Inter-Universe Anime Group Chat

Inter-Universe Anime Group Chat
Upacara Kontrak Roh Militer


Kota Akademi adalah kota kecil yang terletak di dalam wilayah Akademi Roh Areishia. Panorama kota, yang tersusun atas bangunan dari batu, terisi penuh sesak oleh kerumunan warga. Sore ini, sebuah upacara kontrak roh diadakan oleh Ksatria Ordesia untuk mendapatkan satu orang baru yang berbakat. Pilihan mengambil peserta dari Akademi Roh Areshia menjadi pilihan yang tepat karena tempat itu merupakan akademi para pengguna roh dari kalangan elite, meski beberapa siswi di sana tidak masuk golongan elite.


Menurut penjelasannya dalam Seirei Tsukai no Blade Dance, Blade Dance atau Tarian Pedang sendiri merupakan salah satu ritual dengan tujuan untuk menyenangkan para roh. Namun tidak bisa dipungkiri, Blade Dance juga menjadi salah satu acara yang disenangi manusia. Roh menyukai manusia yang antusias dalam jumlah besar, atau kurang lebih seperti itu ketika Author mengecek pada Light Novelnya pada jilid 1 BAB 8 dengan judul “Penari Pedang Terkuat”.


“Kenapa aku ada di sini?” tanya Kamito dalam monolog bersama rasa linglung.


“Itu sudah jelas, bukan?” Ellis yang berada di sampingnya menyahut. “Sebelumnya kamu sangat kacau dalam menggunakan roh kontrakmu. Aku tidak tahu masalah apa yang kamu miliki, tetapi mungkin saja kamu akan mendapatkan pencerahan tentang cara menggunakan roh kontrak dengan baik dan benar jika melakukan pengamatan secara langsung pada bagaimana pengguna roh melakukan pertarungan. Perhatikan mereka baik-baik, aku yakin roh milikmu adalah roh kuat.”


“Hah… mengkuli lebih baik dari pada menonton pertandingan di sini.” Kamito menghela nafas lelah ketika merasa telah dipaksa mengikuti sesuatu di luar kemauannya. “Ngomong-ngomong, aku lebih penasaran ada di mana Kino-san saat ini. Aku tidak melihatnya sejak kita selesai kelas. Apakah dia baik-baik saja?”


“Tenang saja, Kamito-sama. Kino-san adalah orang yang kuat. Tidak peduli apa yang terjadi, aku yakin dia pasti akan baik-baik saja,” ujar Carol.


•••••


Di dalam arena hari ini ada sekitar 20 peserta yang mengikuti pertandingan ini. Mereka melakukan yang terbaik untuk menyerang setiap peserta lain sambil membuat pertahanan dan berusaha bertahan. Sistem battle royal ini mencari satu orang terakhir yang dapat bertahan dalam arena, kemudian dia akan membuat kontrak dengan Glasya-Labolas. Cara yang sangat cepat untuk mencari siapa pemenangnya karena hanya ada satu babak dan menunggu siapa yang bisa bertahan.


Di awal-awal pertarungan, berbagai serangan meluncur dengan sangat keras dan terus-menerus. Setiap kontraktor roh terus menyerang sambil berusaha menghindar dan bertahan sampai hanya tersisa dari setengan peserta. Ketika hanya tersisa dari setengah peserta yang menjadi sekitar 10 orang, ketujuh orang menyadari bahwa ada dua musuh kuat yang sampai sekarang tidak kelelahan dan masih berada dalam kondisi prima. Kedua orang itu juga masih belum bertarung sebelumnya.


Mereka berdua adalah Miko Yotsuya dan Claire Elstein. Sebelumnya, ketika masih banyak peserta tersisa, keduanya memilih berdamai dan tidak saling bertarung sebelum peserta lain tereliminasi. Alasannya sederhana, itu karena Claire menyadari Miko dengan ketiga roh kontraknya memiliki lebih banyak cadangan mana untuk mengeliminasi lebih banyak peserta, sedangkan Miko paham bila dia tidak bisa membagi fokusnya antara menyerang Claire dan bertahan dari peserta lainnya.


