Inter-Universe Anime Group Chat

Inter-Universe Anime Group Chat
SoL Story—Bepergian Sendiri


Beberapa hari telah berlalu, dan sekarang Kino melanjutkan pengembaraannya pada tujuan yang sangat tidak jelas. Dia mungkin memiliki teman yang bisa diajak bicara dalam perjalanannya, tetapi mengendarai sepeda motor itu memerlukan fokus pada jalanan, dan akan berbahaya jika melakukan tindakan ceroboh.


Hari ini pun, langit biru menjulang tinggi di langit dengan awan putih bergulung-gulung tanpa menutupi birunya langit. Latar suasana ini sangat nyaman untuk melakukan pengembaraan dengan rasa angin sepoi-sepoi yang berhembus ketika memacu sepeda motor. Andaikan semua orang bisa bertindak bebas dalam mengembara seperti ini, semua orang tidak akan stress.


Di tengah padang rumput yang luas ini, seorang gadis mengendarai sepedah motor dengan sangat nyaman dan merasakan angin yang melewati dirinya. Namun meskipun dia adalah seorang gadis, dia memotong pendek rambutnya dan menggunakan celana panjang sehingga membuat dirinya seperti pria. Dia adalah orang yang tomboy soalnya.


Btw, jika kalian tanya ke padaku (Author) tentang kunci kebahagiaan, maka aku akan menjawab bahwa, kunci kebahagiaan adalah menjadi mutlak, tidak memiliki banyak keinginan. Kenapa aku mengatakan kalau kunci kebahagiaan adalah menjadi mutlak? Karena nilai mutlak itu selalu positif.


|🙁| = 🙂


"Hei, Hermes. Menurutmu, tujuan hidup dari manusia itu apa?" tanya Kino sambil mengendarai motor.


Angin semilir meniup tubuhnya ketika dia memberikan pertanyaan, membuat suaranya terdistorsi di bawah hembusan angin yang menjadi gemuruh kecil karena kecepatannya saat mengendarai motor. Jaket yang ia kenakan melindungi tubuhnya dari hangat ini, sehingga kadar udara yang diterimanya tidak terlalu banyak.


“....” Tidak ada jawaban. Yang diajaknya bicara mendiamkannya tanpa memberikan respon. Hari ini cerah, tetapi berada sendirian dalam pengembaraan merupakan sesuatu yang sangat sepi dan terasa menyedihkan. Manusia sebagai makhluk sosial merasakan sebuah tekanan ketika dia hanya sendirian ditinggalkan oleh kelompoknya.


Sebagai makhluk sosial yang membutuhkan orang lain, seseorang cenderung untuk mengikuti orang banyak. Ambil saja contohnya bersekolah. Mengapa kita bersekolah dan mengerjakan semua pelajaran di sana? Mengapa kita tidak memilih pekerjaan saja, juga melatih diri fokus pada pekerjaan itu? Apakah kita ke sana untuk menimba ilmu atau hanya sekedar mengikuti orang lain? Bukankah tidak semua pelajaran di sana akan berguna?


Tidak bisa dipungkiri, memang bersama-sama membuat seseorang merasa lebih tenang. Jika kita memiliki 50 musuh, maka yang kita perlukan adalah sekutu. Ketika zebra dikejar singa, dia akan masuk ke kelompoknya. Dengan masuk ke kelompok yang lebih ramai, maka zebra itu memiliki kemungkinan lebih rendah untuk dimakan oleh seekor singa. Akan tetapi, dia juga mengorbankan orang lain.


Kembali ke cerita, gadis itu yang bernama Kino melihat beberapa orang Pria di pinggir jalan. Mereka adalah tiga pria, yang mana mereka bertiga seperti sedang memainkan alat musik dan menari dengan riang gembira. Bukan hanya itu, ketiganya sepertinya juga sedang membakar sebuah daging dalam jumlah besar. Suasana di sana sangat meriah meski hanya ada beberapa orang di sana.


*Cit!*


Tanpa merasa ragu, protagonis kita dalam kisah ini, Kino, mendekati tiga pria di tepi jalan tersebut. Dia sebagai pengembara sudah mengetahui konsekuensi dari menemui orang asing di tengah jalan, tetapi dia sendiri sudah siap jika harus melakukan pertarungan, meski dia lebih suka untuk menghindari kekerasan. Sudah menjadi sifat manusia untuk mencari kedamaian, bukan?


“Bolehkan aku tahu apa yang sedang kalian lakukan?” tanya Kino setelah turun dari motornya.


“Eh, Bocah? Apa yang dilakukan bocah sepertimu di tempat ini?” tanya balik Pria dengan alat musik.


Ingat, dia adalah seorang gadis dengan penampilan tomboy. Beberapa orang salah mengira bahwa dia adalah laki-laki dan memanggilnya dengan sebutan “Bocah”. Untuk masalah ini, dia sendiri juga kurang peduli dan membiarkan orang lain memanggilnya seperti itu. Lagi pula, dia akan segera berpisah dengan orang-orang itu tidak lama lagi.


“Aku adalah seorang pengembara.” Kino mengarahkan jempolnya pada sepeda motor dengan beberapa persediaan di atasnya.


