Inter-Universe Anime Group Chat

Inter-Universe Anime Group Chat
Duel-2


“Hou, sepertinya itu adalah sesuatu yang menarik. Bagaimana jika aku bergabung dengan timmu? Kita berdua bisa mengejarnya bersama-sama, lho,” tawaran Claire.


“Hum, baiklah. Kamu boleh saja bergabung bersamaku untuk melawannya. Tapi jika kamu menjadi beban, jangan harap aku akan menolongmu nanti. Tanggung sendiri jika kamu sampai terluka,” jawab Rinslet.


“Kita lihat saja nanti siapa yang akan terluka, Rinslet Laurenfrost!”


Di sisi lain, Kamito menghampiri Miko sambil bertanya, “Siapa dia?”


“Miko! Aku tidak tahu kamu ada di sini. Apa yang kamu lakukan?” tanya Rikka setelah sampai di samping Miko.


“....” Sebagai individu yang pingsan, tentu saja dia tidak bisa menjawab.


“Pingsan ketika di dalam Astral Zero sangat berbahaya. Di sini ada beberapa roh jahat yang bisa menyerangmu. Apa tidak sebaiknya kita membawanya kembali?” saran Kamito.


“Hmm… benar juga.” Rikka hampir setuju, tetapi dia menambahkan, “Tapi, bukankah pertarungan ini akan dimulai? Kita akan dianggap sebagai pengecut dan penakut jika sampai tidak ada saat kejadian.”


Miko perlahan sadar dan membuka matanya. Dia masih cukup lelah dengan tubuhnya ini. Satu roh jahat datang, kemudian dia akan mati. Teman yang bisa menjaganya diperlukan atau dia akan menjadi makan malam para roh di dalam Astral Zero ini. Meski luka fisik diubah menjadi luka mental, bukan berarti itu tidak menyakitkan ketika dimakan hidup-hidup.


“Apakah kamu bisa berjalan ke luar dari sini, Miko?” tanya Rikka tanpa rasa cemas.


‘Mana mungkin aku bisa bergerak!’ teriakan tidak terima Miko. “Ma-Maaf. Tubuhku terlalu lemah, aku tidak bisa berjalan untuk sementara waktu. Kenapa kalian ke sini?”


“Kami hanya akan melakukan beberapa duel,” jelas Rikka. “Oh, iya. Jika kamu ada di sini, kamu akan terkena imbas dari duel kami. Apakah kamu benar-benar tidak bisa bergerak dari tempat ini?”


“Aku hanya perlu beberapa istirahat …,” tambah Miko.


Mereka menunggu beberapa waktu ke depan sampai Ellis dan Kino sampai ke Astral Zero ini. Mereka memang datang beberapa menit lebih cepat dari yang seharusnya untuk membuat beberapa persiapan yang lebih matang dalam menghadapi Ellis dan Kino yang dianggap kuat oleh mereka. Pasti ketakutan, tuh, ketika meminta duel dengan dua orang yang kuat, Kino dan Ellis.


Miko untuk sementra waktu dipindahkan ke kursi penonton yang mengelilingi tempat itu. Dengan adanya Carol Natasha, setidaknya keamanannya lebih terjamin. Yah, berdoa saja. Kalau sampai ada roh jahat atau roh iblis yang menghampiri mereka, ya… habislah riwayat mereka. Jangan terlalu berharap untuk selamat di dalam Astral Zero.


Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya datang juga musuh mereka, Kino dan Ellis. Keduanya memang sengaja datang sedikit terlambat agar tidak menjadi pihak yang menunggu. Kalian tahu, menunggu itu membosankan. Jadi dari pada menjadi pihak yang menunggu, Kino dan Ellis menjadi pihak yang menunggu. Benar-benar jahat dan menyebalkan, bukan?


“Wah, wah, kalian sudah bersiap untuk kalah rupanya. Jangan salahkan aku jika kalian menjadi gila, ya,” ucap Ellis ketika dia datang ke arena.


Kino berjalan dengan tenang mengikuti Ellis di belakangnya. Dia memakai pakaian lengkap seperti ketika sedang mengembara. Tampaknya dia menjadi lebih serius karena beberapa alasan, atau mungkin karena tempat ini dingin? Tempat Astral Zero memang tempat dimensi lain, tetapi tempat ini tidak terlalu jauh dari akademi. Apakah ini bahkan bisa disebut sebagai pengembaraan?


