
"Istri Reinkarnasi Om Presdir" Akan terbit hari minggu.... Masalah Update... Kalian kan tahu sendiri, sekarang waktunya sibuk. Harus buat kue, ke rumah saudara... Jadi Updatenya tergantung waktu sajaπ€
Mohon Maaf Lahir Batinπ€
Maafin kesalahan author, kalau update gini, alurnya gini. Mungkin kebanyakan salah di novel ya wkwkwk...
Semoga masih di paringi kesehatan dan seluruh keluarganya dan di mudahkan rezekinya.ππππππ
#####
Suasana canggung meresapi suasana ruangan di sekitarnya. Keduanya saling diam, entah ingin memulai dari mana, seperti apa dan kebingungan itu terjadi antara anak dan ayah itu.
"Alexsa... Ibu membawakan buah mangga muda untuk mu," ucap seorang wanita dari luar pintu. Dia membuka pintu itu dan tersenyum. Namun akhirnya, senyuman itu memudar setelah melihat siapa yang datang.
Dengan rasa malu yang menyelimuti hatinya. Dia melangkah dengan anggun. Seperti biasa, bersama Alexsa dia akan menunjukkan sifatnya aslinya yang sedikit bar-bar. Berpura-pura menjadi wanita anggun.
Ibu dan anak itu jika bersama akan selalu ada canda tawa yang menghiasi kebersamaan mereka. Tidak seperti orang tua lain, yang kadang bersikap formal.
"Ibu .." Alexsa memicingkan alisnya.
Ehem
Alona Wichilia berderhem. Dia menaruh keranjang buah yang berisi jeruk itu. Kemudian mendaratkan bokong di samping Alexsa. "Tuan Marquess."
"Apa ada sesuatu yang kamu butuhkan?" tanya Alona Wichilia. Dia mendengar kabar bahwa putrinya Ayne sedang sakit.
"Tidak," sahut Marquess Ramon.
"Bagaimana kabar nona Ayne?" tanya Alona Wichilia memandang Marquess Ramon.
Marquess Ramon tersenyum, mungkin karena kedatangannya membuat Alona Wichilia salah paham. "Dia baik, ya meskipun begitu.".
"Memangnya kenapa dengan nona Ayne?" tanya Alexsa.
"Memangnya sakit apa? emmm Tuan Marquess, aku bisa membantu nona Ayne kalau memang di butuhkan," ujar Alexsa. Dia masih memiliki hati nurani membantu saudaranya itu.
"Dia tidak mau, sekeras apa pun aku memaksa Ayne. Dia tetap tidak mau Ale..." Marquess Ramon merasa miris pada dirinya sendiri. Alexsa tetap menjaga jarak dengannya. Sebutan sang ayah, seakan Alexsa tidak mau melakukannya. Beberapa kali dia meminta Alexsa menyebut dirinya seorang 'Ayah'. Namun rasanya tidak mungkin.
"Bagaimana kalau aku ke rumah Marquess?" Alona Wichilia menawarkan, setidaknya dia sudah membantu Marquess Ramon.
"Jujur, aku sangat berterima kasih pada Nyonya Alona dan Putri Mahkota. Tapi, aku takut terjadi kesalahpahaman lagi. Aku takut, Ayne akan bersikap kasar pada kalian."
"Akulah yang membuat nona Ayne berubah, bukan."
Marquess Ramon menolak tegas, apa yang terjadi pada Ayne bukan kesalahan Alexsa. Hanya saja, Ayne tidak mau sadar dan tetap menyalahkan Alexsa. "Bukan salah kamu Alexsa. Justru aku dan keluarga ku yang memiliki banyak salah pada kalian."
"Kami sudah melupakannya."
Jawaban Alona Wichilia membuat Marquess Ramon terpaksa tersenyum. Dia merasa Alona Wichilia terlalu baik.
Marquess Ramon beranjak berdiri, dia pamit seraya memberikan hormat.
"Al, apa kamu masih belum bisa menyebutnya seorang ayah."
Alexsa menunduk, berfikir cukup matang. Dia beranjak dari sofa itu. "Ayah."
Marquess Ramon menghentikan tangannya yang hendak menyentuh gagang pintu itu. Jantungnya berdetak dengan cepat, ia ingin menangis dan meluapkan kebahagiaannya.
Marquess Ramon langsung memutar tubuhnya dan menatap Alexsa.
"Jaga diri ayah baik-baik."
Marquess Ramon tersenyum haru. Dia menatap Alona Wichilia yang mengangguk dan tersenyum. "Iya, kamu juga harus menjaga kesehatan mu dan cucu ayah."