
Di dalam Astral Zero, Miko dan Claire berdiri saling berhadapan. Mereka berada di sebuah tempat yang terlihat seperti stadion tertinggal. Bangunan tua itu terlihat telah lama ditinggalkan, tidak banyak orang di dalam sana dan suasana di sana sangat sepi, menambah kesan suram dan membuat bulu kuduk berdiri bagi sebagian orang. Jika tempat seperti itu ada di dunia nyata, maka orang-orang mungkin akan menganggap tempat tersebut sebagai tempat angker dan banyak melakukan paranormal eksperimen.
"Kamu benar-benar ingin melakukan duel denganku, Miko?" tanya Claire untuk memastikan.
"Fumu."
"Aku akan memberitahumu sekali lagi, serangan fisik memang akan diganti menjadi luka mental selama berada di Astral Zero. Namun bukan berarti kamu sepenuhnya aman ketika berada di dalam tempat ini. Terlalu banyak luka mental akan membuatmu gila. Apakah kamu mau untuk melakukan duel denganku?"
"Tidak apa-apa." Dia menggelengkan kepalanya. "Aku akan berusaha. Kemudian, aku perlu segera menjadi kuat ketika berada di sini. Aku perlu menjadi kuat untuk mengalahkan mereka."
'Mereka? Apakah dia juga memiliki dendam dengan beberapa orang?' pikir Claire.
Yang dimaksud mereka oleh Miko tentu saja adalah para hantu tak berakhlak dari dunia Miko sendiri. Dia belum pernah mencobanya, tetapi dia merasa yakin bila energi sihir, mama, atau apapun namanya dari dunia ini bisa digunakan untuk melukai makhluk horor dari dunianya itu. Tujuan Miko sejak awal di dunia ini memang untuk mendapatkan kekuatan untuk melawan makhluk-makhluk itu meski dia sendiri tidak tahu sampai seberapa kuat mereka.
"Baiklah, Pemula. Aku akan melatihmu." Mata Claire menjadi serius dengan alisnya yang turun di tengah. "Kamu mungkin pemula dan tidak pernah melakukan pertarungan langsung menggunakan tubuhmu, tapi jangan harap aku akan mengalah dan memberikanmu keringanan, lho." Dia juga menambahkan, "Dari pertarunganmu melawan Roh Tersegel siang tadi, aku tahu kamu tidak pernah bertarung sebelumnya, selain pelatihan ringan. Akan aku beritahu rasanya berada di hadapan musuh yang kuat."
"Fumu."
*Cetas!*
"Keluarlah, Scarlet." Dengan membunyikan cambuknya, Scralet menampakkan dirinya yang berwujud kucing. Bersamaan dengan itu, cambuk Claire terbungkus dalam api yang menyala, memberikan lebih banyak kerusakan ketika mengenai lawan.
'W-Wah, dia sama sekali tidak main-main.' Miko menelan ludahnya melihat cambuk api itu. Pandangannya terpaku pada cambuk Claire dan dia mulai meragukan apakah pilihannya sebelumnya untuk tidak mundur adalah pilihan yang tepat? Ini tidak akan menjadi sesuatu yang menyenangkan ketika meminta pada orang yang salah untuk melatihmu.
‘Mari kita pikirkan lagi,’ batin Miko. ‘Dia kuat, lebih kuat dari kebanyakan siswi di sini, membuatnya cocok untuk menjadi guru. Kemampuan sosialnya buruk, aku ragu dia bisa memberikan saran yang tepat dan lagi kami memiliki jenis senjata berbeda. Terus, dia cukup psikopat untuk mencoba membuat kontrak dengan roh tersegel. Apakah aku sudah membuat permintaan ke pada iblis? Ini tidak akan membuatku menjadi target tembakan, ‘kan?’
"Siap atau tidak, aku datang!” Claire langsung melesat ke Miko tanpa menunggu musuhnya bersiap-siap.
Menurut pandangan, ketika berada di pertarungan sungguhan memang tidak semua musuh sebaik itu untuk menunggumu bersiap. Mereka akan langsung menyerang dengan tujuan untuk membunuh. Bila tidak beruntung, maka akan mati meski tanpa melakukan apapun di dalam medan pertarungan. Hanya menjadi tiang tembakan kemudian tereliminasi.
Cara latihan Claire ini tidak bisa dikatakan sebagai salah karena memang mengutip pada pertarungan langsung, di mana musuh tidak memberikan kesempatan. Namun untuk ukuran melatih seorang pemula, ini terlalu berlebihan. Tidak semua orang bisa melakukan pertarungan dengan metode barbar seperti dicambuk terus menerus tanpa istirahat. Mereka akan menyerah dari rasa sakit akibat cambukan-cambukan itu.