“Tidak, kamulah yang akan kalah malam ini. Ini adalah perbedaan jumlah dua kali lipat!” teriak Claire dengan bersemangat.


“Oi, jangan meremehkan mereka. Tidak baik untuk meremehkan lawan,” saran Kamito.


“Be-Benar. Kino sangat kuat dan mampu menyerang dari jarak jauh,” tambah Rikka.


“Aku tidak peduli! Pokoknya dia menjadi musuhku ketika bergabung dengannya!” teriak Claire pada mereka berdua.


“Jadi kalian mendapatkan anggota baru, ya. Kazehaya Kamito, Rikka Yotsuya, Claire Elstein, dan Rinslet Laurenfrost, tidak peduli seberapa banyak semut yang kalian kumpulkan, pada akhirnya semut tetaplah semut. Itu tidak akan pernah bisa melawan dan mengalahkan kami berdua,” kata Ellis.


“Hmph! Mana tahu kalau belum dicoba! Mari kita mulai, Scarlet!”


*Flame!*


Roh api milik Claire berubah menjadi bentuk elemental waffe-nya. Wujud elemental waffe dari scarlet adalah cambuk api yang dinamai Flame Tongue (/= Lidah Api). Dengan api yang menyala-nyala, setiap serangan Claire akan memberikan kerusakan lebih banyak ke pada lawannya. Belum lagi elemen api yang dimilikinya memberikan lebih banyak siksaan ketika membakar lawan.


Mungkin ini adalah alasan mengapa Claire memilih cambuk sebagai senjatanya. Senjata cambuk memiliki bentuk yang sama dengan bentuk elemental waffe roh kontrak miliknya. Ketika dia terbiasa menggunakan cambuk, maka dia juga akan terbiasa menggunakan elemental waffe dari roh kontraknya, Scarlet. Selain senjata yang berbeda dari umumnya, dia juga melatih penggunaan elemental waffe. Cukup bijak.


“Aku anggap kedatangan kalian di sini sudah sangat serius dan tidak akan mundur. Karena itu, aku juga akan serius!” Ellis membusungkan dadanya ketika dia memanggil roh kontraknya. “Simorgh!”


*Wosh!*


Pusaran angin kencang mengikut ketika roh kontrak Ellis dipanggil. Dalam waktu sepersekian detik, seekor elang raksasa muncul dan langsung membumbung tinggi di langit.


“Situasinya menjadi serius, ya!” Rikka memanggil roh kontraknya yang telah berwujud elemental waffe di tangan kanannya.


Bentuk elemental waffe itu adalah sebuah palu panjang yang tergolong dalam senjata tumpul. Sebagai senjata tumpul, serangannya sangat berat meski tidak tajam. Ini juga memiliki pertahanan bagus sebagai tambahan. Tergantung bagaimana Rikka menggunakannya, itu akan menjadi berguna atau tidak berguna. Sebelumnya saja dia hanya bisa menggunakannya dalam satu serangan.


“Oi, ke mana roh kontrak milikmu? Cepat keluarkan itu!” Claire berteriak pada Kamito yang diam saja mengamati.


“Tidak, tidak, tidak, apakah aku memang harus terlibat dalam pertarungan ini?” tanya Kamito yang tanpa motivasi.


“Cepat keluarkan itu!” Claire mengepalkan tangannya ketika dia mulai emosi.


“Hah, baiklah.” Kamito menghela napas sebelum memejamkan matanya untuk berfokus dan mengucapkan mantra, “Ratu Baja Berkepala Dingin, pedang suci yang melenyapkan kejahatan Sekarang terbentuklah Pedang Baja dan jadilah kekuatan di tanganku!”


Dan sayangnya, sama seperti di animenya, wujud elemental waffe Terminus Est sangat menyedihkan dan meragukan apakah itu akan berguna. Bentuk aslinya adalah sebuah pedang, namun yang berhasil Kamito panggil kali ini lebih tampak seperti pisau kupas apel. Bentuknya sangat pendek dan kecil dengan daya tahan yang diragukan. Bahkan jika penggunanya ahli, belum tentu itu akan berguna. Ini berkebalikan dengan Rikka.