Bekerja sama untuk sementara waktu lebih bijak dari pada saling bermusuhan di awal dan kalah di garis start bersama. Keduanya juga saling mendapatkan keuntungan dengan saling membantu mengalahkan peserta lainnya. Yah, kalian tahu sendiri lah. Musuh dari musuh adalah kawan. Saat ini Claire dan Miko adalah musuh masing-masing, namun mereka berdua juga musuh dari musuh yang berupa peserta lain. Jangan ragu-ragu bekerja sama dengan saingan bila dalam kondisi lebih menguntungkan.


Ngomong-ngomong jika kalian menanyakan mengapa Rikka tidak masuk dalam narasi sebelumnya, bukannya Author melupakan tentang keberadaannya. Hanya saja, dia menggunakan Henge no jutsu untuk mengubah tubuhnya menjadi seekor lalat. Dari pada ikut dalam konfrontasi yang insten, dia lebih menghemat tenaganya untuk bersembunyi dan menunggu musuh berkurang jumlahnya.


Bahkan menjadi pengecut adalah salah satu bagian dari strategi. Antara menang dalam kehilangan harga diri atau kalah dengan bangga menjadi pilihan yang bisa diambil manusia. Namun saya sebagai seseorang hanya akan mengingatkan ke pada kalian, bukankah jika kalah maka akan kehilangan segalanya? Bahkan jika masih memiliki harga diri, jika tidak ada yang mengakuinya lagi, apakah itu masih berguna? Jangan terlalu sombong dan mencari gengsi.


Meskipun aku mengatakannya seperti itu, bukan berarti aku menyarankan pada kalian untuk menghalalkan segala cara untuk menang. Curang dengan sedikit pengecut boleh saja dilakukan karena ini sebenarnya adalah trik. Jika triknya adalah membuat perjanjian kemudian membatalkannya secara sepihak, maka ini bukan trik strategi melainkan adalah kecurangan murni. Hmm… sedikit sulit menjelaskannya, pokoknya jangan melakukan trik kotor. CUkup menggunakan trik bersih.


*Boom!* *Blar!* *Bam!*


Miko dan Claire menggunakan sihir secara menggila untuk membuat ledakan yang memenuhi arena. Dalam sekali serang, semua peserta langsung tumbang dan tereliminasi karena ledakan itu. Hanya tersisa mereka berdua yang menjadi penyerang dan Rikka yang kebetulan berada di sisi terluar arena di luar area ledakan yang berhasil selamat. Ini menjadi pertarungan tiga sisi menentukan.


“Seperti yang diharapkan dari rekanku. Kamu bahkan masih bisa berdiri tegak setelah menggunakan serangan sebesar itu.” Claire tersenyum dengan perasaan tertantang ketika menatap Miko.


Elemental waffe miliknya, Flame Tongue, berada di tangannya dengan kobaran api besar dan panas. Radiasi panas yang dipancarkannya membuat berkeringat pada orang di sekitarnya. Namun anehnya, Claire seperti tidak terpengaruh oleh panas dari senjatanya. Maka dari itu, sekali lagi mari kita katakan bahwa “hal ini karena berada di dunia fantasi”.


“Tidak bisakah kamu menyerah saja, Claire-san? Kamu sudah memiliki Scarlet sebagai kontrak rohmu, bukan? Kenapa kamu ingin mendapatkan lebih banyak roh kontrak? Apakah kamu tidak setia?” Miko membombardir dengan beberapa pertanyaan.


Pertarungan langsung adalah ide buruk bagi Miko. Sebelumnya saja dia tidak pernah menang dalam duel melawan Claire. Apa yang bisa dia harapkan untuk mengalahkan Claire? Menyakinkinkan musuh untuk menyerah terdengar tidak masuk akal di medan perang langsung, tetapi ingat lah pada Naruto ketika dia menggunakan Talk no jutsu pada Nagato.


Miko menggunakan ketiga elemental waffe-nya saat ini. Katana dari Kitsuna, jaket zirah dari Okuri, dan cincin dari Nekomata. Tanpa peningkatan dalam pertahanan, serangan, dan kecepatan, Miko yang notabene merupakan orang dari dunia modern akan langsung kalap di awal-awal pertarungan. Seperti yang dikatakan guru bahasa Indonesia Saya, jadilah orang yang beruntung.


“Orang yang memiliki kontrak dengan tiga roh tidak berhak mengatakan itu!”


*Syut!* *Syut!* *Syut!*


Cambuk tersebut meliuk-liuk di udara, dengan liar akan mulai mencambuk tubuh Miko menggunakan tubuhnya.


