak akan berjalan bila satu sisi berada di dalam kondisi tertekan. Lagi pula jika memberikan tekanan pada pihak lain, maka itu maknanya bukan membuat kesepakatan, melainkan menindas satu pihak lainnya. Di mana keadilan bila hal seperti ini terjadi? Lingkungan kacau dan tidak damai akan terbentuk bila satu pihak terus-menerus merugikan pihak lainnya. Jika lingkungan tidak damai, maka diri sendirilah yang akan menerima akibatnya.
Namun pada posisi Kamito dan Greyworth saat ini yang dilakukan mereka berdua memang tidak bisa dikatakan sebagai negosiasi yang adil. Greyworth memiliki seseorang yang berharga bagi Kamito, sedangkan Kamito berada di posisi tertekan tanpa kemampuan untuk melawan balik. Dia sangat-sangat dirugikan.
“Guh!” Kamito menelan kembali ludahnya. 'Penyihir tak berbicara jujur. Namun ia juga tak akan berkata bohong.' Dia berbicara kemudian, “Restia, bagaimana kau bisa tahu tentang Restia?” Kamito meninggikan suaranya, menyandarkan badannya di salah satu meja kantor.
*Buk!*
Sang Penyihir tanpa menggerakkan alisnya, menjatuhkan setumpuk dokumen di depan Kamito.
“Apa ini semua?” Kamito tidak dapat menahan dirinya untuk tidak bertanya.
“Surat persetujuan. Tanda tanganlah disini," jawaban santai Greyworth.
“Ini tak masuk akal. Apa maksudmu?” Kazehaya Kamito mengerutkan keningnya dengan rasa penasarannya.
“Tak ada yang tak bisa kau pahami. Kau pikir untuk tujuan apa aku memanggilmu kesini? Apa kamu paham kalau aku, sang Penyihir Senja, akan begitu saja memberikanmu informasi karena kebaikan hati?” Alisnya sedikit turun di tengah membuat matanya sedikit lebih tajam di balik kaca mata itu.
“Aku sangat paham kalau kau tak punya apa apa selain kelicikan.” Kamito meraih selembar dokumen, lalu membantingnya ke meja depannya.
Dibundel dengan klip, Surat Pemberitahuan Akademi Roh Areishia. Tertulis di sana, tak diragukan lagi adalah Profil latar belakang Kamito. Dia bisa langsung paham bila dia akan dimasukkan ke dalam Akademi Roh Areishia ini. Sudah pasti ini akan menjadi bencana ketika seorang pria berada di dalam akademi yang isinya wanita semua.
“Lelucon macam apalagi ini?”
“Hari ini kamu adalah siswa Akademi ini. Jangan khawatir, aku sudah mengurus semua prosedur yang diperlukan.”
“Bagaimana aku bisa tenang! Apa maksudmu dengan semua ini, jelaskan!” bentak Kamito.
“Aku memerlukanmu. Itu saja.”
“Ha?” Kamito tidak bisa percaya pada apa yang baru saja ia dengar.
Informasi tentang Restia berada di tangan Greyworth. Informasi itu diperlukan Kamito untuk mendapatkannya kembali. Dia tidak memiliki pilihan lain selain menerima ini. Mencari satu orang di antara jutaan orang bukanlah ide yang bagus jika hanya mengandalkan rasa nekat semata. Hal ini juga berlaku untuk roh, yang mana ada banyak roh dengan beragam bentuk dan elemen.
“Apa yang kau bicarakan? Maksudku, akademi ini, adalah taman bagi para gadis," tambah Kamito.
“Bukan masalah. Hal semacam itu bukanlah hal besar dengan menggunakan kekuasaanku.”
“Itu sendiri sudah jadi masalah! Sekarang berbeda dari tiga tahun yang lalu!” Dia termakan oleh provokasi Greyworth.
*Tok!* *Tok!* *Tok!*
Untung saja ketika situasi menjadi semakin memanas, seseorang mengetuk pintu. Dengan ini setidaknya tidak akan ada konflik berarti yang terjadi di antara mereka. Meskipun Kazehaya Kamito emosian terhadap masalah ini, dia masih memiliki akal sehat untuk mengendalikan dirinya, untuk tidak sembarangan marah di depan banyak orang sekaligus. Dia bisa mengendalikan dirinya.
*Brak!*
Tanpa mendapatkan izin dan dipersilahkan masuk, seseorang mendobrak pintu dan langsung masuk begitu saja.
"Kepala Sekolah, kami gagal menemukan roh it—!" Ellis lah orang yang seenaknya masuk ke dalam tanpa permisi dan tanpa diundang.