“Apa? Bukankah kamu bisa membuat kontrak roh dengan mudah sebelumnya? Kenapa milikmu sangat kecil?” Claire tercengang ketika melihat elemental waffe itu.


“Ya-Yah, sudah lama aku tidak menggunakan roh yang dikontrak. Aku hanya tidak terbiasa,” alasan Kamito.


Author sendiri juga memahami tentang alasan Kamito, sih. Jika kamu dalam jangka waktu lama tidak menggunakan keahlian terbaikmu, kamu tidak akan tahu kapan kemampuan itu akan berkarat. Author sendiri setelah berhenti main game BanG Dream selama beberapa bulan, saat main lagi keterampilannya banyak berkurang. Karena itu kita perlu latihan rutin setiap hari untuk memastikan bila kemampuan kita tidak akan berkarat.


“Kik!” Simorgh menukik ke bawah dengan kecepatan tinggi, mengarah langsung ke pada mereka berempat. Menggunakan serangan angin dengan bentuk tebasan bertubi-tubi, belasan pisau angin langsung tertembak ke bawah pada mereka berempat.


*Brak!!*


Untung saja keempatnya berhasil melompat sebelum menjadi cincangan daging karena angin kejam dari roh elang itu. Keberuntungan di awal-awal pertarungan. Tidak buruk.


“Gaha!” Kamito hampir saja terkena hempasan angin, “Apakah itu cara ksatria bertarung? Melawan musuh yang belum siap, ha?” Kamito menggertakkan giginya dengan kesal.


“Semua adil dalam cinta dan perang! Jangan terlibat dalam masalah ini jika kamu tidak ingin menerima akibatnya!” Ellis sedikit menyeringai. Dia juga memberikan catatan pada Kino, “Sebaiknya kamu juga cepat, lho. Aku mungkin akan mengalahkan mereka sebelum kamu bertindak.”


“Roh kontrak milikku memberikan peningkatan kecepatan. Apa kamu melupakan itu?” jawab Kino menggunakan pertanyaan.


“Menurutmu karena siapa kita terlambat ke tempat ini? Jika bukan karena kamu, kita pasti bisa datang lebih awal dan terlihat keren pada mereka. Kita terlambat karena dirimu,” Ellis mengingatkan.


“Hah, baiklah.” Kino mengeluarkan pistol dari pinggang kanannya dan menggunakannya di tangan kanan tanpa memanggil roh kontrak miliknya.


Pistol itu adalah pistol karet yang sebelumnya dibeli dari grup. Tidak terlalu berbahaya ke pada lawan, tetapi cukup menyakitkan untuk terkena serangan dari pistol karet itu. Kalau tidak percaya, kalian silahkan saja mencoba sendiri pistol tersebut pada diri kalian sendiri. Jika sudah, silahkan tulis di kolom komentar seperti apa rasanya terkena tembakan dari pistol karet.


Kurang lebih seperti itulah perdebatan kecil di antara mereka berdua. Memang sedikit menyulitkan ketika memiliki teman yang lambat dalam segala hal, namun menjadi tugas kita untuk memberikan pengertian ke pada mereka. Tapi jika teman kita itu sudah keterlaluan, mungkin bisa dijadikan uang, ya….


“Kalian tidak maju menyerang? Kalian tidak akan bisa menang jika hanya diam di sana, lho,” kata Ellis sedikit mengejek.


*Sis!* *Sis!* *Sis!*


Beberapa panah es meluncur langsung ke tempat Ellis.


*Tat!* *Tat!* *Tat!*


Kino menggunakan pistol karet miliknya langsung membidik anak panah es, kemudian menembakkan peluru karet padanya.


Kedua serangan itu saling bertabrakan di udara dan menghilangkan satu sama lain.


“Jangan lengah, Ellis-san. Mereka memang lebih lemah darimu, tapi bukan berarti mereka bisa diremehkan.”


“Aku tahu.” Ellis melanjutkan dengan mengeluarkan pedangnya dari sarungnya, kemudian dia maju pada mereka semua.


“Hmph! Jadi akhirnya kamu memilih untuk maju, ya, Nona Ksatria!” Claire membuat elemental waffe-nya menari di udara.