Ini berbeda dengan di Astral Zero. Mereka berada di dunia nyata saat ini. Ketika cambuk itu mengenai tubuh, maka itu akan benar-benar menjadi luka fisik, tidak dikonversikan menjadi luka mental. Untung saja Miko memiliki tiga roh yang membantunya, atau akan menjadi tindakan “edan” untuk mengikuti pertandingan ini tanpa kontrak roh.


*Sis!* *Sis!* *Sis!*


Miko menggunakan Explosive Talisman dan Sharp Cutting Talisman sebagai awalannya, kemudian dia menggunakan Piercing Wind Talisman untuk mendorong keduanya ke arah Claire.


“Tch!” Claire mendecih karena serangan Miko ini membuat dirinya berada dalam kondisi bertahan.


*Bom!* *Jleb!*


Claire menggunakan tubuh Flame Tongue untuk menahan Explosive Talisman dan membuatnya meledak di tengah jalan, namun sayangnya Sharp Cutting Talisman telah terwujud dan bilah tajam menusuk di bahu kirinya ketika tidak ada yang memblokir serangan itu.


Cukup beruntung untuk Claire karena serangan ini hanya mengenai bahu kirinya. Tangan dominan yang ia gunakan untuk bertarung adalah tangan kanannya. Meskipun terluka dan mengulangi daya tempurnya, tetapi setidaknya itu tidak membuat dirinya terpuruk sampai tidak bisa melanjutkan pertarungan.


"Kau sudah lebih berkembang rupanya." Claire agak terkejut pada perkembangan cepat Miko.


Juga, dia mengatakannya dengan normal seperti tidak merasakan sakit pada bahu kirinya yang berdarah karena serangan sebelumnya. Benar-benar mentalitas yang sangat berbeda dari dunia modern. Kalau orang sini terkena goresan dari silet saja, terasa ingin menangis seperti diputuskan oleh dia yang terlanjur kita dukung dengan banyak harta benda.


*Shrink!*


Cahaya kehijauan menyelimuti bahu kiri Claire sebelum lukanya kembali pulih sepenuhnya seperti sedia kala.


'Semacam sihir penyembuhan, ya. Ini mengingatkanku jika aku memerlukan satu dari mereka,' batin Miko ketika dia mengamati penyembuhan lengan Claire.


"Bersiaplah!" Claire bersiap untuk memberikan serangan, tetapi sebelum itu ….


*Poof!* *Bam!*


Rikka Takanashi secara tiba-tiba berubah dari lalat menjadi wujud aslinya, kemudian memukul Claire tepat di kepalanya.


*Shrink!*


Kemudian, Rikka membentuk elemental waffe-nya, dan menahan tubuh Claire menggunakan palu besar tersebut dan menahannya agar tidak bangkit.


"Kamu memang kuat, Claire. Namun tidak peduli seberapa kuatnya kamu, orang kuat tetap akan kalah melawan orang pintar." Rikka menunjukkan wajahnya dengan aura kemenangan bangga di sekitarnya.


"Kau …." Rikka menggertakkan giginya dengan kesal di bawah palu Rikka.


Tidak masalah dengan kalah dalam pertarungan langsung, tetapi kalah dalam serangan sergapan sangatlah menyebalkan. Bukan hanya tidak bisa menunjukkan kemampuan penuhnya, tetapi kalah karena sergapan sangat memalukan. Ini menunjukan bahwa dia tidak kompeten dalam bertarung dan sangat mudah dikalahkan. Belum lagi, banyak penonton yang mengelilingi mereka.


*Burn!*


Kobaran api mulai menyala bersamaan suhu meningkat di sekitar tempat Claire.


"Panas! Panas!" Rikka melompat kesakitan ketika dia merasakan panas di bawahnya.


Claire perlahan-lahan bangkit dari tempatnya dengan aura horor bersamaan dengan dia mengatakan, "Beraninya kau…. Aku akan membakarmu menjadi kentang goreng…."


"Ma-Maaf. Aku tidak bermaksud …." Rikka tidak berhasil menyelesaikan kalimatnya karena melihat sosok horor dan menyeramkan Claire.


"Ara, sepertinya kalian sedang bersenang-senang, ya," sebuah suara menarik perhatian mereka semua.


