
Di suatu tempat rahasia, jauh dari semua semesta anime. Tempat itu adalah sebuah ruangan gelap dengan hanya satu lilin memancarkan cahaya redup di tengah meja bundar. Di sekeliling meja, terdapat empat kursi dengan empat sosok yang duduk di sana. Atmosfer yang dapat dirasakan dari tempat ini adalah, mistis dan misterius. Seakan-akan kita diajak masuk dalam sesuatu yang sangat rahasia dan tidak boleh dibocorkan pada khalayak ramai atau akan menyebabkan bencana.
"Baiklah, mari kita mulai rapat evaluasi ini. Aku namakan ini dengan sebutan "Evaluasi Inter-anime Group Number First" untuk mempermudahnya," ujar salah satu sosok di sana dengan nada semangat.
Dia adalah seorang gadis kecil. Tubuhnya terlihat berada pada usia 14 tahun, tetapi pada kenyataannya dia sudah lebih tua dari pada itu. Yah, namanya juga sosok over power. Anggap saja dia memiliki kemampuan untuk memanipulasi usianya sendiri dan bisa membuatnya menjadi abadi. Namanya juga dunia fantasi. Tidak perlu memikirkan hukum fisika di dunia nyata.
Gadis ini memiliki rambut berwarna hitam panjang yang lurus sampai ke bahunya. Matanya berwarna hijau seperti zamrud dan kulitnya kuning Langsat mulus membuatnya tampil cantik. Yah, yang namanya sihir penyembuhan pasti tersebar ke berbagai macam dunia anime, 'kan? Dari Black Clover sampai Harry Potter sihir penyembuh ada di mana-mana. Jangan tanya perawatan kulitnya bagaimana.
"Hmph! Aku masih belum bilang akan setuju tentara nama itu!" Sosok lainnya mendengus bersamaan dengan melipat tangannya di depan dada dan menyilangkan kakinya di atas meja. "Tapi karena nama tidak berpengaruh pada isi pertemuan ini, bodo amatlah."
Yang satu ini adalah seorang lelaki seperti pada usia 21 tahun. Dia memiliki rambut hitam pendek dan pupil mata berwarna hitam. Kulitnya memiliki warna yang sama dengan gadis sebelumnya.
"Sudah, sudah, tidak perlu berkata-kata kasar. Benar, bukan, Sophia?" ucap seorang satu gadis lainnya pada gadis di sampingnya.
Gadis yang satu ini memiliki penampilan fisik yang kurang lebih sama dengan gadis sebelumnya pada segi usia dan warna kulit. Namun, dia memilih rambut bergelombang ke bawah berwarna pink pucat dan mata berwarna merah darah. Wajahnya tersenyum dengan manis selain itu.
"Tidak bisakah kamu memanggilku dengan nama lengkap? Aku memiliki deskripsi penampilan yang kurang lebih sama dengan Sophia Ascart, padahal aku adalah individu yang berbeda. Aku adalah saudara angkatmu, Theresa. Sophia sebagai namaku, dan Magnifix sebagai nama keluarga," balas gadis ini pada gadis sebelumnya yang bernama Theresa.
"Ehem, aku senang kalian masih tampak akrab seperti biasanya. Tapi mari kita mulai rapat ini. Aku, Elena Madison, akan memimpin pertemuan ini untuk kali ini," kata gadis berambut hitam itu.
"Oh, begitu. Pantas saja dekorasi ruangan ini sama suramnya dengan hidupmu, Gadis Kecil. Satu pertanyaan untukmu, kenapa kamu suka sekali dengan sesuatu yang berkesan menyeramkan seperti ini?" tanya lelaki itu.
"Pertanyaan yang bagus, Noctis." Dia menjelaskan, "Tidak ada alasan khusus tentang ini. Tidak masalah jika kita mendekorasi tempat pertemuan ini seperti sekolah, kantor, padang pasir, dan lain-lain. Hanya saja, aku tidak kepikiran banyak desain, jadi aku matikan saja lampunya, meletakkan meja bundar dan kursi di sekelilingnya, terakhir menambahkan lilin di tengah-tengah meja. Desain yang sangat simpel, bukan?" Dia mengangkat bahunya ketika menunggu jawaban lelaki itu yang bernama Noctis.
"Hah…." Noctis menghela napas lelah sebelum berkata, "Theresa, hidupkan lampunya. Semua kegilaan ini membuatku tambah gila."
"Baik!"
Theresa meninggalkan kursinya, menuju sisi ruangan, kemudian menekan saklar lampu. Dan seperti normalnya, lampu menyala menunjukan interior ruangan yang biasa-biasa saja tanpa ada sesuatu yang spesial.