*Pishi!* *Pishi!* *Pishi!*


Cambuk api tersebut berayun pada Ellis dengan kejamnya. Setiap serangan darinya bertujuan untuk membunuh lawan tanpa memberikan ampunan sedikitpun. Yah, luka fatal memang tidak akan terlalu berbahaya mengingat mereka berada di dalam Astral Zero saat ini. Tapi ini memang kejam!


Ellis dengan lincah menghindari satu per satu jalur cambuk yang mengarah padanya. Serangan yang tidak bisa dihindari diatasi menggunakan pedangnya. Untung saja pedangnya mampu untuk menangani panas dari cambuk Claire atau dirinya lah yang akan terbakar. Pedang milik Ksatria Sylphid memang tidak main-main dari segi bahan.


“Kamito!” Claire memberikan aba-aba.


“Kamu menyuruhku menyerang, tapi serangan apa yang bisa aku berikan?” Kamito dengan malas melemparkan Terminus Est pada Ellis. Ini adalah satu-satunya serangan yang bisa ia pikirkan untuk dilakukan.


*Trank!*


Kino menembak Terminus Est dari kejauhan, membuat pisau kecil itu terbanting ke tanah tanpa memberikan kontribusi dalam pertarungan.


‘Ini mengejutkan! Bukankah itu adalah roh tersegel sebelumnya? Kenapa bisa itu menjadi selemah ini?’ tanya Kino di dalam kepalanya.


“Uryaaa!” Rikka menerjang maju tanpa taktik atau apapun ke arah Ellis.


Serangannya adalah dia yang melompat ke udara dan menjatuhi Ellis menggunakan bobot dari senjatanya. Serangan yang sangat bodoh untuk dilakukan karena selama di udara dia tidak akan bisa menghindar. Namun selain mengendalikan mana-nya sebagai chuunibyou, memangnya apa lagi yang bisa Rikka Takanashi lakukan? Sejak awal dia memang tidak memiliki keahlian untuk masuk dalam pertarungan seperti ini.


*Clank!*


Ellis berbaik hati dengan menangkis palu besar milik Rikka. Kedua senjata ini saling beradu dan kemenangan di antara mereka ditentukan pada seberapa besar gaya (force) yang dikeluarkan oleh masing-masing pihak. Seperti yang telah dipelajari dalam pelajaran fisika, gaya akan bergerak mengikuti arah gaya yang lebih besar setelah dikurangi besar gaya yang lebih kecil ketika ada dua gaya dengan arah berlawanan.


“Seranganmu memang kuat. Tapi itu sama sekali tidak cukup untuk dibandingkan kami, Ksatria Sylphid.”


“Jangan remehkan aku. Aku sudah berkembang dari pelatihan biasa.” Rikka sedikit menyeringai ketika mengatakan itu.


*Poof!*


Rikka menerapkan Henge no jutsu ke pada elemental waffe miliknya. Senjata yang sebelumnya palu itu berubah menjadi katana mirip seperti yang dimiliki Miko Yotsuya. Rikka memang menggunakan itu sebagai referensi perubahannya.


“Apa?” Ellis terkejut ketika katana itu merosot melalui pedangnya dan langsung mengarah pada tubuhnya.


Sebelumnya, pedang miliknya terangkut pada kepala palu Rikka, membuat gerakan palu tersebut berhenti dengan tersangkut di pedangnya. Namun ketika palu memiliki wujud yang berbeda, wujud di mana kepala palu menghilang, serangan itu langsung mengarah ke tubuhnya dengan tebasan tajam dari katana. Perbedaan dampak serangan tentu saja ada antara palu dan pedang.


ketika area mengecil dengan gaya yang sama besar, maka tekanan yang dihasilkan akan semakin membesar dan ketika area diperbesar, maka tekanan yang dihasilkan akan mengecil. Sama seperti materi fisika yang satu ini, serangan dari katana yang memiliki luas permukaan kecil memberikan lebih banyak gaya dari pada palu yang memiliki luas permukaan besar.


Tunggu, ini nulis novel atau belajar fisika, ya?


*Tank!*


Memanfaatkan akurasi tingginya, Kino dari kejauhan menembakkan sebuah peluru dan mengubah arah lintasan Rikka. Serangan itu membuat serangan Rikka meleset dan hanya menebas tanah di samping Ellis.