Dan, yap. Dia adalah Restia Ashdoll. Dia adalah roh elemen kegelapan tingkat tinggi dalam bentuk seorang gadis muda yang mengenakan gaun berwarna malam. Dia tampaknya memiliki kulit pucat dengan rambut hitam berkilau panjang yang mencapai pinggang dan mata berwarna senja.


Restia diciptakan oleh Elemental Lord Kegelapan, Ren Ashdoll dan juga sebagian dari dirinya adalah Kegelapan Dunia Lain, membuatnya kebal terhadap Kegelapan yang menjengkelkan, untuk menjadi wadah keinginannya untuk membimbing Raja Iblis masa depan. Dia menyatakan bahwa dia telah mengambil bagian dalam Perang Roh antara lima Elemental Lord dan Ren Ashdoll, bentrok dengan Scarlet Valkyrie, Ortlinde (roh Claire saat ini).


Mata semua penonton tertuju pada roh yang melayang di udara ini. Di mata mereka, dia lebih seperti seorang gadis karena wujud rohnya. Tapi mengetahui bahwa tidak mungkin manusia biasa akan memiliki kemampuan seperti itu, maka apa yang mereka pikirkan adalah jika gadis ini adalah pengguna roh yang kuat atau roh kuat itu sendiri. Selama beberapa saat, semua penonton terdiam dan mengamati apa yang akan dilakukan roh ini.


"Restia…?" Kamito mengucapkannya dengan lirih tanpa didengar penonton lain.


Namun meski demikian, Rinslet yang berada tepat di sampingnya dapat mendengar kata yang diucapkan Kamito dengan cukup jelas. Dia hanya menoleh dan memperhatikan pandangan Kamito yang tertuju pada Restia.


Restia di atas langit menujukan pandangan pada Kamito yang berada di tribun penonton. “Aku ingin bertemu kamu Kamito, tapi …." Si Gadis menatap gumpalan hitam di tangannya sebelum melemparkannya pada pilar tempat Glasya-Labolas berada. "Lihat, anak itu hampir bangun.”


Saat gumpalan hitam berubah menjadi kabut di tengah udara, dengan cepat mengelilingi batu pemujaan di altar yang berbentuk pilar batu di atas langit. Melebur menjadi kabut hitam, gumpalan hitam seperti mempengaruhi pilar batu di udara tempat Glasya-Labolas tersegel.


“Ah, sepertinya dia sudah bangun,” ucap Restia dengan seringai kecil.


*Crack!* *Crack!*


pilar batu yang dikelilingi oleh kabut hitam mulai retak. Retakan menjadi semakin besar dan merembes pada keseluruhan pilar batu hanya dalam hitungan detik yang bisa dihitung menggunakan satu tangan.


*Bam!*


Dari retakan batu pilar, tangan manusia raksasa muncul. Ukurannya sangat besar sampai tubuh manusia seutuhnya dapat digenggam menggunakan tangan raksasa tersebut. Ukurannya ini cukup untuk membuat orang biasa bergetar dengan keringat dingin.


Yah, mungkin Eren malah akan tertawa melihat tangan ini.


'Salah satu dari banyaknya roh adalah Roh Pengamuk yang bisa membuat roh lain menjadi gila atau mengamuk. Mungkinkag, Restia bisa mengendalikan roh itu dan membuat Glasya-Labolas mengamuk?' batin Kamito. 'Roh Pengamuk itu sendiri bukan roh tingkat tinggi dan tidak memiliki kemampuan serangan. Namun cara bertarungnya adalah, dia akan membuat roh lain mengamuk dan menggila sampai eksistensi mereka lenyap. Jika Glasya-Labolas sampai mengamuk, semua orang di tempat ini akan terancam!'


Restia tertawa terkikik-kikik melihat roh sekuat Glasya-Labolas tengah mewujudkan dirinya dari segel batu. Tentu saja dia tahu akan ada berapa banyak korban jiwa pada kemungkinan terburuk dan berapa besar kerugian harta benda yang bisa terjadi. Namun memang seperti inilah sikap yang ia miliki.


“Sampai jumpa, Kamito. Kita akan bertemu lagi.” Dengan senyuman iblis yang menyeramkan dan memberikan intimidasi, Restia menghilang dari langit menjadi udara tipis dan tidak bisa dilihat lagi.


“Hati-hati! Roh itu akan terbebas dari segelnya!” teriak Claire memberikan peringatan pada semua orang.


