
—Keith PoV—
Baguslah! Aku pikir mereka akan gagal dalam menjalankan tugas ini. Aku pikir, mereka akan langsung kena kick langsung oleh Greyworth. Untung saja kemampuan Kino dan Miko diakui sehingga mereka bisa masuk ke dalam akademi sebagai siswi. Akhirnya, aku mendapatkan poin yang lebih banyak. Sungguh, 2.400 poin terasa sedap untuk seseorang yang baru saja menjadi admin. Menggunakannya untuk menebus beberapa keterampilan mungkin bukan ide yang buruk.
Kembali ke cerita, saat ini aku hanya mengikuti mereka dari belakang dan menjaga jarak. Orang-orang dari dunia ini tidak bisa melihatku, sedangkan mereka dapat melihat tubuhku dalam warna transparan. Aku tidak ingin mengganggu mereka. Aku tidak ingin mereka menganggapku sebagai seseorang yang mesum karena masuk ke sekolah khusus putri sebagai seorang pria. Belum lagi, aku memiliki tubuh yang tembus pandang dan tidak bisa dilihat oleh semua orang.
Saat ini mereka bertiga sedang mengikuti Greyworth menuju kantor kepala sekolah. Urusan administrasi tetap perlu dilakukan bagaimanapun juga. Untuk Ellis Fahrengart, dia masih di hutan untuk mencari roh kontrak miliknya. Roh itu menuju ke antah berantah dan menghilang saat mengira Kino masih berada di jalurnya. Sayang sekali untuknya untuk memiliki roh yang mempunyai otak burung.
*Klek!*
Pintu terbuka, dan mereka masuk ke dalam kantor sebelum pintu itu kembali ditutup. Aku menembus dinding menggunakan tubuh transparan ini dan menguping pembicaraan di antara mereka.
Greyworth duduk di kursinya sebelum berkata, "Baiklah, mari kita bicarakan lebih lanjut tentang pendaftaran kalian." Dia saling menggenggam tangannya di atas meja. "Kalian memiliki asal-usul dan tujuan yang tidak jelas. Selain itu, salah satu di antara kalian memiliki kemampuan unik dan satu lainnya memiliki senjata aneh. Aku tidak akan bertanya lebih lanjut tentang senjata, asal, atau apa seberapa kuat kemampuan bertarung kalian. Aku hanya ingin tahu apa yang kalian inginkan."
"Kami hanya ingin belajar. Tidak lebih dan tidak kurang," Kino menjawab tanpa menjeda.
"Hanya itu?" Greyworth tidak dapat mempercayai penjelasan singkat ini.
"Ya, hanya itu." Kino mengangguk pelan. "Bagaimanapun akademi ini adalah akademi terbaik yang kami ketahui. Kami rasa, akan ada banyak hal yang bisa dipelajari dari tempat ini. Kami sungguh tidak memiliki niatan lain selain hanya belajar."
"Hmm… tidak ada yang salah dengan belajar, tapi ini adalah institut pendidikan formal. Kami di sini juga mencari bayaran, tidak mungkin jika memberikan pendidikan secara gratis. Kami bukan pemberi amal pada kalian. Apakah kalian memiliki sesuatu yang bisa digunakan yang pantas untuk membayar di tempat ini?" Greyworth menyeringai pada mereka bertiga.
Ketiganya terdiam sebentar. Tidak ada benda berharga yang mereka bawa ke dunia ini. Ponsel? Miko berada di toilet sebelum, dia hanya membawa apa yang ada di tubuhnya. Milik Rikka? Tetap saja ide yang buruk untuk memberikan ponsel. Masalahnya ponsel itu tidak akan banyak berguna di dunia ini. Sangat meragukan bahwa orang dari dunia ini bisa mereplikasi ponsel. Itu hanya akan membuat Greyworth tidak puas dan minta lainya.
"Aku akan memberikan cetak biru dari senjataku," sahut Kino dengan cepat.
"Oh, aku masih belum melihat dengan jelas apa saja yang bisa dilakukannya senjatamu."
"Kemampuan dari senjataku adalah dapat menembakkan proyektil kecil sebagai serangan. Benda ini tidak memerlukan sihir dalam menggunakannya, dengan kata lain senjata cocok untuk digunakan banyak orang. Berbeda dengan pengguna roh, di mana mereka haruslah gadis-gadis suci," jelas Kino.
