
“Hah… hah… hah… hah….” Keith tergeletak di lantai dalam mode pengamat setelah mengalahkan Sachiko Shinozaki.
Di tangan kanan Keith, dia memegang sebuah [Pokeball]. Hanya pokeball biasa, bukan variasi lain seperti [Great Pokeball] atau yang lainnya. Di dalam [Pokeball] ini terdapat Sachiko Shinozaki yang sebelumnya dilawan oleh Keith dan Glasya-Labolas. Untung saja item biasa ini cukup untuk mengalahkan hantu itu atau usaha Keith akan sia-sia.
———
Nama: Keith Claes
Skill: [Earth Manipulation] [Kaifuku Mahō] [Cheon Bu's External Energy Control from the Three Skills] [Shikigami no Mai] [Drawing] [Meta Three-Dimensional Movement] [Explosion] [Enchant Magic (+2)] [Accel] [Magic Manipulation] [Akselerasi Pikiran] [Kenbunshoku Haki] [Pikiran Paralel (+1)] [Summon Spirit]
Companion: [Glasya-Labolas] [Suiseiseki] [Souseiseki] [Sachiko Shinozaki]
Sistem Equipment: [Pokeball]
Poin: 8.070.
———
“Padahal hanya hantu, tapi dia benar-benar memiliki skill dan kemampuan bertarung yang kuat, bahkan dia membuat Glasya-Labolas pingsan. Aku penasaran dengan status hantu kecil ini…,” gumam Keith dengan [Pokeball] yang diangkat ke atas dengan dirinya memperhatikan itu. ‘Sistem, tunjukkan status companion-ku ini.’
———
Nama: Sachiko Shinozaki
Skill: [Concentrate Evil] [Fear] [Evil Filament] [Rotten Stench] [Faint] [Enhance Defense] [Floating]
Companion: -
Sistem Equipment: -
Poin: [Tidak tersedia]
———
[[Concentrate Evil], memulihkan atau menyembuhkan diri sendiri dengan kemampuan penyembuhan yang kuat, bahkan mampu menghilangkan kerusakan mental.]
[[Fear], aura menyala yang memberikan kerusakan pada satu musuh.]
[[Evil Filament], lembaran-lembaran dengan daging dan darah yang menyerang area sekitarnya.]
[[Rotten Stench], menembakkan cairan beracun.]
[[Faint], membuat satu musuh pingsan. Memiliki cooldown setiap 5 menit.]
[[Enchance Defense], meningkatkan pertahanan diri sendiri.]
[[Floating], kemampuan yang memungkinkan penggunanya untuk melayang.]
‘Anjir! Dia sudah punya tujuh skill di awal-awal! Jumlahnya sudah sama dengan milik Kino saat ini. Sudah begitu, kemampuannya lengkap dari single target, multi target, healing, damage dealer, buff, debuff, dan mobilitas. Ini karakter memang sudah over power!’
“Bough….” Rikka Takanashi memuntahkan isi perutnya di sisi lorong.
“Kamu tidak apa-apa, Rikka-san? Ini sudah ketiga kalinya kamu muntah, lho.” Miko mendekat pada Rikka dengan wajah datar. ‘Ah, dia melakukannya lagi, nih. Sudah berkali-kali aku melihat dia melakukan itu. Bagaimana jika aku tidak bisa makan malam nanti ketika kembali ke duniaku?’
Kino mendekat dan ikut bergabung dalam dialog. “Tidak apa-apa jika kamu ingin mundur, kamu tidak perlu terlalu memaksakan dirimu, kok. Lagi pula, aku rasa reward kali ini tidak terlalu menguntungkan untuk kita. Hanya mendapatkan 1.000 poin untuk mencari sembilan item.”
“Menurutku itu lumayan. Misi kali ini tidak memakan banyak waktu, tergantung cara kita bergerak. Kalau dibandingkan dengan sebelumnya yang menghabiskan waktu sampai dua minggu penghasilan ini sudah lumayan, sih,” pendapat Miko.
“Itu jika kamu hanya menghitung waktu dan misi. Jika kita melihat latar tempat ini ….” Kino menengok pada lorong di samping mereka. “Tempat kita menjalankan misi sangat-sangat tidak manusiawi dan bukan tempat untuk manusia hidup. Aku lebih penasaran bagaimana kamu bisa bertahan di tempat menyeramkan bin tidak manusiawi ini.”
