
"Apakah itu benar Sachiko-chan? Di tempat ini ada kutukan?" tanya Keith dengan wajah tercengang. 'Aku tidak terlalu mengikuti Corpse Party: Tortured Soul, sih. Aku tidak tahu tentang ini. Apa benar ada kutukan di tempat ini?'
Beberapa saat telah berlalu sejak Sachiko, loli hantu, ini menjadi budak Keith. Sekarang Sachiko telah menjadi relatif damai dan tidak ingin melawan, lagi pula dia adalah pendamping Keith mulai dari sekarang. Kedua orang ini, laki-laki dan perempuan, berduaan di bawah tanah saling bercakap-cakap satu sama lain untuk mempererat hubungan keduanya, tetapi pada akhirnya berujung pada topik kutukan di sekolah ini.
"Benar." Sachiko meludah ke sudut ruangan sebelum kembali melanjutkan, "Manusia yang berlama-lama di sini akan menjadi gila. Bukan hanya mereka, tapi ini juga berlaku untuk semua roh yang ada di tempat ini. Kamu mungkin tidak terpengaruh karena memiliki banyak energi sihir yang membuat kutukannya melambat untuk mempengaruhimu. Tapi bagi mereka yang hanya memiliki sedikit kekuatan mental dan sihir, mereka akan dengan cepat terpengaruh kutukan ini."
"Gawat! Aku harus membatalkan misi ini untuk keselamatan mereka!" Keith berdiri secara spontan, namun dia kembali duduk, dan berkata, "Nanti saja, deh. Sekalian juga aku ingin melihat seberapa baik mereka dalam menghadapi kutukan ini. Lagi pula, kamu memiliki kemampuan penyembuhan yang bisa menyembuhkan penyakit mental, 'kan, Sachiko-chan?"
"Anjay, nih, orang. Bukannya nolongin, malah ingin menguji mereka." Sachiko menghela napas. "Aku bodo amat saja dengan ini. Toh juga, bukan urusanku untuk menolong mereka."
Kino dan Rikka tengah berada di dalam sebuah ruang kelas. Perjalanan ini sangat panjang, belum memikirkan kemungkinan jika mereka hanya berjalan di jalur yang sama dan memutar. Dengan sihir bisa memulihkan stamina, namun istirahat sambil duduk-duduk manis juga diperlukan.
"Nee, Kino, kenapa kamu meminta kita untuk berpisah dari Miko-san tadi?" tanya Rikka yang duduk di samping Kino.
"Firasat." Kino menjelaskan, "Aku merasa sikapnya menjadi semakin aneh setiap kali kita berjalan. Dia terlihat semakin gila dan semakin liar semakin lama kita berada di sini. Kamu sendiri melihatnya ketika dia sama sekali tidak merasa takut ataupun jijik jika melihat mayat itu, ‘kan?”
“Benar juga, sih….” Rikka menempelkan telunjuk di dagunya. “Ini memang aneh ketika dia sama sekali tidak merasa jijik pada sesuatu seperti itu. Meskipun dia mengatakan sudah terbiasa dari dunianya sebelumnya, seharusnya Miko-san tidak akan semudah itu untuk menjadi terbiasa dengan jasad. Ini sangat-sangat aneh ketika dia menganggap enteng itu….”
“Maka dari itu, aku membawamu ke mari. Suiseiseki mungkin bisa melakukan sesuatu ketika dia diserang Miko. Tapi kamu, apakah kamu yakin bisa selamat jika Miko tiba-tiba menyerangmu?” tanya Kino.
“A-Aku? Mana mungkin aku bisa selamat dari seorang psikopat. Aku akan mati jika dia menyerangku…,” jawab Rikka.
Sebenarnya justru sebaliknya, sih. Rikka memiliki kemungkinan lebih besar ketika melawan Miko. Alasannya, gaya bertarung Rikka adalah penyerangan jarak dekat, sedangkan Miko adalah pengguna jebakan. Miko justru tidak akan memiliki kesempatan bila Rikka menyerangnya. Hanya saja, untuk beberapa alasan, mungkin mentalitas Rikka, Kino memilih untuk mengorbankan Suiseiseki.