Dari pada serangan, cambuk adalah senjata yang lebih digunakan untuk menyiksa. Kelemahan dari cambuk adalah bentuknya yang membuatnya lebih sulit dikendalikan dari pada pedang. Namun bila berhasil menjadi ahli dalam penggunaan cambuk, itu akan menjadi senjata yang sangat menyakitkan menambahkan aspek siksaan dari setiap serangan cambuk.
*Shrink!*
“Okuri, Kitsuna, Nekoma!” Ketiga simbol roh yang berbaris rapi di lengan kiri Miko menyela. Selanjutnya, ketiga roh miliknya menjelma menjadi elemental waffe.
Dari roh serigala miliknya, Miko mendapatkan sebuah zirah yang lebih seperti jaket yang terbuat dari bulu serigala dengan warna biru. Kemudian dari roh rubah—Kitsuna—, dia mendapatkan sebilah katana dengan pegangan berwarna merah. Dan dari roh kucing—Nekomata—, roh ini menjelma menjadi sebuah cincin yang ada di jari telunjuk tangan kanannya.
“Bagus, aku tidak menyangka kamu sudah menguasai elemental waffe hanya dalam waktu satu hari. Tapi, itu tidak berguna tanpa pengetahuan untuk menggunakannya!” pekik Claire sambil membuat serangan menggunakan cambuknya.
‘Okuri-san memberikan kemampuan pertahanan dan penyembuhan selama aku memakai zirah ini, katana Kitsuna memiliki efek terbakar selain tebasan tajamnya, dan cincin Nekoma memberikan peningkatan kecepatan. Dengan tiga efek ini dan kemampuan yang aku beli dari grup, aku seharusnya selamat, ‘kan?’
*Swing!* *Leash!*
Ketika tubuh cambuk Claire datang, Miko menebaskan katananya pada cambuk tersebut, berniat untuk menangkis. Namun sayang baginya, cambuk itu berputar dan malah melilit katana itu.
*Cetas!*
“Hmph!” Claire sekali lagi mengayunkan cambuknya pada Miko, memberikan gelombang pada cambuk itu.
*Tank!*
“Ah….” Tangan Miko kurang kuat ketika memegang katana, dan malah membuatnya terjatuh ketika gelombang dari cambuk sampai pada tangannya.
“Hehehe, kamu harus memegang senjatamu dengan kuat atau musuhmu akan mempermainkanmu, lho.” Senyuman dan tawa di wajah Claire sangat menyebalkan ketika didengarkan Miko.
*Suut!*
Claire melanjutkan dengan menarik cambuknya, membuat katana tersebut terlempar agak jauh di dalam stadion ini. Sial untuk Miko, dengan ini dia tidak memiliki senjata yang benar-benar ofensif untuk mengalahkan lawannya, setidaknya untuk pertarungan jarak dekat. Satu kesalahan kecil yang sangat fatal untuk dilakukan oleh seorang pemula.
“Hum….” Kekesalan Miko tertahan di tenggorokan ketika dia ingin mengucapkan beberapa kata-kata kasar. ‘Setidaknya, berikan aku kesempatan untuk membuat serangan! Bagaimana aku bisa melatih diriku jika tidak menggunakan senjata seperti ini!’
*Syuut!*
“Hora, hora, jangan terlalu banyak melamun! Aku tidak sebaik itu untuk memberikan waktu istirahat!” Cambuk Claire meliuk-liuk di udara ketika dia berkata seperti orang yang gila pertarungan.
Cambuk tersebut bergerak dengan liar di udara dan siap untuk memberikan serangan kapan saja mengikuti gerakan dari tangan Claire. Dia memang menyiapkan serangan selanjutnya tanpa memberikan waktu untuk mengambil napas lawannya atau memberikan kesempatan memikirkan gerakan selanjutnya. Ini bukan tipe guru yang baik!
*Tap!* *Tap!*
Miko melompat mundur beberapa kali untuk membuat jarak.
Beruntung baginya, karena di bawah efek peningkatan kecepatan dari Nekomata dia berhasil menghindari cambuk Claire. Dari pada peningkatan kecepatan, itu lebih terlihat sebagai dorongan angin ketika dia bergerak. Angin mendorong di bawah sepatunya, kemudian dia memiliki gaya tolakan lebih besar yang membuatnya bergerak lebih jauh.
"Piercing Wind Talisman!" Bersamaan ketika Miko melompat mundur, dia melemparkan kertas mantra entah dari mana ke arah Claire.
*Wosh!*
Kertas mantra tersebut berubah menjadi hembusan angin dan menjadi angin tajam yang menusuk ke arah Claire.