Dia memiliki kepentingan untuk melaporkan tentang roh tersegel sebelumya pada Greyworth, tetapi bukan berarti dia bisa masuk seenaknya tanpa sopan santun dan izin. Mengetuk pintu sebelum masuk memanglah salah satu adat sebelum masuk ke dalam ruangan, tetapi bukan berarti bisa langsung masuk ke dalam seenaknya. Ini sama saja masuk secara paksa tanpa izin dan tanpa permisi.
"La-Laki-laki? Ke-Kenapa ada laki-laki di sini?" Dia langsung tercengang ketika melihat Kamito di depan pintu.
'Kenapa kamu tercengang hanya karena laki-laki?' tanya Kino dalam benaknya.
Kino mengekor pada Ellis sejak dia ikut dalam menenangkan roh tersegel, Terminus Est. Roh itu memang tidak berhasil mereka temukan karena Kamito lah yang menjadi orang yang menjinakkan roh tersebut selama perjalanan ke gedung akademi ini. Membuat masalah, kemudian membiarkan orang lain untuk menyelesaikannya. Apakah ini yang dinamakan melempar batu sembunyi tangan?
"Oh, Ellis. Kau sudah kembali, ya." Greyworth tersenyum padanya sebelum melanjutkan, "Dia adalah orang yang kuundang ke sini untuk menyelesaikan beberapa kepentingan. Akrablah dengannya, ya?"
"Kepala sekolah, bagaimana aku bisa setuju dengan ini! Bagaimana aku bisa percaya pada makhluk hina seperti dia? Kenapa dia harus ada di sini!" teriak Ellis menggunakan nada tinggi.
"Bocah?" Pandangan Kazehaya Kamito tertuju pada Kino.
Kino memang memiliki penampilan maskulin bila dilihat sekilas. Terlebih lagi, dia saat ini memakai seragam mirip laki-laki yang berbeda dengan siswi di sini. Tidak aneh bila Kazehaya Kamito menganggap Kino sebagai bocah pada awal pertemuan dengannya. Bukan hanya Kamito, bahkan Author sendiri juga nyangka kalau Kino itu adalah bocah ketika pertama kali menonton anime Kino no Tabi. Baru sadar kalau dia cewek ketika melihat di fandom atau halaman penggemar.
"Karena aku ada kepentingan yang hanya dia yang bisa menyelesaikannya. Bukankah alasan ini sudah cukup untukmu?" kata Greyworth pelan.
"Ta-Tapi …!"
"Cukup, Ellis! Apakah kamu ingin aku mengulangi perkataanku?" Greyworth menatap tajam padanya sambil memberikan beberapa tekanan.
"Ti-Tidak. Maaf…," permintaan maaf dengan kepala tertunduk.
Ada perbedaan kekuatan besar antara kekuasaan Ellis dengan Greyworth. Terlalu berat sebelah jika Ellis meminta bertarung. Dia akan dengan mudah dibantai oleh Greyworth, secara fisik maupun secara mental. Pilihannya untuk membangkang sebelumnya bukan sesuatu yang tepat untuk dilakukan, sedangkan dia melakukannya karena emosi sebelumnya.
"Bagus. Kalau begitu, siapkan tempat tinggal untuknya, dan jangan lupa dengan seragamnya. Ksatria Sylphid milikmu terlalu sia-sia jika tidak memiliki pekerjaan. Menjadi kuli adalah cara terbaik untuk menggunakan kalian. Lalu untuk roh sebelumnya, kalian tidak perlu mengurusnya. Sudah ada orang lain yang mengatasinya," kata-kata Greyworth yang sangat menusuk.
"Baik, Kepala Sekolah." Ellis merasakan sebuah anak panah imajiner menusuk jantungnya.
Ksatria Sylphid yang ia banggakan dipanggil dengan sebutan "kuli", orang yang melakukan pekerjaan pembangunan? Ini merupakan penghinaan! Jika bukan karena Greyworth ada di sini, dia akan meledak dan menyerang orang yang berani mengatakan itu padanya. Sayang sekali karena itu adalah Greyworth, dia hanya bisa menahan rasa amarah di dalam hatinya.
"Jadi seperti itu, Kazehaya Kamito. Silahkan ikuti wanita itu," kata Greyworth.
"Siapa mereka?" Kamito masih belum tahu tentang mereka, jadi dia bertanya. Terutama pada Kino. Ini pertama kalinya dia melihat ada laki-laki yang berhasil menjadi pengguna roh selain dirinya.
"Kami adalah kuli. Aku harap itu cukup untuk menjawab rasa penasaranmu," jelas Kino.
"Kuli?" Alis Kamito terangkat dengan heran.
Mana mungkin Kazehaya Kamito bisa menerima jawaban itu!