Theresa kembali duduk di tempatnya, dan mengatakan, "Sekarang mati kita mulai meeting-nya, yey!" Dia mengangkat lengan kanannya dengan penuh semangat.
"Kalian…, ini sudah lebih dari 500 kata, tetapi kita belum juga masuk ke dalam pembahasan. Kalian akhirilah ini, kemudian mati kita masuk ke poin pertama, poin tentang bagaimana kinerja sistem milik kita."
"Kinerja sistem, ya? Aku rasa itu sudah baik-baik saja. Dari segi kecepatan pemrosesan data, dia sudah sangat cepat dan bisa mengirim informasi dengan set, set, set." Theresa membuat gerakan aneh menggunakan kedua tangannya.
"Bukan itu yang dimaksud Elena," gadis berambut putih itu, Sophia, angkat bicara. "Yang dimaksud adalah tentang bagaimana dengan poin, penyelesaian misi berulang, dan lain-lain. Kalau tentang penyampaian informasinya saja sudah oke."
"Jika membicarakan tentang poin, menurutku itu sudah baik-baik saja. Bagaimanapun kita tidak bisa menilai skill, item, dan sebagainya dari toko secara mutlak. Pokoknya jika sesuatu berada di level tertinggi, maka itu pasti berguna. Bahkan kemampuan menggambar sekalipun akan sangat menyeramkan pada level maksimalnya," ujar Noctis. "Bayangkan saja jika ada seseorang yang bisa menggambar penuh dalam satu planet. Maka kita tidak bisa menilai skill dari satu sisi kegunaan. Kita tidak bisa menilai semuanya pada penggunaannya dalam pertarungan."
"Aku setuju dengan itu," kata Elena. "Kesadaran yang menjadi Sistem adalah kesadaran milik Melati. Kemampuannya berpikirnya tidak jauh berbeda dengan manusia meski dia adalah hantu. Jadi kalau ada skill legenda berharga merakyat, anggap saja itu adalah keberuntungannya, dan kalau sebaliknya maka anggap saja itu adalah soal baginya. Lanjut ke aspek selanjutnya, pada misi berulang."
"Misi berulang itu tidak masalah untuk mempercepat perkembangan "yang terpilih" agar dia bisa memiliki banyak peningkatan dan tidak monoton. Toh juga, dia tidak bisa banyak terlibat dalam pertarungannya karena batasan waktu dari Sistem," pendapat Sophia.
"Bahkan kalau kamu mengatakan "yang terpilih", yang terpilih adalah yang kita pilih secara acak, terserah siapa itu. Si Admin itu cuma tidak sengaja terpilih dari milyaran manusia di bumi, dan dia dipilih lagi untuk mencoba sistem kita dari ratusan peserta lain karena memiliki jawaban unik. Kita sendiri justru membuat Sistem ini secara terburu dengan bantuan Kayaba Akihiko dan Okarin," komentar Noctis yang tidak didengarkan.
"Yah, kalau tentang keadilan misi, itu adalah tugas kita sebagai editor yang melakukan review. Jangan salahkan Sistem pada hal yang satu ini," Theresa menambahkan.
"Benar juga, sih. Tapi, menurutku desain sistem terlalu parah dan beberapa hal tidak perlu ditampilkan seperti ideologi hidup. Aku akan menghubungi Kayaba Akihiko untuk menghapus beberapa detail." Elena mengeluarkan ponsel dari sakunya dan mulai mengetik pesan.
"Oh, jangan lupakan tentang multiverse dunia anime. Masih banyak perbedaan di sana-sini dari anime aslinya, seperti pada cara bicara, kepribadian karakter, pemikiran, dan cara bertarung. Ini membantu dunia itu tidak 100% dari anime asli," tambah Noctis.
"Kalau tentang itu, mau bagaimana lagi. Time Machine meskipun membawa seseorang ke multiverse yang berbeda memiliki kemungkinan yang sangat acak untuk 100% cocok dari multiverse yang diinginkan, tetapi sudah lumayan untuk persentase kecocokan saat ini. Tapi, aku akan menghubungi Oktarin untuk ini." Elena lanjut mengetik pada ponselnya.
"Kemudian untuk level grup, sebagai apresiasi kita mari kita tingkatkan grup itu ke level itu. Dengan fitur baru di setiap kenaikan level, maka dia akan mendapatkan dua fitur tambahan," saran Theresa.
"Setuju," jawab Elena.
"Sepakat," kata Noctis.
"Bagus. Lagi pula, level satu sampai sepuluh adalah tutorial, jadi tidak masalah menaikkan level dengan sedikit signifikan," dukung Sophia.