*Blar!*


Ledakan batuan sangat keras dengan puing-puing dari pilar batu yang berjatuhan.


Di sekitar arena pertandingan, terdapat sesuatu seperti penghalang yang menghalangi serangan peserta mengenai penonton. Namun ketika puing-puing tersebut jatuh diikuti Glasya-Labolas, penghalang tersebut hancur membuat penonton terbuka dan rawan terhadap serangan. Bahkan beberapa penonton hari ini yang kurang beruntung harus kejatuhan puing-puing dan tubuh besar Glasya-Labolas sebelum mereka mati.


“Kya!”


“Wa!”


Dalam sekejap, suasana yang sebelumnya penuh ramai karena antusias penonton menjadi ramai karena teriakan histeris penonton. Berbeda dengan pengguna roh, para penonton tidak memiliki kekuatan sedikitpun untuk membela diri mereka. Mereka hanya bisa mati atau melarikan diri ketika di hadapan roh kuat seperti Glasya-Labolas sebagai musuh. Tidak ada perlawanan yang berarti dari mereka.


Semua penonton di tribun segera melarikan diri. Sebagai manusia, sudah normal untuk mementingkan keselamatan dirinya sendiri dan keluarga sendiri. Orang lain, mereka kurang peduli dan beberapa dari penonton di sana terinjak-injak oleh penonton lainnya. Suasana menjadi mencekam dan penuh akan kekacauan hanya karena kemunculan satu orang.


Di dalam kerumunan, Kamito dan Rinslet kebingungan dalam mencari jalan ke luar atau tempat untuk bergerak secara leluasa. Mereka masih bisa tetap tenang meski suasana menjadi kacau seperti ini, hanya saja mereka tidak berdaya bergerak karena arus besar orang membuat gerakan keduanya terhalang. Sial bagi mereka karena tidak bisa bergerak untuk sementara waktu.


“Rinslet, pergilah ke arena untuk mengambil peserta yang pingsan lebih dulu. Aku akan menyusul nanti,” teriak Kamito sebelum terpisah karena arus masa.


“Bahkan jika kamu mengatakannya seperti itu, tidak ada yang bisa aku lakukan di tengah kerumunan ini!”


•••••


“Hei, Claire, apakah menurutmu kamu bisa mengalahkan roh seperti Glasya-Labolas?” tanya Miko yang berdiri di depan Claire.


“Hmph! Jangan remehkan aku. Jika bukan karena dia yang menyergap, aku tidak akan kalah dalam pertandingan ini.” Claire menyiapkan cambuknya ketika dia berkata dengan percaya diri. “Kamu sendiri, apakah kamu berpikir bisa mengalahkannya?”


“Entahlah. Mana mungkin aku tahu sebelum dicoba.” Miko sedikit membentuk senyuman.


Glasya-Labolas adalah roh raksasa yang digunakan oleh Ksatria Kekaisaran Ordesia , kebanyakan digunakan untuk menekan serangan roh. Itu diklasifikasikan sebagai roh militer kelas pertempuran. Panjang keseluruhan Glasya-Labolas lebih dari sepuluh meter. Meskipun digadang-gadang sebagai roh yang kuat, di animenya dia kalah hanya oleh Kazehaya Kamito. Antara Glasya-Labolas yang sebenarnya lemah atau Terminus Est yang memang kuat, salah satu di antara dua itu yang membentuk faktor kemenangan Kamito.


“Besar! Dia bahkan lebih besar dari Roh Iblis sebelumnya!” Rikka terperangah kagum melihat roh itu.


“Baiklah, sekarang mari kita melakukan diskusi taktik,” ujar Claire. “Rikka akan menjadi pengalihan, Miko penyerang utama, dan aku akan menjadi pendukung yang fleksibel. Setidaknya aku yakin bisa menghentikan pergerakannya selama beberapa saat menggunakan elemental waffe-ku ini.”


“Tunggu, kenapa aku menjadi pengalih perhatian?” tanya Rikka kebingungan dan tidak terima.


“Yah, kamu bisa mengubah tubuhmu menjadi lalat. Kamu adalah yang paling cocok dalam misi seperti itu. Ataukah ….” Claire membuat bola api menggunakan tangan kirinya. “Kamu lebih suka merasakan panasnya bola apiku dan menjadi kentang goreng?”


“Tidak,  tidak, tidak, aku akan menjadi pengalihan!” Rikka segera melesat maju setelah itu.