"Ha!" Claire sempat terkejut melihat Miko menggunakan mantra. Namun dengan cepat dia kembali tenang, kemudian menggerakkan cambuknya dan menangkis udara tajam yang mengarah padanya itu. "Kamu sudah berhasil menggunakan sihir roh rupanya? Aku tidak pernah tahu kamu bisa menggunakannya!"
"Setiap manusia akan berkembang selama mereka hidup. Aku tidak semalas itu untuk tetap diam dan membuat dunia bergerak maju tanpa aku di dalamnya," ucap Miko lantang. "Sharp Cutting Talisman!"
*Sis!*
Sebuah jimat lagi-lagi dikeluarkan entah dari mana, kemudian itu langsung berubah menjadi semacam mata pisau yang melesat pada Claire.
*Syut!*
Claire bisa menghindarinya dengan mudah melalui beberapa langkah ringan. Kemudian, dia langsung memberikan serangan menggunakan ayunan cambuknya.
Pengalamannya dalam bertarung tidak bisa dibandingkan dengan Miko yang baru saja masuk ke dalam latihan pertarungan duel sepeda ini. Sebelumnya, dia hanya mencoba beberapa kali dengan berusaha membuat sihir atau mengendalikan mana di dalam tubuhnya. Jika bukan karena bantuan sistem, dia sendiri masih akan kesulitan untuk menggunakannya sihir. Sistem ini sudah menjadi cheat tersendiri.
*Tap!*
Miko melompat ke atas untuk menghindari serangan, tapi ….
*Leash!* *Bagh!*
Lompatannya tidak terlalu sempurna dan membuat cambuk Claire melilit kakinya. Karena lompatannya terhalang, dia jatuh ketika tidak mendapatkan keseimbangan.
*Cetas!*
"Act!" teriak Miko pelan ketika cambuk itu dibunyikan di belakang punggungnya.
Untung saja wujud elemental waffe dari Okuri membuat dirinya tidak menerima kerusakan penuh. Jika tidak, tubuhnya akan memiliki beberapa luka bakar untuk ditanggung. Tubuh manusia biasa tidak sekuat itu untuk menanggung kerusakan dari cambuk api. Namanya juga pemula. Bisa menyerang saja sudah lumayan.
"Ayolah, apakah hanya sampai di sini saja perjuanganmu?" Claire kembali menarik cambuknya dan membuatnya meliuk di udara, siap untuk melanjutkan serangan.
Miko perlahan bangkit dari tanah, kemudian dia memulai serangan, "Lightning Bird Talisman!"
*Bzrt!*
Sebuah jimat melayang di udara sebelum itu berubah bentuk menjadi petir dengan bentuk seekor burung. Kemudian, burung petir tersebut menyambar pada Claire.
Claire sedikit memiringkan tubuhnya, menghindari serangan itu, dan berkata, "Hmph! Masih terlalu lemah dan mudah dibaca. Seranganmu terlalu terbuka dan bisa ditebak. Aku tidak perlu melihat seranganmu untuk bisa menghindarinya. Hanya perlu melihat ke mana kamu akan menyerang."
'Ugh, dia terlalu kuat!' batin Miko.
Meski ini bukan pertarungan sungguhan, tapi pertarungan ini berbahaya untuk Miko. Lawannya tidak ada niatan untuk mengalah dalam duel pelatihan ini. Pada kemungkinan terburuk, Miko akan menerima luka mental dan menjadi gila. Tapi tentu saja, itu tidak akan terjadi karena Authornya tidak sejahat itu untuk membuat seseorang sakit jiwa. Ini adalah novel dengan alur slow sehingga disarankan untuk menabung BAB.
Kemampuan jimat milik Entoma Vasilissa cukup baik untuk permulaan dan daya output mana yang saat ini sesuai dengan jumlah mana Miko setelah dibantu ketiga roh kontrak miliknya. Namun sekali lagi, tanpa adanya keterampilan bertarung yang memadai itu hanya merupakan hiasan dan tidak bisa digunakan untuk melukai lawan. Padahal tergantung pada penggunaannya, setiap serangan bisa menjadi mematikan.
“Strengthen Self!” Meneriakkan itu padahal tidak perlu, sebuah jimat menempel pada tubuh Miko sendiri.
Seperti namanya, jimat ini memiliki efek untuk meningkatkan dirinya sendiri. Sebuah kemampuan buff yang selalu aktif selama beberapa waktu ke depan tanpa memiliki efek serangan. Entah apa rencana Miko menggunakan kemampuan ini, padahal dirinya sendiri tidak memiliki kemampuan bertarung yang baik. Kekuatan mentah sekuat apapun tidak akan ada gunannya tanpa adanya keterampilan memadai. Perasaan aku sudah menulis ini beberapa kali sebelumnya ….