"Hmm… menggunakan kuantitas untuk melawan kualitas. Serangan dari senjatamu bisa memberikan tembakan yang cukup cepat dan sepertinya menyakitkan. Serangan itu masih belum cukup untuk mengalahkan atau menembus pertahanan Simorgh, tetapi aku rasa itu cukup sebagai senjata saat melawan roh tingkat yang lebih rendah. Cukup menarik."
*Klek!*
"Bagus, kebetulan sekali kamu ada di sini." Greyworth senang dengan kedatangan ksatria atau mungkin dia sudah turun pangkat menjadi suruhan Greyworth. "Aku ingin kamu untuk menunjukkan di mana ruangan mereka, serta berikan juga mereka beberapa pasang seragam. Selain itu, berikan mereka beberapa ransum milik ksatria untuk makan malam."
'Ransum?' Mereka bertiga langsung terbayang pada makanan militer dengan rasa tidak enak.
Yah, bukannya aku bisa membaca pikiran mereka atau semacamnya. Aku hanya menebak dari mata mereka yang mengarah ke atas, melihat langit-langit dengan mata datar dan tampak mati. Tidak aneh jika mereka berpikir seperti itu, karena sejak awal ransum lebih mementingkan pemenuhan gizi dari pada rasa. Aku mulai bertanya-tanya, apakah aku memerlukan makanan di dunia ini? Tubuhku ini bukan tubuh fisik.
Ransum tentara (Inggris: Individual Combat Rations) adalah makanan pra-saji atau makanan kaleng yang mudah disiapkan dan dimakan. Dan biasanya dibawa oleh pasukan militer di medan perang.
"Apa! Apakah kamu memasukkan mereka ke dalam akademi ini, Kepala Sekolah?" Ellis secara tidak sengaja memukul meja dan berkata menggunakan nada tinggi.
Wah, dia sudah berani melawan Greyworth, ya. Jika aku boleh menebak, apa yang dikatakan Greyworth selanjutnya adalah, "Apakah kamu berani membuatku mengulangi kata-kataku?" Aku pernah menonton animenya meski ingatanku agak samar-samar.
"Cukup, apakah kamu berani membuatku mengulangi kata-kataku?" Mata Greyworth tertuju tajam pada Ellis.
Suasana atmosfer di sini menjadi tegang dan panas ketika kata-kata itu jatuh. Aku sendiri yang tidak menjadi lawan bicara Greyworth merasa sangat tertekan karena kata-kata itu. Inilah perbedaan antara orang dewasa dan anak-anak. Usia dan pengalamanku tidak bisa mengalahkan Greyworth yang sudah berusia lebih dari empat puluh tahun.
"Ti-Tidak." Nyali ksatria itu langsung menciut hanya dengan tatapan mata tanpa tindakan.
Bagaimanapun Greyworth adalah kepala sekolah. Melawannya hanya akan membuatmu dikeluarkan dari sekolah ini. Selain itu, julukan lain untuk Greyworth adalah "Dusk Witch (/\= Penyihir Senja)". Dia juga salah satu mantan anggota dari number. Sangat bodoh dan beresiko untuk melawannya ketika berada di posisi yang jauh lebih rendah darinya.
"Kalau begitu, cepat bawa mereka untuk menyiapkan tempat tinggal mereka." Kepala akademi itu membuyarkan perhatiannya dari Ellis, dan melanjutkan, "Hari sudah hampir gelap dan aku masih harus mengurus dokumen mereka. Jangan menambah pekerjaanku di sini."
"Baik, Kepala Sekolah," jawab Ellis pelan.
Dan dengan itu, akhirnya berakhirlah cerita tentang mereka bertiga yang berusaha untuk masuk ke dalam Akademi Roh Areishia. Ketiganya berhasil masuk dan menjadi siswi di akademi ini, dengan ini misi mereka bisa berlanjut dengan damai dan tentram. Aku bisa damai untuk sisanya… atau tidak, ya?
Entah kenapa Kino menatapku dengan sinis ketika dia berbalik pada pintu keluar.