“Khukhukhu, ini bukan hari keberuntunganmu, anak muda.” Ellis cekikikan dengan riangnya melihat serangan Rikka yang meleset. “Mari kita menjadi lebih kuat, Ray Hawk!” panggil Ellis terhadap roh miliknya itu. Bersamaan dengan itu, dia mundur beberapa langkah sambil menyarungkan kembali pedangnya itu.


Sungguh gerakan yang sangat disayangkan dan sia-sia, ya. Padahal dia memiliki banyak kesempatan untuk menebas Rikka menggunakan pedangnya ketika senjata Rikka itu sedang menabrak tanah. Namun sebagai ksatria terhormat dan meremehkan lawan di depannya, Ellis memilih langkah yang akan membuatnya terlihat semakin keren. Sepertinya dia mulai mengikuti jalan asal klan Megumin yang selalu berpenampilan keren ketika di depan orang lain.


“Kik!” Roh milik Ellis, Roh Iblis Angin, tersebut membuat suara pekikan kuat sebelum dia menghilang digantikan sebuah tombak.


Tombak tersebut jatuh ke tangan Ellis. Dia memutar-mutar tombak tersebut beberapa kali sambil menciptakan hembusan angin pada setiap putarannya.


Ray Hawk, sebagai perwujudan dari Roh Iblis Angin memiliki kemampuan yang sama, yaitu kemampuan untuk menciptakan hembusan atau bahkan bilah angin dari ujungnya. Ditambah keterampilan Ellis dalam menggunakannya, senjata ini bukan main-main.


“Guh!” Rikka tersentak mundur beberapa langkah karena hembusan angin dari tombak. Lebih buruknya lagi, dia malah memejamkan matanya karena hembusan angin kencang ini.


Dia tidak terbiasa dan tidak berpengalaman ketika berada dalam situasi terpojok. Sebagai manusia biasa dari dunia modern, secara reflek dia memejamkan matanya ketika ada sesuatu yang lewat dekat depan matanya.


*Sis!* *Sis!* *Sis!*


Beberapa panah es mengarah pada Ellis.


*Trank!* *Trank!* *Trank!*


*Pishu!* *Pishu!* *Pishu!*


Claire menambahkan serangan menggunakan cambuk apinya, Flame Tongue.


*Wush!*


Dengan mudah, Ellis menghalau menggunakan hembusan angin dari tombaknya.


*Set!*


Kamito maju pada Rikka, kemudian dia membawa gadis itu kembali mundur, di luar jangkauan serangan Ellis.


*Sut!* *Sut!* *Sut!* *Tank!*


Ellis memutar-mutar tombaknya beberapa kali sebelum menjatuhkan pangkalnya ke tanah. “Jadi itu tujuan kalian dalam gerakan ini. Kalian ingin menyelamatkan rekan kalian dari posisi terpuruk, ya.” Dia membuat kuda-kuda dalam memegang tombak. “Aku tidak tahu mengapa kalian memilih menyelamatkan rekan tidak berguna dalam duel ini. Tapi, yah, aku tidak peduli.”


“Jangan remehkan kali. Selanjutnya, kami pasti bisa mengalahkanmu!” teriak Claire lantang.


“Hmph! Coba saj—!” kata-kata Ellis terhenti ketika sebuah fenomena terjadi di atas kepala mereka. Dia mengarahkan kepalanya ke atas diikuti oleh mereka semua. “Perasaan ini….”


Di atas langit, awan merah gelap berputar di dalam hitamnya malam hari. Pusaran yang terbentuk oleh awan itu memiliki diameter yang sangat luas, lebih luas dari tempat mereka melakukan duel ini. Mereka terperangah keheranan ketika melihat pusaran awan itu. Namun tentu saja, Ellis, Claire, Kamito,dan Carol dapat memahami fenomena yang sedang terjadi di atas kepala mereka ini.


“Mungkikah itu roh iblis?” tanya Kino dalam monolog dengan santai. “Aku belum pernah melihatnya dan hanya mengetahuinya dari literasi dalam perpustakaan, Ini pertama kalinya aku melihat fenomena seperti ini secara langsung. Ini akan menjadi cerita yang bagus untuk Hermes nanti ketika aku kembali ke mengembara bersamanya.”