*Tap!* *Tap!* *Tap!*
Miko berlari mengitari Claire menggunakan dengan fisik tubuhnya yang telah ditingkatkan dan kemampuan hembusan angin Nekomata yang membuat jarak lompatan setiap kali melangkah menjadi lebih lebar. Dia berniat membuat Claire kebingungan dengan gerakan berputar ini. Yah, strategi ini memang merupakan strategi dasar dan sederhana untuk membingungkan lawan. Juga, ini memiliki kelemahan.
Pertama, gerakan memutar membuat pusing kedua belah pihak. Memang benar pihak yang menjadi poros akan lebih kebingungan, tetapi pihak yang mengitari juga memiliki efek. Jadi, ini tidak disarankan pada orang yang mudah mabuk karena kendaraan atau karena gerakan memutar. Namun ini hanya saran, terserah saja jika ingin menggunakan.
Kelemahan kedua, orang yang dikitari hanya diam sehingga dia menghemat tenaga, sedangkan orang yang mengitari bergerak dalam jarak keliling yang tergantung pada diameter lingkaran. Jelas, musuh mendapatkan keuntungan berupa hematnya tenaga. Diri sendiri justru akan menjadi kelelahan dan musuh bisa menang hanya dengan diam saja. Akan menjadi kekalahan yang sangat konyol untuk kalah tanpa memberikan satupun serangan pada lawan.
“Hmm? Apakah kamu berniat membuatku pusing dengan memutariku?” pertanyaan monolog Claire dengan dia memiringkan kepalanya. “Lupakan saja, kamu tidak akan berhasil. Suara langkah kakimu terlalu jelas, jadi aku bisa menebak ketika kamu mencoba mendekat padaku. Bahkan jika kamu menggunakan serangan jarak jauh, apa kamu pikir itu cukup senyap? Yang kamu lakukan saat ini tak lain hanya menghabiskan tenagamu sendiri saja!”
Ada beberapa pilihan yang bisa dilakukan oleh orang yang menjadi poros. Pertama, mereka bisa menyerang pada target yang mengitarinya. Kemungkinan serangan ini mengenai lawan cukup rendah karena target bergerak, tapi selama akurasi tinggi, ini tidak menjadi masalah. Kedua, dia bisa memutar tubuhnya mengikuti gerakan lawan untuk memperhatikan apa yang akan dilakukan. Kelemahan dari ini hanya akan membuat diri sendiri pusing. Ketiga, dia bisa berdiam diri dan menunggu musuh mengambil langkah selanjutnya. Kelemahannya adalah membiarkan musuh bertindak lebih dulu dalam membuat serangan. Selain itu, memerlukan energi ekstra seperti teleportasi ke luar, meledakkan sekitar, atau lompat naik ke atas. Lagi pula manusia adalah “makhluk yang diberi pilihan”.
Claire mulai menutup matanya dan berkonsentrasi dalam memperhatikan gerak-gerik Miko menggunakan indra keenam miliknya. Dia berfokus untuk merasakan bila saja Miko melakukan pergerakan selain gerakan berputar ini. Logikanya, gerakan yang berbeda akan menghasilkan suara yang berbeda pula. Ini dapat dipraktekkan dengan mendengarkan suara motor yang bergerak lurus dan motor di dalam “tong setan”.
Motor yang bergerak lurus akan memiliki suara yang berbeda karena sumber suara semakin menjauh. Sedangkan dalam tong setan, motor berada di lintasan sama dan memiliki kecepatan yang sama, sehingga menghasilkan frekuensi putaran yang sama pula, dengan akibat akhir memiliki pola suara sama, yaitu sedikit pelan ketika jauh dan lebih keras ketika dekat. Sama seperti itu, akan ada perbedaan suara ketika Miko membuat gerakan dengan jarak yang berbeda.
*Set!*
“Tidak ada gunanya membuat gerakan memutari seperti itu jika kamu berteriak pada akhirnya!” Claire membuka matanya pada arah Miko berada.
Jika kalian tanya mengapa Miko selalu meneriakkan nama serangan ketika menggunakan skill, maka alasannya sama saja dengan kebanyakan anime shounen mengucapkan nama serangan mereka ketika akan mengeluarkan skill. Alasannya yaitu untuk membuat anime menjadi terdengar keren dan tidak sunyi. Memang tetap akan bagus dan tidak sunyi tanpa mengucapkan nama skill jika BGM (Background Music) dan SFX (Sound Effex) memiliki pemilihan yang tepat, tapi kebanyakan anime shounen memiliki tokoh yang mengucapkan nama kemampuan mereka ketika akan menyerang. Ini merupakan tindakan bodoh karena musuh mungkin bisa menebak efek serangan melalui nama kemampuan.
