
Sebuah pedang putih melayang dengan memancarkan cahaya yang menyilaukan. Ruangan gelap ini menjadi lebih jelas pada objek di dalamnya dibandingkan sebelumnya. Terlihat bagaikan sebuah senjata legendaris dengan pemikiran tersendiri, pedang tersebut seakan menatap mereka berempat dengan marah. Siapa juga yang tidak akan marah ketika dibangunkan dari tidur panjang yang lelap.
“Baiklah, aku rasa ini adalah situasi sulit yang terjadi,” gumam Kino.
*Sis!*
Ujung lancip dari pedang itu langsung mengarah pada mereka, kemudian langsung melesat menggunakan kecepatan penuhnya tanpa mempedulikan apakah lawannya bisa bertahan hidup atau tidak.
Tujuan dari roh itu memang untuk membunuh mereka berempat yang telah mengganggu dirinya. Dia tidak akan peduli apakah mereka bisa bertahan hidup atau mati. Dengan begitu, ini adalah salah satu situasi berbahaya ketika mereka harus melawan roh ganas dan kuat. Ini berbeda dengan sebelumnya, di mana Ellis tidak memiliki niatan untuk membunuh Kino dalam pertarungan beberapa BAB lalu.
*Clack!*
Kino menanggapi ini dengan serius. Dia mengambil revolver perkusi miliknya, dan langsung menyiapkannya untuk membidik pedang tersebut. Kecepatan tangannya sangat gesit karena dia telah melatih kemampuan untuk menarik senjatanya setiap hari ditambah kali ini dia mendapatkan efek peningkatan kecepatan dari roh kontraknya, Legna.
Dari pengalaman Kino di masa lalu, ketika dia melawan Ellis, dia menyadari bahwa roh yang kuat tidak dapat dilukai dengan mudah, bahkan ketika dia serius menggunakan revolver perkusi ini. Bermain-main dalam situasi seperti ini sama saja mencari mati. Dia perlu mengeluarkan keterampilan bertarung yang telah ia asah selama ini untuk bisa bertahan hidup, atau mati.
*Trank!*
Kino menambahkan mana atau ki ke dalam peluru dari senapannya, membuat peluru tersebut menjadi beberapa kali lebih kuat dan cepat dari aslinya, kemudian mendapatkan peningkatan kekuatan dari Legan. Peluru tersebut beradu dengan bilah dari pedang bercahaya putih-perak tersebut, namun pertahanan pedang sangat kuat, membuat peluru bahkan tidak memberikan luka goresan.
*Blar!*
Ujung tajam pedang menabrak lantai dan memberikan dampak berupa retakan.
Untung saja serangan Kino sebelumnya berhasil sedikit mengubah jalur serangan dari pedang dan membuatnya miring dan tidak mengenai sasaran—Kino—. Serangan seperti itu bisa dibayangkan apa yang terjadi ketika serangan itu mengenai tubuh gadis kecil itu yang tidak memiliki pertahanan. Cheon Bu's External Energy Control from the Three Skills tidak sehebat itu untuk membuat tubuhnya lebih keras dari pada baja. Lagi pula, dia baru mempelajari ini satu hari yang lain. Justru aneh bila dia sangat kuat hanya dalam satu hari, meski peningkatannya memang terasa sangat jauh sekarang.
*Swing!*
Pedang tersebut melanjutkan serangannya dengan menebas beberapa sentimeter di atas lantai, langsung menuju Kino. Potongan rapi menjadi dua atas dan bawah akan diterima tubuh Kino bila tebasan tersebut ia terima secara mentah-mentah.
*Tap!*
Untung saja kelincahan dan reflek Kino cukup tinggi untuk membuat dia melompat ke atas sebelum pedang tersebut memotong tubuhnya.
*Swing!*
Sialnya, pedang tersebut memiliki manuver yang cukup cepat, jadi ketika dia berada di bawah tubuh Kino, dia mengubah arah lajunya ke atas pada Kino. Ini tetap akan memotong tubuhnya menjadi dua.
*Syut!* *Syut!* *Syut!*
“Jangan lupakan aku yang masih ada di sini!” Lilitan cambuk api terikat pada roh tersebut ketika Claire berkata lantang.
*Trank!* *Trank!* *Trank!*
Kino kembali mencoba memberikan luka pada pedang tersebut menggunakan revolver persuasi melalui beberapa tembakan, namun hasilnya sama seperti tadi, luka goresan tidak terlihat pada mata pedang tersebut.
‘Gawat juga. Serangankan tidak bisa melukai dirinya…,’ batin Kino.
*Tap!*
Kino segera melarikan diri—menjauh dari pedang tersebut—sesaat setelah kakinya menyentuh lantai.
*Slash!* *Swing!*
Pedang tersebut memotong cambuk Claire, kemudian dia mengganti target sasarannya dari Kino menuju Claire.