Roh iblis tersebut muncul dari tengah-tengah lingkaran. Wujudnya cukup sulit untuk dideskripsikan, lebih tepatnya dia memiliki proporsi tubuh yang sangat meragukan atau sangat tidak masuk akal untuk menjadi makhluk hidup. Bentuk dari roh iblis ini hanya sebuah rahang dengan tubuh bulat berwarna ungu gelap. Selain rahangnya itu, dia tidak memiliki anggota tubuh lainnya seperti perut, mata, dan lain-lain. Ini sangat tidak masuk akal.


Masalahnya adalah, bagaimana dia mendapatkan nutrisi atau energi? Bukankah makhluk hidup itu memerlukan makanan untuk hidup? Jika dia tidak mempunyai tubuh, bagaimana cara dia mencerna makanannya? Jika dia tidak memiliki mata, bagaimana dia bisa mencari tahu posisi mangsanya? Apakah dia memiliki indera sensorik lainnya? Bagaimana dia bisa melayang tanpa sayap?


Jawabannya mudah. Lemparkan semua itu pada pernyataan “ini, tuh, dunia fantasi. Terserah apakah masuk akal atau tidak, yang penting alur terus berjalan”.


Lihatlah itu, mereka—Para Bijuu—. Bijuu sendiri masih tidak jelas apakah mereka dapat diklasifikasikan sebagai makhluk hidup. Para Bijuu tidak memerlukan makan, tidak dapat berkembang biak, dan tidak dapat tumbuh. Mereka telah ke luar dari klasifikasi makhluk hidup. Namun meski begitu, mereka masih dipanggil “seekor” yang menunjukkan bahwa mereka adalah hewan. Seharusnya, mereka itu adalah “sebuah” karena merupakan benda.


“Vuo…!” Roh Iblis itu mengeluarkan suara keras bersamaan dengan dia yang menukik jatuh ke bawah.


Namun anehnya, roh yang satu ini tidak mengarah pada gerombolan Ellis, Rikka, Claire, dan Kamito. Dia menuju ke arah lain.


“Jangan-jangan, tujuannya adalah….” Kamito mengamati pada jalur yang dituju roh itu. “Carol!”


“Eh? Eh!” Di tepi arena Carol merasa kebingungan dan ketakutan ketika dia menjadi incaran Roh Iblis.


Dia hanya manusia biasa di tempat ini. Berbeda dengan yang lainnya, setidaknya yang lainnya memiliki keterampilan bertarung dan keterampilan magis yang membantu mereka. Carol yang tidak memiliki kemampuan bertarung merasa ketakutan dan teror yang menembus tulang. Belum lagi, di tempatnya juga ada Miko yang kelelahan.


‘Gawat, setidaknya aku akan menggunakan jimat peledak. Tapi, aku kehabisan mana,’ batin Miko.


*Sis!* *Sis!* *Sis!*


Panah-panah es melesat dari Rinslet pada tubuh roh itu.


Dia sudah serius dalam menggunakan kekuatannya yang terlihat dari alis di wajahnya. Ini adalah situasi mendesak! Namun sayang sekali, semua anak panah yang mengenai tubuh dari roh itu sama sekali tidak memberikan dampak yang berarti. Roh itu bergeming dan terus menuju ke arah Miko dan Carol.


*Drap!* *Drap!* *Drap!*


“Legna!” Kino memanggil roh kontraknya bersamaan dengan dia yang menuju tempat Miko dan Carol.


Dalam sekejap, dia menutup jarak antara roh itu dengan dirinya. Mereka berdua memiliki arah tujuan yang sama, yaitu tempat Miko dan Carol berada.


*Cetas!* *Cetas!* *Cetas!*


*Tat!* *Tat!* *Tat!*


*Slash!* *Swush!* *Sis!*


Kino, Claire, dan Rinslet mengarahkan serangan mereka secara bersamaan pada Roh Iblis ini.


Namun sialnya, semua serangan mereka hanya menggores atau bahkan sama sekali tidak meninggalkan bekas pada Roh Iblis ini. Roh yang satu ini terus melaju pada Carol dan Miko yang ada di jalurnya.