*Boom!*
Seperti namanya, Explosive Talisman adalah jimat dengan kemampuan ledakan. Jadi ketika jimat ini menabrak cambuk Claire, sebuah ledakan terjadi dan menutupi pandangan sekitar. Ini bukan ledakan yang terlalu kuat. Dengan kekuatan mana Miko sekarang, kekuatan serangan yang ia miliki berkurang walaupun mendapatkan kemampuan dari grup. Tetap saja, hal ini tidak mengubah kenyataan tentang area sekitar yang tertutup asap ledakan.
“Sudah kubilang, ‘kan? Ini percuma saja!” Claire terlihat tidak memiliki luka sama sekali setelah asap menghilang.
Dia mencari-cari keberadaan Miko, kemudian dia melihatnya beberapa meter darinya dengan memegang Katana—Kitsuna—. “Hmm… jadi itu yang kamu rencanakan sebelumnya, ya. Kamu ingin mengambil kembali katana milikmu yang sebelumnya sudah terlempar. Bukan serangan yang buruk, tapi apa yang akan kamu lakukan dengan benda itu?”
Cukup kejam untuk memanggil sesuatu dengan sebutan “benda”. Yah, Kitsuna adalah roh secara teknis, namun dia tetaplah makhluk hidup yang imut. Tapi meski panggilan sebagai benda itu didengar oleh Miko, dia mengabaikannya dan bersiap untuk melemparkan Kitsuna pada Claire. Ada perbedaan kekuatan antara melemparkan sihir roh dan roh itu sendiri dalam segi kekuatan.
•••••
Kembali ke dalam bangunan akademi, tidak banyak yang terjadi di dalam sana. Malam hari seperti ini kebanyakan siswi memilih tidur atau mengerjakannya beberapa PR bila pun itu ada. Yah, untung saja tidak ada PR untuk kelas Raven atau setidaknya Claire tidak mengerjakan PR itu. Intinya, suasana di sana menjadi sepi dan senyap dengan kebanyakan orang menghentikan aktivitas mereka.
Di dalam kamar asrama anggota grup, Kino sedang melatih kemampuannya. Bukan keterampilannya magis yang ia latih, melainkan kemampuannya dalam menggunakan pistol miliknya. Pelatihan Kino sangat sederhana, yaitu dia menarik pistolnya secepat mungkin dengan mengincar sesuatu sebaik target. Latihan ini kurang lebih sama seperti seorang ksatria yang mengayunkan pedang berkali-kali.
*Clack!*
Di dalam ruangan sepi itu, Kino menarik pistolnya cepat-cepat, kemudian dia mengembalikannya lagi pada sarung pistol. Hanya itu, dia mengulanginya berkali-kali.
'Rikka bilang, dia akan pergi bermain dengan seseorang. Aku tidak menyangka dia memiliki kenalan baru selain Claire. Di tempat ini memang ada beberapa orang unik meski kebanyakan dari mereka adalah gadis bangsawan yang egois, sih. Ngomong-ngomong, orang-orang di kelas Raven cukup baik dan ramah.'
*Clack!*
"Rikka tidak ada di sini dan si Admin itu ada entah di mana. Aku sedang sendirian di tempat ini dan tidak ada yang perlu dilakukan. Memangnya apa, sih, yang sedang dilakukan olehnya? Aku tidak melihat batang hidungnya sejak pagi tadi ketika kami menuju ke tempat roh tersegel. Apakah dia kembali ke dunia aslinya?'
*Ceklak!*
Pintu terbuka, ini membuat Kino mengarah padanya sebelum berkata, "Kenapa kamu datang ke sini, Ellis Fahrengart?"
Yap, orang yang melakukannya kunjungan malam ini adalah Ellis. Entah apa motivasinya, dia datang ke mari dengan gelagat misterius. Maksudnya bukan dia melakukan aneh-aneh, namun yang menjadikan dirinya misterius adalah dirinya yang datang ke mari malam-malam. Bukan kebiasaan dari semua orang untuk masuk ke kamar orang lain ketika malam tiba.
"Um… apakah kamu berpikir untuk ikut berpatroli denganku malam ini? Aku bertemu dengan Rikka sebelumnya, dia bersama Rinslet Laurenfrost. Aku berpikir kamu mungkin akan kesepian untuk berada di tempat ini seorang diri," minta Ellis sedikit malu-malu.