Lorong yang dilihat Kino memang sangat menjijikkan. Di sana ada satu mayat manusia dengan usus terurai dan badan terkoyak. Kepala dari mayat itu tidak utuh lagi sampai memperlihatkan otaknya yang ke luar. Satu rongga matanya berisikan darah, seperti baru saja ditusuk, sedangkan yang satunya lagi ke luar. Tubuhnya menghitam busuk dengan bau menyengat.
“Hmm? Apakah menurutmu itu aneh?” tanya Miko menggelengkan kepala. “Setiap hari kurang lebih aku melihat makhluk seperti ini.” Miko mendekat pada mayat itu, kemudian berjongkok. “Yang hanya diam dan tidak bergerak seperti ini tidak ada apa-apanya bagiku.” Dia mendorong-dorong itu menggunakan jari telunjuknya sambil wajahnya yang tersenyum cerah.
‘Itu tandanya kamu psikopat,’ batin Kino.
“Ma-Ma-Manusia, bisakah kamu tidak melakukan itu? Itu sangat menyeramkan, lho. Bagaimana jika dia tiba-tiba bangun dan memakan kita semua?” kata Suiseiseki tergagap.
Souseiseki, saudari Suiseiseki, mencarikan tempat [Skill Scroll] berada karena dia memiliki kemampuan untuk menembus dinding. Setelah tempat ditemukan, dia akan kembali untuk mengabari mereka. Sayang sekali dia tidak memiliki kekuasaan untuk berada di mode peserta atau pengamat. Dia memerlukan bantuan Keith untuk menyebrang.
Keith sendiri bisa saja menggunakan [Kenbunshoku Haki] untuk mencari semua [Skill Scroll], tetapi jika dia melakukan itu maka para anggota akan merasakan keheranan karena jumlah item yang mereka dapatkan kurang dari jumlah yang tertera dalam Sistem. Ketiga anggota grup sedang menganggap jika Keith hanya bisa mengirimkan bawahannya.
Miko berbalik pada Suiseiseki sebelum berkata, "Jangan begitu, Suiseiseki-san. Masih ada 6 [Skill Scroll] lainnya. Sangat sia-sia jika kita tidak mendapatkan mereka semua." Dia juga menambahkan, "Misi ini mungkin hanya sedikit memiliki hadiah dalam reward akhirnya, tetapi tambahan skill yang kita dapatkan sangat lumayan untuk dimiliki. Terlebih lagi, bukankah kamu yang menerima [Skill Scroll] itu?"
———
Nama: Suiseiseki
Skill: [Instant Planting] [Plant Control] [Water Control] [Mana Arrow] [Mana Shield] [Dash] [Floating]
Companion: Sui Dream
Poin: [Tidak tersedia]
———
"Ya-Yah, maaf karena aku yang mengambil [Skill Scroll]-nya…." Suiseiseki mengalihkan matanya. "Tapi bukan aku yang memintanya, lho. Kalian sendiri yang memberikannya padaku, ya!"
"Hehehe, tenang saja Suiseiseki-san. Kami sama sekali tidak meminta apapun darimu sebagai balasan. Kami memutuskan untuk memberikan [Skill Scroll] padamu agar adil di antara kami bertiga," ujar Miko.
'Kenapa kamu terlihat lebih bersemangat di tempat ini.' Kino memperhatikan ekspresi Miko.
"Sudah, sudah, bagaimana jika kita melanjutkan perjalanan? Sedikit-sedikit kita tetap memiliki perkembangan dalam pencarian ini, kan?" saran Miko.
"Apa kita tidak menunggu Souseiseki saja? Dia yang memegang informasi tentang di mana tempat [Skill Scroll] lainnya berada." Kino mengingatkan.
"Tidak perlu," bantah Miko. "Dia akan mencari tempat [Skill Scroll] lainnya, tapi kita juga akan mencari tempat [Skill Scroll] lainnya sendiri. Dengan ini, kita akan menjadi lebih mudah untuk menemukan [Skill Scroll]."
'Aneh. Sebelumnya saja dia adalah yang menyarankan untuk tetap bersama karena dia sudah biasa melihat pemandangan seperti ini, kemudian menyarankan dirinya untuk berjalan di depan. Kenapa dia tiba-tiba ingin kita tiba-tiba berpisah seperti ini?' batin Kino di balik wajah datarnya.
"Um… Miko, aku rasa lebih baik kita berpencar menjadi dua tim saja. Aku akan bersama Rikka, sementara kamu akan bersama Suiseiseki. Bagaimana menurutmu? Lagi pula, musuh-musuh di tempat ini relatif lemah dan masing-masing dari kita bisa mengalahkannya," saran Kino.
"Baiklah!" jawab Miko dengan ringan.