*Set!* *Tap!*


Untung saja Kino berhasil sampai lebih cepat dari roh itu ke tempat Miko dan Carol. Dia dengan sigap langsung memasukkan kembali pistol karet itu, menggendong kedua orang ini, kemudian melompat pergi tepat sebelum roh itu melahap mereka bertiga.


*Sret!*


Kino mendarat di dekat Ellis dan yang lainnya sambil membawa Miko dan Carol setelah melompat dari tempatnya sebelumnya. Selain itu, Rinslet juga menuju ke sana dan berdiri di dekat mereka. Terlalu berbahaya untuk bergerak sendirian ketika melawan satu musuh yang kuat. Namun bergerombol juga akan membuat mereka kalap dalam satu kali serangan.


Fiuh, mana atau energi sihir telah terlatih melalui keterampilan Cheon Bu's External Energy Control from the Three Skills. Efek dasar dari kemampuan ini secara pasif adalah peningkatan kekuatan naik 10%, kelincahan naik 10%, stamina naik 10%, pemulihan stamina hingga 10%, pemulihan kelelahan hingga 10%. Selain kemampuan peningkatan pasif yang meningkat seiring naiknya level, juga ada peningkatan bonus ketika aktif. Bukan kemampuan yang buruk untuk awal perjalanan.


“Terima kasih sudah menyelamatkan pelayanku, Kino,” ucap Rinslet.


“Tidak perlu memikirkannya, lagi pula salah satu temanku juga ada di sana.” Pandangan Kino beralih pada Roh Iblis. “Yang lebih penting lagi, kita masih belum aman. Roh itu sepertinya sangat liar. Apakah ada yang memiliki strategi untuk mengalahkannya?”


“....” Tidak ada satupun dari mereka memberikan jawaban untuk pertanyaan Kino. Masing-masing dari mereka memandang satu sama lain, membiarkan yang lainnya berbicara. Melihat serangan mereka sebelumnya yang tidak berhasil, mereka tidak memiliki banyak gambaran tentang cara mengalahkan Roh Iblis ini. Jika pun rencana itu ada, mereka akan menyerang secara membabi buta.


“Kita hanya perlu menyerangnya terus menerus, bukan?” saran Claire.


“Hah, baiklah. Aku anggap kalian tidak memiliki rencana apapun untuk melawan dia.” Kino menghela napasnya saat dia mulai berjalan maju. “Aku akan menggunakan rencana Claire. Pertama aku akan maju dan mencari titik lemahnya. Kalian perhatikanlah bila dia terlihat melemah. Jangan khawatir, aku tidak berniat untuk mati. Lagi pula di antara kalian, aku adalah yang paling cepat.”


Setiap kali Kino melangkah ke Roh Iblis ini, langkahnya menjadi semakin cepat, sampai akhirnya dia berlari. Kemudian, dia memasukkan tembak karet itu kembali pada sarung di pinggang kanannya dan mengganti senjatanya menjadi senapan persuader yang disimpannya di belakang punggungnya. Kali ini dia serius dalam pertarungannya.


*Dar!* *Dar!* *Dar!*


Beberapa tembakan peluru berlapis sihir mengenai tubuh dari Roh Iblis.


“Gou…!” Roh tersebut terpengaruh dan mengincar Kino sebagai mangsanya.


‘Ternyata berhasil. Ini lebih mudah dari yang aku pikirkan sebelumnya.’


Tentu saja, itu masih senjata yang sama dari yang ia gunakan sebelum-sebelumnya. Tapi memang, bila dibandingkan tembakan karet, perbedaan kekuatannya terlalu jauh, belum lagi dia menambahkan kekuatan sihir ke dalam tembakannya. Selain memberikan luka fisik ke pada target, setiap dari tembakan Kino juga memberikan dampak magis yang menyumbangkan mayoritas luka pada target.


Status Kino yang paling tinggi adalah kecepatan. Menggunakan dukungan dari roh miliknya, Legna, dan menggunakan mana di kakinya, dia menambah kecepatannya pada kecepatan yang tidak bisa dilakukan oleh manusia normal. Kecepatannya tentu tidak mencapai level yang tidak masuk akal seperti suara atau cahaya, tapi ini lebih dari cukup untuk membuat musuhnya kesulitan menyerangnya.