"Kenapa kamu berpikir untuk mengajakku? Apakah tidak ada orang lain dari Ksatria Sylphid yang mau berpatroli denganmu?" tanya Kino.
"Tidak, tidak, tidak, aku hanya berpikir untuk mengajakmu dalam berpatroli. Mana mungkin Ksatria Sylphid milikku akan bermalas-malasan dan menolak perintah dariku?" Ellis membusungkan dadanya dengan bangga ketika menceritakan tentang Ksatria miliknya.
"Sebenarnya saat ini aku memang tidak memiliki pekerjaan, sih. Jadi jika harus ikut berpatroli denganmu …, baiklah. Aku akan ikut berpatroli denganmu," jawab Kino.
Dengan percakapan singkat itu, Kino pun akhirnya melakukan pekerjaan yang sebenarnya bukan untuknya. Dia melakukan pekerjaan sukarela ini tanpa mengharapkan imbalan dan semata-mata karena dia gabut. Dia juga ingin tahu apa yang biasanya terjadi pada malam hari seperti ini dan berpatroli bersama ketua Ksatria Sylphid merupakan salah satu hal yang bagus. Tidak buruk untuk melakukannya.
•••••
Di dalam lorong-lorong akademi, Kino dan Ellis melakukan perjalanan malam yang membosankan. Kebanyakan siswi di sini sudah tidur, jika pun ada, hanya ada satu atau dua dari mereka. Apa yang kamu harapkan dari malam hari seperti ini? Tidak ada pencuri kelas kakap yang cukup bodoh untuk masuk ke dalam akademi ini. Mereka akan langsungnya menjadi daging cincang bila sampai ketahuan.
"Sangat sepi, ya," komentar datar dari Kino.
"Yah, itu sudah biasa terjadi ketika malam hari. Tidak banyak yang perlu dilakukan dalam patroli malam, inilah mudahnya melakukan pekerjaan ini. Tidak banyak orang yang cukup bodoh untuk menjarah tempat ini," jelas Ellis. "Tapi bahkan jika tidak ada kejahatan, bukan berarti sama sekali tidak ada. Kami Ksatria Sylphid perlu memastikan keamanan di tempat ini."
"Oh, iya." Kino teringat akan sesuatu. "Bagaimana jika kita melihat laki-laki itu? Aku sedikit kasihan lihat dia yang memiliki rumah seperti itu. Tempat itu sangat goblok, angin malam mungkin akan meruntuhkannya."
"Hmm? Apakah kamu ingin menghina kerja keras kami?" Mata Ellis melirik Kino di sampingnya.
Ini sedikit tajam dan menusuk untuk diperhatikan. Cukup membuat gemetaran ketika ditatap dengan mata seperti itu. Mata itu memberikan aura ketidaksukaan dan mempertanyakan pendapat yang dikatakan Kino. Namun Kino sebagai seseorang yang telah melalui banyak tempat, memiliki mental terlatih.
"Tidak juga. Aku hanya berpikir untuk menjenguknya."
•••••
Singkat cerita, mereka berdua menuju ke gubuk Kamito. Di sana, kebetulan saja Kino dan Ellis bertemu dengan Rikka, Rinslet, dan Carol Natasha. Untuk Kazehaya Kamito, tentu saja dia di sana sebagai tuan rumah. Anggap seperti itu untuk mudahnya meski di sini sebenarnya adalah asrama yang sangat tidak menyerupai asrama. Sungguh kasihan sekali nasib Kamito.
“Yo, Rikka, aku tidak menyangka kita akan bertemu di tempat ini.” Kino sedikit mengangkat tangannya ketika menyapa.
“Fufufu, aku tidak menyangka jika kamu akan datang ke mari, Kino!” jawab Rikka menggunakan nada tinggi, kemudian berubah menjadi bertanya ketika menanyakan, “Apa yang kamu lakukan di tempat ini? Jarang-jarang melihatmu aktif di malam hari seperti ini.”
“Aku tidak ke luar saat malam hari bukan karena aku tidak bisa ke luar saat malam hari. Aku hanya berpikir tidak ada yang perlu dilakukan saat malam hari. Ketika aku menjadi pengembara, berhenti di malam hari menjadi hal lumrah karena berbahaya untuk bergerak di dalam gelap,” jelas Kino sebelum beralih pada gadis yang berdiri di samping Rikka. “Kemudian kamu… Rinslet Laurenfrost, benar?”
“Ara~ kamu mengenaliku, ya. Aku merasa tersanjung, Kino-san,” ucap Rinslet.
“Tidak, tidak, justru aku lah yang merasa tersanjung karena Anda mengetahui nama saya,” bantah Kino. “Kemudian, apakah temanku ini tidak merepotkan Anda?”