“Baguslah. Kupikir aku harus membuat lebih banyak cadangan arang yang tidak berguna, hahaha.”


‘Sebelumnya kentang goreng, sekarang arang. Mana yang benar?’ tanya Miko dalam batinnya.


•••••


*Drap!* *Drap!* *Drap!*


Rikka Takanashi berlari menuju Glasya-Labolas meski dia sendiri sedang ketakutan. Lebih baik menuju Glasya-Labolas di mana dia masih mungkin selamat dari pada pada Claire di mana dia akan menjadi abu. 'Seram! Kenapa aku harus menjadi pengalih perhatian pada makhluk sebesar ini!'


Palu besar yang menjadi elemental waffe Rikka untuk sementara waktu dinonaktifkan. Lagi pula, bukan kemampuan destruktif yang diperlukannya saat ini. Dia hanya memerlukan kelincahan untuk menghindari serangan dan menjadi pengalihannya.


Lengan besar Glasya-Labolas terangkat setelah dia terjatuh dan menghancurkan banyak kursi penonton. Dia akan memberikan pukulan menggunakan lengan kolosalnya ini pada target yang mendekatinya, Rikka.


"Oke, aku hanya perlu berusaha menghindari serangannya sebanyak mungkin, bukan?" monolog Rikka.


Di sisi lain dari arena, Miko menuju ke Glasya-Labolas melalui jalur yang berbeda dari Rikka. Jika Rikka melalui jalur lurus dan langsung menuju pada roh militer ini, Miko mengelilingi arena yang berbentuk lingkaran itu untuk memperkecil kemungkinan dia akan menjadi target serangan.


Katana dari dari Kitsuna berada di tangan kanannya. Dia sendiri tidak terlalu ahli dan sama sekali tidak memiliki keterampilan dalam menggunakan senjata seperti katana yang satu ini. Setidaknya, itu bisa membuat serangannya lebih tajam dari pada menggunakan pukulan dari tangan kosong.


*Wush!*


Dari tangan kirinya, dia mengeluarkan beberapa jimat. Tiga dari jimat tersebut adalah Explosive Talisman dan yang satu adalah Piercing Wind Talisman. Piercing Wind Talisman memberikan dorongan menggunakan angin untuk membuat Explosive Talisman lebih cepat mencapai Glasya-Labolas.


*Srak!* *Srak!* *Srak!*


Ketiga Explosive Talisman menempel pada tangan Glasya-Labolas yang akan menyangka Rikka.


*Bom!* *Bom!* *Bom!*


Beberapa ledakan besar terjadi.


*Sss!*


Setelah asap ledakan menghilang, terlihat lengan pergelangan tangan Glasya-Labolas lenyap sepenuhnya.


"Heh, ini lebih mudah dari yang aku bayangkan." Miko sedikit tersenyum melihat dampak dari serangannya.


Miko terus maju ke arah Glasya-Labolas. Di sisi lainnya, Rikka menjadi lebih aman karena salah satu serangan Glasya-Labolas menghilang dari jalurnya. Ini membuat Rikka berpikir, 'Bahkan jika dia mengatakan padaku hanya sebagai pengalih perhatian, tidak apa jika aku terlibat dalam penyerangan, 'kan?'


*Poof!*


Rikka Takanashi memanggil elemental waffe-nya kembali, dan mengubahnya berbentuk katana seperti milik Miko. "Mari kita mulai, Königin der Nacht. Kita akan tunjukkan kemampuan kita pada mereka!"


Terus maju ke kaki Glasya-Labolas, Rikka mengangkat katana ketika bersiap menebas, kemudian ….


*Clank!*


Suara benturan besi terdengar ketika katana Rikka dan kaki Glasya-Labolas bertabrakan.


"Eh?" Rikka sama sekali tidak menyangka serangnya tidak akan berguna. "Kupikir, ini akan sangat mudah seperti aku membelah kayu dengan mudah saat latihan. Apakah peningkatan sihir dari senjataku kurang kuat?"


Glasya-Labolas mengangkat lengan kirinya yang masih utuh, kemudian mengincar Rikka yang berada tepat di bawahnya. Serangan berat ini sudah pasti akan memberikan kematian instan jika mengenai tubuh Rikka. Henge no jutsu hanya mengubah bentuk, tidak untuk kekuatan dan lainnya.