“Apa!” Claire tercengang melihat cambuk api miliknya berhasil dipotong.
Cambuk api Claire—Flame Tongue (/= Lidah Api)---adalah elemental waffer miliknya yang merupakan perwujudan dari roh kontrak milik Claire, Scarlet. Roh kontrak milik Claire—Scarlet—memiliki nama asli Ortlinde yang merupakan roh elemen api tingkat tinggi. Dia adalah yang terakhir dari Valkyries series of Spirit Weapons (/= seri Senjata Roh Valkyries). Namun karena saat ini dia melemah sampai hanya memiliki wujud kucing, tidak aneh bila dia gampang kalah.
‘Dari jarak ini, aku tidak bisa menjangkaunya!’ Kino merasakan teror yang memenuhi dirinya ketika kenalannya ini berada di ujung maut.
Dia pernah membunuh orang, dia pernah melihat orang mati, dia pernah melihat sisa-sisa mayat yang hanya menyisakan tulang belulang. Namun ketika kenalannya dan makhluk tidak berdosa yang harus menjadi korban, maka hati nuraninya tetap saja bisa merasakan kekhawatiran dan teror. Dia masihlah manusia yang memiliki perasaan bagaimanapun juga.
*Byur!*
Tembakan air terjadi dan mendorong pedang tersebut menjauh dari Claire sebelum menusuk tubuhnya.
Ukuran dari bola air yang menabrak tubuh pedang tidak terlalu besar, namun poin yang menentukan adalah gaya dorongan untuk menghentikan serangan pedang. Untung saja roh ini tidak waspada pada keberadaan Miko atau serangan kejutan ini akan berakhir percuma dengan pedang itu yang mempertahankan kedudukannya. Keberuntungan pemula itu menyeramkan!
“Kerja bagus, Okuri-san.” Miko sedikit tersenyum ketika dia menepuk serigala tersebut.
“Woof~,” inilah balasan yang diberikan serigala tersebut.
Pedang tersebut melayang di udara bagaikan tidak tertahan oleh hukum gravitasi. Ujung lancipnya menghadap pada Okuri yang baru saja menyerang dirinya.
Sepertinya sangat mudah untuk menarik perhatian dari roh ini. Hanya sedikit serangan saja berhasil membuatnya marah dan mendapatkan perhatian darinya sebagai target serangan. Tergantung pada bagaimana menggunakannya, maka musuh yang memiliki sikap seperti ini bisa menjadi lebih mudah untuk ditangani dan lebih mudah dimasukkan ke dalam jebakan. Namun masalah mereka, adalah mereka yang tidak memiliki serangan yang cukup kuat untuk melukai roh ini.
*Swing!* *Swing!* *Swing!*
Berbeda dengan sebelumnya, pedang tersebut kali ini berputar seperti baling-baling yang berdiri vertikal ketika dia menargetkan Okuri. Tipe gerakan seperti ini memberikan keuntungan berupa dia yang akan menebas pada jalur yang dilewatinya, namun kelemahannya membuat dirinya memiliki lebih banyak bidang luas sebagai serangan. Namun karena dia berputar seperti baling-baling, hit rate untuk mengenainya termasuk rendah, belum lagi pertahannya yang membuat lawan tidak bisa melukai dirinya. Pedang ini hanya perlu waspada pada serangan yang akan mengubah arah serangannya.
“Kitsuna, Nekoma!” panggil Miko.
Kedua roh kontrak Miko yang berwujud kucing dan rubah segera muncul di sebelahnya, kanan dan kiri.
*Wosh!*
Semburan api dan angin diluncurkan, menutup pandangan dari pedang. Namun tidak mempedulikan kobaran api di jalurnya, dia terus melesat menembus kobaran api dan terus memberikan tebasan menggunakan bilah tajamnya yang berputar dalam vertikal. Kemudian ….
*Tank!*
“Rasakan! Kann Twinkle (/Mampu Berkelip)!” Rikka Takanashi muncul dari balik kobaran api. Dia menggunakkan elemental waffe miliknya yang berwujud palu memukul keras pada pedang tersebut.
*Brak!*
Pedang tersebut menabrak dinding dan membentuk beberapa retakan kecil di sana, sebelum pedang kehilangan cahayanya dan terjatuh. Untuk bentuk dari pedang ini, dia sama sekali tidak menderita luka gores sama sekali dan masih utuh. Tampaknya dia kehabisan energi.
“Hehe, apakah aku berhasil mengalahkannya?” Rikka mengusap hidungnya dengan bangga melihat serangannya berhasil.
‘Apa-apaan itu tadi? Bukan hanya bisa mewujudkan elemental waffe, tetapi dia juga bisa membuat pukulan sekuat itu. Apa-apaan peningkatannya ini!’ Keith menjadi orang yang tercengang melihat kecepatan berkembang Rikka. “Beberapa hari yang lalu, dia hanya gadis chuunibyou biasa yang diberikan kesempatan untuk ke dunia lain. Bagaimana bisa dia menjadi secepat ini dalam perkembangan? Apakah bakat chuunibyou miliknya membuat dia bisa mengendalikan mana di dalam tubuhnya dengan sempurna? Ini mustahil!”
