
#Hey kak, maaf yaa.. Ada sebagian cerita yang melakukan si onoh tanpa harus menikah. Nah, ini Author ambil dari berbagai macam komik. Ada juga yang seperti itu.. Jadi jangan ambil sisi negatifnya....
Kedua kakinya gemetar saat menginjak lantai marmer berwarna putih itu.
Sakit, permainan hebat yang terjadi di keindahan malam itu membuat tubuhnya seakan hancur lebur.
"Huft!"
Dia duduk di tepi ranjang itu dengan selimut yang menempel di tubuh bagian depannya, sehingga hanya menyembunyikan aset depannya saja. Melihat pakaiannya yang ada di lantai. Ia membungkuk, mengulurkan tangannya untuk mencapai pakaian itu.
Arhhh
Tampa ia sadari, seseorang memeluknya dari belakang. Apa dia tidak tahu pinggangnya sakit? kedua kakinya sulit berjalan, malah seenaknya memeluknya.
"Delix!"
Alexsa mendengus kesal. "Lepaskan, aku mau mandi."
"Satu tahun pun kamu tidak mandi, tubuh mu tetap harum Alexsa."
Tubuh Alexsa bergerak, ia geli dengan ciuman Putra Mahkota Delix di punggungnya. "Hentikan Delix!" titah Alexsa. Dia meremas selimut dan pakaiannya itu.
"Sudahlah, kita main di sini saja."
Kedua mata Alexsa membulat. Main, semalaman dia di gebur abis dan laki-laki ini tidak ada habisnya. "Aku lelah,"
"Lelah?" Dahi Putra Mahkota Delix berkerut. Ia tidak tahu kata lelah, justru karena lelah dia ingin bersantai. "Apa kamu tidak ingin bersantai, pasti kamu lelah kan?"
"Aku tahu Alexsa ku pasti lelah kan,"
"Maksud mu, menyuruh ku untuk beristirahat?"
"Iya," sahut Putra Mahkota Delix.
Alexsa menahan kesalnya, antara malu dan kesal itulah perasaannya. Kalau Delix peka, mungkin dia akan malu entah yang ke berapa kalinya. Apa lagi mengingat suara desahannya, hatinya berteriak agar ia di siapkan lubang untuk bersembunyi.
"Sudah, aku mau mandi." Alexsa beranjak, dia melilitkan selimut putih itu ke tubuhnya.
Sedangkan laki-laki di belakangnya, memandang tidak percaya melihat tubuhnya tanpa pakaian. Di tambah si nakal yang sudah tidur. "Alexsa..."
"Alexsa..."
"Alexsa..."
"Cepat ambil pakaian mu Delix," ucap Alexsa.
"Aku tidak mau," ucap Putra Mahkota Delix. Kebetulan hari ini tidak akan ada pelayan yang masuk. Sebelum ia bertemu dengan Alexsa, ia sudah menyuruh para pelayan jangan ada yang mengganggunya.
"Sudahlah,,, percuma saja menyuruh mu." Alexsa melangkah dengan terburu-buru, tanpa ia sadari menginjak selimutnya dan membuatnya terjatuh.
"Sayang, kamu harus berhati-hati."
Deg
Deg
Deg
Jantung Alexsa semakin berpacu dengan cepat, seakan ada yang menyedotnya untuk keluar. Panggilan sayang itu mengingatkan kejadian malam yang penuh gairah itu.
Putra Mahkota Delix tersenyum, ia senang mengusuli Alexsanya. "Sayang, hem..." Kedua tangannya membantu Alexsa. Namun wanita itu segara sadar dan berdiri.
Dengan sigap Putra Mahkota Delix kembali memeluknya dari belakang. Alexsa meronta, bagaimana kalau ada pelayan yang masuk dan melihat mereka.
"Delix jangan seperti ini, bagaimana kalau ada yang melihat." Alexsa terus meronta, namun pelukan itu semakin erat.
"Tidak akan ada yang tahu, tadi malam aku sudah mengatakannya pada pelayan Anne dan yang lainnya agar tidak mengganggu kita." Dia masih betah berlama-lama bersama istrinya yang telah ia sahkan sendiri di hatinya.
"Delix! jangan main-main. Aku mau mandi dan Baginda serta yang lainnya pasti sedang menunggu kita untuk sarapan."
"Kita sarapan berdua saja sayang."
"Delix!"
Putra Mahkota Delix menarik dagu Alexsa dan bibir itu mengecupnya dengan singkat. "Aku tidak akan puas jika setiap harinya tidak mendapatkan ciuman mu, Alexsa."
Alexsa diam, ia pun melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda itu. Sedangkan Putra Mahkota Delix mencari pakaiannya untuk ia kenakan.