“Tidak, dia Rikka ini adalah orang yang sangat bersemangat. Dia sama sekali tidak merepotkanku, kok.” Rinslet menepuk pelan kepala Rikka. “Kemudian, kamu tidak perlu menggunakan bahasa formal saat berbicara denganku. Itu tidak cocok untukmu.”
“Terima kasih,” jawab Kino disertai senyuman kecil. ‘Baguslah dia adalah orang yang mudah bergaul dengan lainnya. Akan sangat sulit jika dia adalah orang sombong dan suka menindas yang lemah. Aku bisa membangun hubungan baik dengannya.’
“Rinslet Laurenfrost, apa yang sedang kamu lakukan di sini malam-malam?” tanya Ellis sedikit lantang.
Dia sudah berpapasan dengannya sebelumnya. Jika tidak, bagaimana Ellis mengetahui bila Rikka bersama Rinslet? Hanya saja, Ellis sendiri tidak mengetahui apa yang mereka berdua lakukan. Ellis menebak bila RIkka hanya mengikuti sehingga tidak perlu dipedulikan, jadi dia secara default langsung menaruh perhatiannya pada Rinslet yang mungkin menjadi pemimpin dari jalan-jalan mereka.
“Tidak banyak, aku hanya memberikan makan pada orang yang satu ini.” Rinslet melipat tangannya ketika dia menghadap Ellis dengan tatapan mata agak tajam. “Apa itu termasuk melanggar aturan akademi, Nona Ksatria?”
“Tidak, tidak apa. Lagi pula juga bagus bila kalian berdua bisa akrab.” Ellis beralih pada Kamito di depan pintu gubuk. “Kamu sendiri pasti kesulitan di lingkungan baru ini, ‘kan, Kazehaya Kamito?”
“Bahkan jika aku kesulitan, setidaknya jangan menambah sulit posisiku di tempat ini. Membangun rumah yang hanya seperti ini, apakah kamu mengkorupsi dana yang kamu dapatkan?” kata Kamito datar yang terdengar sebagai penghinaan.
“Apa katamu!” pekik Ellis. “Kami Ksatria Sylphid juga kesulitan untuk membangun rumah hanya dalam waktu satu hari, apakah kamu ingin mengatakan jika kami melakukan korupsi? Ini sudah termasuk penghinaan pada Ksatria Sylphid!”
“....” Suasana menjadi canggung dan senyap untuk beberapa saat.
Memang, sesuatu yang dikerjakan dengan terburu-buru akan menghasilkan sesuatu yang kurang memuaskan. Lihat itu contohnya sinetron di Indonesia. Mereka terlalu terburu-buru untuk mengeluarkan episode terbaru. Tentu saja penulis naskah akan kesulitan untuk mencari ide cerita. Kalian yang merupakan kawan-kawan penulis pasti paham bagaimana sulitnya untuk mencari tulisan yang bagus. Alhasil karena membuat naskah yang terburu-buru, alur sinetron menjadi begitu-begitu saja dan editannya kurang maksimal.
Setidaknya berikanlah waktu untuk kru agar mereka bisa membuat hasil yang totalitas. Tidak perlu, deh, membuat sinetron setiap hari. Satu atau tiga kali setiap minggu sudah lumayan. Isi saja acara televisi dengan acara-acara lain selain sinetron. Kasihan anak-anak jaman sekarang yang cari saluran televisi tapi ketemunya sinetron. Yah, sebenarnya anak jaman sekarang main FF dan kawan-kawan sampai menjadi bocil-bocil kematian, sih.
“Tapi menurutku itu memang benar, lho. Gubuk ini dibangun menggunakan kayu yang alakadarnya, tidak ada kasur dan menggunakan jerami sebagai tempat tidur, ruangan sangat sederhana, dan tidak ada hiasan sama sekali. Ini menjadi satu-satunya bagunan tempat tinggal manusia yang paling berbeda dengan lainnya di Akademi Roh Areishia ini. Bukankah ini tindakan tidak manusiawi?” kata Rinslet.
“Apa maksudmu? Apakah kamu ingin mengajak berduel?” ucapan geram Ellis.
“Hmph! Tentu saja aku berani melakukan duel denganmu. Apa kamu berpikir bisa mengalahkan kami? empat lawan satu,” tambah Rinslet.
“Guh…!” Kata-kata Ellis terhenti di tenggorokan ketika dia tidak berani melanjutkan.