‘Suiseiseki adalah companion milik Admin itu. Aku yakin di Admin pasti akan menolongnya jika temannya ini berada di dalam situasi berbahaya. Di lain itu, Rikka adalah anggota grup yang bisa ke luar bila mau. Jika aku menjadi Admin, aku menganggap companion-ku lebih berharga dari anggota grup yang bisa memutuskan untuk ke luar atau terus lanjut. Jujur saja, aku masih belum bisa mempercayai orang itu sepenuhnya.’
Souseiseki melayang-layang menembus dinding dengan tubuh transparannya. Beberapa hantu berada di dalam ruangan luas, juga terdapat barang yang mereka cari di dalam ruangan itu. Namun untuk Souseiseki yang eksistensinya tidak bergabung dengan dunia ini, dia sama sekali tidak menarik perhatian dari semua hantu atau monster itu.
‘Hmm… ini adalah salah satu [Skill Scroll] untuk menyelesaikan misi mereka. Sayang sekali aku tidak bisa mengambilnya. Aku akan kembali untuk memberikan kabar pada mereka semua.’
‘Kira-kira apa yang sedang mereka lakukan, ya? Tempat ini sangat parah sebagai tempat tinggal manusia. Kenapa Keith memilih di sini untuk membuat misi? Apakah tidak ada tempat lainnya yang lebih baik dari pada ini?’
‘Maksudku, lihat tempat ini. Di sini adalah sarang hantu dan penuh mayat. Baunya pasti busuk jika aku berada di mode peserta dan mencium mereka semua. Suiseiseki pasti menderita merasakan semua bau ini.’
‘Aku memang boneka dan tidak terlalu tahu tentang manusia. Tapi aku dan manusia masing memiliki proporsi tubuh yang mirip. Melihat semua mayat ini masih bisa membuatku terbayang pada tubuh boneka yang hancur. Jika dari sudut pandang manusia, ini mungkin adalah seekor primata yang dimutilasi dan mereka dipaksa untuk melihat bagian-bagian tubuh dari itu. Tempat ini terlalu menyeramkan.’
‘Tapi mengabaikan sikap buruk Keith, dia adalah orang yang baik, mulai dari membiarkan kami tinggal di sana sampai memberikan kami makan.’
‘....’ Souseiseki mengingat hari-hari mereka ketika berada di manor Claes. Tentang mereka yang bermain-main dengan Katarina, membantu membuat kue kering, dan banyak lainnya. Dari sini dia mengingat sesuatu ….
‘Tunggu, bukankah yang melakukan itu adalah teman-teman atau keluarga Keith? Dia lebih sering menghabiskan waktu di kamarnya tanpa aku ketahui apa yang dia kerjakan. Orang itu memang tidak berguna….’
Suiseiseki dan Miko berjalan di satu lorong sama, tanpa tahu ke mana mereka pergi. Pokoknya, keduanya hanya berjalan-jalan entah ke mana sambil berusaha mencari [Skill Scroll] yang menjadi tujuan dari misi mereka. Beberapa monster atau hantu terkadang mendatangi mereka, tetapi dengan kerja sama antara mereka berdua, makhluk-makhluk itu berhasil dibasmi dengan mudahnya.
“Sepi, ya….” Suiseiseki mulai bicara, “Anone, Manusia, biasanya apa yang kamu lakukan di duniamu?”
Percakapan ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan misi, jadi ini murni dilakukan karena gabut dan sepi. Suasana lorong yang gelap, lembab, basah, dan dipenuhi mayat adalah penggambaran yang sangat tepat untuk tempat yang tidak ingin ditempati. Berbicara dan memecah suasana bisa membuat atmosfer sekitar menjadi lebih hangat dari pada canggung.
“Aku kah? Em… tidak ada yang spesial. Aku hanya pergi ke sekolah, terkadang membantai beberapa hantu yang berkeliaran di sekitar rumahku. Kadang-kadang aku mengambil foto bersama hantu buruanku sambil berharap ada indigo lain yang sama sepertiku, bisa melihat mereka ….”
“Foto?”
“Yah… foto adalah gambar diam baik berwarna maupun hitam-putih yang dihasilkan oleh kamera yang merekam suatu objek atau kejadian atau keadaan pada suatu waktu tertentu,” jelas Miko.
‘Aku sama sekali tidak paham…,’ batin Suiseiseki.
‘Aku tidak bawa ponsel untuk menunjukkan padanya…,’ batin Miko.