“Begitu ya,” ucap pria tadi.


“Oh, seorang pengembara, ya,” sahut Pria lainnya. “Jadi, Pengembara, kami adalah seorang pengembala yang tinggal di sekitar sini.”


“Dasar lah!” ucap Pria lainnya dengan wajah yang kesal. “Setiap hari kami selalu menggembala kambing di tanah ini tanpa hari libur. Benar-benar, itu sangat merepotkan dan membosankan untuk melakukan hal yang sama setiap hari, jadi kamu bunuh saja semua kambing yang kami miliki dan seperti yang bisa kamu lihat, kamu mengadakan pesta. Untuk hal yang terjadi di masa depan, akan kami urus di masa depan saja.”


“Pengembara, jika kamu mau, kamu bisa bergabung bersama kami, lho. Kita memiliki banyak kesenangan di sini. Semakin banyak orang akan menjadi semakin seru, bukan?” ajak Pria itu.


“Maaf, tapi aku harus menolak. Aku harus segera sampai ke negeri selanjutnya. Aku tidak bisa ikut bersama kalian untuk kali ini.” Kino mengarahkan telapak tangannya.


“Sayang sekali, padahal kami memiliki banyak makanan.”


Kino kembali pada sepedah motornya, kemudian dia melanjutkan perjalanannya. Sebenarnya negeri selanjutnya masih jauh dan dia tidak perlu terburu-buru, tetapi dia menggunakan alasan ini untuk melarikan diri dari mereka. Dia hanya tidak ingin melakukan apa yang mereka lakukan. Setiap manusia memiliki kesukaan dan kepribadian yang berbeda.


•••••


Beberapa lama Kino melakukan pengembara, dia masuk pada area hutan. Pepohonan tinggi mulai menjulang dan jalan setapak menjadi berkelok-kelok serta tertutup oleh rerumputan. Saat ini, dia harus benar-benar fokus atau dia mungkin akan tersesat di dalam hutan ini. Sungguh, itu sangat tidak menyenangkan menurut pendapat pribadi dari Kino.


Beberapa lama kemudian, dia benar-benar tersesat.


“Hah, kalau begini, sih, aku tidak tahu kapan bisa ke luar dari hutan ini,” monolog Kino.


Dari suara samar-samar, dia mendengar sebuah suara ayunan kapak tak jauh dari tempat dia berada saat ini. Kino menajamkan indra pendengarannya dan berusaha menangkap suara dari kapak yang memotong batang pohon dengan lebih jelas. Di dalam hutan yang senyap ini, tidak sulit mendengarkan sebuah suara dengan jelas karena hanya sedikit polusi suara.


“Di sana, ya.”


Setelah mengetahui asal suara, Kino mencari asal dari suara ini.


Beberapa lama kemudian lagi, akhirnya dia sampai pada sumber suara. Di sana dia menemukan seorang Pria yang sedang menebang batang pohon. Bukan hanya itu, di dekatnya juga terdapat rumah kayu yang tampak kokoh dan sangat layak untuk ditinggali. Pria ini sudah terpenuhi semua dari apa yang diperlukannya untuk hidup.


“Selamat sore, apakah kamu tahu jalan ke luar dari hutan ini?” sapa Kino langsung pada pertanyaan.


Pria itu berhenti melakukan pekerjaannya, berbalik pada Kino, dan berkata, “Jika kamu ingin ke luar dari sini, maka kamu hanya perlu mengikuti jalan itu.” Sambil menunjuk pada sebuah arah.


“Terima kasih atas bantuannya.” Sebelum Kino berbalik pergi, dia bertanya, “Mengapa kamu menebang pohon? Bukankah kamu sudah memiliki rumah, pakaian, dan makanan dalam jumlah besar karena berada di dalam hutan? Menebang pohon sudah tidak berguna lagi untuk kamu lakukan, bukan?”


“Yah, bagaimana, ya….” Pria itu mendongak ke atas, memikirkan jawaban, sebelum kembali pada Kino. “Mudahnya saja, ini untuk melatih otot-ototku. Terkadang, beberapa hewan buas muncul di dalam hutan ini, jadi aku memerlukan kekuatan untuk membela diriku.”


“Jadi karena itu kamu tidak menghabiskan waktumu untuk bersenang-senang …,” tebak Kino.


“Tidak. Jika tentang itu, aku memiliki alasan yang berbeda.” Pria itu menjelaskan, “Manusia memang mencari kebahagiaan dan ketenangan di dalam hidupnya, tetapi kebahagiaan itu juga perlu dilakukan secara perlahan atau kita sendiri akan bosan untuk melakukan hal yang membuat kita bahagia. Kemudian mengapa aku sendirian di dalam hutan ini, aku tidak ingin mengganggu orang lain. Seseorang mungkin akan mengganggu orang lain untuk mendapatkan kebahagiannya.”


“Hmm… seperti itukah jawabanmu?” Kino berbalik, namun sebelum memacu motornya, dia berkata, “Terima kasih sudah memberikan penjelasan ke padaku ini.” Dan akhirnya dia melanjutkan perjalanan dalam kesendiriannya.