“Serangan yang sangat bagus! Aku tidak menyangka kamu bisa membuat serangan sekuat itu!” Claire memuji.
“Hmph! Inilah kekuatan sejati dariku, pemegang mata kejahatan, Tyrant Eyes dan ratu yang akan menguasai kegelapan, Rikka!” entah kenapa dia menjadi bangga dengan satu serangannya yang masuk.
“Baiklah, sekarang ….” Claire mendekat pada pedang tersebut sambil melanjutkan, “Mari kita membuat kontrak, Roh Pedang Legendaris….” Dia cukup geram karena pertarungan sebelumnya.
“Tunggu.” Kino muncul di jalur membuat dia menghalangi jalan. “Sebaiknya kamu tidak membuat kontrak dengan roh pedang ini.”
“Eh? Kenapa!”
“Sederhana saja. Roh ini terlalu liar untuk diikat kontrak padanya. Di sini saja dia sudah membuat kekacauan, bagaimana jika dia mengamuk di dalam akademi? Apakah kamu sudah memikirkan siapa saja yang akan terlibat?” jelas Kino.
Masih beruntung roh ini mengamuk di tempat dengan sedikit orang. Bila roh ini mengamuk di dalam lingkungan gedung akademi, maka sudah pasti akan mengakibatkan keributan yang besar. Di dalam akademi memang terdapat beberapa individu yang bisa melawan atau mengekang roh ini, seperti jajaran ksatria Sylphid atau Greyworth, namun apakah salah satu dari keduanya bisa sampai ke tempat kejadian tepat waktu? Mereka pasti akan memerlukan waktu dalam perjalanan mereka.
Perlu diingat, Kino tidak mengetahui tentang animenya, tentang Kazehaya Kamito yang berhasil menjinakkan roh ini, tetapi roh ini tidak mengamuk di dalam akademi. Dalam pemikiran Kino, dia hanya menduga bila roh ini bisa mengamuk setelah dijinakkan, padahal memang roh memiliki pikiran yang artinya mereka bisa marah dan merajuk bila dalam situasi tertentu.
“Benar juga, sih….”
Claire sedikit tidak rela bila harus melepaskan roh kuat ini. Tujuannya memerlukan kekuatan untuk dicapai dan kesempatan untuk membuat kontrak dengan roh kuat legendaris tidak datang setiap waktu. Ini merupakan keputusan yang berat jika dia harus melepaskan kesempatan ini.
*Cring!*
Ketika mereka saling bercakap, pedang tersebut kembali mengeluarkan cahaya putih-perak dan kembali melayang. Serangan sebelumnya hanya menghentikan gerakannya untuk sementara waktu.
“Huh, ternyata benar, ya. Dia masih bisa bertarung lagi,” ucap Kino malas.
“Uh….” Claire bersiap menggunakan cambuknya selama Scarlet lumpuh.
“Aku tidak bisa bergerak….” Lutut Rikka terjatuh di tanah dengan dirinya yang lemas. Elemental waffe miliknya juga ikut menghilang dengan fisiknya yang kehabisan tenaga.
‘Satu serangan itu menghabiskan semua mana dan staminanya, ya. Jalannya masih jauh untuk bisa benar-benar berguna di pertarungan,’ batin Keith.
“Tidak ada pilihan lagi, kita harus mundur. Aku akan membawa Rikka ke luar. Sesampainya di luar, tutup kembali penghalang di pintu masuk dan cepat beritahu akademi tentang roh ini.” Ekspresi Kino sangat serius ketika dia mengatakan ini.
“Baik!” Claire dan Miko menjawab bersamaan.
Menggunakan kombinasi elemen angin dan api dari Kitsuna dan Nekomata, Miko membuat abu dan menutupi visual dari pedang ini, sementara mereka lari ke luar ruangan. Mereka harus terus berlari cepat karena kejaran dari pedang ini. Pada kemungkinan terburuk, maka mereka akan mendapatkan tebasan dari punggung dan berpindah dunia setelah itu.
Dalam kasus terburuk mereka, penghalang di pintu masuk tidak akan berguna untuk melawan pedang ini dan membiarkan roh tersegel dalam kondisi mengamuk bebas berkeliaran dan mencari mangsa. Jika itu hanya hutan dan pohon tumbang, setidaknya itu bukan masalah besar. Menjadi masalah besar jika pedang itu mulai membunuh orang-orang.
Sebenarnya Author sendiri juga bertanya-tanya apakah Terminus Est memiliki penglihatan ketika berada dalam wujud pedang atau elemental waffe-nya, namun untuk mudahnya saja anggap saja dia bisa melihat seperti manusia.