Melawan Rinslet, Rikka, dan Kamito secara bersamaan dia percaya diri untuk bisa melakukannya meski belum mengetahui kekuatan Kamito. Namun untuk Kino, dia memiliki kepercayaan diri yang berbeda untuk mengalahkannya. Sebelumnya saja dia sudah sempat dikalahkan oleh Kino. Ini akan menjadi kekalahan kedua baginya.
“Tunggu, aku masih belum mengatakan akan memihak siapa, lho.” Kino menyela perkataan mereka.
“Eh? Apa maksudmu kamu akan memihak padanya, Kino?” tanya Rikka sedikit tercengang.
“Tidak apa-apa, bukan? Lagi pula sebelumnya aku adalah pihak netral. Tidak masalah bagiku untuk memihak siapapun, ‘kan?” tambah Kino.
“Yosh! Kalau begitu tengah malam nanti, kita akan melakukan duel di dalam Astral Zero. Jangan menggunakan alasan mengantuk untuk melarikan diri!” Ellis mengarahkan jari telunjuknya pada Rinslet dengan percaya diri.
Kali ini berbeda. Dengan Kino yang ada di pihaknya, Ellis memiliki kemungkinan menang lebih tinggi. Ini memang menjadi tiga lawan dua, tetapi kuantitas kalah melawan kualitas. Kino yang telah mengalahkan Ellis ditambah Ellis yang merupakan ketua dari Ksatria Sylphid. Mereka berdua bukanlah lawan yang mudah untuk dihadapi. Ini akan menjadi pertarungan berat sebelah.
“Tunggu, aku belum mengatakan jika aku akan ikut bertarung!” teriak Kamito.
Namun sayang sekali teriakan Kamito tidak dipedulikan oleh siapapun. Ellis dan Kino telah pergi meninggalkan TKP yang berarti tidak ada argumen lagi dari Kami yang akan diterima.
Sungguh, menjadi satu-satunya pria di tempat para gadis menjadi sesuatu yang sulit untuk dilakukan oleh seseorang. Bayangkan saja jika dirimu memiliki pendapat lain tetapi tidak ada yang mendengarkanmu! Maka dari itu, jangan seenaknya sendiri dan dengarkanlah apa yang ingin dikatakan orang lain ke padamu. Mungkin saja itu adalah suatu hal yang penting. Sangat menyedihkan untuk memiliki sebuah pendapat yang tidak dipedulikan.
“Baiklah.” Rinslet beralih pada Rikka, dan berkata, “Jadi, Rikka, apakah Kino menurutmu kuat?”
“Um, yah, dia sangat kuat. Sebelumnya dia pernah mengalahkan Ellis,” jawab Rikka santai.
“Eh?”
Rinslet mempertanyakan ulang keputusannya untuk melakukan duel dengan mereka. Jika Ellis sendiri dia masih percaya diri untuk menang. Namun bila musuhnya dua dari Ellis, rasa kepercayaan dirinya baru saja terpukul mendengarkan penjelasan dari teman barunya ini.
“Hah, jangan bercanda. Aku bahkan belum bilang untuk setuju.” Kamito menghela napas.
•••••
Singkat cerita, tengah malam tiba dan mereka menuju ke dalam Astral Zero. Kebetulan saja, lokasi duel mereka sama dengan yang digunakan Miko dan Claire berlatih. Regu Rinslet yang datang lebih dulu bertemu dengan mereka di sana dan langsung saja menyapanya. Tambahan, Claire adalah teman baik Rinslet sejak dulu, jadi tentu dia dengan ramah menyapa.
Miko berada di posisi yang buruk. Dia tergeletak di tanah dengan kelelahan. Matanya berputar karena pusing atau kebingungan. Ketiga roh kontrak miliknya menghilang dan dia kehabisan tenaga. Tubuhnya perlu dipindahkan dari arena sebelum mereka akan memulai duel atau orang tidak bersalah ini akan mendapatkan tambahan dampak.
“Aku tidak menyangka jika kita akan bertemu di sini Claire Elstein. Apa yang kamu lakukan?” tanya Rinslet dengan senyuman ramah pada Claire, namun alisnya itu menunjukkan sebaliknya.
“Rinslet Laurenfrost, aku kembali pertanyaan itu ke padamu. Apa yang kamu lakukan di sini?” Mata Claire menjadi ganas ketika melihat kedatangan Rinslet.
“Um, yah, aku membuat beberapa masalah yang merepotkan dengan Nona Ksatria, jadi aku menantangnya untuk melakukan duel, kemudian kami berakhir di sini. Kurang lebih, seperti itulah cerita yang terjadi. Ini pasti akan menjadi cepat selesai tanpa disadari.” Rinslet menyilangkan tangannya dengan bangga, menghilangkan bagian tentang Kino.