Setiap kali dia bergerak, dia menembakkan peluru sihir dari senapan miliknya dan memberikan kerusakan. Ini menjadi sesuatu yang sangat mengejutkan bagi yang lainnya karena mereka tidak menyangka jika serangan Kino akan memberikan dampak, padahal serangan kombinasi di antara mereka sebelumnya sama sekali tidak bisa menggores tubuh makhluk ini. Mereka hanya bisa terkagum di tempatnya.


Ketika roh ini akan menyerang Kino, Kino menggunakan keuntungan dari kecepatannya untuk menghindar. Tidak ada satupun serangan roh ini yang berhasil mengenai Kino dan serangan-serangan itu hanya menyerang ruang kosong, Pertarungan menjadi pertarungan satu pihak dengan Kino menjadi pihak penyerang sedangkan Roh Iblis menjadi pihak yang dibantai.


Ketika ia kehabisan peluru, dia membeli peluru, amunisi, dan mesiu dari Sistem. Cadangan peluru sebatas poin miliknya berada di sisinya dan tangannya sangat cepat ketika dia memuat kembali senjata miliknya. Fokusnya sama sekali tidak berubah atas sebab dia telah melatih fokus dirinya dalam memvisualisasikan kemampuan menembak di dalam ruangannya selama dia menjadi pengembara dan sebelum-sebelum itu.


Latihannya bersama Master membuat Kino semakin ahli dan semakin lihai dalam menggunakan senjata jarak jauh dan strategi bertarung. Meskipun semua ini hampir tidak ada gunannya saat melawan musuh yang bisa ia lawan menggunakan serangan monoton, namun ini membuatnya terbiasa berada di medan pertarungan. Melawan masternya membuat dirinya terbiasa melawan musuh yang lebih kuat.


Alhasil, dalam waktu belasan menit di depan, Kino berhasil mengalahkan Roh Iblis ini tanpa sedikitpun luka. Dia menarik napas panjang dengan sedikit kelelahan, tetapi wajahnya masih tetap datar dan seperti tidak kelelahan. Kemampuan bertarungnya memang cukup gila di antara anggota grup dan dia menjadi yang terkuat saat ini.


“Dia memang kuat dibandingkan roh lainnya, tetapi tidak bisa dibandingkan roh tersegel. Ini tidak sulit.” Kino dengan santai memasukkan senapan persuader ke dalam sarung di belakang punggungnya dan berbalik pada mereka semua sebelum berkata, “Sekarang, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?”


Jujur saja, sebenarnya pertarungan ini dibuat deskripsi seperti itu biar cepat selesai, Gue sebagai penulis cukup lelah untuk menulis BAB yang satu ini.


———


Nama: Miko Yotsuya


Keadaan: Online


Quotes/ideologi: Abaikan mereka, dan mereka akan mengabaikanmu.


Skill: Elemental waffe, Explosive Talisman, Piercing Wind Talisman, Sharp Cutting Talisman, Lightning Bird Talisman, Strengthen Self Talisman.


Affinity: Api, air, angin, petir.


Poin: 1.000.


———


Nama: Rikka Takanashi.


Keadaan: Online.


Quotes/ideologi: Mereka yang melihat Tyrant Eye-ku, membuat kontrak jiwa denganku!


Skill: Tyrant Eye, Henge no jutsu, Elemental waffe.


Affinity: Tanah.


Poin: 1.400.


———


Nama: Kino.


Keadaan: Online.


Quotes/ideologi: Ketika engkau melihat burung terbang di langit, bukankah kamu memiliki keinginan untuk mengembara?


Skill: Elemental waffe, Cheon Bu's External Energy Control from the Three Skills.


Affinity: Cahaya.


Poin: 2.787.


———


Nama: Keith Claes.


Keadaan: Online.


Quotes/ideologi: Dunia tidak dibangun oleh satu orang.


Skill: Earth Manipulation, Kaifuku Mahō, Cheon Bu's External Energy Control from the Three Skills.


Affinity: Tanah.


Poin: 9.240.


———


[Rikka Takanashi, 800 → 900 → 1.400]


[Kino, 1.198 → 1.298 → 1.798 → 2.298 → 2.798 → 2.787]


[Miko Yotsuya, 1.000]


[Keith Claes, 7.000 → 7.080 → 7.480 → 9.240]